{"id":8586,"date":"2023-10-27T14:52:58","date_gmt":"2023-10-27T06:52:58","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=8586"},"modified":"2023-10-27T14:59:00","modified_gmt":"2023-10-27T06:59:00","slug":"percakapan-bersama-amelia-hapsari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/","title":{"rendered":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali aku berkenalan dengan Amelia Hapsari, sutradara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung Memilih Bersuara <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2023), ia sedang mencari dompetnya dibantu oleh Cika, panggilan akrab Direktur Program Minikino Film Week, Fransiska Prihadi. Aku pikir, \u201cwaduh. Salah banget waktunya, ya? Jelek banget impresiku, orang lagi panik malah kenalan buat ngajak wawancara\u201d<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku si <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">socially anxious <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini jadi khawatir, dan aku hanya bisa berdoa bahwa kekhawatiran itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gak keliatan-keliatan amat <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ketika esok harinya (Jumat, 22\/9), kami berjalan kecil dari MASH Denpasar ke kafe terdekat sembari basa-basi sebentar. Saking tersitanya perhatianku untuk membangun impresi yang lebih baik, tidak ada yang mempersiapkanku atas betapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">passionate-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya ternyata seorang Amel di balik presentasi dirinya yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">composed\u2014<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kejutan kecil yang kusambut gembira.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam tulisan sebelumnya tentang film <\/span><a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempersoalkan-politik-film-lewat-film-politik-acung-memilih-bersuara-2023\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung Memilih Bersuara<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, aku menawarkan untuk berpaling dari bahasan estetika film dan melihat film sebagai alat sosio-politis yang bisa kita lihat kemampuannya untuk menelisik perubahan material bagi subyek-subyek terkait serta memperkukuh agensi mereka sebagai individu. Untuk mengetahui seberapa efektif film dalam perspektif tersebut, bukankah dialog dengan pembuat filmnya menjadi salah satu caranya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegembiraanku meningkat secara gradual seiring percakapan dengan Amel berlangsung&#8212;dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">passion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Amel terhadap isu keadilan rasial untuk etnis Tionghoa, betapa mudahnya percakapan ini berlangsung seperti yang kubayangkan di kepalaku. Dalam percakapan ini, Amel dengan bersemangat, artikulatif, dan teguh memposisikan dirinya sebagai orang Tionghoa yang tak hanya menggiati isu, tapi juga mengalami langsung dan mewarisi trauma generasional atas opresi sistematis puluhan tahun.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8618\" aria-describedby=\"caption-attachment-8618\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8618\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan1.jpg\" alt=\"\" width=\"1122\" height=\"843\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan1.jpg 1122w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan1-300x225.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan1-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan1-768x577.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1122px) 100vw, 1122px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8618\" class=\"wp-caption-text\">Amelia Hapsari saat riset untuk visual film Acung Memilih Bersuara (dok. Amelia Hapsari)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Boleh Mbak Amel cerita latar belakang untuk mengangkat cerita Acung?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Sebenarnya ada cerita lain yang hendak diangkat, tapi ada beberapa kendala. Lalu aku bilang ada cerita Acung, namun aku sampaikan [ceritanya] dianimasikan saja karena akses terhadap orangnya sudah enggak ada. Aku punya nomor [Acung] yang jaman dulu<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Nah, memang tidak semudah itu, karena orangnya tidak ada untuk ditanya-tanya, \u201cPapahmu gimana? Toko fotonya bagaimana?\u201d Harapannya kita menggambarkan seperti aslinya, meskipun di animasi. [Tapi kita] enggak bisa nanya, jadi harus riset, [termasuk] riset toko foto itu tapi yang kecil, karena dia bukan orang kaya. Lalu, kami mengadakan riset ke Pasuruan, untuk melihat seperti apa sih kotanya, kira-kira di mana dia tinggal, kalau mau adegan ini lokasinya di mana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami juga lumayan kesulitan dengan berbagai macam opsi. Apakah kita mau berdasarkan rekaman [suara] wawancara Acung yang ada? Tapi cukup susah, karena waktu wawancara Acung aku masih umur 25, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I was unexperienced. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu aku dengerin lagi wawancaranya, aku [berpikir], \u201ckok aku nanyanya kayak gitu sih?\u201d Gak terlalu bisa menggali. [Tapi aku] gak bisa menggali aja dia sudah cerita dengan sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">powerful <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bagi aku. Terus, \u201ckok aku gak tanya itu, ya? Itu kan bisa ditanya lebih lanjut, kok gak aku tanyain?\u201d Banyak yang kayak gitu. Sehingga, kalau mau pakai [rekaman wawancara] Acung itu kurang pas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga opsi merekaulang wawancara, tapi buatku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">no point. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu wawancaranya pakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mini disc, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jadi ketika ditransfer suaranya sudah tidak sebagus dulu. Aku pakai suara ini dulu untuk liputan radio dan suaranya bagus, sekarang suaranya kecil. Susah juga kalau audiens harus mendengarkan suara seperti itu. Makanya opsi itu dibuang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu [ada opsi lain] dianimasikan dengan suaraku saja, dan opsi itu akhirnya diambil. Itupun masih ada pertanyaan, apakah dengan adanya aku di situ yang mendapatkan ceritanya Acung, itu dimasukkan ke dalam cerita atau tidak? Awalnya aku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tuh gak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">suka jadi narator, jadi pencerita, dan ada kata \u201caku\u201d, karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the main story is about <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">not about me. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa kok ada aku? Kenapa sekarang aku menceritakan cerita ini? Tapi pada akhirnya aku sendiri yang mengambil keputusan-keputusan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita-cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">human rights <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">they are mostly dry because they don\u2019t focus on the story development of the character.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ini \u2018kan genrenya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">narrative non-fiction, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">harus ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">creative core-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya. Akhirnya aku menemukan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">creative core-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya adalah agensi si Acung. Dia bilang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">from a very young age <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">this is injustice, I don\u2019t want to be a part of it.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">And he paid a high price for his agency.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku juga baru merefleksikan baru-baru ini ya. Hal yang aku tahu dari Acung itu wajahnya penuh kesedihan, tapi di matanya ada kemarahan dan ketegasan. Dia waktu itu cerita panjang soal Laksamana Cheng Ho, awalnya aku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gak ngerti <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kenapa. Tapi ternyata Acung sebenarnya mau ngomong bahwa orang Cina itu bukan penjajah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">it was a huge mistake for Indonesians think and treat us as such. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya dia mau ngomong itu, tapi dia gak punya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"><\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_8627\" aria-describedby=\"caption-attachment-8627\" style=\"width: 178px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-8627 size-medium\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Take-Voiceover1-178x300.jpg\" alt=\"\" width=\"178\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Take-Voiceover1-178x300.jpg 178w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Take-Voiceover1.jpg 541w\" sizes=\"(max-width: 178px) 100vw, 178px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8627\" class=\"wp-caption-text\">Amelia Hapsari mengisi voiceover untuk film Acung Memilih Bersuara (dok. Amelia Hapsari)<\/figcaption><\/figure>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">vocabulary <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu karena dia teropresi. Nah, itu bagian dari proses kreatif di mana sebagai pencerita kita harus mendalami si karakter kita.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingat perjumpaan pertama kali dengan Acung?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Masih banget. Waktu itu aku jurnalis radio, ada proyek yang merekam cerita-cerita orang Indonesia yang kembali ke tanah air. Istilahnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Guiqiao<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gui<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> artinya kembali, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Qiao<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> artinya perantau. Banyak dari mereka bahkan gak bisa Bahasa Mandarin, tapi karena ditanamkan pada mereka bahwa tanahnya bukan Indonesia. Dari situ aku dipertemukan sama Acung, oleh sepupunya, lalu ngobrol-ngobrol dan merekam wawancara. Lalu ketemu lagi sama dia nonton pertandingan basket Cina melawan Yunani di stadion. Aku ketemu dia hanya dua tiga kali.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku mau mengaku dosa [terkekeh kecil]. Acung Memilih Bersuara adalah film pertamamu yang aku tonton. Jadi aku mau bertanya, seberapa sering Mbak Amel membuat film yang menyinggung racial injustice?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Sebetulnya dulu aku enggak mau ngomongin tentang isu yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hot. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya aku bikin film tentang anak jalanan, lalu tentang nelayan. Aku pikir [isu diskriminasi Tionghoa] sudah banyak dibicarakan, waktu awal 2000 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">buuuuanyak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> film tentang itu, karena baru pertama kali boleh dibicarakan sesudah reformasi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">There is a rising number of this kind of film. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi aku mikir aku enggak mau ke situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tapi baru mendapat kesempatan atau mendapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">angle <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang baru ketika di Cina, ketika kerja di Beijing. Baru di situ [perspektifku] terbuka. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oh wow, there is a wealth of stories <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang enggak kita omongin. Sebenarnya dari situ belum ada yang jadi, terus malah ketemu Ahok dan ngikutin dia, jadi film itu duluan yang jadi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fight Like Ahok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2012).<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Lalu kemudian ada film dokumenter personal, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Akar <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2013)<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">baru <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa [bikin film tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">racial injustice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">], pada akhirnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">injustice <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018kan bentuknya macam-macam dan di mana-mana. Tapi, aku baru berefleksi juga, ketika yang bikin orang \u201cdalam\u201d, orang yang mengalami diskriminasi itu sendiri, memang lebih otentik. Aku kayak gini bukan berarti aku enggak boleh bikin film tentang nelayan gitu, ya, tapi kalau yang bikin anak nelayan sendiri ceritanya akan jauh lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">strong.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kesadaran ini yang cukup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">humbling <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">buatku, bahwa besok-besok kalau bikin film lagi harus lebih mendengar.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soal otentisitas ini, aku jadi pingin bertanya, how do you resonate with the stories that you make?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">:<\/span> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Filmmaker <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu kan hampir sama kayak aktivis. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngapain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> panas-panas, teriak-teriak, udah pasti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">you look like a fool, but some<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">people do it anyway. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga sama, mesti punya sesuatu. Kalau enggak ditemukan, akan terasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fake, superficial.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada lagi yang kupelajari lewat menulis proposal. Selalu ditanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">why you are the person who needs to tell the story. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya ini juga penting, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pain <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">agency <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan koneksinya terhadap ceritanya. Dari situ aku juga belajar bahwa sebetulnya film-filmku ini juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">channeling <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">banyak hal dari aku. Kadang ia adalah pengukuhan terhadap banyak hal, kadang ia adalah pengingat, alih-alih mengingatkan penonton dia mengingatkan aku sendiri juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu aku bikin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">aku banyak keraguan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gak usah lah ngomong gini lagi, udah lah, ini kan cuma etnis Tionghoa aja<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, enggak usah begini lah, begitu lah. Selalu banyak keraguan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">somehow at the back, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">takut kalau aku ngomong gini nanti gimana, ada yang enggak suka, nanti enggak dapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">funding. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">this is also a reminder for myself that we cannot move forward as a nation if we are scared to acknowledge our own mistakes. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi mudah-mudahan pengingat ini juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">resonate <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan yang lain.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kendala tertentu dalam membuat film Acung?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Throughout the process there\u2019s a lot of fear. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya adalah ini <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hard facts, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan kemungkinan diserang masalah pembuktian. Sedangkan data yang aku miliki hanya cerita Acung. Maka aku cari koneksi ke Pasuruan. Aku tanya-tanya, dong, tapi mereka ternyata gak ada yang mau cerita. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mampus, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pikirku. Ada satu temenku yang dia bilang, \u201ctanteku bilang Mel, dia gak mau kalau kamu tanya-tanya kayak gitu. Katanya dia masih kecil dan gak boleh keluar pada masa-masa itu. Karena sungai yang membelah kota itu isinya mayat-mayat orang Tionghoa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada masalah lain. Seorang pembuat dokumenter itu kan tidak boleh sembarangan menceritakan kisah orang lain, karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the story is the property of the individual. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus punya rilis bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I entrust the story to this person; they can publish, modify, can do whatever with my story.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Nah aku kan gak bisa hanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">based on my encounter with <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Acung untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">publish story-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya. Terus ada hal-hal personal dengan ayahnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">will we be okay?<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_8622\" aria-describedby=\"caption-attachment-8622\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8622\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan-kelenteng.jpg\" alt=\"\" width=\"1122\" height=\"843\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan-kelenteng.jpg 1122w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan-kelenteng-300x225.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan-kelenteng-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Riset-ke-Pasuruan-kelenteng-768x577.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1122px) 100vw, 1122px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8622\" class=\"wp-caption-text\">Amelia Hapsari saat riset untuk visual film Acung Memilih Bersuara (dok. Amelia Hapsari)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya aku harus cari Acung. Sulit karena suami istri yang memperkenalkan aku sudah meninggal. Berat banget. Untung aku ingat detail perkenalan kami, jadi kami cari-cari, lalu akhirnya kami dapat kontaknya. Aku cerita, aku mau buat animasi, mau lihat? Terus dia nonton, aku tanya, \u201cbagaimana tanggapannya, Om?\u201d \u201cYa, bagi aku cukup baik.\u201d \u201cApakah boleh, ini nanti mau <em>premiere<\/em> dan dipasang di YouTube?\u201d dia bilang boleh. \u201cMau datang gak ke <em>premiere<\/em>-nya?\u201d \u201cEnggak\u201d. Terus aku tanya, \u201ckalau nanti ada wartawan yang mau tanya sama Om, boleh gak aku kasih nomornya?\u201d Dia bilang, \u201cOh, iya, kalau mau tanya tentang kebenaran, boleh.\u201d Jadi berdasarkan itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the film is released.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya animasi itu juga melindungi, karena tidak melihatkan wajahnya, rumahnya di mana, keluarganya siapa, karena mereka semua itu terintimidasi. Ketika aku datang ke Pasuruan, memang kotanya kecil banget sih, sehingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the perpetrator can be a neighbor, you can see them all the time <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kalau kamu masih tinggal di sana. Dan waktu aku ke Pasuruan, enggak ada satu orang pun yang mau ngomong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi satu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sesudah film itu rilis, dipajang di YouTube dan [linknya] disebar lewat WhatsApp, orangtuaku punya teman, dia bilang \u201cterima kasih sudah kasih film anakmu.\u201d Dia ini orang Pasuruan, keluarganya empat orang dibunuh di masa itu dan dia tidak bisa bicara sama seorang pun tentang hal ini karena enggak di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">justify.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kayaknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">we were on the wrong, that\u2019s why we need to die, to suffer, to get our heads down.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Film ini <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">somehow justifying the pain and the injustice <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang selama ini enggak bisa diungkapkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi buat aku salah satu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">impact <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terbesarnya itu, meski mungkin kita belum bisa banyak hal, belum bisa mendesak untuk pengakuan dan segala macam. Tapi ketika itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">justifying the pain, humiliation, and injustice that these people feel, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu juga sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">impact.<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku pun terpikir semacam pertanyaan itu, setelah film ini rilis, terus apa? Itu \u2018kan semacam pertanyaan kita semua. Mungkin yang paling berhak untuk menjawabnya adalah filmmaker-nya sendiri, juga orang-orang yang diceritakan dalam filmnya atau orang-orang yang merasa punya struggle yang sama. Adakah cerita-cerita lain soal impact ini?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Di Minikino sendiri, yang datang anak-anak Tionghoa semua. Aku senang mereka datang dan bilang, \u201cIya, Mbak Amel, aku juga\u2026\u201d \u2018kan sebetulnya trauma-trauma ini diturunkan dan menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">intergenerational trauma. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika anak-anak muda yang jauh lebih berani menolak mewarisi ketakutan dari orang tua, mereka mulai mengerti mengapa ayah ibu mereka seperti itu, karena memang ada mesin represinya. Mereka mulai mau menceritakan,\u00a0 itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">impact <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga, sih.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menyoal <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">impact<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, aku juga ingin tahu. Tidak perlu dijawab detail, tapi orang-orang yang terkait dengan cerita itu, keadaan mereka bagaimana? Apakah mereka dalam keadaan aman setelah [filmnya] rilis?<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Aman. Mungkin filmnya kurang ngetop, kurang viral. Enggak membuka tembakan, jadi enggak pernah ditembak. Tapi tujuan kita \u2018kan bukan untuk ditembak.<\/span><\/p>\n<p><b>Julie<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu indikator yang baik, ya. Kalau kita bikin film terus pihak yang kita &#8220;filmkan&#8221; jadi terdampak buruk <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">well-being<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau kondisi materialnya, posisi kita sebagai <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti apa, dong. Jadi itu indikator yang oke, dan aku kepingin tanya keadaan mereka aja.<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Amel<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">: Saat rilis dan diputar di kalangan non-Tionghoa, ada satu pertanyaan. \u201cApakah orang-orang Tionghoa juga tidak melakukan diskriminasi yang sama pada orang lain?\u201d Ini menurutku pertanyaan bagus. Ya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">all my life I\u2019ve seen this, over and over and over. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku juga melihat orang Tionghoa mendiskriminasi. Tapi diskriminasi itu akan melahirkan diskriminasi, maka itu sebagai orang Tionghoa aku mau putus [rantai] ini. Jadi aku harus mau duluan berani non-diskriminatif. [Lagipula] tingkatan diskriminasinya beda, yang melakukan ini adalah negara\u2014dengan skala, pendanaan, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">impact <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang jauh lebih besar. Tapi aku memang sebetulnya setuju bahwa tidak ada diskriminasi yang bisa dibenarkan.<\/span><\/p>\n<h6><em>Editor: Ahmad Fauzi<\/em><\/h6>\n<h5>Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers (May-November 2023).<\/h5>\n<h5><em>Acung Memilih Bersuara<\/em> adalah film yang terpilih dalam program tamu S-Express 2023 Indonesia, dan juga mendapatkan\u00a0<em>honorable mention\u00a0<\/em>dari Raoul Wallenberg Institute Asia Pacific Award 2023 di MFW9. Untuk informasi lebih lanjut <a href=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/\">https:\/\/minikino.org\/filmweek\/\u00a0\u00a0<\/a><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertama kali aku berkenalan dengan Amelia Hapsari, sutradara Acung Memilih Bersuara (2023), ia sedang mencari dompetnya dibantu oleh Cika, panggilan akrab Direktur Program Minikino Film Week, Fransiska Prihadi. Aku pikir, \u201cwaduh. Salah banget waktunya, ya? Jelek banget impresiku, orang lagi panik malah kenalan buat ngajak wawancara\u201d. Aku si socially anxious ini jadi khawatir, dan aku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":67,"featured_media":8617,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[437,435,436,438,405,123,129],"jnews-series":[],"class_list":["post-8586","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-interviews","tag-437","tag-acung-memilih-bersuara","tag-amelia-hapsari","tag-kemanusiaan","tag-mfw9","tag-minikino-film-week","tag-rwi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pertama kali aku berkenalan dengan Amelia Hapsari, sutradara Acung Memilih Bersuara (2023), ia sedang mencari dompetnya dibantu oleh Cika, panggilan akrab Direktur Program Minikino Film Week, Fransiska Prihadi. Aku pikir, \u201cwaduh. Salah banget waktunya, ya? Jelek banget impresiku, orang lagi panik malah kenalan buat ngajak wawancara\u201d. Aku si socially anxious ini jadi khawatir, dan aku [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-27T06:52:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-10-27T06:59:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1122\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Cahyaloka Julinanda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Cahyaloka Julinanda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\"},\"author\":{\"name\":\"Cahyaloka Julinanda\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e\"},\"headline\":\"Percakapan Bersama Amelia Hapsari\",\"datePublished\":\"2023-10-27T06:52:58+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-27T06:59:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\"},\"wordCount\":2134,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg\",\"keywords\":[\"1965\",\"Acung Memilih Bersuara\",\"Amelia Hapsari\",\"Kemanusiaan\",\"MFW9\",\"Minikino Film Week\",\"RWI\"],\"articleSection\":[\"INTERVIEWS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\",\"name\":\"Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg\",\"datePublished\":\"2023-10-27T06:52:58+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-27T06:59:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg\",\"width\":1122,\"height\":533,\"caption\":\"Acung Memilih Bersuara arahan Amelia Hapsari dalam pemutaran Nominasi RWI Asia Pacific Award MFW9 di Griya Musik Irama Indah (22\/09\/2023) (dok. Bagus\/Minikino)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Percakapan Bersama Amelia Hapsari\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e\",\"name\":\"Cahyaloka Julinanda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/06\/pychita-julinanda_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/06\/pychita-julinanda_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Cahyaloka Julinanda\"},\"description\":\"(they\/he) a radical care labourer, a mystical solarpunk enthusiast, an occasional cosplayer, but mainly a neurodivergent genderfluid member of the working class labouring as media and cultural worker. their involvement circles in the Indonesian art scene, media environment, and social movement.\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/julinanda\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles","og_description":"Pertama kali aku berkenalan dengan Amelia Hapsari, sutradara Acung Memilih Bersuara (2023), ia sedang mencari dompetnya dibantu oleh Cika, panggilan akrab Direktur Program Minikino Film Week, Fransiska Prihadi. Aku pikir, \u201cwaduh. Salah banget waktunya, ya? Jelek banget impresiku, orang lagi panik malah kenalan buat ngajak wawancara\u201d. Aku si socially anxious ini jadi khawatir, dan aku [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2023-10-27T06:52:58+00:00","article_modified_time":"2023-10-27T06:59:00+00:00","og_image":[{"width":1122,"height":533,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Cahyaloka Julinanda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Cahyaloka Julinanda","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/"},"author":{"name":"Cahyaloka Julinanda","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e"},"headline":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari","datePublished":"2023-10-27T06:52:58+00:00","dateModified":"2023-10-27T06:59:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/"},"wordCount":2134,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg","keywords":["1965","Acung Memilih Bersuara","Amelia Hapsari","Kemanusiaan","MFW9","Minikino Film Week","RWI"],"articleSection":["INTERVIEWS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/","name":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg","datePublished":"2023-10-27T06:52:58+00:00","dateModified":"2023-10-27T06:59:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/10\/Acung-Bagus.jpg","width":1122,"height":533,"caption":"Acung Memilih Bersuara arahan Amelia Hapsari dalam pemutaran Nominasi RWI Asia Pacific Award MFW9 di Griya Musik Irama Indah (22\/09\/2023) (dok. Bagus\/Minikino)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/percakapan-bersama-amelia-hapsari\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Percakapan Bersama Amelia Hapsari"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/db615ef9c66e2ec9eacc76145740eb0e","name":"Cahyaloka Julinanda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/06\/pychita-julinanda_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2023\/06\/pychita-julinanda_avatar-96x96.jpg","caption":"Cahyaloka Julinanda"},"description":"(they\/he) a radical care labourer, a mystical solarpunk enthusiast, an occasional cosplayer, but mainly a neurodivergent genderfluid member of the working class labouring as media and cultural worker. their involvement circles in the Indonesian art scene, media environment, and social movement.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/julinanda\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8586","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/67"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8586"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8586\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8629,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8586\/revisions\/8629"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8586"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8586"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8586"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=8586"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}