{"id":10100,"date":"2026-08-21T14:18:00","date_gmt":"2026-08-21T06:18:00","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=10100"},"modified":"2026-09-03T11:18:43","modified_gmt":"2026-09-03T03:18:43","slug":"sumpah-ini-untuk-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/","title":{"rendered":"Sumpah Ini Untuk Siapa?"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/tren-kaburajadulu-peringatan-bagi-pemerintah-sebelum-kehilangan-generasi-berkualitas-250277\"><span style=\"font-weight: 400;\">#KaburAjaDulu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sempat menjadi sebuah tagar yang meramaikan lanskap sosial media Indonesia pada awal tahun 2025. Fenomena ini didasari oleh kekecewaan rakyat terhadap ketidakstabilan ekonomi dalam negeri. Di satu sisi, fenomena ini memicu sentimen negatif bahwa mereka yang mencari kesempatan di luar negeri dianggap tidak nasionalis. Melihat kehidupan yang serba dinamis seperti sekarang, menjadi seorang nasionalis mungkin bukan sesuatu yang terlintas di kepala dan juga bukan faktor penentu kualitas hidupnya. Sehingga tidak tepat untuk menyebut seorang warga tidak nasionalis jika hidupnya masih susah di negeri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, <\/span><a href=\"https:\/\/www.mpr.go.id\/berita\/Lestari-Moerdijat:-Sikapi-Fenomena-Kabur-Aja-Dulu-sebagai-Otokritik-untuk-Kebijakan-yang-Lebih-Baik-di-Masa-Depan\"><span style=\"font-weight: 400;\">berpendapat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bahwa fenomena ini bahkan sudah terjadi sejak tahun 2023 yang ditandai oleh meningkatnya akun sosial media dengan konten berbagi informasi tentang peluang dan tips bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, kesempatan ke luar negeri sering kali terlihat sebagai jalan baru untuk meningkatkan kualitas hidup, meski aksesnya tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan sosial masing-masing individu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumpah Pemuda (Aisha Servia, Indonesia-Amerika Serikat, 2025) hadir dalam bentuk eksperimental yang terkesan abstrak dan personal. Suara dan gambar-gambar cukup memberi sebuah informasi tanpa membuat penonton tenggelam di dalamnya. Bait-bait sumpah pemuda dibacakan berulang kali, diiringi gambar ruang gedung konsulat Indonesia di Amerika Serikat, serta objek-objek acak yang silih berganti. Bait yang terus diulang mulai terdengar seperti <\/span><a href=\"https:\/\/www.verywellmind.com\/semantic-satiation-why-words-become-meaningless-8650932\"><span style=\"font-weight: 400;\">potongan bunyi yang kehilangan maknanya.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Bangsa Indonesia mengenal dirinya dari dalam, tapi bagaimana ia mengenalkan diri di luar sana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aisha Servia, sutradara film pendek dokumenter eksperimental <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sumpah Pemuda,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan dalam wawancara daring pada tanggal 21 Juli 2026 bagaimana ia menemui orang-orang Indonesia lainnya yang memiliki kemudahan akses untuk bisa hidup di Amerika Serikat. Mereka kabur ke luar negeri hanya untuk bekerja dan mengirimkan uang ke Indonesia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka hanya ingin kualitas hidup yang lebih nyaman, kesempatan yang layak dan bisa hidup tanpa harus bekerja sampai akhir hayat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga tidak sedikit dari mereka mengubah status kewarganegaraan demi hak yang seharusnya mereka terima di negeri sendiri. Menurutnya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, faktor orang pergi ke luar negeri menjadi jauh lebih rumit dari sekadar isu antinasionalisme. Sebab sudah mencakup ranah kehidupan pribadi warga negara yang hanya ingin hidup layak, terlepas dari segala jenis ras, golongan, agama, dan suku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sutradara berpendapat bahwa nasionalisme cenderung bersifat mengkotak-kotakan. Dengan banyaknya perbedaan nilai hidup dan cara pandang, bagaimana kita bisa memutuskan sebuah faktor penentu utama yang bisa mendefinisikan kita sebagai bangsa Indonesia? Ia menyadari bentuk simbolis seperti pakaian batik dan makanan rendang yang hadir setiap kali Indonesia dirayakan di luar negeri. Tapi, ia juga mempertanyakan apakah ada sesuatu yang bisa menjadi representasi Indonesia secara keseluruhan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun hanya representasi, rendang mungkin bukan makanan yang disukai oleh masyarakat Indonesia. Begitu juga batik yang tidak mencerminkan identitas pakaian tradisional masing-masing daerah. Sehingga memilih sebuah representasi terkesan menyempitkan gambaran Indonesia yang terlalu kaya dan beragam. Terlepas dari representasi simbolik, rasa memiliki terhadap negara oleh setiap individu juga bisa berbeda-beda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sebagian dari kita pernah bertanya-tanya tentang kewajiban di sekolah yang dilakukan setiap minggu, yaitu upacara bendera di hari senin. Wajar saja ketika seorang pelajar bertanya kepada gurunya tentang alasan mereka harus melakukan upacara bendera. Tapi, apakah wajar jika seorang pelajar dianggap tidak cinta tanah air, hanya karena ia merasa ada cara lain yang lebih bermakna baginya? Tentu tidak semua guru berpikir demikian. Tapi pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme dipahami sebagai suatu penghormatan yang diajarkan secara turun-temurun. Padahal rasa memiliki terhadap sebuah negara tidak harus diwujudkan dengan cara yang sama. Jika nasionalisme diibaratkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">love language<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka setiap individu tidak bisa dipaksakan memakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">love language<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sama. Hanya karena sebuah cara diyakini sebagai bentuk cinta tanah air, bukan berarti menjadi satu-satunya cara untuk menunjukkannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu keputusan kreatif di film ini adalah takarir yang sengaja tidak dihadirkan. Sutradara mengungkap bahwa ia menyukai proses mendengar bahasa asing tanpa memahami makna kalimat di baliknya. Seorang penutur bahasa Indonesia tentu dapat memahami setiap kalimat dan bahkan menyadari perbedaan aksen dari setiap individu. Sementara mereka yang bukan penutur, mungkin terasa seperti mendengar bunyi-bunyian atau menangkap makna kalimatnya saja. Dengan hanya mendengar, aksen setiap pemain yang hadir dalam film menjadi satu-satunya penanda identitas mereka yang berbeda-beda. Menurutnya, keputusan ini juga lahir dari proses diskusi bersama setiap pemain yang hadir dalam film. Bagi penonton film yang merupakan penutur bahasa Indonesia, keputusan meniadakan takarir menjadi sebuah bentuk solidaritas bahwa penampilan fisik setiap pemain mungkin tidak bisa dikenali sebagai orang Indonesia. Justru penggunaan bahasa Indonesia yang membuat mereka dapat dikenali sebagai bagian dari bangsa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sutradara percaya mempelajari sejarah bisa membantu kita menyadari bahwa dunia yang lebih baik itu masih ada. Ia sendiri sering mendengar dosennya bernostalgia ketika membahas peristiwa KAA (Konferensi Asia Afrika). Dilansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/edukasi\/20231102144846-569-1019163\/sejarah-dan-tujuan-konferensi-asia-afrika-1955\"><span style=\"font-weight: 400;\">CNN Indonesia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, KAA didasari oleh rasa keprihatinan terhadap nasib negara baru merdeka atau yang masih terjajah di tengah persaingan politik antara Blok Timur (Uni Soviet) dan Blok Barat (Amerika Serikat). KAA pun lahir sebagai bukti solidaritas bahwa Indonesia dan seluruh negara terlibat, sepakat untuk menentang segala bentuk kolonialisme dari Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara imperialis lainnya. Tetapi, tahun 1965 hadir sebagai masa krisis politik yang sangat mengguncang Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ykpindonesia.org\/id\/metode-jakarta-jejak-kelam-pembantaian-1965-yang-mengubah-wajah-dunia\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> menjelaskan, bahwa tragedi gerakan 30 September tahun 1965 menjadi titik balik sejarah dan meninggalkan dampak mendalam terhadap politik, ekonomi, dan sosial Indonesia. Strategi penumpasan gerakan kiri secara sistematis tersebut dikenal sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Metode Jakarta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dampaknya meninggalkan luka kolektif terhadap Indonesia sebagai sebuah bangsa. Strategi ini tidak hanya mengubah Indonesia, tetapi juga tatanan global yang kita kenal sekarang. Melihat ada negara lain yang bernasib sama, rasanya masih ada harapan untuk bisa kembali memperjuangkan ide-ide yang dulu pernah ada.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana peristiwa di masa lalu bisa membentuk cara memandang negara asal kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi sosial dan politik yang terus hadir dapat mengubah perspektif kita sebagai warga negara. Aisha mulai menyadari hubungannya dengan negara mulai berubah, yaitu ketika melihat berita tentang pemerintahan Indonesia yang tidak jauh-jauh dari masalah. Seiring waktu, ia berjumpa dengan orang-orang Indonesia yang sudah tinggal sejak lama di Amerika Serikat dengan latar belakang beragam. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang tidak pernah tinggal di Indonesia sejak lahir. Tapi, masih menganggap diri mereka sebagai orang Indonesia. Pengalaman tersebut membuat Aisha kembali mempertanyakan sesuatu yang menjadi kegelisahannya sejak awal. Apa yang membuat seseorang menjadi bagian dari Indonesia?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui film ini, sutradara ingin penonton terutama orang Indonesia sendiri untuk mempertanyakan hubungannya dengan Indonesia sebagai bangsa. Jawabannya tidak mungkin sama, karena kita lahir sebagai individu yang berbeda-beda. Dengan mempertanyakan kembali makna dari Bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda, setidaknya dapat membuat kita semakin mengenali bagaimana hubungan kita sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Perjalanan sebuah bangsa tidak lepas dari proses mempelajari sisi lain dari sejarah yang tertulis, mempelajari diri sendiri, dan mempelajari kondisi realita sekarang.<\/span><\/p>\n<p><strong>Editor:\u00a0<a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/cika\/\">Fransiska Prihadi<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Film ini bisa ditonton di Minikino Film Week 12, Bali International Short Film Festival, tanggal 11\u201318 September 2026.<\/em><\/h6>\n<h6><strong>Minikino 13+<\/strong><br \/>\nJumat, 11 September 2026 &#8211; 17:30 di RTB &#8211; Rumah Tanjung Bungkak<br \/>\nSabtu, 12 September 2026 \u2013 19:30 di CS: Noema Resort Pererenan<br \/>\nSenin, 14 September 2026 \u2013 17:00 di MASH Denpasar Art House Cinema<\/h6>\n<h6>Kunjungi <a href=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/\">minikino.org\/filmweek<\/a> untuk mengunduh katalog digital MFW12.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>#KaburAjaDulu sempat menjadi sebuah tagar yang meramaikan lanskap sosial media Indonesia pada awal tahun 2025. Fenomena ini didasari oleh kekecewaan rakyat terhadap ketidakstabilan ekonomi dalam negeri. Di satu sisi, fenomena ini memicu sentimen negatif bahwa mereka yang mencari kesempatan di luar negeri dianggap tidak nasionalis. Melihat kehidupan yang serba dinamis seperti sekarang, menjadi seorang nasionalis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":109,"featured_media":10103,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":[],"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"jnews-series":[],"class_list":["post-10100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-interviews"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"#KaburAjaDulu sempat menjadi sebuah tagar yang meramaikan lanskap sosial media Indonesia pada awal tahun 2025. Fenomena ini didasari oleh kekecewaan rakyat terhadap ketidakstabilan ekonomi dalam negeri. Di satu sisi, fenomena ini memicu sentimen negatif bahwa mereka yang mencari kesempatan di luar negeri dianggap tidak nasionalis. Melihat kehidupan yang serba dinamis seperti sekarang, menjadi seorang nasionalis [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-21T06:18:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-03T03:18:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-1024x768.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Daffa Ananta\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Daffa Ananta\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Daffa Ananta\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2\"},\"headline\":\"Sumpah Ini Untuk Siapa?\",\"datePublished\":\"2026-08-21T06:18:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-03T03:18:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/\"},\"wordCount\":1138,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/08\\\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png\",\"articleSection\":[\"INTERVIEWS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/\",\"name\":\"Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/08\\\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png\",\"datePublished\":\"2026-08-21T06:18:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-03T03:18:43+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/08\\\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/08\\\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"Still Film Sumpah Pemuda (2025) Sutradara Aisha Servia\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/sumpah-ini-untuk-siapa\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sumpah Ini Untuk Siapa?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2\",\"name\":\"Daffa Ananta\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/06\\\/daffa_avatar-96x96.jpg\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/06\\\/daffa_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/06\\\/daffa_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Daffa Ananta\"},\"description\":\"Daffa Ananta is a writer and screenwriter who graduated from the Jakarta Institute of Arts. He writes analytical essays exploring narrative, sound, and visual language. His work has appeared on Medium and Moviephobic, while his feature screenplay, Ufuk Lara, was submitted to the SINEMA Screenwriting Competition.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/author\\\/daffa\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles","og_description":"#KaburAjaDulu sempat menjadi sebuah tagar yang meramaikan lanskap sosial media Indonesia pada awal tahun 2025. Fenomena ini didasari oleh kekecewaan rakyat terhadap ketidakstabilan ekonomi dalam negeri. Di satu sisi, fenomena ini memicu sentimen negatif bahwa mereka yang mencari kesempatan di luar negeri dianggap tidak nasionalis. Melihat kehidupan yang serba dinamis seperti sekarang, menjadi seorang nasionalis [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2026-08-21T06:18:00+00:00","article_modified_time":"2026-09-03T03:18:43+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":768,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-1024x768.png","type":"image\/png"}],"author":"Daffa Ananta","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Daffa Ananta","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/"},"author":{"name":"Daffa Ananta","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2"},"headline":"Sumpah Ini Untuk Siapa?","datePublished":"2026-08-21T06:18:00+00:00","dateModified":"2026-09-03T03:18:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/"},"wordCount":1138,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png","articleSection":["INTERVIEWS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/","name":"Sumpah Ini Untuk Siapa? - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png","datePublished":"2026-08-21T06:18:00+00:00","dateModified":"2026-09-03T03:18:43+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/08\/Still-Sumpah-Pemuda-scaled.png","width":2560,"height":1920,"caption":"Still Film Sumpah Pemuda (2025) Sutradara Aisha Servia"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/sumpah-ini-untuk-siapa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sumpah Ini Untuk Siapa?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/53b524a34d1b690d4660468ccebb87e2","name":"Daffa Ananta","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/06\/daffa_avatar-96x96.jpg","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/06\/daffa_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/06\/daffa_avatar-96x96.jpg","caption":"Daffa Ananta"},"description":"Daffa Ananta is a writer and screenwriter who graduated from the Jakarta Institute of Arts. He writes analytical essays exploring narrative, sound, and visual language. His work has appeared on Medium and Moviephobic, while his feature screenplay, Ufuk Lara, was submitted to the SINEMA Screenwriting Competition.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/daffa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/109"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10100"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10144,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10100\/revisions\/10144"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10103"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10100"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=10100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}