{"id":8782,"date":"2024-06-04T13:53:51","date_gmt":"2024-06-04T05:53:51","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=8782"},"modified":"2024-06-05T18:05:11","modified_gmt":"2024-06-05T10:05:11","slug":"refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/","title":{"rendered":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu peserta Minikino Hybrid Internship Program for Film Festival Writers 2024, saya berkesempatan untuk menghadiri sesi diskusi dengan sutradara film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul Boy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2010) secara daring. Sebelum sesi diskusi yang berlangsung pada 19 April 2024, saya diberi akses khusus untuk menonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul Boy.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Menonton sebuah film yang diproduksi di Kenya, Afrika ini menjadi pengalaman yang menghibur sekaligus memberikan kesempatan untuk mengintip fragmen kehidupan Kibera, sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slum area <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di Kenya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul Boy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditulis dan disutradarai oleh Hawa Essuman, sutradara asal Nairobi, Kenya, yang telah berkecimpung di dunia perfilman selama hampir 20 tahun. Ia juga aktif membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pop up masterclass <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tentang perfilman bagi pembuat film muda di Afrika. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Such an inspiring woman indeed!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Hal yang juga menginspirasi dari Hawa adalah kesadarannya atas ekosistem perfilman di Afrika Timur, ia membuat film untuk menonton representasi atas diri mereka sendiri di layar sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran tersebut ditegaskan oleh Hawa menjadi landasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu suatu istilah untuk menggambarkan realitas yang dicerminkan oleh dirinya sendiri, oleh komunitasnya sendiri, untuk dilihat juga oleh mereka sendiri. Adanya kendali atas narasi, memampukan pembuat film untuk memahat film-film yang memantik kebanggaan dari pihak yang direpresentasikan. Lebih jauh ia bisa memberikan perspektif segar akan bagaimana rupa sebuah komunitas beserta kebiasaan maupun ritual-ritualnya.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Cultural Confidence <\/i><\/b><b>dalam membuat film<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hawa Essuman menyebut nama-nama sutradara tersohor seperti Wim Wenders, Jim Jarmusch yang menurutnya sukses membawakan elemen <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini. Sutradara yang hebat pandai mengartikulasikan diri mereka sendiri, di mana mereka dapat berbicara tentang orang lain dalam bahasa mereka sendiri. Perjalanan dalam mengartikulasikan bahasa-bahasa ini perlu ditempuh dengan adanya pemahaman dan gairah yang tak terbatas dalam mengkonstruksikan kampung halaman maupun komunitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, selama ini kita hanya mengenal sutradara yang mayoritas berasal dari Amerika dan Eropa. Ada aspek penting dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang diusung oleh Hawa, yaitu poin di mana ada ketimpangan di industri perfilman bagi kelompok BIPOC (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Black, Indigenous, People of Color <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014 atau Orang Kulit Hitam, Berwarna, dan Masyarakat Adat). Ketimpangan ini berupa representasi yang kurang, penggambaran stereotipikal atas identitas, adanya bias sistemik yang mendiskriminasi, dan kurangnya akses ke peluang di industri. Oleh karena itulah, Hawa merespon dengan membuat film untuk dirinya, komunitasnya, oleh dirinya yang dilahirkan di rumahnya. Menyuntikkan elemen-elemen yang mengandung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sama saja dengan merayakan budaya dan bahasa kita untuk bisa disimak secara komprehensif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja ini bukanlah tugas yang mudah. Butuh percobaan berulang kali dalam menerjemahkan sekaligus menginterpretasikannya dengan bahasa-bahasa yang kita ketahui. Kegagalan akan terjadi berulang kali. Acap kali, konsistensi menjadi satu-satunya jalan bagi kita untuk bersabar dan meyakini bahwa suatu hari perayaan akan cerita-cerita yang kita pahat ini akan tumbuh di suatu hari nanti. Lantas bagaimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini bisa relevan dan menjadi dekat denganku yang tinggal di sebuah kota industri yang selalu siap untuk melahap orang-orang di dalamnya?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8785\" aria-describedby=\"caption-attachment-8785\" style=\"width: 1889px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8785\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web.jpg\" alt=\"Meeting with Hawa Essuman in Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers Program via Zoom (19\/04\/2024). (Dok. Minikino)\" width=\"1889\" height=\"1065\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web.jpg 1889w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web-768x433.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Hawa-web-1536x866.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1889px) 100vw, 1889px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8785\" class=\"wp-caption-text\">Pertemuan bersama Hawa Essuman saat Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers Program via Zoom (19\/04\/2024). (dok. Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Refleksi terhadap Kota Surabaya: Metropolitan Serba Nanggung<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal di Surabaya mengizinkan saya untuk merasakan teriknya matahari berkali-kali lipat dari kota lain yang pernah saya tinggali atau singgahi. Tak bisa dipungkiri pula bahwa keramaian selalu ada. Tapi, kota ini tidak pernah bersinar sebagai sesuatu yang lebih dari kota industri yang hanya diperuntukkan untuk mencari nafkah demi menghidupi diri atau keluarga. Lantas di malam hari, pendar kilau cahaya yang timbul dari kendaraan-kendaraan yang berada di lalu lintas yang kian hari kian padat, menyadarkan kita bahwa kita sama saja dengan orang-orang yang ada di sini: melaju untuk bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja yang tak boleh luput ialah realita yang tersembunyi di balik gedung-gedung kokoh yang menjulang: kampung-kampung yang terbalut oleh sejarah dan perjuangan kini telah direbut petak demi petak demi sampul Surabaya yang perkasa. Komodifikasi ruang hidup tidak segan untuk digencarkan. Ada kontras yang begitu kentara acap kali saya melintasi ruas jalan raya yang lebar dan dipenuhi oleh roda-roda kendaraan pribadi, kemudian berbelok masuk ke dalam gang sempit yang dirayakan oleh anak-anak yang menendang bola kesana kemari bersama temannya dengan tawa renyah di tengah jalan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya sebagai kota metropolitan, kota terbesar yang kedua setelah Jakarta, punya cerita khasnya sendiri, yang selama ini mungkin disadari atau tidak oleh mereka yang mengamati lamat-lamat setiap sisi kota ini, yakni, serba nanggung. Di sini stabilitas itu jauh lebih penting daripada segalanya. Masa bodoh menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the top of it all, mediocrity is something acceptable here<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Datang untuk bertahan hidup, menjalani kehidupan dengan hubungan transaksional. Bekerja untuk mendapat uang, uang dicari untuk bertahan hidup. Belum lagi, apa yang sudah eksis di Surabaya memang kurang maksimal. Hal-hal dasar seperti sistem transportasi umum yang integrasinya masih berantakan, akses pejalan kaki yang kurang inklusif dan belum merata menjadi beberapa faktor yang dapat memberi gambaran atas nanggung-nya Surabaya. Tentu saja kenyataan atas fakta tersebut turut mendukung adanya kebiasaan masyarakat Surabaya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan ini dapat diangkat menjadi elemen <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan medium film.<\/span><\/p>\n<p><b>Membingkai Surabaya melalui Film Pendek: Perlawanan yang Tidak Biasa\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, Surabaya punya sejarah sinema yang panjang. Bioskop-bioskop tersohor pernah berdiri di sini pada era Orde Baru. Setelah sinepleks mengambil alih pasar, bioskop lainnya terpaksa gulung tikar. Tetapi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">arek-arek Suroboyo <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak menyerah dan manut begitu saja pada bergelimangnya emas yang ada dalam industri sinema arus utama. Mereka memahat karyanya dalam zona baru yang menggugah. Film pendek seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gundah Gundala <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2013) oleh Wimar Herdanto menjadi wadah eksperimental yang menuangkan realitas ke dalam narasi fiktif kisah superhero lokal dengan superhero <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">franchise<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mancanegara yang terkenal dalam menyikapi peristiwa sosial budaya: film ini bercerita tentang Gundala, seorang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">superhero <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">lokal yang tidak terlalu signifikan eksistensinya kalah dengan Batman yang notabene merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">superhero <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">naik daun asal luar negeri berhasil melebarkan sayap bisnisnya dengan berinvestasi di Bali.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8788\" aria-describedby=\"caption-attachment-8788\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8788\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Gundah-Gundala-web.jpg\" alt=\"Still Film dari Gundah Gundala (2013) oleh Wimar Herdanto\" width=\"1122\" height=\"632\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Gundah-Gundala-web.jpg 1122w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Gundah-Gundala-web-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Gundah-Gundala-web-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Gundah-Gundala-web-768x433.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1122px) 100vw, 1122px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8788\" class=\"wp-caption-text\">Still Film dari Gundah Gundala (2013) disutradarai oleh Wimar Herdanto (dok. Nganu Films)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu ada film pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bayang Bayan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2017) oleh Reno Surya menceritakan tetang resistansi warga Tambak Bayan yang diancam untuk digusur lahannya serta pentingnya solidaritas warga dalam melawan juga mencerminkan bentuk<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Surabaya yang masih terjengkang dengan masalah penggusuran di balik hingar bingar gedung pencakar langit yang sering tampil di media audio visual ala <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">company profile<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lain lagi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hitler Mati di Surabaya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2023) oleh Dhamar Gautama memantik pertanyaan-pertanyaan tentang makna kejujuran dan bertahan. Ketika seorang penjaga kuburan yang ingin mengajak keluarganya berjalan-jalan ke Kenjeran terjebak dalam masalah finansial dan mengharuskannya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cosplay <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jadi Hitler berbekal kostum militer yang ia pinjam dari Pak Lurah. Judul-judul tersebut dengan senang hati saya rekomendasikan kepada para kawula yang berminat pada pergerakan ekosistem film pendek di Surabaya. Mereka menjadi referensi yang tepat untuk menemukan sisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari Kota Surabaya karena mereka mengupas sisi-sisi Surabaya yang tadinya terkesan serba nanggung itu menjadi lebih berkarakter.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Memahat Kota dalam Cerita: Konsistensi dan Kepekaan Tinggi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berulang kali saya memikirkan konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini setelahnya. Ada keterkaitan dalam diri untuk mengartikulasikan kekhasan dalam kota yang saya tinggali, namun ragu karena ada ketakutan untuk meromantisasinya secara klise.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cultural confidence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dicapai dengan membingkai keseharian, karena sesungguhnya kehidupan sehari-hari dapat mencerminkan konteks sosial, politis, dan kultural. Yakni bagaimana subjek menafsirkan suatu fenomena yang biasa saja menjadi sesuatu yang spesial atau bahkan mempunyai makna di luar batas konvensional. Contohnya usaha untuk menangkap imaji dan narasi dengan sudut yang tidak terpikirkan secara lumrahnya. Kemampuan ini tidak muncul dengan sendirinya. Dalam membingkai rutinitas yang terkesan membosankan menjadi sesuatu yang bermakna, kita sebagai pengarang tentu wajib memiliki kemampuan untuk meresapi sekitar dengan kepekaan tinggi. Harapannya, bingkaian tersebut akan mampu mengajak kita semua untuk mempertanyakan kembali aspek kehidupan yang sebelumnya dianggap sepele, serta menyingkap usaha bertahan dan melawan dalam keseharian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsumsi media yang terlalu nyaman berada di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">status quo, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu ketika audiens mengonsumsi media secara pasif\u2014dalam artian hanya mengonsumsi sesuatu yang sifatnya menghibur dan menghindari media dengan isu politis, menelannya begitu saja tanpa mengkritisinya\u2014dapat menjerumuskan kita untuk sekedar meromantisasi belaka. Meromantisasi tentu dapat menjebak penulis akan masalah sistemik yang sedang melanda alih-alih mendorongnya sebagai medium yang dapat mendorong agensi publik, atau minimal menimbulkan kesadaran untuk dapat menyadari permasalahan. Film sebagai medium komunikasi sangatlah berpotensi untuk menumbuhkan kepedulian dan kesadaran atas apa yang terjadi, apa yang salah, apa yang harus dibenahi. Bisa dikatakan, film sudah tidak hanya berpengaruh ke kehidupan saja, namun ialah kehidupan itu sendiri; cerita-cerita dari mereka yang belum sempat tersampaikan.<\/span><\/p>\n<h6><em>Editor: <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/julinanda\/\">Pychita Julinanda<\/a><\/em><\/h6>\n<h5>Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers\u00a0(April-September 2024).<\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai salah satu peserta Minikino Hybrid Internship Program for Film Festival Writers 2024, saya berkesempatan untuk menghadiri sesi diskusi dengan sutradara film Soul Boy (2010) secara daring. Sebelum sesi diskusi yang berlangsung pada 19 April 2024, saya diberi akses khusus untuk menonton film Soul Boy. Menonton sebuah film yang diproduksi di Kenya, Afrika ini menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":8784,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[509,510,507,506,505,508],"jnews-series":[],"class_list":["post-8782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-notes","tag-afrika","tag-bipoc","tag-cultural-confidence","tag-hawa-essuman","tag-soul-boy","tag-surabaya"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebagai salah satu peserta Minikino Hybrid Internship Program for Film Festival Writers 2024, saya berkesempatan untuk menghadiri sesi diskusi dengan sutradara film Soul Boy (2010) secara daring. Sebelum sesi diskusi yang berlangsung pada 19 April 2024, saya diberi akses khusus untuk menonton film Soul Boy. Menonton sebuah film yang diproduksi di Kenya, Afrika ini menjadi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-06-04T05:53:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-06-05T10:05:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1122\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Faiza Layalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Faiza Layalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\"},\"author\":{\"name\":\"Faiza Layalia\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f\"},\"headline\":\"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung\",\"datePublished\":\"2024-06-04T05:53:51+00:00\",\"dateModified\":\"2024-06-05T10:05:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\"},\"wordCount\":1376,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg\",\"keywords\":[\"Afrika\",\"BIPOC\",\"cultural confidence\",\"Hawa Essuman\",\"Soul Boy\",\"Surabaya\"],\"articleSection\":[\"NOTES\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\",\"name\":\"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg\",\"datePublished\":\"2024-06-04T05:53:51+00:00\",\"dateModified\":\"2024-06-05T10:05:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg\",\"width\":1122,\"height\":533,\"caption\":\"Still film dari Soul Boy (2010) disutradarai Hawa Essuman (dok. senscritique.com)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f\",\"name\":\"Faiza Layalia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/faizaa_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/faizaa_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Faiza Layalia\"},\"description\":\"Faiza is currently studying Communication Science in Airlangga University, Surabaya. She is putting a deep interest on media studies, music, and film critics. While continue to learn on film studies, she's actively engaging with locals film scene and write for alternative media in her spare time.\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/faizaa\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles","og_description":"Sebagai salah satu peserta Minikino Hybrid Internship Program for Film Festival Writers 2024, saya berkesempatan untuk menghadiri sesi diskusi dengan sutradara film Soul Boy (2010) secara daring. Sebelum sesi diskusi yang berlangsung pada 19 April 2024, saya diberi akses khusus untuk menonton film Soul Boy. Menonton sebuah film yang diproduksi di Kenya, Afrika ini menjadi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2024-06-04T05:53:51+00:00","article_modified_time":"2024-06-05T10:05:11+00:00","og_image":[{"width":1122,"height":533,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Faiza Layalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Faiza Layalia","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/"},"author":{"name":"Faiza Layalia","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f"},"headline":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung","datePublished":"2024-06-04T05:53:51+00:00","dateModified":"2024-06-05T10:05:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/"},"wordCount":1376,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg","keywords":["Afrika","BIPOC","cultural confidence","Hawa Essuman","Soul Boy","Surabaya"],"articleSection":["NOTES"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/","name":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg","datePublished":"2024-06-04T05:53:51+00:00","dateModified":"2024-06-05T10:05:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Soul-Boy-web.jpg","width":1122,"height":533,"caption":"Still film dari Soul Boy (2010) disutradarai Hawa Essuman (dok. senscritique.com)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/refleksi-cultural-confidence-ala-hawa-essuman-di-kota-metropolitan-serba-nanggung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Refleksi Cultural Confidence ala Hawa Essuman di Kota Metropolitan Serba Nanggung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/c3d013bcc23d4c680f1c19cc961f078f","name":"Faiza Layalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/faizaa_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/faizaa_avatar-96x96.jpg","caption":"Faiza Layalia"},"description":"Faiza is currently studying Communication Science in Airlangga University, Surabaya. She is putting a deep interest on media studies, music, and film critics. While continue to learn on film studies, she's actively engaging with locals film scene and write for alternative media in her spare time.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/faizaa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8782"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8782\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8803,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8782\/revisions\/8803"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8782"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=8782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}