{"id":7350,"date":"2022-05-16T14:30:35","date_gmt":"2022-05-16T06:30:35","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=7350"},"modified":"2022-10-04T16:08:50","modified_gmt":"2022-10-04T08:08:50","slug":"kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/","title":{"rendered":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi salah satu peserta terpilih dalam program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers 2022 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memungkinkan saya mendapat akses khusus untuk menonton program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2022. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kesempatan menonton tersebut juga merupakan pengalaman pertama saya menonton film pendek sebagai sebuah program. Dengan kepercayaan bahwa semua pengalaman tentu baik, saya merasa perasaan awal saya lugu, kikuk, kosong, dan gamang. Dalam rangka menjadikan pengalaman pertama ini bagian proses belajar yang menyenangkan untuk diri saya sendiri, maka saya berupaya menciptakan atmosfer menonton yang syahdu. Lampu dimatikan dan benda-benda yang sekiranya dapat mengalihkan kekhidmatan, saya singkirkan jauh-jauh. Akhirnya hanya layar laptop menyala dan menampilkan satu demi satu film pendek hingga akhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kesempatan kali ini saya menilik film-film dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Berangkat dari keragaman topik yang ditawarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">programmer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam catatannya, saya memilih Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pengalaman pertama menyaksikan bagaimana program film pendek bekerja. Rasyid Faqih selaku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">programmer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mencatat kebaruan pengolahan format dan cara tutur merupakan hal yang dieksplorasi, sehingga urgensi topik dapat diperoleh melalui kesegaran sudut pandang. Film-film pendek terpilih memberi tambahan wawasan bagi saya mengenai kebaruan bentuk yang dapat ditawarkan dari medium ini. Sang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Programmer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga menyebutkan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">isu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gender<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, politik-agraria, dan krisis pandemi merupakan hal yang diangkat dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Raja 2022: Daerah Istimewa Yogyakarta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Program dengan total durasi kurang lebih 60 menit ini menyajikan potret kemuraman realitas sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan singkat ini tidak akan melucuti satu demi satu elemen yang disajikan dalam film, melainkan mengapresiasi tekad dan ambisi pembuat film serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Di bagian pertama kita dapat menyaksikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021) yang berupaya melepaskan sang kawan dari belenggu kekerasan domestik. Kemudian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu Ora Sare <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021) merekam stigma <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gender <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang melemahkan perempuan dan menghadirkan perlawanan sebagai ibu tunggal serba bisa. Dinamika persoalan yang dialami perempuan berusaha dilawan kedua karakter dalam film alih-alih terus-menerus terjebak dalam realitas yang bias <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gender. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Pada separuh terakhir program, kita dapat merasakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja Kronik <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2020) mengajak kita memaknai kembali bertahan hidup dalam masa-masa sulit.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_7351\" aria-describedby=\"caption-attachment-7351\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7351\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT.webp\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT.webp 1920w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-FOTO-ARISAN-SIASAT-1536x864.webp 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7351\" class=\"wp-caption-text\">Salah satu adegan <em>Arisan Siasat<\/em> (2021) karya Erlina Rakhmawati (dok: istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Menjadi Perempuan Berdaya<\/b><\/p>\n<p><b><i>Arisan Siasat<\/i><\/b><b> (2021<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">), merupakan film fiksi yang disutradarai oleh Erlina Rakhmawati. Film berdurasi 15 menit ini secara garis besar menceritakan tentang sekelompok geng arisan ibu-ibu Gang Ketimun yang tetap berupaya terhubung lewat panggilan video di tengah ancaman virus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Covid-19.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Seolah mengajak penonton untuk ikut serta ber-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social distancing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, layar dibuat dengan format panggilan video oleh aplikasi bernama Guyub App. Aplikasi panggilan video tersebut didominasi warna ungu, sehingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sedikit banyaknya mengingatkan saya pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">i (2021). Ungu yang mendominasi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Arisan Siasat <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuni<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan warna yang menyimbolkan gerakan perempuan atau simbolisasi kesetaraan bagi perempuan. Sebagaimana ungu yang menjadi simbol kolektif, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyoroti satu demi satu perempuan yang terlibat dalam kesemestaan mereka. Meski tidak dengan sangat detail tentu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pendek produksi Artikulasi Performatif ini mengajak kita mengenal Arisan Gang Ketimun yang beranggotakan Mbak Tika, Bu Siti, Jeng Watik, Bu Puspa, dan Jeng Nana dengan tingkah lugu dan kocak khas ibu-ibu. Sebagai film pembuka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terasa sangat dekat dengan perempuan. Film ini menjadi pengingat bahwa ketimpangan pembagian peran domestik antara laki-laki dan perempuan masih sangat nyata. Dalam riuh, bising, dan tumpang-tindihnya suara ibu-ibu Arisan Gang Ketimun, Bu Siti mengatakan pandemi menyebabkan suami WFH, anak sekolah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sehingga urusan gizi dan lain-lain di rumah hanya diurus istri. Seisi keluarga minta dilayani. Problematika dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hadir dalam lingkup terkecil yang membuat penonton mudah dipahami, keluarga. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga memperkenalkan permasalahan yang jadi pembuka untuk ancang-ancang menghadapi permasalahan sosial lain yang lebih luas dalam film selanjutnya di program ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang dituturkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">programmer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam catatannya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengusung tema kekerasan domestik. Pandemi menempatkan perempuan pada tantangan. Tantangan karena beban domestik yang berkali lipat, juga kerentanan mengalami tindak kekerasan. Dalam kenyataan, pada tahun 2020 Komnas Perempuan merilis siaran pers sebuah penelitian dengan responden perempuan dan laki-laki, ditemukan lebih sering mengalami kekerasan baik secara fisik maupun seksual selama pandemi. Tidak hanya itu saja, kebanyakan korban memilih untuk diam atau menceritakan kepada kerabat dekat alih-alih melaporkan kepada pihak berwenang. Perlakuan buruk tersebut diterima Jeng Watik yang berusaha melepaskan diri dari jerat kekerasan yang dilakukan suaminya.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_7353\" aria-describedby=\"caption-attachment-7353\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7353\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare.webp\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare.webp 1920w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Ibu-Ora-Sare-1536x864.webp 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7353\" class=\"wp-caption-text\">Salah satu adegan film<em> Ibu Ora Sare<\/em> (2021) karya Gin Teguh (dok: istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perempuan pekerja juga menanggung peran ganda sebagai pekerja domestik dan pencari nafkah. Realitas ini direkam <\/span><b>Ibu <\/b><b><i>Ora Sare <\/i><\/b><b>(2021)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, film berdurasi 13 menit karya Gin Teguh. Berangkat dari tugas sekolah &#8216;menceritakan sosok ayah&#8217;, Gogor menyelami dunia sang ibu. Ibunya menjadi tukang cuci pakaian, menjual makanan, menjahit baju. Gogor baru sadar bahwa ibunya bekerja sendirian dari pagi hingga pagi. Menariknya, pengenalan pekerjaan ibu kepada penonton dilakukan oleh Pak Guru ketika menjelaskan peran anggota keluarga. Pak Guru berkata kepada Gogor dalam kelas daring bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAyah adalah kepala keluarga tugasnya mencari nafkah, Ibu adalah wakil kepala keluarga, tugasnya adalah..\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kalimat Pak Guru terhenti dan digantikan dengan tampilan berbagai kegiatan yang dilakukan ibu sebagai orang tua tunggal bagi Gogor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jauh berbeda dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Arisan Siasat, Ibu Ora Sare <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga merupakan jenis film yang dekat dengan keseharian<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan kita bisa saja tidak berbicara mengenai ide-ide besar seperti feminisme, sebab memang tidak ada lagi yang dapat ibu lakukan untuk berdaya secara ekonomi selain bekerja dari pagi hingga pagi. Proses penerimaan Gogor terhadap realita keluarganya digambarkan dengan porsi cukup. Sebagai anak-anak, emosi-emosi yang dirasakan Gogor tidak dibungkam begitu saja oleh ibu. Ibu memberikan validasi untuk perasaan Gogor. Gogor diberi ruang untuk merasakan kesal, sedih, merajuk, bertanya-tanya, dan berpikir tentang ibu dan bapaknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_7352\" aria-describedby=\"caption-attachment-7352\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-7352 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak.webp\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak.webp 1920w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-Gerajak-1536x864.webp 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7352\" class=\"wp-caption-text\">Salah satu adegan <em>Gerajak<\/em> (2021) karya Ezra Cecio (dok: istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Sebuah Upaya Bertahan Hidup<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan dua film sebelumnya yang mengangkat tema seputar perempuan, film berikutnya <\/span><b><i>Gerajak (Turmoil of the Season)<\/i><\/b><b> (2021) <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">yang disutradarai Ezra Cecio, merupakan film dengan konsep tari dengan latar sejarah paceklik di Gunung Kidul pada tahun 1963. Kesan pertama saya setelah selesai menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah tegang dan bingung. Tegang lantaran alunan tembang Jawa yang mengiringi adegan demi adegan terasa begitu intens<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">menciptakan suasana mencekam. Bingung karena saya jarang melihat sebuah film dengan konsep pertunjukan tarian. Ketika pertama kali mencari benang merah atas film-film dalam program Daerah Istimewa Yogyakarta, saya diliputi kebimbangan sebab tiga film pertama mengambil latar waktu masa pandemi. Saya bertanya-tanya mengenai alasan pembuat film mengangkat\u00a0 sejarah paceklik melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan urgensinya dengan konteks kekinian. Proses pencarian tersebut mengantarkan saya pada jawaban bahwa barangkali pengangkatan kembali film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan kebaruan konsep merupakan sebuah bentuk pengingat. Indonesia- khususnya masyarakat Gunung Kidul tahun 1963 sempat mengalami masa terpuruk hingga bertahan hidup pernah menjadi hal yang begitu sulit. Berangkat dari jerit penderitaan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">berakhir dengan melupakan tujuan politisnya dan berumur singkat. Selain upaya merawat ingatan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gerajak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bagi saya juga bentuk pembelajaran agar sejarah serupa tidak terulang.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Jogja Kronik<\/i><\/b><b> (2020)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan film eksperimental garapan Wimo Ambala Bayang yang ditempatkan sebagai film penutup dalam program ini. Saya tidak memiliki banyak pengalaman menonton film bergenre sejenis, maka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja Kronik<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi salah satu yang banyak menyita perhatian. Film diawali dengan dialog seorang laki-laki dengan &#8216;Tuhan&#8217;. Ada berbagai pertanyaan kontemplatif, narasi soal pandemi diikuti foto, cuplikan berita, yang berakhir dengan tawa getir laki-laki. Rasanya film ini cukup menggambarkan dinamika perasaan manusia ketika dihadapkan dengan pandemi. Masa tersebut memberikan ruang bagi kita untuk mendekatkan diri pada Tuhan, berkontemplasi, dan (barangkali) menemukan jawaban atas apapun. Keputusasaan ternyata tidak hanya lahir dari dalam diri. Inkonsistensi pemangku kebijakan dalam menyikapi persoalan menjadi salah satu hal yang memperburuk keadaan. Setidaknya bagi saya, akhir film tersebut cukup menyentuh. Saat kita mengeja &#8216;hakikat kebahagiaan&#8217;, yang tersisa hanya ha ha ha tawa penuh kegetiran. Kemampuan menertawakan keadaan adalah cara paling sederhana agar tetap optimis dan menolak untuk kalah.<\/span><\/p>\n<h6><em>Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers (Maret-September 2022).<\/em><br \/>\n<em>Program Indonesia Raja 2022 Bali dapat dipinjam untuk diputar di layar lebar. Informasi lebih lanjut tersedia di\u00a0<a href=\"https:\/\/minikino.org\/indonesiaraja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/minikino.org\/indonesiaraja\/<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi salah satu peserta terpilih dalam program Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers 2022 memungkinkan saya mendapat akses khusus untuk menonton program Indonesia Raja 2022. Kesempatan menonton tersebut juga merupakan pengalaman pertama saya menonton film pendek sebagai sebuah program. Dengan kepercayaan bahwa semua pengalaman tentu baik, saya merasa perasaan awal saya lugu, kikuk, kosong, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":53,"featured_media":7354,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[158,184,170,173],"jnews-series":[],"class_list":["post-7350","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-festival-writers","tag-hybrid-internship-2022","tag-indonesia-raja-2022","tag-indonesia-raja-2022-yogyakarta"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menjadi salah satu peserta terpilih dalam program Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers 2022 memungkinkan saya mendapat akses khusus untuk menonton program Indonesia Raja 2022. Kesempatan menonton tersebut juga merupakan pengalaman pertama saya menonton film pendek sebagai sebuah program. Dengan kepercayaan bahwa semua pengalaman tentu baik, saya merasa perasaan awal saya lugu, kikuk, kosong, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-05-16T06:30:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-10-04T08:08:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Vira Feysa Razan\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Vira Feysa Razan\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Vira Feysa Razan\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6\"},\"headline\":\"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan\",\"datePublished\":\"2022-05-16T06:30:35+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-04T08:08:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\"},\"wordCount\":1287,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp\",\"keywords\":[\"Festival Writers\",\"Hybrid Internship 2022\",\"Indonesia Raja 2022\",\"Indonesia Raja 2022 Yogyakarta\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\",\"name\":\"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp\",\"datePublished\":\"2022-05-16T06:30:35+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-04T08:08:50+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Salah satu adegan film Jogja Kronik (2020) karya Wimo Ambala Bayang (dok: istimewa)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6\",\"name\":\"Vira Feysa Razan\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/vira-feysa-razan_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/vira-feysa-razan_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Vira Feysa Razan\"},\"description\":\"Vira is an Indonesian Language and Literature Education student at UIN Jakarta. She's currently preparing for the old semester while exploring her passion in writing. She aspires to contribute in Indonesian literature.\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/virafeysa\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles","og_description":"Menjadi salah satu peserta terpilih dalam program Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers 2022 memungkinkan saya mendapat akses khusus untuk menonton program Indonesia Raja 2022. Kesempatan menonton tersebut juga merupakan pengalaman pertama saya menonton film pendek sebagai sebuah program. Dengan kepercayaan bahwa semua pengalaman tentu baik, saya merasa perasaan awal saya lugu, kikuk, kosong, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2022-05-16T06:30:35+00:00","article_modified_time":"2022-10-04T08:08:50+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Vira Feysa Razan","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Vira Feysa Razan","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/"},"author":{"name":"Vira Feysa Razan","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6"},"headline":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan","datePublished":"2022-05-16T06:30:35+00:00","dateModified":"2022-10-04T08:08:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/"},"wordCount":1287,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp","keywords":["Festival Writers","Hybrid Internship 2022","Indonesia Raja 2022","Indonesia Raja 2022 Yogyakarta"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/","name":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp","datePublished":"2022-05-16T06:30:35+00:00","dateModified":"2022-10-04T08:08:50+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/STILL-JOGJA-KRONIK.webp","width":1920,"height":1080,"caption":"Salah satu adegan film Jogja Kronik (2020) karya Wimo Ambala Bayang (dok: istimewa)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/kompleksitas-yogyakarta-dalam-layar-dari-perempuan-sampai-fenomena-bertahan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kompleksitas Yogyakarta dalam Layar, dari Perempuan sampai Fenomena Bertahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/a186f12938b33f588c9b61f2ae6ce5f6","name":"Vira Feysa Razan","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/vira-feysa-razan_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2022\/05\/vira-feysa-razan_avatar-96x96.jpg","caption":"Vira Feysa Razan"},"description":"Vira is an Indonesian Language and Literature Education student at UIN Jakarta. She's currently preparing for the old semester while exploring her passion in writing. She aspires to contribute in Indonesian literature.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/virafeysa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7350","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/53"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7350"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7350\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7364,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7350\/revisions\/7364"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7350"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7350"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7350"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=7350"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}