{"id":7038,"date":"2021-09-20T17:30:58","date_gmt":"2021-09-20T09:30:58","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=7038"},"modified":"2021-09-27T18:23:33","modified_gmt":"2021-09-27T10:23:33","slug":"merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/","title":{"rendered":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua orang penyelamat tunawisma menyusuri malam hari penuh salju di Berlin menggunakan sebuah van. Di dalam van ada radio yang menyiarkan seorang perempuan yang bermonolog, kalimat pembukanya kurang lebih seperti ini, \u201clautan pasti sangat gelap dan sadis, kalau tidak kenapa nenek moyang biologis kita ingin meninggalkan laut dan mulai mencoba peruntungan di daratan\u201d. Lalu monolog itu dipotong dengan suara perbincangan salah seorang penyelamat tunawisma dengan seseorang di telepon yang mengabarkan, \u201cAda seseorang terbaring tanpa pakaian\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya suara monolog yang hadir di adegan pembuka film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Night Upon Kepler 452B <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2019) itu, dilanjutkan kembali, kali ini dengan kisah tentang penemuan Kepler 452B, sebuah planet yang berjarak 1.400 tahun cahaya dari bumi dan diduga cukup ramah untuk kehidupan organisme seperti bumi. Lalu, monolog itu beberapa kali terpotong oleh beberapa telepon panggilan lain untuk menyelamatkan tunawisma yang kepayahan menghadapi dinginnya kota Berlin.<\/span><\/p>\n<h4><b>Langit Sebagai Atap Rumah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Berlin jumlah orang yang tidur di luar pada musim dingin memang cukup mengkhawatirkan. Bayangkan sekitar 6.000 hingga 10.000 orang, pada tahun 2019 tinggal di jalanan Berlin. Dan sekitar 50.000 orang tidak memiliki rumah permanen dan dianggap tunawisma, meskipun mereka tidak tinggal di jalan. Saya di sini sadar jika statistik ini bisa berisiko memberi kesan, saya jadi tidak sensitif terhadap pengalaman personal subjek-subjek yang hadir di film ini. Mereduksi manusia menjadi sebatas data bagaimanapun, adalah praktik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dehumanizing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, kehadiran data ini saya maksudkan untuk memperkuat pesan, betapa ironisnya membicarakan planet sebagai rumah baru, sedangkan orang-orang tunawisma ini sebetulnya hanya butuh atap dan ruang tertutup yang bisa sedikit menghangatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada titik itulah, Ben Voit sebagai sutradara film dokumenter pendek ini, dengan baik menggunakan juxtaposisi untuk menampilkan ironi dengan mengkontras antara dua hal: Narasi besar kosmologis tentang rumah bagi kemanusiaan yang kesannya jauh dan \u201cmengawang-ngawang\u201d (berangkat dari penemuan planet Kepler 452B); <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vis-\u00e0-vis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan narasi visual orang-orang tunawisma yang menyentuh aspek pengalaman sensorial seperti kedinginan, kepuyengan, dan kelelahan dari subjek-subjek yang hadir dalam film ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juxtaposisi dapat dimaknai sebagai teknik menempatkan dua atau lebih suatu hal secara berdampingan untuk membandingkan atau mempertegas kontras. Tujuannya untuk mendekatkan suatu hal ke hal yang lain untuk menuju suatu bentuk pemaknaan. Juxtaposisi semacam ini dapat ditemukan dalam dokumenter lain, misalnya dalam dokumenter garapan Patricio Guzm\u00e1n, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nostalgia for the Light <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2010). Kedua film ini punya pendekatan yang mirip meskipun tema yang diangkat berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nostalgia <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">narasi besar hadir dalam praktik pencarian asal-usul alam semesta. Juga menjadi sebuah pencarian jati diri umat manusia di antara bintang-bintang. Para astronom meneropong langit di observatorium yang didirikan di padang Atacama yang langitnya jernih itu. Di lain sisi, di tengah padang Atacama, ada beberapa orang yang menggali pasir, mencari tulang belulang orang terkasih yang menjadi korban pembantaian kediktatoran rezim Pinocet. Ironi pun hadir dalam ungkapan salah seorang pencari tulang itu, \u201candai teleskop enggak cuma bisa meneropong langit, tapi juga ke sini, ke dalam bumi\u201d. Juxtaposisi antara sesuatu yang makro dan mikro ini, menunjukan sebuah ironi. Tentang bagaimana manusia kerap kali kelimpungan sendiri mendefinisikan kemanusiaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Senada dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nostalgia, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">narasi tentang Kepler 452B dihadirkan oleh Ben Voit dalam film ini untuk menunjukan ironi yang serupa. Kepler 452B selain sebagai sebuah nama untuk planet yang banyak mempunyai kemiripan dengan bumi. Ia juga menjadi semacam metafor untuk sebuah kemungkinan rumah baru yang jauh bagi orang-orang Jerman yang tidak punya rumah. Juxtaposisi ini berhasil menampilkan ironi kehidupan tunawisma di kota Berlin. Mereka boro-boro memikirkan rumah baru bagi kemanusiaan, dengan langit sebagai atap rumah, bertahan melewati malam yang begitu dingin saja adalah sebuah perjuangan hidup dan mati. Terlebih ironi ini semakin kuat dalam konteks sosiologisnya. Ketika negara maju seperti Jerman yang digadang-gadang memiliki ekspektasi hidup yang tinggi, bisa menjadi \u201crumah\u201d bagi imigran muslim, terutama pada masa pemerintahan Kanselir Angela Merkel.<\/span><\/p>\n<h4><b>Dingin yang Terekam Dalam Tubuh<\/b><\/h4>\n<figure id=\"attachment_7046\" aria-describedby=\"caption-attachment-7046\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-7046 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_2-Konrad_Waldmann.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"283\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_2-Konrad_Waldmann.jpg 500w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_2-Konrad_Waldmann-300x170.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7046\" class=\"wp-caption-text\">Still film Night Upon Kepler 452B (Ben Voit, 2019) \u2013 Dok: Minikino<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu daya tarik dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Night Upon Kepler 452B<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah cara Konrad Waldmann sebagai juru kamera mengambil gambar. Seperti telah disinggung sebelumnya, visual dalam film ini, bertujuan untuk memberikan afek pada penonton untuk merasakan pengalaman sensorial seperti kedinginan, kepuyengan, dan kelelahan dari subjek-subjek yang hadir dalam film ini. Pengambilan adegan melalui refleksi kaca dan beberapa adegan yang tampil kerapkali blur dan penuh warna, nampaknya merupakan upaya agar penonton juga ikutan merasakan lelah. Dalam lelah yang berlebih biasanya pikiran juga ikutan sedikit konslet dan bagian sensorial dalam tubuh kadang jadi over sensitif. Bayangkan dirimu adalah petugas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rescue <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang harus terjaga sepanjang malam. Rasa lelah, kedinginan, dan pening adalah komposisi jitu kalau kamu ingin masuk dalam realitas yang penuh distorsi. Sebagaimana filmmaker mengajak kita merasakan bagaimana subjek-subjek dalam film ini berada dalam kondisi di antara hidup dan mati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan sensorial menjadi metode yang saya rasa pas untuk menunjang kisah pergulatan para penyelamat tunawisma dan orang-orang tunawisma di Berlin.\u00a0Pendekatan ini cenderung mengandalkan \u201crasa\u201d untuk mengetahui kondisi\/informasi dari subjek. Berbeda dengan pendekatan partisipatoris yang mengandalkan wawancara sebagai metode mengetahui. Dengan kondisi subjek yang sedang bergelut dalam kondisi di antara hidup dan mati, pendekatan sensorial jauh lebih mungkin secara etis dan tentu jauh lebih simpatik. Tidak terbayang bagaimana jadinya kalau, orang-orang yang bergulat dalam dunia yang terus-menerus memaksa mereka untuk tetap terjaga, dalam dingin, dan dalam lelah ini mendapat pertanyaan, \u201ckapan terakhir kali tidur di kamar?\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, sebagai manusia yang seumur hidup tinggal di negara tropis, saya tidak punya pengalaman dengan musim salju. Jadi agak sulit juga membayangkan bagaimana rasanya terserang hipotermia seperti yang dialami beberapa subjek dalam film ini. Pengalaman merasakan dingin saya mentok ketika berada di atas puncak gunung-gunung di tanah Jawa. Dingin-dingin yang saya alami selalu sifatnya rekreasional dan dapat dengan mudah diatasi. Namun justru dari sana, setelah selesai menyaksikan film ini, saya jadi memiliki bayangan, betapa sulitnya harus selalu berhadapan dengan dingin dan rasa lelah yang bukan sebuah opsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, aspek personal dari para subjek dan kondisi sosiologis tentang tunawisma dalam film ini, menunjukan lapisan masalah manusia yang tidak pernah satu dimensi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Night Upon Kepler 452B <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pun dalam durasinya yang hanya 15 menit, adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tour de force <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam menampilkan realitas yang penuh ironi.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua orang penyelamat tunawisma menyusuri malam hari penuh salju di Berlin menggunakan sebuah van. Di dalam van ada radio yang menyiarkan seorang perempuan yang bermonolog, kalimat pembukanya kurang lebih seperti ini, \u201clautan pasti sangat gelap dan sadis, kalau tidak kenapa nenek moyang biologis kita ingin meninggalkan laut dan mulai mencoba peruntungan di daratan\u201d. Lalu monolog [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":7047,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[133,130,99,123,134],"jnews-series":[],"class_list":["post-7038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-documentary-nominee","tag-mfw7","tag-minikino","tag-minikino-film-week","tag-night-upon-kepler-452b"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dua orang penyelamat tunawisma menyusuri malam hari penuh salju di Berlin menggunakan sebuah van. Di dalam van ada radio yang menyiarkan seorang perempuan yang bermonolog, kalimat pembukanya kurang lebih seperti ini, \u201clautan pasti sangat gelap dan sadis, kalau tidak kenapa nenek moyang biologis kita ingin meninggalkan laut dan mulai mencoba peruntungan di daratan\u201d. Lalu monolog [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-09-20T09:30:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-09-27T10:23:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"611\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"headline\":\"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019)\",\"datePublished\":\"2021-09-20T09:30:58+00:00\",\"dateModified\":\"2021-09-27T10:23:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\"},\"wordCount\":991,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg\",\"keywords\":[\"documentary nominee\",\"MFW7\",\"Minikino\",\"Minikino Film Week\",\"NIGHT UPON KEPLER 452B\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\",\"name\":\"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg\",\"datePublished\":\"2021-09-20T09:30:58+00:00\",\"dateModified\":\"2021-09-27T10:23:33+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg\",\"width\":1080,\"height\":611,\"caption\":\"Still film Night Upon Kepler 452B (Ben Voit, 2019) \u2013 Dok: Minikino\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\",\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Ahmad Fauzi\"},\"description\":\"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles","og_description":"Dua orang penyelamat tunawisma menyusuri malam hari penuh salju di Berlin menggunakan sebuah van. Di dalam van ada radio yang menyiarkan seorang perempuan yang bermonolog, kalimat pembukanya kurang lebih seperti ini, \u201clautan pasti sangat gelap dan sadis, kalau tidak kenapa nenek moyang biologis kita ingin meninggalkan laut dan mulai mencoba peruntungan di daratan\u201d. Lalu monolog [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2021-09-20T09:30:58+00:00","article_modified_time":"2021-09-27T10:23:33+00:00","og_image":[{"width":1080,"height":611,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ahmad Fauzi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ahmad Fauzi","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/"},"author":{"name":"Ahmad Fauzi","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"headline":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019)","datePublished":"2021-09-20T09:30:58+00:00","dateModified":"2021-09-27T10:23:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/"},"wordCount":991,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg","keywords":["documentary nominee","MFW7","Minikino","Minikino Film Week","NIGHT UPON KEPLER 452B"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/","name":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019) - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg","datePublished":"2021-09-20T09:30:58+00:00","dateModified":"2021-09-27T10:23:33+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/09\/Night_Upon_Kepler_452b_Still_1-Konrad_Waldmann.jpg","width":1080,"height":611,"caption":"Still film Night Upon Kepler 452B (Ben Voit, 2019) \u2013 Dok: Minikino"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/merasakan-ironi-dalam-night-upon-kepler-452b-2019\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Merasakan Ironi dalam Night Upon Kepler 452B (2019)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3","name":"Ahmad Fauzi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","caption":"Ahmad Fauzi"},"description":"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7038"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7038\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7087,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7038\/revisions\/7087"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7047"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7038"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=7038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}