{"id":8108,"date":"2023-03-20T17:43:51","date_gmt":"2023-03-20T09:43:51","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=8108"},"modified":"2023-10-26T12:33:24","modified_gmt":"2023-10-26T04:33:24","slug":"wawancara-bersama-lisabona-rahman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/","title":{"rendered":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Samsi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(1952) karya Ratna Asmara adalah arsip film dari sutradara perempuan di masa lalu yang sebagian besar tidak diketahui oleh publik. Pemutaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Samsi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada Selasa, 7 Maret 2023 menjadi semacam syukuran atas selesainya proses digitisasi yang dilakukan oleh Kelas Liarsip dan beberapa rekan kolaboratornya. Dalam proses digitisasi film yang diyakini karya sutradara perempuan pertama di Indonesia ini, Minikino Studio terlibat dalam pembuatan takarir (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">subtitle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) untuk menambal lubang-lubang kosong dari kondisi arsip audio film yang tidak sempurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelas Liarsip sendiri merupakan kelompok belajar virtual yang memfokuskan studinya pada arsip film, restorasi, dan sejarah perempuan dalam sinema Indonesia. Kelas Liarsip berdiri sejak Maret 2021 dan dijalankan oleh 6 perempuan dan non-biner dengan latar belakang yang beragam. Lisabona Rahman yang merupakan bagian dari Kelas Liarsip datang ke MASH Denpasar untuk berbagi pengalaman mengenai proses digitisasi film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Samsi.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lisabona adalah pelaku pelestarian dan programmer film dengan ketertarikan khusus terhadap praktik kajian sejarah kritis dan pemikiran perempuan. Lisabona memberikan konsultasi pelestarian film kepada beberapa lembaga seperti Arsenal Institut (Berlin), Yayasan Pusat Film Indonesia (Jakarta) dan arsip film Cimatheque (Kairo). Bersama dengan rekan-rekan puan dari beragam latar belakang, Lisabona menjalankan penyelenggaraan presentasi publik dalam bentuk pemutaran film, pameran, berbagai format siaran serta praktik sirkulasi pengetahuan feminis dalam bentuk kelompok belajar (Sekolah Pemikiran Perempuan dan Kelas Liarsip). Di MASH Denpasar, Ahmad Fauzi (Ozi) berkesempatan untuk berbincang dengan Lisabona mengenai pengalaman dan pandangan Lisabona mengenai praktik-praktik pengarsipan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8110\" aria-describedby=\"caption-attachment-8110\" style=\"width: 1012px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8110 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Ozi-dan-Lisa.jpg\" alt=\"\" width=\"1012\" height=\"569\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Ozi-dan-Lisa.jpg 1012w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Ozi-dan-Lisa-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Ozi-dan-Lisa-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1012px) 100vw, 1012px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8110\" class=\"wp-caption-text\">Sesi Wawancara Ozi dan Lisa (dok: Nicho\/Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Pertama, aku mau ke pertanyaan yang lebih personal dulu. Dari mana Lisa tertarik dengan kerja-kerja pengarsipan?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Kalau secara ringkas, sebenarnya kecelakaan ya. Jadi awalnya karena aku harus mengelola bioskop terprogram di Jakarta. Namanya Kineforum, programnya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di situ salah satu tugasku adalah bikin pemutaran sejarah film. Saat itu, karena aku nggak punya pengalaman sama sekali dalam programing, jadi aku iya-iya aja kan.\u00a0 Percaya diri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lah,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa nih sejarah sinema gitu. Tapi waktu itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brief<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya spesifik oleh para anggota DKJ, waktu itu ada Riri Riza, (alm) Abduh Aziz, Shanty Harmayn, Farishad Latjuba. Mereka bilang \u201ckita nggak mau hanya sejarah film dunia yang luar Indonesia, kita juga mau sejarah film Indonesia\u201d. Dan waktu itu aku masih optimis juga, karena belum tau medannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ketika mulai bikin programnya, loh kok ternyata nggak sesimpel itu ya. Arsipnya berantakan, aksesnya susah dan nggak terkelola dengan baik. Dan kemudian aku sadar, ternyata kayak nggak ada pengelolaan arsip dengan perspektif yang profesional. Di situlah aku awalnya tertarik untuk belajar lebih jauh dan memfokuskan karier, yang tadinya lebih umum di programing, manajemen bioskop, dan kuratorial, akhirnya aku ingin fokus ke Archival films.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Itu tahun berapa Lisa kira-kira?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: 2006 sampai 2009.<\/span><\/p>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Setelah berganti dari perspektif dari programing, managemen bioskop, kuratorial dan lain-lain ke pengarsipan, bagaimana kamu saat itu memaknai pengarsipan?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Lisa<\/strong>: Jalurnya kalau boleh aku refleksikan kayak gini, jadi ketika aku melihat aku pengen bawa pengetahuan mengenai sejarah film Indonesia ke penonton, tapi arsipnya berantakan, aksesnya juga tidak terkelola dengan baik. Aku mencoba menjembatani dengan belajar dan mencontoh arsip film, yang katakanlah di Eropa atau Amerika gitu, negara-negara yang tradisi pengarsipannya cukup panjang, dan secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">resource<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> cukup baik. Negara yang punya privilege lah. Dan itu berlangsung sampai aku sekolah pelestarian film sampai akhirnya aku kerja gitu di laboratorium restorasi film. Ini laboratorium yang sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">highly specialized<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya tempatnya di laboratorium L&#8217;immagine ritrovata, Bologna, Italia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi dari situ juga aku mulai belajar, bahwa ada beda kasta juga nih. Beda kasta, beda nasib antara tempat-tempat yang pengarsipan filmnya sudah menjadi agenda politis entah nasional atau regional, dengan tempat-tempat kayak Indonesia. Indonesia yang pengarsipan sejarahnya itu problematis secara politik. Kalaupun ada pengarsipan yang baik sifatnya harus mendukung kekuasaan. Tapi arsip dari perspektif yang berlawanan atau arsip pinggiran, itu nggak diarsipkan atau dipinggirkan, dalam artian secara politik arsipnya tidak diberi makna dan tidak diberi resource. Itu aku baru sadar setelah aku meninggalkan dunia profesional yang berada di Eropa, ketika aku kembali ke Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku mulai sadar ada masalah-masalah kasta ini waktu aku di Italia. Di sana kelihatan dari film-film yang aku tangani, misal kondisi film-film yang asalnya dari Asia, Afrika, Amerika latin, \u201ckok berantakan banget ya?\u201d. Status preservasinya buruk, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vinegar syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, terus ya babak belurlah, dibandingkan dengan film-film dari Perancis misalnya yang kondisinya sempurna banget. Tentu namanya barang tua ada cacatnya, tapi nggak ada seujung kukunya, kalau dibandingkan sama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">challenge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pelapukan yang dialami oleh film-film yang berasal dari luar Eropa dan luar Amerika Utara. Dan di situ aku baru sadar. Wow, ternyata aku butuh perangkat\/perspektif baru untuk bekerja dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">archival film<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berada di luar framework Amerika dan Eropa. Dan praktik pengarsipanku di Indonesia, pengalamanku bekerja bersama teman-teman di Indonesia, itu yang membantu aku membentuk cara berpikir seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Tadi kamu menyinggung tradisi yang lebih panjang gitu di Eropa soal pengarsipan, apakah bisa dibilang tradisi pengarsipan di Indonesia itu berumur pendek? atau bahkan belum mulai? Atau justru mungkin sebetulnya ada gejala lain yang bukan perkara &#8220;panjang-pendek&#8221;?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Kayaknya mungkin aku bisa ngambil contoh dari project yang akan kita tonton dan bicarakan malam ini, soal menelusuri jejak-jejak Ratna Asmara, lewat film dan penelitian arsip non-film semacam kertas atau yang lain-lain. Dari situ, benar apa yang kamu pertanyakan, ini bukan soal &#8220;panjang-pendek&#8221;, &#8220;lama atau sebentar&#8217;. Tetapi lagi-lagi ini persoalan yang politis. \u201cDengan perspektif apa kerja pengarsipan itu dijalankan?\u201d. Entah itu sejarah yang panjang, atau yang pendek, kalau prinsip-prinsip atau filosofi politiknya salah, dan hanya berfungsi untuk memperkuat apa yang sudah privilege dan berkuasa, apa gunanya?.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya di project ini, ketika kita menelusuri Ratna Asmara ini jelas sekali terlihat, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa kita di Indonesia diperkenalkan ke sejarah film Indonesia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ada &#8220;Bapak Perfilmannya Nasional&#8221;-nya. Dan kalau kita mau bedah elemen-elemennya, &#8220;Bapak&#8221; dan &#8220;Perfilman Nasional&#8221;. \u201cPerfilman Nasional\u201d ini juga ada turunannya lagi, dia harus pribumi, apapun konsep pribumi itu, yang tentu pada dulu diformulasikan di tengah-tengah politik rasial-kolonial. Jadi ada pribumi yang statusnya lebih rendah daripada kolonial kulit putih dan ras Asia Timur. Tapi dari dua elemen ini, yang \u201cBapak\u201d dan \u201cNasional\u201d ini, Ratna nggak masuk di keduanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, dia jelas bukan \u201cBapak\u201d, dia perempuan. Dan yang kedua soal \u201cNasional\u201d ini, Ratna agak dipertanyakan karena logika nasionalismenya Ratna nggak sama dengan logika nasionalisme yang diekspresikan lewat film-film \u201cBapak Perfilman Nasional\u201d yang isinya perang. Film-film nasional yang diakui itu isinya perang, pejuang yang adalah tentara, gitu. Lantas orang-orang lainnya mana nih? Orang lain itu yang keluar di dalam filmnya Ratna. Jugun Ianfu misalnya, atau ibu-ibu di dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Samsi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang akan kita tonton malam ini. &#8220;Ibu&#8221; dalam film ini punya posisi yang penting. Jadi kesimpulan dari Liarsip sebagai tim, ketika aku bekerja dengan satu tim dengan concern yang sama dengan aku, yang melihat bahwa, pengarsipan itu perlu posisi politis yang lebih tegas. Kita ini mau mengarsipkan siapa, berpihak ke siapa, dan apa yang kita cari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika aku bekerja dengan kelas Liarsip, semakin terasa dan semakin mengkristal, sikap-sikap yang tumbuh dari pengalamanku, dan observasi akademis dari sejarawan Umi Lestari, Julita Pratiwi yang memang praktiknya lebih cenderung membaca semiotika dan estetika. Dari situ, aku belajar untuk memformulasikan posisi ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bahwa yang ingin aku praktikkan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah cara bekerja dengan pengarsipan atau pelestarian yang membela apa-apa yang berada di pinggiran dan dilupakan. Kalau arsip yang statusnya paralel sama yang berkuasa, dan udah dikasih resource yang banyak. Secara politis misalnya didaulat menjadi \u201cpahlawan nasional\u201d, ya itu sudah bukan urusanku. Urusan kita adalah apa-apa yang dipinggirkan dan dilupakan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8111\" aria-describedby=\"caption-attachment-8111\" style=\"width: 1011px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-8111 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Lisa-dan-Ozi.jpg\" alt=\"\" width=\"1011\" height=\"568\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Lisa-dan-Ozi.jpg 1011w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Lisa-dan-Ozi-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Lisa-dan-Ozi-768x431.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1011px) 100vw, 1011px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8111\" class=\"wp-caption-text\">Sesi Wawancara Ozi dan Lisa (dok: Nicho\/Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Oke-oke posisi politis dalam kerja pengarsipan itu penting ya. Selanjutnya, aku pernah nonton presentasinya Lisa dan Umi Lestari tentang sejarah film di<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=5rTNoAwS4uw&amp;t=294s\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Eye Filmmuseum<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, lalu ada ungkapan &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">preservation comes before restoration<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d. Bisa tolong dijelaskan maksud dari kedua hal itu apa dan bagaimana hubungannya?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Iya dua istilah, preservasi atau kalau kita terjemahkan jadi pelestarian. Preservasi ini adalah penyimpanan jangka panjang dan tujuannya memelihara, supaya apa yang kita simpan itu kondisinya stabil dan baik. Dan itu berarti dalam preservasi film, bentuknya bisa bikin ruang penyimpanan, menjaga suhunya, menjaga kelembabannya supaya kondisinya stabil. Yang kedua restorasi. Restorasi ini ibaratnya, kalau yang pertama tadi penyimpanan, ibaratnya seperti kita rutin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">check-up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke dokter gigi. Nah kalau restorasi ini, kamu bayangkan seperti operasi ke dokter gigi. Misal ada satu film yang karena banyak alasan, sering kali karena filmnya sudah rusak, jadi harus dioperasi dengan teknologi restorasi supaya filmnya bisa ditonton lagi dengan kondisi yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat aku, yang seharusnya lebih kita dorong dan dikerjakan dengan baik ini, preservasinya. Karena dengan preservasi, biayanya sebenarnya relatif lebih rendah dan yang bisa kita selamatkan lebih banyak. Kalau restorasi, karena biayanya mahal kita hanya bisa nyelametin sedikit. Lagi-lagi hanya yang privilege aja yang akan diselamatkan. Yang lainnya tetep aja tuh telantar. Semoga cukup jelas.<\/span><\/p>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Jelas-jelas Lisa, dari produk film saya mau lanjut ke pertanyaan yang agak luas tentang festival film. Bicara festival film seperti misalnya Minikino yang sudah berumur 20 tahun lebih, bagaimana si dia mesti memperlakukan arsipnya?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Dulu tahun antara 2008 sampai 2011, aku pernah bikin <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pameran namanya, \u201cSejarah Bioskop di Indonesia\u201d bekerjasama dengan peneliti Ardi Yunanto dan Agus Mediarta<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Itu pameran tahunan, jadi setiap tahun dia tumbuh. Tambah panjang-tambah panjang pamerannya. Dan pameran itu materinya adalah bahan-bahan pustaka atau arsip dari bioskop. Kalau aku usul cara pengarsipan itu yang barangkali bisa dicoba. Arsip itu nggak cuma disimpan, tapi didialogkan. Karena ini arsip ini ada ceritanya. Ketika cerita itu ditawarkan ke orang lain secara terbuka, akan ada respons yang memperkaya ceritanya. Dalam konteks festival, bisa mulai dari misalnya kumpulan posternya Minikino, mungkin juga kumpulan-kumpulan rekamannya Minikino, entah diskusinya atau foto-fotonya. Tawarkan arsip itu ke penonton, nanti responnya bagaimana, itu yang akan membentuk bagaimana arsip ini berkembang selanjutnya. Aku cuma usul langkah pertama ya, setelah itu terserah kalian.<\/span><\/p>\n<p><em><b>Ozi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Oke, kita ke pertanyaan terakhir ya Lisa. Dalam konteks skalanya ekosistem perfilman. Siapa sih yang paling penting untuk terlibat dalam kerja pengarsipan?<\/span><\/em><\/p>\n<p><b>Lisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Yang paling penting menurutku komunitasnya. Komunitas yang melahirkan arsip itu. Karena arsip itu seperti rekaman suaranya. Suara yang diproduksi oleh komunitasnya, jejaknya akan terbaca di arsipnya. Karena itu aksesnya, perawatannya, menurutku seharusnya berada di tangan komunitasnya itu. Jangan sampai arsip itu seperti pengalaman kita jaman kolonial. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jejak-jejak budaya yang kita produksi dibawa ke luar negeri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan di sana jadi barang museum. Sedangkan kita di sini nggak punya barangnya. Kalau menurutku, arsip paling bener dia harus ada dan dikelola oleh komunitas yang memproduksi arsipnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Samsi (1952) karya Ratna Asmara adalah arsip film dari sutradara perempuan di masa lalu yang sebagian besar tidak diketahui oleh publik. Pemutaran Dr. Samsi pada Selasa, 7 Maret 2023 menjadi semacam syukuran atas selesainya proses digitisasi yang dilakukan oleh Kelas Liarsip dan beberapa rekan kolaboratornya. Dalam proses digitisasi film yang diyakini karya sutradara perempuan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":8109,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[311,314,313,310,312],"jnews-series":[],"class_list":["post-8108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-interviews","tag-arsip","tag-dr-samsi","tag-kelas-liarsip","tag-lisabona-rahman","tag-ratna-asmara"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dr. Samsi (1952) karya Ratna Asmara adalah arsip film dari sutradara perempuan di masa lalu yang sebagian besar tidak diketahui oleh publik. Pemutaran Dr. Samsi pada Selasa, 7 Maret 2023 menjadi semacam syukuran atas selesainya proses digitisasi yang dilakukan oleh Kelas Liarsip dan beberapa rekan kolaboratornya. Dalam proses digitisasi film yang diyakini karya sutradara perempuan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-03-20T09:43:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-10-26T04:33:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1122\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ahmad Fauzi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"headline\":\"Wawancara Bersama Lisabona Rahman\",\"datePublished\":\"2023-03-20T09:43:51+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-26T04:33:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\"},\"wordCount\":1712,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg\",\"keywords\":[\"Arsip\",\"Dr Samsi\",\"Kelas Liarsip\",\"Lisabona Rahman\",\"Ratna Asmara\"],\"articleSection\":[\"INTERVIEWS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\",\"name\":\"Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg\",\"datePublished\":\"2023-03-20T09:43:51+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-26T04:33:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg\",\"width\":1122,\"height\":533,\"caption\":\"Lisabona Rahman Mempresentasikan Proses Digitisasi Dr. Samsi (1952) (dok: Nicho\/Minikino)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Wawancara Bersama Lisabona Rahman\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3\",\"name\":\"Ahmad Fauzi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Ahmad Fauzi\"},\"description\":\"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles","og_description":"Dr. Samsi (1952) karya Ratna Asmara adalah arsip film dari sutradara perempuan di masa lalu yang sebagian besar tidak diketahui oleh publik. Pemutaran Dr. Samsi pada Selasa, 7 Maret 2023 menjadi semacam syukuran atas selesainya proses digitisasi yang dilakukan oleh Kelas Liarsip dan beberapa rekan kolaboratornya. Dalam proses digitisasi film yang diyakini karya sutradara perempuan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2023-03-20T09:43:51+00:00","article_modified_time":"2023-10-26T04:33:24+00:00","og_image":[{"width":1122,"height":533,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ahmad Fauzi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ahmad Fauzi","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/"},"author":{"name":"Ahmad Fauzi","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"headline":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman","datePublished":"2023-03-20T09:43:51+00:00","dateModified":"2023-10-26T04:33:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/"},"wordCount":1712,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg","keywords":["Arsip","Dr Samsi","Kelas Liarsip","Lisabona Rahman","Ratna Asmara"],"articleSection":["INTERVIEWS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/","name":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg","datePublished":"2023-03-20T09:43:51+00:00","dateModified":"2023-10-26T04:33:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/03\/Web-Cover.jpg","width":1122,"height":533,"caption":"Lisabona Rahman Mempresentasikan Proses Digitisasi Dr. Samsi (1952) (dok: Nicho\/Minikino)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wawancara-bersama-lisabona-rahman\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Wawancara Bersama Lisabona Rahman"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c4fced575fd81661f258e115e165bbc3","name":"Ahmad Fauzi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2021\/07\/Ahmad-Fauzi_avatar-96x96.jpg","caption":"Ahmad Fauzi"},"description":"A film enthusiast, researcher and writer. He was active in journalistic and arts organizations while in college. He is interested in issues about equality, modernity\/coloniality, and audio-visual culture. He believes that collective work and solidarity have the power to bring good things in life(s).","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8108"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8592,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8108\/revisions\/8592"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8108"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=8108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}