Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home NOTES

Film dan Seni Mencintai yang (Tidak) Sederhana

Catatan Atas Pertemuan dengan Asako Fujioka

Vira Feysa Razan by Vira Feysa Razan
August 17, 2022
in NOTES
Reading Time: 2 mins read
Sixth meeting with Guest Speaker for Hybrid Internship Program, Asako Fujioka, via zoom (24/06/2022). Doc: Minikino

Sixth meeting with Guest Speaker for Hybrid Internship Program, Asako Fujioka, via zoom (24/06/2022). Doc: Minikino

Ada suatu masa ketika hal-hal yang menjadi kecintaan mendadak berubah menyebalkan. Seperti keharusan untuk mengkaji novel favorit dengan pendekatan struktural. Atau menonton film bukan sebagai medium rekreasi melainkan dalam rangka membandingkannya atau bentuk kesusastraan lain. Hingga tentu saja menulis dengan tujuan memenuhi kewajiban mata kuliah yang seringnya tidak betul-betul berangkat dari keinginan hati. Tuntutan baik itu yang kasat mata maupun tidak, turut serta menjelma kejemuan-kejemuan lain yang silih berganti.

Cinta pun tidak pernah sederhana. Misalnya, perihal mencintai orang lain, tentu saja tidak semudah mengatakan “aku mencintaimu” atau kalimat manis lain. Melainkan membutuhkan banyak kompromi dan penerimaan masing-masing pihak yang seringnya lebih rumit dari apa yang pernah terpikirkan. Maka, sempat sekali terlintas bagaimana Pak Sapardi Djoko Damono mampu mencintai dengan cara yang sederhana?

Namun kini, masa itu tidak hanya sebagai bagian dari perjalanan, melainkan bagaimana hal tersebut membentuk pribadi hari ini. Proses transisi masa tersebut dengan keadaan saat ini barangkali lantaran pertemuan dan perkenalan dengan banyak hal. Misal, seperti pertemuan dengan beberapa orang yang sangat menikmati bidang yang mereka lakukan.

Ketika pertama kali terlibat dalam proses kreatif teater, saya pernah bertanya-tanya tentang bagaimana kakak-kakak senior begitu tekun dan tangguh pada apa-apa yang mereka kerjakan. Proses yang panjang, juga tenaga, waktu, dan biaya yang dikorbankan serta kesulitan-kesulitan yang mampu teratasi (setidaknya bagi saya) cukup membuktikan cinta terhadap apa yang mereka kerjakan.

Hingga ketika Asako Fujioka, koordinator Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF)—yang juga berkecimpung dalam industri film Jepang—secara tidak langsung mengatakan ia mencintai film dengan cara yang tidak sederhana. Yamagata sebagai kota, terletak di lembah hijau yang bergulir jauh di utara Tokyo, Kota Yamagata adalah lokasi festival film dokumenter internasional pertama di Asia. Festival Film pertama (tahun 1989) adalah acara untuk memperingati 100 tahun Kota Yamagata. YIDFF selalu diadakan di bulan Oktober sebagai musim terbaik bagi Yamagata dan diselenggarakan setiap dua tahun. Untuk terus konsisten mencintai budaya sinema yang terbangun di Yamagata tentu butuh konsistensi. 

Banyak rintangan, kendala, maupun kesulitan-kesulitan lain dalam upayanya hidup untuk industri dan budaya sinema Jepang. Namun Asako tetap konsisten selama puluhan tahun, menjaga industri film Jepang yang ia tekuni. Saya yakin cobaan pasti datang bertubi-tubi namun kecintaannya pada film lebih tangguh dari problema yang dihadapi. Dengan cinta yang Asako miliki, ia menggunakan seluruh kemampuan yang ada untuk mengembangkan industri film yang ia jalani. 

Presentasi virtual yang disampaikan Asako, membuat saya kembali mengingat apa yang saya lakukan saat ini, yaitu menulis. Apakah saya telah cukup, atau setidaknya rela mengorbankan waktu untuk menekuni apa yang saya lakukan hari ini bahkan jika hal tersebut menyita banyak hal? Apakah rencana pergi jauh-jauh ke Bali untuk menjadi Festival Writers di Minikino Film Week layak untuk dilakukan? Kenapa sampai saat ini saya masih menulis?

Pertanyaan-pertanyaan itu, menjadi bagian dari proses yang selalu mendampingi dalam setiap kegundahan. Sampai saat ini, saya masih merasa apa yang saya lakukan sebagai ruang aktualisasi diri, hingga kesulitan dan banyak tantangan lain yang sedang atau sudah teratasi tidak hanya merupakan sebuah fase. Melainkan bentuk cinta yang juga tidak sederhana sebagaimana Asako, kakak-kakak senior, dan diri saya lakukan pada apa-apa yang kami kerjakan.

Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers (Maret-September 2022)
Tags: Asako FujiokaBordersCintaFestival WritersHybrid Internship 2022YIDFF
ShareTweetShareSend
Previous Post

Menyoal Wajah dan Aksesibilitas Festival Film

Next Post

Why Do We Do What We Do?

Vira Feysa Razan

Vira Feysa Razan

Vira is an Indonesian Language and Literature Education student at UIN Jakarta. She's currently preparing for the old semester while exploring her passion in writing. She aspires to contribute in Indonesian literature.

Related Posts

Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026
Southeast Asia Connection MFW11 di Dharma Negara Alaya

Sebelum Praproduksi dan Setelah Pascaproduksi: 7th Short Film Market at Minikino Film Week

October 31, 2025
Sampul Buku Aku Bikin Film Pendek Sekarang Aku Harus Ngapain Cuk oleh Clarissa Jacobson

Habis Bikin Film Pendek, Terus Ngapain?

October 6, 2025
Shorts Up 2024 participants at Minikino Film Week 10 (doc. Otniello Al Sidu Sengkey)

Alumni of Shorts Up and the Minikino Short Film Market: Journey and Impact

September 4, 2025
Peserta Short Up pada Awarding Ceremony MFW10 di Dharma Negara Alaya (dok. Syafiudin Vifick)

Alumni Shorts Up dan Short Film Market Minikino: Perjalanan dan Dampaknya

August 27, 2025
Pelaksanaan Workshop Korinco Museum (dok. I Made Suarbawa)

KORINCO Museum (2025): Mengenal Koleksi KORINCO

August 15, 2025

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Gambar dari film Sumpah Pemuda foto perempuan tersenyum mengenakan baju hitam

Sumpah Ini Untuk Siapa?

August 21, 2026
Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

August 18, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Sumpah Ini Untuk Siapa?
  • Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief
  • Ketika Warna Menjadi Bermakna
  • How to Survive a Zombie Outbreak
  • Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media