Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Film Still Birthmark (2026) Director George Peter Barbari

    A Part of You I Didn’t Know

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Film Still Birthmark (2026) Director George Peter Barbari

    A Part of You I Didn’t Know

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home SHORT FILMS

Begadang boleh saja, asal ada batasnya

Komentar untuk Begadang Minikino Filmmaking Competition, Minikino Film Week 2022

Eric Sasono by Eric Sasono
September 8, 2022
in SHORT FILMS
Reading Time: 5 mins read
Still Film of Chicken Awaken (Nol Derajat Film) (dok: istimewa)

Still Film of Chicken Awaken (Nol Derajat Film) (dok: istimewa)

Pada seni, batasan kerap membuat para kreator menjadi kreatif (asal kata mereka sama). Di Iran, sensor yang ketat menyebabkan mereka menggunakan karakter anak-anak untuk membangun cerita, yang kompleks dan bisa dinikmati orang dewasa tanpa mengurangi kepuasan estetik. Demikian pula di Indonesia pada masa Orde Baru. Kata sastrawan Seno Gumira, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”. Maka ia menulis kumpulan cerita pendek Saksi Mata (1994) yang asalnya adalah laporan wartawan-wartawan majalah Jakarta-Jakarta yang tak mungkin ia publikasikan. Alasannya, karena memuat deskripsi detail tentang kengerian teror seperti penghilangan paksa, mutilasi dan pemenggalan kepala terhadap para penduduk Timor Leste.

Keterbatasan pada Begadang Filmmaking Competition sumbernya bukan dari sensor, berbeda dengan yang saya sebut di atas. Begadang seperti sebuah quiz yang memberi tantangan yang spesifik berupa beberapa elemen sinematik yang berbeda dari tahun ke tahun. Tahun ini, syarat yang diberikan oleh panitia adalah: 1) awal harus menjadi akhir cerita, 2) tidak hitam putih dan harus mengandung satu warna dominan, 3) jika menggunakan scoring, hanya boleh membuatnya dengan menggunakan bagian tubuh.

Secara khusus, saya ingin melihat bagaimana para kreator berurusan dengan batasan-batasan yang dibuat oleh panitia. Seperti saya sebut di atas, batasan justru sering menjadi sumber inspirasi, diakali sedemikian rupa. Batasan adalah tekanan yang tidak menghalangi kreativitas, melainkan menciptakan friksi yang membuat kreativitas menjadi wujud nyata yang kita lihat. Batasan seperti jalanan yang mengarahkan kendaraan kita, tapi kita selalu bisa keluar darinya untuk membuka jalan baru. Itulah friksi: bagaimana batasan mewujud dalam keseharian. 

Namun perlakuan terhadap pembatasan bukan satu-satunya cara untuk melihat film-film pendek ini. Karena pada akhirnya kemungkinan yang dihasilkan oleh kreatifitas + batasan tetap harus terwujud dalam ekspresi sinematik dan segala kelengkapannya. Artinya, eksplorasi tidak berdiri sebagai konten yang terpisah, melainkan tetap akan dilihat bagaimana ia terwujud ke dalam film pendek. Tahun ini, saya diminta untuk menjadi juri untuk Minikino Film Week tahun 2022, dan salah satu tugas saya adalah menilai finalis dari Begadang Film Competition 2022 ini. Inilah catatan saya terhadap empat film di Begadang 2022 di Minikino Film Week 8.

Uuhh, Ckck, Boom (Kelompok 2 Production)

Film ini sepenuhnya menjadikan batasan dari panitia untuk menjadi inspirasi utama film. Adegan film dibuka dengan semacam audisi untuk sebuah produksi film. Seorang calon “aktor” datang ke sebuah rumah, dan di sana ia diminta membuka baju dan berhadapan dengan kamera. Lalu secara mengejutkan, si aktor ini menawarkan berbagai tepukan ke tubuhnya untuk menghasilkan bunyi perkusi yang ritmik. Acara pukul memukul tubuh ini berlangsung cukup lama sampai ia tak tahan lagi. Padahal si pembuat audisi merasa belum puas. Ia belum melakukan cubitan, yang menurutnya akan menghasilkan bunyi-bunyian yang berbeda lagi sama sekali. Si aktor tak tahan lalu akhirnya kabur, masih dengan bertelanjang dada.

Eksperimentasi yang mengambil secara mentah batasan dari panitia ini seperti Jafar Panahi yang meletakkan kamera di dashboard mobil agar terhindar dari larangan membuat film di negaranya. Batasan diadopsi secara face value, tanpa kiasan agar bisa memenuhi syarat yang ditetapkan. Yang paling menarik justru terjadinya narasi berupa eksperimentasi terhadap tubuh dan ketidakseimbangan hubungan dalam filmmaking (atau produksi seni lain). Pihak kreator (produser atau filmmaker) bisa mengeksplorasi dan mengeksploitasi tubuh aktor mereka sedemikian rupa untuk keperluan estetik. Namun pendekatan humor membuat gambaran ini jadi tidak menegangkan. 

Tambahan yang menarik dalam film ini, adalah tubuh yang telanjang. Tubuh itu membuat film ini terasa kinky dan mendekatkan penonton ke batas-batas voyeuristic mereka. Sebuah ledekan terhadap hasrat voyeuristic penonton dan penyalurannya lewat filmmaking.

Di Balik Malam (Hore Besok Libur!)

Di Balik Malam memiliki ide mirip dengan Uuhh, Ckck, Boom dalam hubungan antara kreator (baca: filmmaker) dengan aktornya. Dua orang aktor yang sedang rehearsal dan sesekali beraksi di depan kamera sepenuhnya menjadi subyek permainan. Terasa ada semacam ketegangan yang agak kompleks yang terjadi pada tiga pihak: antara dua orang pemain, dan sutradara. Salah satu dari aktor (diperankan sutradara Winner Wijaya) tampak menjadi pusat perhatian yang agak berlebih dari pihak lain yang muncul dalam film itu. Beberapa kali ia dibilang cantik dan sesekali disentuh atau diarahkan gayanya dengan terlalu mencolok. Bahkan si sutradara secara khusus memujinya dan menjanjikan bahwa ia akan mendapatkan peran lebih banyak karena kecantikannya itu.

Humor di film ini terasa lebih elusive. Tanggapan Winner terhadap pujian itu membuat kita tak bisa menyimpulkan apa makna pujian-pujian berlebihan itu baginya. Apakah ia kesal, marah, atau senang? Ini membuat suasana seharusnya canggung, tapi kita tak mendapatkan gambaran itu secara utuh. Jangan lupa sempat ada dialog “ini kita syuting aman ya!” menegaskan upaya komunitas film di Indonesia di berbagai tingkatan sedang mengupayakan ruang aman dalam produksi film. Apakah perlakuan terhadap Winner yang digambarkan di sini sebagai sindiran terhadap belum efektifnya kampanye itu? 

Lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban dalam film ini, membuatnya tetap misterius. Menarik. 

Chicken Awaken (Nol Derajat Film)

Film ini kebalikan dari Uuhh, Ckck, Boom dalam memperlakukan batasan-batasan produksi yang ditetapkan. Jika sebelumnya batasan dijadikan sebagai inspirasi utama film, Chicken Awaken menempelkan saja elemen-elemen itu ke dalam cerita mereka.

Cerita dalam film ini mengambil trope ultraman dari genre tokusatsu superhero. Berasal dari Jepang, trope ini populer di Indonesia lewat seri ultraman, kamen rider hingga tentu saja Godzilla. Seperti halnya genre tokusatsu, tak perlu ada penjelasan dari mana monster berasal, atau bagaimana robot pembasmi monster tercipta. Semua ini dijadikan bahan komedi film yang maksimal. 

Bagaimanapun genre ini universal: monster vs superhero. Segala special effect yang tidak meyakinkan justru dijadikan bahan komedi dengan mengkontraskan bencana tingkat apocalypse dengan suasana jajan di pinggir jalan. Estetika camp memang jadi andalan di sini. Bahkan komedi campy dan pelesetan tokusatsu ini bisa jadi trope sendiri seperti misalnya film AHOZ (Alpha Hero Omega Zero, Gangsar Waskito, 2006) yang juga bersumber dari tokusatsu. Kekurangan dalam produksi dan ketiadaan special effects dijadikan bahan lelucon yang campy, mengandalkan keakraban penonton dengan genre dan trope tersebut, dan ini cukup berhasil.

Sebuah keberhasilan storytelling yang sederhana. 

The Lemony Snippets of a Loopy Reverie (CATasthrophe Production)

Still Film of The Lemony Snippets of a Loopy Reverie (CATasthrophe Production) (dok: istimewa)

Bagi saya, ini film yang paling imajinatif sekalipun menggunakan mimpi sebagai sebuah landasan bercerita. Dalam mimpi, apapun bisa terjadi, maka segala batasan yang ditentukan panitia bisa masuk, sekalipun sebagai elemen tempelan tanpa harus kehilangan koherensi. Namun Jabberwocky yang disampaikan oleh cerita ini sangat kreatif. Inkoherensi kolase di film ini bagai sebuah perjalanan psikedelik dan surealis sekaligus. 

Sebenarnya reverie di dalam judul tidak harus diwujudkan sebagai mimpi (dalam keadaan tidur) tetapi bisa jadi sebuah lamunan panjang dan daydream–mimpi dalam keadaan terbangun. Narasi si istri dalam film ini membuka film sebagai sebuah mimpi, seakan ada ketakutan terhadap inkoherensi itu. Padahal reverie sudah memberi kemungkinan bagi editing bergaya kolase, desain figurative dan segala plot yang nonsensical. 

Namun di luar ketakutan terhadap nonsense, menurut saya film ini yang paling berpeluang membuka sebuah kemungkinan dan cara berpikir baru. CATasthrope seperti keluar dari jalan utama dan membuka cara berpikir yang baru bagi penonton. 

Terima kasih Minikino memberi saya kesempatan menonton dan membahas film ini. 

 

Denpasar, September 2022

Tags: begadang filmmaking competitionEric Sasonoshort film
ShareTweetShareSend
Previous Post

Ruang dan Prasangka

Next Post

Kuasa, Suara, dan Nestapa

Eric Sasono

Eric Sasono

Eric Sasono is an Indonesian film critic who obtained his doctoral degree in film studies from King’s College London in 2019. He co-founded the Indonesian Film Society, a London-based community group to screen films regularly in London and to promote Indonesian culture to the UK public and beyond. For ten years (2009-2019), Eric was the executive board’s secretary of YMMFI, the Indonesian Independent Film Society Foundation, that established the Indonesian Documentary Center (In-Docs) and organized the now-defunct Jakarta International Film Festival (JIFFest). Eric has co-written a book about the Indonesian film industry and edited a volume about Southeast Asian cinema. He is now working in a Jakarta-based civil society organization while working on his research about ‘film Islami’. Eric is actively blogging on ericsasono.com

Related Posts

Film Still Birthmark (2026) Director George Peter Barbari

A Part of You I Didn’t Know

September 8, 2026
Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

September 8, 2026
Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

September 3, 2026
Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

August 31, 2026
Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

August 18, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Film Still Birthmark (2026) Director George Peter Barbari

A Part of You I Didn’t Know

September 8, 2026
Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

September 8, 2026
Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

September 3, 2026
Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

August 31, 2026
Gambar dari film Sumpah Pemuda foto perempuan tersenyum mengenakan baju hitam

Sumpah Ini Untuk Siapa?

August 21, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • A Part of You I Didn’t Know
  • WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?
  • Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12
  • Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”
  • Sumpah Ini Untuk Siapa?

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media