Home / Indonesia Raja 2019 / INGATAN YANG LAIN – Indonesia Raja 2019: D.I.Y & Jawa Tengah

INGATAN YANG LAIN – Indonesia Raja 2019: D.I.Y & Jawa Tengah

INGATAN YANG LAIN

Sebagai kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali, ingatan seringkali sangat personal. Ia menjadi begitu manis dan berharga untuk dikenang, namun tak jarang juga begitu pahit. Banyak dari ingatan tersebut terlalu sayang untuk kita dilewatkan, bukan hanya untuk melihat ke belakang melainkan juga melangkah tanpa beban ke depan. Film-film dalam “Ingatan yang Lain” ini merangkum artikulasi alternatif lima ingatan personal yang menjadi bagian komunal bangsa ini. Lewat para pembuat film di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, kita diajak untuk masuk ke lorong waktu non teritorial, menelusurinya, hingga di ujung kita tersadar bagaimana ingatan tersebut masih layak dikenang.

Ingatan yang diwariskan lewat kepercayaan nenek moyang ditampilan dengan narasi yang lain lewat animasi “Llop Mougn”. “Dluwang” menampilkan persona si penjaga ingatan lewat lembaran kertas usang yang menyiratkan absennya kuasa negara akan arsip. Sebuah ingatan lewat pertanyaan anak SMA dalam “Fade Out” menggambarkan kegagapan generasi sebelumnya terhadap rezim dan kambing hitamnya. Lewat ingatan seorang ayah dan anak yang menelusuri tempat buangan para eks tapol dalam “Angin Pantai Sanleko”, film ini seperti jawaban dari pertanyaan yang tak terjawab di film sebelumnya. Hingga “Basakara ke Wukir” yang memotret perjalanan proses demokrasi sebagai pengingat penting atas apa yang baru-baru saja terjadi di negeri ini.

Usaha untuk menampilkan kembali ingatan dalam beragam bentuk; fiksi, animasi dan dokumenter ini layak diapresiasi, baik lewat pencapaian artistik maupun politis. Di mana film dapat menjadi ruang ekspresi yang spektrumnya begitu lebar dengan narasi lain yang begitu beragam. Pilihan film-film pendek dalam program ini, bukan cuma menyajikan perspektif para pembuat film di wilayah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, melainkan juga usaha mereka untuk menjadi bagian penting dalam menuturkan Indonesia.

 

  • DURASI PROGRAM: 00:70:26
  • PANDUAN USIA: 13+

 

DAFTAR FILM


LLOP MOUGN

Oktivani Anggia Rachmalitta / Yogyakarta / 2018 / 4:20 / Animasi

Seorang perempuan yang terjebak dalam imajinasi dan tenggelam bersama mimpi dan mencoba membuktikan sebuah kepastian dalam dirinya.


DLUWANG

Agni Tirta / Yogyakarta /2017 / 20:06 / Dokumenter

Pasar klithikan adalah ruang alternatif tidak hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli barang bekas, juga ruang publik dimana interaksi sosial terjadi di dalamnya. Di Yogyakarta pasar klithikan hampir setiap hari dan setiap waktu. Walaupun pernah menyandang sebutan sebagai pasar maling di era 90an pasar klithikan tetap bertahan hingga sekarang di tengah modernisasi pasar modern dan online shop. Toni adalah salah satu orang berdagang segala yang berbau kertas lawas. Tak jarang ia menemukan dokumen maupun bukti sejarah dari tempat-tempat itu. Barang-barang klithikan identik dengan barang yang tidak terpakai atau barang sampah, film ini tentang barang-barang bernilai sejarah dari tempat sampah.


FADE OUT

Achmad Rezi Fahlevie / Yogyakarta / 2019 / 8:04 / Fiksi

Seorang murid yang mempertanyakan kenapa dirinya diperlakukan tidak adil oleh gurunya ketika berpendapat dikelas, hal ini membuat ia ingin mengetahui lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah pada masa lalu.


ANGIN PANTAI SANLEKO

Yogi Fuad, Rahung Nasution / Surakarta /2019 / 19:53 / Dokumenter

Hersri Setiawan (82) bersama beberapa teman dan keluarganya, dalam perjalanan ziarah ke pulau Buru. Di sana ia menyadari banyak peninggalan sejarah yang dihapuskan.


BASKARA KE WUKIR

Latifah Fauziyyah Rosidin / Tegal / 2018 / 17:59 / Fiksi

Baskara (17) anak pertama dari dua bersaudara,tinggal bersama ayah dan adik perempuannya bernama Ayu (7). Ayahnya Darmo (40th), seorang TKI yang dideportasi karena permasalahan legalitas. Ibunya meninggal dunia karena penanganan yang terlambat. Baskara bekerja keras demi pengobatan adiknya. Ia dipercaya mengantarkan kotak suara ke desa Wukir di balik bukit. Sepanjang perjalanan ia menemukan berbagai kejadian yang menyadarkannya bahwa hak suara rakyat lebih penting dibandingkan sejumlah uang yang ia terima.


PROGRAMMER

sazkia-anggrainiANGGI
Sazkia Noor Anggraini

Bekerja sebagai pengajar di prodi Film & Televisi ISI Yogyakarta dan Universitas Multimedia Nusantara. Ia adalah peneliti yang tertarik pada arsip, sejarah dan apresiasi film. Pernah bertanggung jawab menjadi salah satu programmer di Festival Film Dokumenter, yang sebelumnya hanya menjadi penonton saja.

IG : @sazkiana
FB : Sazkia Noor Anggraini
Twitter : @kepikecil
e: sazkia.na@gmail.com

Top