{"id":6940,"date":"2021-08-16T13:39:46","date_gmt":"2021-08-16T05:39:46","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=6940"},"modified":"2021-08-16T13:40:46","modified_gmt":"2021-08-16T05:40:46","slug":"melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/","title":{"rendered":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak banyak menonton film dari Aceh maupun tentang perempuan Aceh. Pengetahuan saya tentang bagaimana perempuan Aceh dipresentasikan dalam film, seingat saya hanya melalui film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tjoet Nja&#8217; Dhien<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1988). Dan saya sadar betul tidak semua perempuan Aceh dapat direpresentasikan oleh tokoh seperti Tjoet Nja\u2019.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karenanya<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">menonton film-film dalam program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2021: Aceh,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengantarkan saya pada pengalaman menonton kisah tentang perempuan Aceh dalam dimensinya yang beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2021: Aceh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kali ini menampilkan lima film pendek dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang memiliki kedekatan dengan Aceh. Entah karena mereka adalah orang Aceh, atau pernah tinggal di Aceh. Dalam catatan program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2021: Aceh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang ditulis oleh Muhammad Akbar Rafsanjani, fokus dari rangkaian program ini adalah \u201cmemperlihatkan betapa inti masalah yang diterima perempuan adalah relasinya dengan patriarki, hingga upaya untuk sadar diri dan membalik kuasa atas relasi ini\u201d. Tak heran jika, semua tokoh utama dalam program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2021: Aceh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pertama yang saya saksikan adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Momo <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2020), film eksperimental yang digarap oleh Qiu Mattane Lao. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Momo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menampilkan alegori seekor anjing dan perempuan yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sama-sama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">terkurung dalam kandang. Lao memosisikan perempuan sama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">terdomestikasi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan tidak bebas layaknya anjing, laki-laki di sisi yang lain adalah pihak yang tidak suka melihat perempuan\/anjing bebas. Manuver simbolik yang dilakukan oleh Lao, saya rasa cukup frontal untuk menggambarkan ketertindasan perempuan. Sebagai pembuka program ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Momo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rasanya dimaksudkan untuk menjadi semacam halaman rumah, menjadi impresi pertama menuju rumah yang di dalamnya banyak kamar <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berisi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">problem-problem relasi kuasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pembuka dan ekspektasi yang terbangun karena saya membaca catatan programnya dulu sebelum menonton film-filmnya, membuat saya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berekspektasi dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mencari-cari aspek relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki. Sebuah relasi heteronormatif yang menempatkan perempuan dalam posisi sulit di film-film berikutnya. Hal ini tentu saya sadari sebagai konsekuensi dari sebuah pengantar program. Entah pengantar ini berhasil mengantarkan dan membantu pembaca dalam memahami suatu film atau justru membuat pembaca tersesat dalam belantara preasumsi. Pada titik inilah saya melihat menariknya program film pendek. Film pendek sendiri sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">artform <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bisa diinterpretasikan secara luas oleh penonton. Di samping itu, program film juga bisa membentuk narasi baru. Oleh karenanya, ketika saya selesai menonton kelima film ini dan mencoba menarik benang merah yang berbeda dengan programmer tidak ada salahnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Perempuan dalam bingkai fiksi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Poe Ru<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">moh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Fadhilul Umami, 2020), film fiksi yang berlatar tragedi simpang KAA pada tahun 1999, saya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> melihat kebimbangan dan kesedihan tokoh utama yang ditinggal suaminya bukan berlandas pada relasi kuasa yang mengopresi posisi tokoh utama. Namun lebih pada relasi cinta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">matrimonial<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">dan kepedulian. Lagipula siapa yang tidak sedih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di hadapan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kehilangan yang tidak terduga? Mengutip apa yang dikatakan Bell Hooks dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Will to Change: Men, Masculinity, and Love<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, laki-laki adalah korban dan pelaku patriarki sekaligus. Membuat saya berpikir jika dalam film ini sang suami justru menjadi korban juga. Laki-laki yang juga menjadi korban patriarki ini berada di posisi yang rumit. Sang suami dalam film dikonstruksi untuk memikul beban tanggung jawab dan kehormatan rumah tangga. Oleh karenanya, sang suami terpaksa harus lebih dulu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">off-screen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan menjemput kematian sebagai harga yang harus ditanggung karena berhadapan dengan opresi maskulinitas hegemonik yang lebih besar bernama negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film fiksi tentu bisa menggambarkan realitas faktual tentang peristiwa dan kondisi sosial-politik suatu wilayah, tetapi sejatinya film fiksi mempunyai kapasitas yang lebih lentur dalam mengonstruksi realitas. Pada titik ini, konstruksi realitas dalam suatu film sangat tergantung pada gagasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan bagaimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">membingkai realitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film fiksi yang disutradarai Arief Rachman Missuari, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hana Gata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2020), hampir memenuhi ekspektasi saya dari apa yang dituliskan Akbar di catatan program. Namun, pesan tersebut tidak kuat saya rasakan karena relasi antara istri-suami tidak terbangun secara kuat dalam film. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hana Gata <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">secara singkat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bercerita tentang seorang janda beranak satu yang sehari-hari bekerja di rumah dan selalu membayangkan suaminya yang hilang. Sang janda dalam film ini selalu membuat kopi dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">timpan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk suaminya, meskipun suaminya sudah tiada. Ketika janda ini membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">timpan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ia menangis di dapur dan berkata, \u201cTak ada yang berubah semenjak kepergianmu, aku masih saja membuat kopi dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">timpan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untukmu, bang\u201d. Sebagai penonton saya tidak dapat menangkap ekspresi ini sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grieving<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau penderitaan karena perasaan terpaksa oleh kultur. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">P<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ada akhirnya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">relasi kuasa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam film ini terkesan dipaksakan hadir melalui percakapan dari seorang tokoh bercadar yang tiba-tiba ingin membunuh sang janda.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_6941\" aria-describedby=\"caption-attachment-6941\" style=\"width: 1080px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6941 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh.webp\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"608\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh.webp 1080w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/elin-still-iraceh-750x422.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6941\" class=\"wp-caption-text\">Still film Elin karya Andri Saputra (2020) dari program Indonesia Raja Aceh 2021<\/figcaption><\/figure>\n<p><b><i>In the Absence of Men<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2020)<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">karya Andri Saputra, justru saya tidak menemukan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan sama sekali, laki-laki bahkan tidak hadir secara signifikan. Film dokumenter ini merekam keseharian dan gagasan Elin, perempuan difabel yang mengadvokasi isu-isu disabilitas di kalangan pemuda Aceh. Elin dan komunitasnya berjuang untuk menghapus persepsi tentang istilah normal dan abnormal. Baginya distingsi ini justru menempatkan kawan-kawan difabel sebagai alien. Kalaupun ingin melacak secara historis tentang pembedaan yang normal dan abnormal ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film dokumenter lain dari program ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klinik Nenek <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2019) karya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sonya Anggi Yani dan Oka Rahmadiyah, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">juga tidak menunjukan peran laki-laki yang signifikan, sama seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film yang diproduksi oleh Aceh Documentary ini secara observasional memperlihatkan bagaimana seorang pembuat obat-obatan tradisional di Panga, Aceh Jaya mendapat banyak pasien kembali setelah mereka kecewa dengan pengobatan modern. Di samping itu, kegelisahan si Nenek tentang pengetahuan pengobatan tradisional yang tidak mustahil akan punah karena kendala regenerasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Relasi kuasa heteronormatif justru patah dengan kehadiran film-film semacam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klinik Nenek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Relasi heteronormatif yang berdasar pada kuasa dan polarisasi, tidak ditampilkan dalam film-film dokumenter ini. \u201cRangkaian film pendek ini memperlihatkan betapa inti masalah yang diterima perempuan adalah relasinya dengan patriarki\u201d seperti yang dikatakan Akbar dalam catatan program, tidak sepenuhnya nampak menjadi pendorong utama laju film-film ini. Tentu hal ini bukan berarti kondisi faktual (di luar layar) perempuan Aceh sudah terlepas dari belenggu patriarki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin di sinilah sisi menarik dari sebuah program pemutaran, dia bisa memantik dan memicu diskusi yang lebih jauh. Terlebih film sebagai produk budaya tentu tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang hitam putih. Perbedaan pendapat pun pada akhirnya menjadi sebuah dialog dialektis yang membuka jalan pada sudut pandang baru. Berbeda dengan Akbar dalam menarik benang merah dalam rangkaian lima film pendek ini, alih-alih menunjukan kesan \u201cperempuan yang tertindas\u201d dan selalu bergantung pada laki-laki, Saya justru menemukan keragaman masalah kehidupan perempuan-perempuan dalam film-film ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menunjukkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">spirit <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tentang ketahanan dan upaya untuk terus berdaya di tengah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berbagai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kesulitan hidup yang banyak lapisannya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya tidak banyak menonton film dari Aceh maupun tentang perempuan Aceh. Pengetahuan saya tentang bagaimana perempuan Aceh dipresentasikan dalam film, seingat saya hanya melalui film Tjoet Nja&#8217; Dhien (1988). Dan saya sadar betul tidak semua perempuan Aceh dapat direpresentasikan oleh tokoh seperti Tjoet Nja\u2019. Oleh karenanya menonton film-film dalam program Indonesia Raja 2021: Aceh, mengantarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":6942,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[125,101,59,99,126],"jnews-series":[],"class_list":["post-6940","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-aceh","tag-film-pendek","tag-indonesia-raja","tag-minikino","tag-perempuan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saya tidak banyak menonton film dari Aceh maupun tentang perempuan Aceh. Pengetahuan saya tentang bagaimana perempuan Aceh dipresentasikan dalam film, seingat saya hanya melalui film Tjoet Nja&#8217; Dhien (1988). Dan saya sadar betul tidak semua perempuan Aceh dapat direpresentasikan oleh tokoh seperti Tjoet Nja\u2019. Oleh karenanya menonton film-film dalam program Indonesia Raja 2021: Aceh, mengantarkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-08-16T05:39:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-08-16T05:40:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"608\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"headline\":\"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar\",\"datePublished\":\"2021-08-16T05:39:46+00:00\",\"dateModified\":\"2021-08-16T05:40:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\"},\"wordCount\":1042,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp\",\"keywords\":[\"aceh\",\"film pendek\",\"Indonesia Raja\",\"Minikino\",\"perempuan\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\",\"name\":\"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp\",\"datePublished\":\"2021-08-16T05:39:46+00:00\",\"dateModified\":\"2021-08-16T05:40:46+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp\",\"width\":1080,\"height\":608,\"caption\":\"Pengantar program dari Programmer Indonesia Raja 2021 Aceh, Muhammad AKbar Rafsanjani. - Dok: Minikino\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\",\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Ahmad Fauzi\"},\"description\":\"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles","og_description":"Saya tidak banyak menonton film dari Aceh maupun tentang perempuan Aceh. Pengetahuan saya tentang bagaimana perempuan Aceh dipresentasikan dalam film, seingat saya hanya melalui film Tjoet Nja&#8217; Dhien (1988). Dan saya sadar betul tidak semua perempuan Aceh dapat direpresentasikan oleh tokoh seperti Tjoet Nja\u2019. Oleh karenanya menonton film-film dalam program Indonesia Raja 2021: Aceh, mengantarkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2021-08-16T05:39:46+00:00","article_modified_time":"2021-08-16T05:40:46+00:00","og_image":[{"width":1080,"height":608,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Ahmad Fauzi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ahmad Fauzi","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/"},"author":{"name":"Ahmad Fauzi","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"headline":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar","datePublished":"2021-08-16T05:39:46+00:00","dateModified":"2021-08-16T05:40:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/"},"wordCount":1042,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp","keywords":["aceh","film pendek","Indonesia Raja","Minikino","perempuan"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/","name":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp","datePublished":"2021-08-16T05:39:46+00:00","dateModified":"2021-08-16T05:40:46+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/08\/ir21aceh-akbar.webp","width":1080,"height":608,"caption":"Pengantar program dari Programmer Indonesia Raja 2021 Aceh, Muhammad AKbar Rafsanjani. - Dok: Minikino"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/melihat-dinamika-hidup-perempuan-aceh-dalam-layar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Melihat Dinamika Hidup Perempuan Aceh dalam Layar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3","name":"Ahmad Fauzi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","caption":"Ahmad Fauzi"},"description":"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6940","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6940"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6940\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6943,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6940\/revisions\/6943"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6940"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6940"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6940"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=6940"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}