Home / Berita / The Story of the Screen

The Story of the Screen

The-Story-of-the-ScreenMinikino Monthly Screening & Discussion, Minggu, 13 Januari 2013, 14:00-16:00
ScreenDocs Regular 2013 – Januari
The Story of the Screen
14:00 – 16:00

Screening dan diskusi kali ini termasuk yang sangat berkesan karena Nara Sumber benar-benar menjiwai pengalamannya dan sungguh tepat dengan filmnya.

Diskusi dimulai pada pukul 15:00 setelah kedua film selesai diputar.
Bpk Lilik Wasis Karyono, nara sumber, lahir di Cimahi dan besar di Bali. Sebagai seorang anak tentara yang dibesarkan dengan disiplin tinggi, Pak Wasis sudah memiliki ketertarikan terhadap film sejak kecil. Selepas dari bangku sekolah, ia bergabung dengan usaha Bali Teater Tabanan yang menyewa beberapa bangunan bioskop untuk memutar film dan juga secara aktif berkeliling Bali untuk menawarkan jasa pemutaran film (istilahnya Layar Tancap). Bpk Lilik bergabung di usaha itu pada tahun 1979-1986 sebelum kemudian melanjutkan karir berikutnya sebagai pegawai negeri di TNI AD.

Ketika pertama bergabung dengan usaha Bali Teater Tabanan di tahun 1979, animo masyarakat pada hiburan rakyat jenis pemutaran film keliling Layar Tancap sangatlah tinggi. Minimal jumlah penontonnya dipatok 200 orang dengan harga tiket pemutaran di desa Rp 125 – Rp 150. Sebagai perbandingan, tiket nonton film di gedung bioskop Kelas 1 adalah Rp300, kelas 2 Rp 250, dan kelas 3 Rp 150. Film-film yang laku diputar di desa adalah film genre Komedi dan Kungfu Nasional (film Indonesia). Film horor dan film barat bukanlah film yang disenangi masyarakat pedesaan. Tentu saja film yang laku diputar di kota berbeda karena penonton kota lebih selektif sehubungan dengan wawasan film mereka yang lebih luas karena keberadaan TV.

Pak Lilik berbagi cerita tentang strategi pendekatan Layar Tancap semasa ia kerja. Diawali dengan survey ke pedesaan, naik motor keliling desa berusaha memperkirakan luas daerah, banyaknya penduduk, dan bahkan juga jarak radius lokasi dengan calon penonton. Kemudian dilanjutkan pendekatan dengan desa, memperkenalkan diri dengan mengantongi izin putar film dari Kabupaten serta menawarkan judul-judul film yang ada. Setelah perkenalan tersebut, kemudian mereka menunggu permintaan dari Desa untuk pemutaran film yang biasanya dilakukan dalam rangka perayaan tertentu, misalnya Galungan.
Menurut Pak Lilik, seringkali pemutaran film dilakukan oleh Desa untuk tujuan penggalangan dana untuk kas muda-mudi desa. Sistem bagi hasil 60% bagi perusahaan dan 40% untuk desa ternyata cukup menggiurkan pada masa itu. Tentu saja dengan kerjasama seperti ini maka Desa juga bertanggungjawab untuk bantu promosi serta menjaga keamanan dan kelancaran pemutaran yang bisa dilakukan di lapangan terbuka maupun bale banjar.
Untuk promosi, seminggu sebelumnya sudah disiapkan poster dan bahkan juga menyebarkan selebaran.
Soal selebaran ini cukup unik, ternyata Pak Lilik punya taktik khusus untuk melipat selebaran supaya tidak terbang begitu saja menjadi sampah ataupun malah membahayakan calon penonton. Bayangkan penyebaran selebaran yang dilempar begitu saja dari kendaraan pick-up, bisa-bisa kertas jatuh di tengah jalan dan ada anak-anak yang mengejar selebaran dan bisa jadi tertabrak kendaraan. Ternyata ada teknik khusus melipat selebaran menjadi semacam bentuk ketupat sehingga kertas bisa jatuh lebih jauh di pinggir jalan. . . Minikino sudah punya contoh lipatannya loh… bisa kita tiru kalau mau coba promosi bagi selebaran.. ^_^

Selain berbagi cerita tentang strategi promosi dan kisah suka duka pemutaran, Pak Lilik juga berbagi cerita tentang teknis alat pemutar film yang waktu itu memerlukan daya sekitar 1000-1500 watt. Dengan bangga Pak Lilik mengatakan bahwa semasa ia bekerja tidak pernah sampai harus mencuri listrik seperti di kisah Pak Dogel di “The Last Journey”.

Pak Lilik sempat beberapa kali mengusap air mata penuh haru karena ia merasa film “The Last Journey” menggambarkan pengalamannya semasa bekerja dulu dengan sangat tepat. Ia juga ingat betapa bahagianya ketika sebuah film selesai diputar dengan lancar dan banyak penontonnya. Ia ingat bagaimana harus memegang klise film, memastikan bahwa klise itu tidak berlubang supaya film tidak terhenti dan penonton menonton dengan nyaman. Gaji kecil dan kelelahan fisik bagaikan jadi bukan masalah ketika melihat film diputar dengan lancar dan penonton menikmati.

Ternyata pengalamannya semasa bekerja jadi operator film keliling Layar Tancap itu dijadikan banyak pelajaran hidup yang cukup filosofis, salah satunya adalah ia merasa bahwa hidup itu seperti putaran roda pemutar klise film.. Klise harus dipastikan tidak rusak, supaya film juga tidak rusak… Bila pun rusak, segera harus diambil tindakan supaya film juga berjalan mulus lagi.. Seperti hidup juga..

Itulah laporannya….

Salam,
Cika
Denpasar, Januari 2013

Related post


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Top