{"id":8082,"date":"2023-02-22T14:02:06","date_gmt":"2023-02-22T06:02:06","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=8082"},"modified":"2023-03-08T22:35:05","modified_gmt":"2023-03-08T14:35:05","slug":"ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/","title":{"rendered":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Let The Masculinities Burn (Indonesia Is The Light At The End Of The Tunnel) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dirancang Fransiska Prihadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">(Minikino) &amp; Andr\u00e9s Suarez (Bogoshorts)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, niat awalnya ditujukan bagi penonton Kolombia di Bogoshorts yang ke-20 untuk berkenalan dengan lanskap film pendek Indonesia pada tahun 2022 lalu. Sebagai bagian dari program <\/span><a href=\"http:\/\/info.bogoshorts.com\/sccs\/prensa\/boletin2022\/20BSFF\/com005_WorldTourIndonesia.html\"><span style=\"font-weight: 400;\">World Tour: Indonesia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, program ini menjadi semacam jendela untuk melihat panorama budaya, sosial dan politik dari negara yang berlawanan posisi secara geografis. Dan ketika program ini bertemu penonton Indonesia pada Januari 2023 di Mash Denpasar dan Uma Seminyak, jendela itu berubah menjadi cermin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan seperti ini, mengingatkan saya pada apa yang dikatakan oleh Eric Sasono dalam tulisannya <\/span><a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ruang-dan-prasangka\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang dan Prasangka<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa \u201cprogrammer film yang baik adalah programmer yang memproduksi ruang pertunjukannya menjadi ruang yang lincir (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">smooth, glisse<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), bukan ruang yang penuh penataan, aturan dan kategori.\u201d Programmer film festival memang semestinya tidak hanya menyusun film atau mengkategorisasi berdasarkan penilaian artistik semata. Mempertimbangkan konteks kultural dan politis yang lebih luas menjadi penting.<\/span><\/p>\n<p><b>Tentang \u201cYang Normal\u201d dan \u201cIdeal\u201d<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali lagi bicara soal cermin, menonton empat film pendek yang dipilih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Andr\u00e9s dari beberapa pilihan film pendek Indonesia yang ditawarkan oleh Fransiska, rasanya seperti melihat cerminan masyarakat dan diri sendiri sekaligus. Pada film pertama dalam program ini misalnya<\/span> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Jemari Yang Menari Di Atas Luka-Luka<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2019) yang disutradarai oleh Putri Sarah Amelia berangkat dari persoalan yang cukup dekat dengan saya, kalau orang tua ingin masyarakat melihat anaknya \u201cnormal\u201d atau \u201cbaik-baik\u201d saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari persoalan itu Putri sebagai sutradara dan penulis naskah mengembangkannya menjadi premis yang unik. Tentang seorang perias jenazah yang harus merias jenazah seorang trans laki-laki. Lanjut ceritanya, si perias jenazah harus merias jenazah ini sesuai permintaan sang ibu agar anaknya nampak seperti perempuan dan terlihat \u201cnormal\u201d. Tapi setelah mengetahui keseharian si jenazah yang memilih menamai dirinya \u201cMikael Putra\u201d lewat barang dan foto di kamarnya. Si perias jenazah memutuskan untuk merias jenazah dengan pakaian formal laki-laki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberpihakan si pengurus jenazah ini memicu sebuah pertanyaan dalam benak saya. \u201cDari mana ia mendapat sensibilitas seperti itu?\u201d Kalau di dunia nyata, besar kemungkinan si pengurus jenazah ini sudah menggadai profesinya. Tapi karena kita sedang membicarakan film dan pertanyaan seperti itu, justru mempertegas jika sensibilitas tersebut datang dari sudut pandang dan keberpihakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya. Hal ini saya pikir bukan sekedar pilihan untuk memperkuat aspek dramatis, tapi juga pilihan yang politis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai film pembuka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jemari Yang Menari Di Atas Luka-Luka <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang tanpa dialog ini, berbicara dengan keras tentang \u201capa yang normal\u201d dari identitas dan seksualitas. Ia pun menjadi pengantar yang mulus untuk film berikutnya yang memiliki isu serupa, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lika Liku Laki<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2021) karya Khozy Rizal. Sebuah film pendek yang mengisahkan Akbar yang harus berpura-pura menyukai sepak bola agar diterima oleh perkumpulannya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8089\" aria-describedby=\"caption-attachment-8089\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8089\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/Jemari.jpg\" alt=\"\" width=\"1122\" height=\"533\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8089\" class=\"wp-caption-text\">Jemari Yang Menari Di Atas Luka-Luka karya Putri Sarah Amelia di MMSD Januari 2023: Let The Masculinities Burn di MASH Denpasar (20\/01\/2023) (dok: Rayhan\/Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak awal karakter Akbar muncul dalam frame, dia sudah mencoba <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fit in<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan teman-temannya yang maskulin dengan berdiri di depan cermin dan mengucapkan \u201cBro&#8230; Bro.. BRO\u201d. Dicarinya suara serak-serak paling macho. Lalu Akbar ngegym, ikut nongkrong, dan ikut-ikut mengukur ukuran penis sebagai simbol kegagahan. Tapi semua itu berbenturan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">queerness <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang ada dalam diri Akbar. Melihat kelakuan Akbar, saya sedih karena memang itulah kenyataan pahit jika menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">queer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di lingkungan yang mengamini heteronormativitas, artinya langsung mendapat cap \u201ctidak normal\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi normal, dan menjadi bagian dari mayoritas artinya menjadi tidak berbeda. Menjadi \u201cseragam\u201d, adalah sebuah paksaan dalam konstruksi <\/span><a href=\"https:\/\/scholarworks.smith.edu\/cgi\/viewcontent.cgi?article=2130&amp;context=theses\"><span style=\"font-weight: 400;\">heteronormativitas<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mapan hari ini. Seakan-akan tidak ada opsi untuk menjalani hidup dengan cara yang lain di luar heteronormativitas. Heteronormativitas sebagai produk budaya yang seksis, bias, tak setara dan condong pada diskriminasi serta kekerasan struktural, juga turut membentuk bagaimana sebuah keluarga yang ideal\u2014atau dalam konsep keluarga modern disebut keluarga nuklir (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nuclear family<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Permasalahan keluarga inilah yang diangkat oleh kedua film pendek berikutnya yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seragam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2020) arahan Brahmma Wijaya Putra dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Memanggilku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2021) arahan Tumpal Tampubolon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seragam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, konsep keluarga nuklir beririsan dengan identitas rasial dan agama. Latar waktu di tahun 1998 menjadi konteks penting dalam film pendek ini. Saat itu, Soeharto baru saja turun tahta, tapi nilai-nilai ideologis yang ditanamkannya masih meraja, termasuk nilai-nilai keluarga nuklir yang oleh Orde Baru ditanamkan dalam Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), bapakisme, dan juga ibuisme. Dalam NKKBS keluarga dimaknai sebagai institusi yang terdiri dari suami, istri dan satu atau dua orang anak yang saling menunjang secara rohani dan jasmani. Sedang bapakisme dan ibuisme adalah pembagian berdasarkan relasi gender yang memposisikan peran dan posisi. Sederhananya konstruksi peran itu dibagi menjadi tanggung jawab bapak dalam urusan yang bersifat jasmani seperti nafkah (publik), dan ibu yang bersifat rohani seperti mengurus anak (domestik).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluarga kecil dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seragam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014dan mungkin semua keluarga di Indonesia hingga saat ini\u2014harus berhadapan dengan nilai-nilai tersebut. Bapak dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seragam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> haruslah bapak yang bekerja dan memberi contoh yang baik pada anaknya. Mungkin terdengar kolot, tapi menonton dramanya saja masih terasa dekat. Bagaimanapun, NKKBS, bapakisme, dan ibuisme terlalu kuat mengakar dalam masyarakat sehingga ekspektasi tentang keluarga yang ideal hanya itu-itu saja. Permainan ekspektasi tentang keluarga selanjutnya dimainkan dengan baik oleh Tumpal melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Memanggilku.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tumpal dengan sadar menampilkan kisah Sura, seorang anak yang \u201ctidak ideal\u201d, tanpa bapak dan ibu yang hadir dalam kesehariannya. Sura ditampilkan penuh rasa penasaran dan eksplorasi, sampai pada suatu ketika, ia menemukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sex doll<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di kumpulan sampah di tepi pantai. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sex doll <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu diberikan pakaian dan dijadikan kerudung oleh Sura, menyulapnya menjadi sosok seorang ibu untuk memenuhi kebutuhan jiwa\/rohaninya. Ada satu adegan yang kuat dalam film pendek ini, ketika seorang remaja merenggut paksa, dengan kekerasan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sex doll<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (atau ibu) yang ditemukan Sura. Imajinasi dan asumsi saya sebagai penonton berekspektasi kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sex doll <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini akan digunakan sebagaimana fungsinya. Tapi ekspektasi saya patah. Karena ternyata remaja ini sama membutuhkan sosok ibu untuk memenuhi kebutuhan jiwa\/rohaninya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permainan ekspektasi dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Memanggilku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, meskipun berhasil, ia masih terjebak dalam imajinasi atas kebutuhan \u201ckeluarga yang ideal\u201d. Bahkan kebutuhan atas \u201ckeluarga yang ideal\u201d ini diperjuangkan dengan cara yang maskulin melalui kekerasan, dominasi dan hasrat kepemilikan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Memanggilku <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai penutup program menunjukan bagaimana rapuhnya maskulinitas dihadapan kebutuhan atas cinta dan hubungan yang penuh kasih sayang.<\/span><\/p>\n<p><b>Kelembutan Sebagai Kata Kerja<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sesi bincang-bincang usai pemutaran program, salah satu penonton, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Angga menanyakan pada Andr\u00e9s \u201cApakah ada hal yang kamu temukan sebagai sesuatu yang universal dalam maskulinitas?\u201d. Ini jawaban Andr\u00e9s,\u201cSaya menemukan sesuatu yang universal tentang maskulinitas. Waktu kamu berpikir tentang maskulinitas, kelihatannya seperti \u201ckeras\u201d, tidak lembut, mementingkan harga diri, dan angkuh\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu Andr\u00e9s melanjutkan \u201cSepertinya ini sesuatu yang perlu kita ajarkan pada anak-anak, bahwa kita bisa lembut, ada narasi yang cukup populer di Kolombia sekarang bahwa \u2018kelembutan itu revolusioner\u2019, kita ada di sebuah sistem yang sangat keras, kita harus produktif, efektif. Kebanyakan kerja sampai tidak ada waktu untuk sebuah perhatian, afeksi\u201d. Bagi Andr\u00e9s, topik maskulinitas penting karena ia berada di generasi yang menahan perasaan di dalam diri, dan tidak berhasil mengekspresikannya. Jadi Andr\u00e9s percaya, ketika ia melihat lihat film-film pendek ini, ia merasa terhubung dengan berbagai pertanyaan yang muncul dari film-film pendek ini.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8086\" aria-describedby=\"caption-attachment-8086\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8086\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/230120_MMSDJAN_11.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"682\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8086\" class=\"wp-caption-text\">Sesi Setelah Diskusi Bersama Filmmaker dan Programer<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sepenuhnya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Andr\u00e9s tentang kelembutan. Terutama kelembutan yang harus menjadi kata \u201ckerja\u201d dan dinormalisasi dalam setiap tindak-tanduk bersosial.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Karena sialnya, kebutuhan atas koneksi dan cinta ini telah disesatkan oleh kapitalisme global dan patriarki menjadi hasrat akan kekuasaan dan kepemilikan. Dan hal ini berlaku secara universal, baik di Indonesia maupun di negara terjauh dari Indonesia seperti Kolombia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, program film pendek ini\u2014seperti saya singgung di awal\u2014adalah cermin, dan kita tahu kalau cermin tidak pernah berbohong. Saya seperti bercermin, bagaimana saya sebagai laki-laki ada dalam pusaran narasi yang mengharuskan saya menjadi \u201cnormal, menjadi maskulin, menjadi dominan dan menjadi kuat. Padahal berantakan dan rapuh ketika bicara soal kebutuhan manusia atas koneksi dan cinta. Dan sebagaimana yang mungkin sudah kita ketahui, cinta tidak akan mekar di lingkungan yang penuh dominasi.<\/span><\/p>\n<h6><em>Editor: Fransiska Prihadi<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Program Let The Masculinities Burn (Indonesia Is The Light At The End Of The Tunnel) yang dirancang Fransiska Prihadi (Minikino) &amp; Andr\u00e9s Suarez (Bogoshorts), niat awalnya ditujukan bagi penonton Kolombia di Bogoshorts yang ke-20 untuk berkenalan dengan lanskap film pendek Indonesia pada tahun 2022 lalu. Sebagai bagian dari program World Tour: Indonesia, program ini menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":8084,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[303,302,306,304,308,305,309,307],"jnews-series":[],"class_list":["post-8082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-andres-suarez","tag-bogoshorts","tag-heteronormativitas","tag-jemari-yang-menari-di-atas-luka-luka","tag-laut-memanggilku","tag-lika-liku-laki","tag-maskulinitas","tag-seragam"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Program Let The Masculinities Burn (Indonesia Is The Light At The End Of The Tunnel) yang dirancang Fransiska Prihadi (Minikino) &amp; Andr\u00e9s Suarez (Bogoshorts), niat awalnya ditujukan bagi penonton Kolombia di Bogoshorts yang ke-20 untuk berkenalan dengan lanskap film pendek Indonesia pada tahun 2022 lalu. Sebagai bagian dari program World Tour: Indonesia, program ini menjadi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-22T06:02:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-03-08T14:35:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1122\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"headline\":\"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin)\",\"datePublished\":\"2023-02-22T06:02:06+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-08T14:35:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\"},\"wordCount\":1314,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg\",\"keywords\":[\"Andr\u00e9s Suarez\",\"Bogoshorts\",\"heteronormativitas\",\"Jemari Yang Menari Di Atas Luka-Luka\",\"Laut Memanggilku\",\"Lika Liku Laki\",\"Maskulinitas\",\"Seragam\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\",\"name\":\"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg\",\"datePublished\":\"2023-02-22T06:02:06+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-08T14:35:05+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg\",\"width\":1122,\"height\":533,\"caption\":\"Lika Liku Laki Karya Khozy Rizal di MMSD Januari 2023: Let The Masculinities Burn di MASH Denpasar (20\/01\/2023) (dok: Rayhan\/Minikino)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\",\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Ahmad Fauzi\"},\"description\":\"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles","og_description":"Program Let The Masculinities Burn (Indonesia Is The Light At The End Of The Tunnel) yang dirancang Fransiska Prihadi (Minikino) &amp; Andr\u00e9s Suarez (Bogoshorts), niat awalnya ditujukan bagi penonton Kolombia di Bogoshorts yang ke-20 untuk berkenalan dengan lanskap film pendek Indonesia pada tahun 2022 lalu. Sebagai bagian dari program World Tour: Indonesia, program ini menjadi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2023-02-22T06:02:06+00:00","article_modified_time":"2023-03-08T14:35:05+00:00","og_image":[{"width":1122,"height":533,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ahmad Fauzi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ahmad Fauzi","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/"},"author":{"name":"Ahmad Fauzi","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"headline":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin)","datePublished":"2023-02-22T06:02:06+00:00","dateModified":"2023-03-08T14:35:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/"},"wordCount":1314,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg","keywords":["Andr\u00e9s Suarez","Bogoshorts","heteronormativitas","Jemari Yang Menari Di Atas Luka-Luka","Laut Memanggilku","Lika Liku Laki","Maskulinitas","Seragam"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/","name":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin) - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg","datePublished":"2023-02-22T06:02:06+00:00","dateModified":"2023-03-08T14:35:05+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/02\/MMSD-Januari-Lika-Liku-Laki.jpg","width":1122,"height":533,"caption":"Lika Liku Laki Karya Khozy Rizal di MMSD Januari 2023: Let The Masculinities Burn di MASH Denpasar (20\/01\/2023) (dok: Rayhan\/Minikino)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/ketika-program-film-pendek-jadi-cerminan-masyarakat-yang-maskulin\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Program Film Pendek Jadi Cerminan Masyarakat (Yang Maskulin)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3","name":"Ahmad Fauzi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","caption":"Ahmad Fauzi"},"description":"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8082"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8082\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8106,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8082\/revisions\/8106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8084"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8082"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=8082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}