{"id":10135,"date":"2026-09-03T13:24:02","date_gmt":"2026-09-03T05:24:02","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=10135"},"modified":"2026-09-03T13:42:40","modified_gmt":"2026-09-03T05:42:40","slug":"ulasan-program-sense-of-place","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/","title":{"rendered":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya telah menjadi takdir bagi manusia untuk terus mencari tempat. Tidak berbeda dengan air yang mencari tanah yang lebih rendah, manusia mengalir dari satu tempat ke tempat lain, mencoba menemukan hilirnya. Adapun pelukan laut hanya menampung kepuasan sesaat, sebelum kelip-kelip itu menguap dan kembali menjadi embun gunung. Meskipun berkali-kali mengecewakan dan menuntut begitu banyak waktu dan usaha, manusia terus mencari tempat karena tempat memberikan titik pada kalimat cerita tentang diri kita, atau setidaknya membuat kita merasa seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini, manusia modern hidup dalam dunia-dunia yang tak tentu. Bangunan semakin cepat dibangun dan dihancurkan, lanskap terus-menerus berubah, dan tempat semakin sulit untuk berdiri lebih lama. Modernitas menarik semakin banyak garis yang menjauhkan kita dari titik itu. Tak berhenti sampai di situ, keadaan ini justru berubah menjadi perlombaan untuk menemukan, bahkan mengumpulkan titik-titik tersebut. Kita lupa bahwa titik yang kita cari pun sama fananya dengan keinginan yang mendorong kita untuk terus mencarinya.\u00a0 Perkotaan membuat ruang semakin berlimpah, namun untuk menemukan tempat semakin susah. Kantor berserakan, namun banyak orang tak menemukan tempat kerja. Rumah berdesakan, namun banyak dari kita kesulitan untuk menemukan tempat untuk pulang. Bagaimana tubuh kita tetap terhubung dengan tempat dalam keadaan seperti ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minikino Film Week ke-12 menghadirkan program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sense of Place<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai ruang untuk merenungkan keadaan tersebut. Program ini berisi enam film pendek yang dipilih dengan benang merah kehadiran tempat sebagai pengalaman yang menubuh. Selama satu jam, saya diajak untuk mengalami dan memaknai kembali gagasan tentang tempat serta hubungannya dengan tubuh manusia hari ini. Film-film tersebut adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Osmosis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Gana\u00ebl Dumreicher, Austria, Luxembourg, 2026), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YES! (JAH!)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Madli L\u00e4\u00e4ne, Estonia, 2024), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Francisca Alarc\u00e3o, Portugal, Spain, 2026), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AN ELEVATOR (Um Elevador)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Paulinho Caruso, Brasil, 2025), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">CONCRETE BEACH<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Motiejus Vy\u0161niauskas, Lithuania, 2026), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">PEOPLE LIVE HERE (Des Gens Vivent Ici)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Gabrielle C\u00f4t\u00e9, Canada, 2025).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enam film pendek ini menawarkan \u201ctempat\u201d sebagai gagasan yang terus\u2014bahkan perlu\u2014berubah. Justru di dalam perubahan itulah tempat menjadi dekat dengan tubuh kita: ia selalu rentan dan rapuh karena melekat pada kesementaraan manusia. Ia timbul bersama tubuh yang mengingat kehidupannya, dan pudar bersama tubuh yang melupakan kematiannya. Tempat adalah cara tubuh terhubung dengan ruang dan waktu; dan hanya melalui keterhubungan itulah makna dapat terus bernapas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pertama, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Osmosis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2026) yang disturadarai oleh Gana\u00ebl Dumreicher , menawarkan satu kemungkinan untuk membayangkan hubungan antara tempat dan tubuh, melalui relasi antara seorang manusia dan sebuah bangunan dalam semacam pertunjukan eksperimental. Pertunjukan ini bereksperimen dengan cara membangun hubungan ragawi antara penampil dan bangunan, hingga batas antara keduanya menjadi samar. Bangunan tidak lagi sekadar menjadi ruang yang ditempati tubuh, tetapi turut mencerminkan dan memperluas pengalaman tubuh di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti judulnya, film ini membayangkan tembusnya batas antara manusia dan arsitektur di luar dirinya. Ketika batas itu ditembus, hubungan mulai terjadi. Bangunan berdenyut dan mengalirkan cairan layaknya tubuh manusia. Lekuknya menjelma otot, kerangkanya menjelma rusuk, dan lubang-lubangnya menjelma vena. Penampil memperlihatkan rasa sakit melalui berbagai peristiwa dramatik di permukaan tubuhnya, seakan bangunan turut mewujudkan apa yang berlangsung di dalam tubuh tersebut. Kesan yang timbul dari rangkaian peristiwa itu mendekatkan arsitektur sebagai fenomena ketubuhan dengan mengaburkan batas antara organisasi dan organisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun hubungan yang dibangun melalui pertunjukan dalam film terasa begitu teatrikal dan tubuh sering kali menjadi dominan, saya melihat adanya upaya untuk mengurangi jarak dan hierarki antara tubuh dan ruang. Hubungan keduanya tidak lagi semata-mata menempatkan tubuh sebagai sesuatu yang hadir di dalam ruang, melainkan sebagai bagian yang turut membentuk dan menghidupkan ruang tersebut. Dalam pengertian ini, tubuh bukan hanya berada di suatu tempat, tetapi juga membawa kemungkinan bagi sebuah tempat untuk hadir.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10149\" aria-describedby=\"caption-attachment-10149\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-10149 size-large\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp-1024x576.png\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp-1024x576.png 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp-300x169.png 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp-768x432.png 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp-1536x864.png 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Osmosis_Dumreicher_Still_2-comp.png 1920w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10149\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Osmosis (2026) Sutradara Gana\u00ebl Dumreicher<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama-sama mempertemukan individu dengan sebuah bangunan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YES! (JAH!)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2024) yang disutradarai oleh Madli L\u00e4\u00e4nemewujudkan tegangan dari hubungan tersebut. Film ini menghadirkan tubuh yang tengah bertahan meski <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meleyot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada sudut-sudut tegak lurus arsitektur perkantoran modern. Pada film ini, bangunan justru menjadi penggaris yang berupaya meluruskan tubuh, membuatnya bergerak sesuai kerangka dan berperilaku sebagaimana ruang itu dirancang. Tubuh menggeliat menyusuri tangga, jendela, lorong, dan ruang yang tersambung satu dengan yang lain tanpa batas. Namun, ketidakterbatasan itu justru menjadi penjara karena ruang-ruang ini tidak mampu menampung makna tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Arsitektur berdiri sebagai pengawas\u00a0 yang mengarahkan tubuh untuk terus menapaki tangga, mendorong pintu, menyusuri rel tangan jembatan, dan bekerja tanpa henti. Lebih dari itu, tubuh diminta untuk menghendaki keadaan tersebut, dengan menerima dan mengatakan \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d kepadanya. Pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YES! (JAH!)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, setiap adegan bergulir sebagai potongan yang singkat dan menggantung, dijahit oleh suara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">voice-over<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> laki-laki yang bernada berat dan stabil khas iklan, mengingatkan betapa lelahnya mencari tempat dalam dunia modern. Bukan karena tempat telah lenyap, melainkan karena tidak ada kesempatan untuk hinggap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Modernitas membuat jarak semakin tak bisa diukur karena garis dibuat tak berujung, dan dari jarak yang ditabung, muncul kerinduan akan tempat sebagai rahim yang senantiasa mengandung. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2026) yang disutradarai oleh Francisca Alarc\u00e3o mengembalikan kita pada hubungan itu melalui hal yang kecil dan intim, yaitu pusar. Pada film ini, tempat tidak lagi hadir sebagai ruang yang kaku. Film ketiga menawarkan tempat sebagai waktu dan hubungan tubuh dengan masa lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teks dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan pengalaman narator dengan pusarnya sendiri. Penuh dengan penjelasan seputar kondisi fisik dan psikis, secara visual film ini menawarkan pusar sebagai sesuatu yang puitis. Pusar hadir melalui sesuatu yang sublim, memberikan pengalaman inderawi yang dapat dirasakan pada tubuh kita sendiri. Tak hanya sebagai pusat, pusar pun dapat dirasakan memanjang sebagai jaringan yang menghubungkan tubuh manusia dengan ibu. Layaknya lingkar pada buah dan daun yang mengisyaratkan hubungannya dengan pohon, pusar menandai awal cerita kita dengan dunia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengingatkan bahwa tubuh merupakan tempat pertama kita mengada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti pada menetapkan tubuh sebagai semesta kecil, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AN ELEVATOR (Um Elevador)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2025) yang disutradarai oleh Paulinho Caruso menjadikan tubuh sebagai wadah yang mengandung dunia-dunia kecil di dalamnya. Film ini berlatar pada percakapan imajinatif antara seorang penari dengan sebidang cermin di dalam sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">elevator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan riang, penari tersebut bermain dengan imajinasi atas pantulannya sendiri di cermin, menghasilkan kenyataan yang membelah diri, kemudian belahan itu saling berdialog. Menyaksikan penari bermain-main dengan cerminan dirinya membuat saya bercermin pada hubungan saya dengan pantulan diri saya sendiri. Di depan cermin, mudah untuk mengatakan \u201citu saya\u201d, namun sebetulnya kepercayaan diri dapat dipertanyakan lebih dalam: \u201citu \u2018saya\u2019 yang mana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat tertentu, kita dapat melihat pantulan diri kita lebih dalam, memperhatikan retak-retak di balik yang tampak. Dari retakan tersebut, kita dapat memasuki dunia-dunia yang tersembunyi di dalam dunia kita sendiri\u2014dunia yang terus bergejolak dan tidak eksak\u2014untuk kemudian menari di atas ketidaktetapannya. Film ini mewujudkan perjalanan itu melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">elevator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang membawa tubuh untuk melintasi dunia yang ada di dalam dirinya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elevator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dikelilingi cermin karena secara fisik sempit dan tertutup, membuat orang merasa sesak dan cemas. Cermin kemudian menciptakan ilusi ruang yang luas dan tanpa batas, tetapi sekaligus menggandakan ruang yang sama tanpa benar-benar memperluasnya. Di sinilah celah antara ruang yang nyata dan ruang yang dibayangkan mulai terbuka di depan mata kita. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elevator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak hanya membawa tubuh ke ketinggian, tetapi juga turun ke bawah sadar. Selama itu, kita menyusupi retak yang berlapis pada pantulan bilik yang tak habis. Dari sana, pikiran bebas \u201cmenarikan\u201d bayangan atas dirinya di depan cermin itu.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10151\" aria-describedby=\"caption-attachment-10151\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-10151 size-large\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-1024x576.webp\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-1536x864.webp 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/an-elevator-1-2048x1152.webp 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10151\" class=\"wp-caption-text\">Still Film An Elevator (Um Elevador) (2025) Sutradara Paulinho Caruso<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah terus berada di dalam ruangan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">CONCRETE BEACH<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2026) yang disutradarai oleh Motiejus Vy\u0161niauskas beranjak ke luar ruangan. Film ini diawali dengan seseorang yang tengah mengayuh sepedanya di tengah jalan. Belum lama setelah film dimulai, orang tersebut terjatuh dari sepedanya. Pada kejatuhan itu, terdengar suara yang masih bugar di balik tubuh yang gemetar: suara asistensi kecerdasan buatan yang melantunkan tuntunan untuk meneruskan pekerjaan. Makna atas tempat berkembang, tidak lagi dijangkarkan pada ruang fisik. Keputusasaan modern dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YES! (JAH!)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dibawa sejengkal lebih dalam oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">CONCRETE BEACH<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, melalui bagaimana hubungan manusia dengan tempat telah dipengaruhi, jika tidak dikendalikan, oleh kenyataan digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini menghadirkan tegangan antara yang organik dan yang mekanik, sekaligus antara yang fisikal dan yang digital. Pada titik ini, tubuhnya remuk, sepedanya rusak, bajunya sobek, layarnya retak, namun asisten itu tak juga koyak. Ia tetap melontarkan arahan dan pertanyaan dengan halus, sehalus peluru. Seakan darah yang keluar dari lukanya tak berbeda dengan keringat yang keluar ketika ia mengayuh sepeda ke tempat kerja. Menatap perih dunia yang tidak memberi tempat bagi ketidakbergunaannya, orang tersebut menanggalkan seluruh atribut modernitasnya, menyadari bahwa dunia modern hanya dapat dikenakan bagi mereka yang terus mengayuh tanpa henti.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">PEOPLE LIVE HERE (Des Gens Vivent Ici)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2025) yang disutradarai oleh Gabrielle C\u00f4t\u00e9. menjadi film terakhir yang merangkum hubungan antara tubuh, tempat, dan modernitas. Film ini menggeser pandangan dari tubuh sebagai individu menuju tubuh sebagai bagian dari sebuah jaringan. Melalui montase, berbagai bangunan dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya saling terhubung. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat yang berbeda dikumpulkan dan disusun menjadi mosaik kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, ruang kota tidak hadir sebagai satu gambaran yang utuh, tetapi terbentuk dari potongan-potongan peristiwa yang perlahan terkumpul menjadi sebuah pengalaman ruang melalui proses penumpukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu per satu, gedung baru bermunculan di antara gedung-gedung lain. Film ini berkembang dengan menunjukkan bagaimana sistem perkotaan melihat ruang seperti sebuah gudang: jika ada ruang kosong, isi; jika masih ada, isi lagi; jika memungkinkan, padatkan. Ruang menjadi semakin penuh dengan lipatan-lipatan yang semakin menekan. Ketika film pertama menghadirkan sebuah bangunan sebagai satu organisme, film ini melihat arsitektur perkotaan sebagai sebuah jaringan yang tumbuh berlebihan, menciptakan penyakit dari pertumbuhannya sendiri. Kota menjadi seperti organisme yang terus tumbuh, tetapi pertumbuhannya mulai menyerupai kanker yang berbalik menghancurkan dirinya sendiri. Pada klimaks program ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">PEOPLE LIVE HERE (Des Gens Vivent Ici)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menawarkan semacam cita-cita pasca-hancur lebur: sebuah pembangunan ulang yang didasari pada kesadaran atas jarak. Film ini membayangkan kesepakatan bersama untuk memaknai kemajuan seperti napas; sebuah proses yang membutuhkan jeda, tidak melulu harus cepat dan rapat.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10152\" aria-describedby=\"caption-attachment-10152\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-10152 size-large\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp-768x432.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/Concrete-Beach_2_1920x1080-comp.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10152\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Concrete Beach (2026) Sutradara Motiejus Vy\u0161niauskas<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Menempatkan diri<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masing-masing film pendek dalam program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sense of Place<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menawarkan tema dan cara yang berbeda dalam memperlihatkan hubungan antara tubuh dan tempat. Namun, di tengah perbedaan itu, seluruhnya memperlihatkan bagaimana modernitas membuat hubungan kita dengan tempat tidak lagi sama seperti sebelumnya. Film-film ini memantulkan kenyataan tentang bagaimana hasrat kemajuan kita untuk terus menciptakan ruang-ruang baru, hanya untuk membuat kita sadar bahwa ruang itu tidak serta-merta membawa makna tempat bersamanya. Bagaimana jika tempat lahir dari pengalaman tubuh yang berlangsung di dalam ruang dan waktu? Dari bagaimana kita mengingat, merasakan, dan berhubungan dengan sekitar kita. Karena itu, tempat tidak lagi ditemukan, melainkan tumbuh melalui keberadaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tertarik melihat perubahan ini melalui kata mapan, sebuah ungkapan yang berakar dari bahasa Jawa. Kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">papan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berarti tempat, dan dari situ kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mapan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat dipahami sebagai keadaan ketika seseorang telah menemukan atau mencapai \u201ctempat\u201d-nya.\u00a0 Dalam pemahaman terkini, mapan cenderung dipahami sebagai status dan kondisi sosial ekonomi yang nyaman, sebuah \u201ctempat\u201d yang menjadi tujuan. Adapun demikian, sepertinya pengertian akan mapan sebagai laku \u201cmencapai tempat\u201d menjadi lebih menarik jika maknanya tidak berhenti di sana, melainkan pada upaya manusia untuk memaknai pengalaman dalam ruang-waktu di mana dirinya berada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya istilah \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mataya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang memaknai tari sebagai laku mencari kekosongan, saya tertarik memahami \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mapan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d sebagai upaya untuk menempatkan diri di tengah kesadaran bahwa tempat yang absolut tidak mungkin ditemukan. Namun, justru karena itu, tempat tetap menjadi sesuatu yang terus diupayakan, karena ia kemudian hadir sebagai rasa yang terbentuk sepanjang perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah itu darah, ketuban, sungai, laut, atau air AC, sepertinya enam film ini mengenalkan kembali tempat sebagai air, untuk memahami bahwa air tidak pernah mencari tempatnya; justru keberadaannya membuat sungai, danau, dan laut menjadi mungkin. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari tempat sebagai sesuatu di hadapan kita, mengejar sebuah titik yang kita bayangkan akan membuat kita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mapan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Padahal, tempat mungkin tidak pernah menunggu untuk ditemukan. Ia tumbuh dari lintasan kita sendiri, bagaimana tubuh bergerak, mengingat, merasa, terhubung, dan terus mengalir.<\/span><\/p>\n<h6><em>Program ini bisa ditonton di Minikino Film Week 12, Bali International Short Film Festival, tanggal <\/em><em>11\u201318 September 2026.<\/em><\/h6>\n<h6><strong>Minikino 13+<\/strong><br \/>\nMinggu, 13 September 2026 &#8211; 10:30 di MASH Denpasar Art House Cinema<br \/>\nMinggu, 13 September 2026 &#8211; 20:00 di Living World Amphitheatre<br \/>\nSelasa, 15 September 2026 &#8211; 11:00 di Dharma Negara Alaya: Ruang Audio Visual<br \/>\nKamis, 17 September 2026 &#8211; 10:00 di RTB &#8211; Rumah Tanjung Bungkak<\/h6>\n<h6>Kunjungi <a href=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/\">minikino.org\/filmweek<\/a> untuk mengunduh katalog digital MFW12.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepertinya telah menjadi takdir bagi manusia untuk terus mencari tempat. Tidak berbeda dengan air yang mencari tanah yang lebih rendah, manusia mengalir dari satu tempat ke tempat lain, mencoba menemukan hilirnya. Adapun pelukan laut hanya menampung kepuasan sesaat, sebelum kelip-kelip itu menguap dan kembali menjadi embun gunung. Meskipun berkali-kali mengecewakan dan menuntut begitu banyak waktu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":90,"featured_media":10148,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[751,750,753,752],"jnews-series":[],"class_list":["post-10135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-arsitektur","tag-kota","tag-manusia","tag-tubuh"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sepertinya telah menjadi takdir bagi manusia untuk terus mencari tempat. Tidak berbeda dengan air yang mencari tanah yang lebih rendah, manusia mengalir dari satu tempat ke tempat lain, mencoba menemukan hilirnya. Adapun pelukan laut hanya menampung kepuasan sesaat, sebelum kelip-kelip itu menguap dan kembali menjadi embun gunung. Meskipun berkali-kali mengecewakan dan menuntut begitu banyak waktu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-03T05:24:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-03T05:42:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Razan Wirjosandjojo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Razan Wirjosandjojo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Razan Wirjosandjojo\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9\"},\"headline\":\"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12\",\"datePublished\":\"2026-09-03T05:24:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-03T05:42:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/\"},\"wordCount\":2010,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/09\\\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg\",\"keywords\":[\"Arsitektur\",\"Kota\",\"Manusia\",\"Tubuh\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/\",\"name\":\"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/09\\\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-03T05:24:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-03T05:42:40+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/09\\\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2026\\\/09\\\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara Madli L\u00e4\u00e4ne\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/ulasan-program-sense-of-place\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9\",\"name\":\"Razan Wirjosandjojo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2024\\\/10\\\/razan_avatar-96x96.jpg\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2024\\\/10\\\/razan_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/10\\\/2024\\\/10\\\/razan_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Razan Wirjosandjojo\"},\"description\":\"Razan Wirjosandjojo adalah seorang seniman yang berbasis di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia mulai menekuni praktik tari sejak tahun 2010, belajar di berbagai ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Sejak pindah ke Solo, pengembangan artistiknya tumbuh terpengaruh oleh kegiatan seni dan kebudayaan di Solo, serta melalui bimbingan berkelanjutan bersama Melati Suryodarmo yang dimulai pada tahun 2018. Praktik karyanya memandang tubuh sebagai situs fisik sekaligus temporal, tempat gerak menjadi percakapan antara organ dan jiwa, kehadiran dan kelenyapan. Konsep rasa memegang peran penting dalam karyanya sebagai sistem pencerapan yang terhubung dengan ingatan tersembunyi dan pengetahuan intuitif. Dengan bekerja lintas wahana: tari, seni performans, film, dan fotografi, ia menelusuri kembali sejarah untuk mencari keragaman pengalaman rasa dan sensasi yang kerap terabaikan oleh budaya arus utama saat ini. Karya-karya performansnya antara lain Fajar di Ufuk Barat, dipresentasikan dalam On Stage oleh Studio Plesungan, Surakarta (2021) dan Bali Performing Arts Meeting, Bali (2023); Soft Square, dipresentasikan dalam Asiatopia, Bangkok (2024); Undisclosed Territory #14, Studio Plesungan, Karanganyar (2024); March Dance, Chennai (2025); serta Bali Performing Arts Meeting, Bali (2025). Karya filmnya meliputi Harga Mahal Yang Dibayar Murah, dipresentasikan dalam Indonesia Bertutur, Borobudur (2022); Mini Film Festival, Kuala Lumpur (2023); Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival (2023); serta Alcine Film Festival, Madrid (2023). Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa dan staf di Studio Plesungan. Informasi lebih lanjut dapat diakses di razanrazan.com\",\"url\":\"https:\\\/\\\/minikino.org\\\/articles\\\/author\\\/razan\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles","og_description":"Sepertinya telah menjadi takdir bagi manusia untuk terus mencari tempat. Tidak berbeda dengan air yang mencari tanah yang lebih rendah, manusia mengalir dari satu tempat ke tempat lain, mencoba menemukan hilirnya. Adapun pelukan laut hanya menampung kepuasan sesaat, sebelum kelip-kelip itu menguap dan kembali menjadi embun gunung. Meskipun berkali-kali mengecewakan dan menuntut begitu banyak waktu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2026-09-03T05:24:02+00:00","article_modified_time":"2026-09-03T05:42:40+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Razan Wirjosandjojo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Razan Wirjosandjojo","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/"},"author":{"name":"Razan Wirjosandjojo","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9"},"headline":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12","datePublished":"2026-09-03T05:24:02+00:00","dateModified":"2026-09-03T05:42:40+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/"},"wordCount":2010,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg","keywords":["Arsitektur","Kota","Manusia","Tubuh"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/","name":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12 - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg","datePublished":"2026-09-03T05:24:02+00:00","dateModified":"2026-09-03T05:42:40+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/09\/YES_MadliLaane_2-comp.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara Madli L\u00e4\u00e4ne"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ulasan-program-sense-of-place\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Meniti Titik pada Papan: Ulasan program \u201cSense of Place\u201d di Minikino Film Week ke-12"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/bf88d9b24ef19cc6b817749b4741a1f9","name":"Razan Wirjosandjojo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/10\/razan_avatar-96x96.jpg","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/10\/razan_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/10\/razan_avatar-96x96.jpg","caption":"Razan Wirjosandjojo"},"description":"Razan Wirjosandjojo adalah seorang seniman yang berbasis di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia mulai menekuni praktik tari sejak tahun 2010, belajar di berbagai ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Sejak pindah ke Solo, pengembangan artistiknya tumbuh terpengaruh oleh kegiatan seni dan kebudayaan di Solo, serta melalui bimbingan berkelanjutan bersama Melati Suryodarmo yang dimulai pada tahun 2018. Praktik karyanya memandang tubuh sebagai situs fisik sekaligus temporal, tempat gerak menjadi percakapan antara organ dan jiwa, kehadiran dan kelenyapan. Konsep rasa memegang peran penting dalam karyanya sebagai sistem pencerapan yang terhubung dengan ingatan tersembunyi dan pengetahuan intuitif. Dengan bekerja lintas wahana: tari, seni performans, film, dan fotografi, ia menelusuri kembali sejarah untuk mencari keragaman pengalaman rasa dan sensasi yang kerap terabaikan oleh budaya arus utama saat ini. Karya-karya performansnya antara lain Fajar di Ufuk Barat, dipresentasikan dalam On Stage oleh Studio Plesungan, Surakarta (2021) dan Bali Performing Arts Meeting, Bali (2023); Soft Square, dipresentasikan dalam Asiatopia, Bangkok (2024); Undisclosed Territory #14, Studio Plesungan, Karanganyar (2024); March Dance, Chennai (2025); serta Bali Performing Arts Meeting, Bali (2025). Karya filmnya meliputi Harga Mahal Yang Dibayar Murah, dipresentasikan dalam Indonesia Bertutur, Borobudur (2022); Mini Film Festival, Kuala Lumpur (2023); Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival (2023); serta Alcine Film Festival, Madrid (2023). Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa dan staf di Studio Plesungan. Informasi lebih lanjut dapat diakses di razanrazan.com","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/razan\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/90"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10135"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10135\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10156,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10135\/revisions\/10156"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10135"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=10135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}