{"id":8832,"date":"2024-06-27T14:36:55","date_gmt":"2024-06-27T06:36:55","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=8832"},"modified":"2024-06-27T14:36:55","modified_gmt":"2024-06-27T06:36:55","slug":"yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/","title":{"rendered":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yogyakarta, dengan penduduk lebih dari 4 juta jiwa, adalah kota yang hidup dengan dinamika unik di setiap sudutnya. Di balik setiap pintu rumah dan di setiap lingkungan, individu menciptakan &#8220;ruang&#8221; mereka sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa oleh keadaan ekonomi. Program Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta menyoroti hal ini melalui empat film pendek yang menggambarkan hubungan manusia dan &#8220;ruang&#8221; dari berbagai perspektif, menawarkan pandangan mendalam tentang kehidupan dan interaksi di kota ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.dropbox.com\/scl\/fi\/fiqw89445qnelmhptgbyp\/Katalog-IndonesiaRaja2024.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">Catatan program<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang muncul dalam layar saya jadikan acuan sebelum menonton. Gerry Junus selaku programmer Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta, mendeskripsikan Yogyakarta sebagai \u201cruang liminal\u201d. Setelah menelusuri definisi dari kata \u201climinal\u201d, kata ini diadopsi dari istilah psikologi yang artinya kondisi ambang, ambiguitas antara apa yang familiar dan yang baru kita jumpai. Mereka membantu saya untuk memahami lebih jauh definisi dari kata-kata \u201climinal\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>Mereka Yang Meruang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Omah Omah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2022) karya Rafika Ilma Rizkyana, diperlihatkan bahwa dengan banyaknya jumlah orang\u2013atau anggota keluarga kita\u2013justru dapat hanya menyebabkan frustrasi. Tiga keluarga yang terdiri dari delapan orang tinggal dalam satu rumah kontrakan yang sempit dengan hanya satu kamar mandi. Bayangkan saja perdebatan yang harus mereka lewati setiap paginya, perkara siapa yang akan pakai kamar mandi duluan. Ruang tamu sekadar menjadi tempat persinggahan saja untuk setor muka dengan keluarga besar setelah pulang kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamar pribadi mereka masing-masing adalah \u201crumah\u201d sejati mereka, tempat di mana mereka bisa mendapatkan privasinya. Di kamar inilah sepasang suami istri berbicara dari hati ke hati tentang terjebak dalam realita yang sempit dan kewajiban untuk mandiri. Saat terungkap bahwa anak bungsu mereka hamil di luar nikah, dan hal yang dianggap aib tersebut diungkit-ungkit oleh ibu penyewa rumah kontrakan mereka, ini semakin mendorong mereka ke dalam kefrustasian. Hal ini mengingatkan mereka akan ketidakmampuan mereka untuk melarikan diri dari situasi terkini, bahwa mereka juga tidak memilih untuk hidup dijejalkan di bawah satu atap dengan minim privasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Omah Omah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tiga keluarga yang tinggal di bawah satu atap karena faktor ekonomi tampaknya tidak akan selamanya dalam kondisi tersebut. Misalnya istri anak bungsu terlihat tidak menganggap rumah kontrakan sebagai \u201cruangannya\u201d. Hal ini terlihat ketika istri anak bungsu pulang, langsung mengambil paket <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">e-commerce<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan memasuki kamar tanpa berinteraksi, serta mendapat kritik dari anak sulung mengenai kebiasaan belanjanya. Saya bisa membayangkan setiap keluarga pada akhirnya memerlukan privasi dan akan pindah ke rumah atau \u201cruang\u201d sejati mereka masing-masing, melepaskan suasana familiaritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Omah Omah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memilih rumah kontrakan sempit sebagai \u201cruang\u201d mereka, film penutup yang dikemas dalam bentuk dokumenter dalam Program IR24: D.I Yogyakarta, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kanaka <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2023) karya Regina Surbakti, perempuan yang bernama Mikha memilih untuk \u201cmeruang\u201d di lokasi mata pencahariannya. Tempat yang dikunjungi setiap hari, melalui percakapan dan pertemuannya dengan pengunjung lainnya, Mikha menemukan \u201cruang\u201d personalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kanaka (2023)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Mikha menantang stereotip kuno bahwa seorang istri diwajibkan untuk hanya mengurusi rumah tangga dan membesarkan anak. Bagaimana tidak? Mikha adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nail artist <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di sebuah kampung di Yogyakarta. Kamera mengikuti Mikha ketika ia dibonceng suaminya dengan motor untuk pulang ke rumah. Dengan Bahasa Jawa, Mikha menyebutkan keinginannya bahwa ia ingin kehadiran suaminya sebagai ayah untuk anak semata wayang mereka lebih intensif, mengingat suaminya hanya mendapatkan libur dua akhir pekan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dalam sebulan, yang dianggapnya sangat kurang untuk menghabiskan waktu dengan anaknya. Mikha mendirikan \u201cruangan\u201d miliknya lewat salon kukunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bingkai stereotip yang mengharuskan perempuan untuk tinggal di rumah rasanya hanya akan menghalang perempuan dari kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan mereka. Mikha mengingatkan saya dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">La Luna <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2023, M. Raihan Halim),<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">film drama komedi Malaysia yang menceritakan soal perempuan yang membuka usaha <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lingerie <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">namun malah ditentang oleh pemuka agama setempat. Mikha dan karakter utama dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">La Luna<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menempatkan pekerjaan mereka sebagai sumber kebahagiaan mereka. Tempat aman bagi mereka untuk melepas penat dan bergosip, curhat mengenai persoalan rumah tangga, dan pada dasarnya dikelilingi oleh perempuan saja. Bedanya salon kuku Mikha bukanlah sebuah fiksi rekaan. Dia benar benar ada, dan salon itu tidak hanya menjadi \u201cruangan\u201d untuk Mikha, tetapi juga untuk pelanggannya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8835\" aria-describedby=\"caption-attachment-8835\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8835 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Kanaka.jpg\" alt=\"Dua orang perempuan sedang menggambar kuku di salon kuku\" width=\"1122\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Kanaka.jpg 1122w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Kanaka-300x143.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Kanaka-1024x486.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Kanaka-768x365.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1122px) 100vw, 1122px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8835\" class=\"wp-caption-text\">Still film dari Kanaka (2023) arahan Regina Surbakti (dok. Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Ruang Batin<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkenalan dengan Mbah Muji yang secara tidak langsung memilih untuk menempatkan diri dalam \u201cruangannya\u201d sendiri, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Under the Idhum Tree (2023) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">karya Raka Satria Bahagia mengenkapsulasi keseharian Mbah Muji mengabdi di Makam Para Raja di Imogiri. Dalam kompleks pemakaman ini, terletak makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dikemas dalam gambar hitam putih, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Under the Idhum Tree <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">banyak mengambil nuansa Imogirinya serta tentunya Mbah Muji sendiri, menggunakan pakaian atasan Surjan dengan bawahan jarik serta blangkon di kepalanya. Di pertengahan setiap cerita Mbah Muji, seorang pemuda yang menggunakan kain yang membalut pinggang sampai kakinya dengan sebuah topeng wayang menutupi mukanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memaknai pemuda yang menari tersebut sebagai gambaran batin Mbah Muji, menyalurkan keceriaan dan kelegaannya dalam rasa sepi melalui liukkan badannya. Bahwa setiap harinya ketika Mbah Muji mengabdikan dirinya dalam rutinitas dan pekerjaan yang terlihat membosankan\u2013atau bahkan untuk sebagian orang mungkin \u201crendahan\u201d\u2013hal ini justru memberikan sebuah kedamaian dan sukacita untuk beliau. Kita seolah-olah diajak untuk ruang batin Mbah Muji melalui pemuda bertopeng itu, dari kejauhan dan dari celah ranting-ranting pohon. Bahkan salah satu harapan Mbah Muji adalah agar anaknya mengikuti jejaknya. Ia ingin anaknya merasakan kedamaian yang sama dengannya, \u201cAgar damai hatinya, melayani orang lain,\u201d Ujar Mbak Muji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Muji yang sudah sepuh ini dan berada di akhir masa tujuan hidupnya, mungkin merasa bahwa pekerjaannya di pemakaman Imogiri adalah sebuah ruang liminal baginya. Beliau familiar dengan rutinitasnya, familiar dengan makna pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Pengabdian ini adalah pemberhentian terakhir sebelum menyambut yang selanjutnya, proses transisi sebelum nanti pengabdiannya akan digantikan dengan generasi yang baru. Mbah Muji tidak hanya berdamai dengan ruangannya, tetapi juga menempatkan dirinya dengan bahagia dalam liminalitasnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_8836\" aria-describedby=\"caption-attachment-8836\" style=\"width: 1122px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-8836 size-full\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Under-The-Idhum-Tree.jpg\" alt=\"Dua foto di dinding, di kiri foto anak kecil dalam bingkai dan di kanan foto seorang laki laki dan perempuan paruh baya dalam satu frame\" width=\"1122\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Under-The-Idhum-Tree.jpg 1122w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Under-The-Idhum-Tree-300x143.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Under-The-Idhum-Tree-1024x486.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Under-The-Idhum-Tree-768x365.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1122px) 100vw, 1122px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8836\" class=\"wp-caption-text\">Still film dari Under the Idhum Tree (2023) karya Raka Satria Bahagia (dok. Minikino)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak selamanya \u201cruangan\u201d para tokoh dalam film-film ini memiliki bentuk atau dinding yang mengelilingi mereka senantiasa. Mbah Muji membentuk \u201cruangannya\u201d sendiri lewat pengabdian yang menyejukkan hatinya, selain itu ada Rigby dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Man Who Can&#8217;t Kiss The Ground<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2023) karya Jason Ezra Maail, yang memilih imajinasinya sebagai \u201cruangannya\u201d, sebuah tameng untuk melindunginya dari situasi yang tidak menentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang menyangka bahwa toko ikan hias ternyata bisa bernuansa romantis? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Man Who Can&#8217;t Kiss The Ground (2023) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menangkap Rigby dan Fey menari-nari, menelusuri deretan akuarium ikan hias yang dihiasi lampu neon dan disajikan melalui permainan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">editing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang barangkali terinspirasi dari Wong Kar-wai, yang kerap kali menggunakan warna neon dan efek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">step-printing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang banyak digunakan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Chungking Express<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1994).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rupanya pada setiap adegan romantis seperti itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">snap! <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Rigby terbangun dari tidurnya di toko ikan hias yang sama, tapi kali ini terdapat sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fishbowl<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berisi satu ikan mas. Ikan ini kerap kali diamati oleh Rigby, tenggelam dalam rentetan lamunan dan isi pikirannya yang salah satunya adalah Fey, perempuan yang ditunggu sekian lama untuk datang lagi. Saya melihatnya sebagai Rigby yang terjebak dalam imajinasi miliknya, bahwa ikan mas miliknya yang ia jaga sepanjang film adalah cerminan dirinya yang sendirian dan terperangkap. Rigby beranggapan bahwa Fey tidak akan menghampirinya lagi, bahwa perempuan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dress <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kuning itu tidak akan hadir untuk menemaninya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, Rigby seakan menjebak dirinya dalam \u201cruang\u201d yang direpresentasikan oleh imajinasinya dan berujung mengambil langkah yang fatal. Pada saat eksekusinya, Rigby terlihat tersenyum lebar, seakan menemukan hal baru\u00a0 yaitu sebuah kemampuan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">superhero <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">baru yang ia bayangkan barangkali bisa digunakan untuk berkeliling mencari Fey. Romantis, tapi tentunya sia-sia. Buat saya, ini salah satu upaya Rigby untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">move on <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dari familiaritasnya, bahwa kejelasan Fey yang familiar\u2013tapi serba ambigu ini\u2013perlahan dilepaskan oleh Rigby seperti Rigby melepaskan sepatunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Merefleksikan Ruang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam setiap film pendek yang ditampilkan dalam Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta, saya melihat ruang personal mereka berkaitan erat dengan rutinitas dan perasaan manusia. Kemudian, saya mengidentifikasikan ruang liminalitas saya sendiri sebagai perpaduan antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Omah-Omah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Under The Idhum Tree<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, di mana saya membentuk \u201cruangan\u201d dalam keluarga saya. Di usia yang matang ini, rumah di Jakarta menjadi sekadar tempat persinggahan, di saat saya lebih sering tinggal di kost di Bandung untuk kuliah. Pada akhirnya, saya juga akan pindah dari rumah dan hidup mandiri, namun tetap mendambakan kasih sayang orang tua.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Under the Idhum Tree<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya memahami ketergantungan pada rutinitas sehari-hari, seperti saat ini saya menyibukkan diri dengan aktivitas di kampus. Di masa depan, pekerjaan saya juga akan menjadi \u201cruang\u201d personal saya. Perasaan familiar ini membuat saya merasa berguna di mana pun saya berada, memberikan stabilitas dalam kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penciptaan \u201cruang\u201d bagi masing-masing karakter dalam keempat film pendek ini adalah mekanisme mereka untuk berdamai dengan situasi yang ada. Mereka menerima dan beradaptasi dengan situasi mereka masing-masing, bertumbuh sepenuhnya menjadi manusia.<\/span><\/p>\n<h6><em>Editor: <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/bintangpanglima\/\">Bintang Panglima<\/a> dan <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/fauzi\/\">Ahmad Fauzi<\/a><\/em><\/h6>\n<h5>Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers (April-September 2024). Program Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta dapat dipinjam untuk diputar di layar lebar. Informasi lebih lanjut tersedia di <a href=\"https:\/\/minikino.org\/indonesiaraja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/minikino.org\/indonesiaraja\/<\/a><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta, dengan penduduk lebih dari 4 juta jiwa, adalah kota yang hidup dengan dinamika unik di setiap sudutnya. Di balik setiap pintu rumah dan di setiap lingkungan, individu menciptakan &#8220;ruang&#8221; mereka sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa oleh keadaan ekonomi. Program Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta menyoroti hal ini melalui empat film pendek yang menggambarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":86,"featured_media":8833,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_review":[],"enable_review":"0","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[{"good_text":""}],"bad":[{"bad_text":""}],"score_override":"","override_value":"","rating":[{"rating_text":"","rating_number":"10"}],"price":[{"shop":"","price":"","link":"","icon":""}],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":{"enable_podcast":"0","podcast_duration":"","upload":""},"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[460,59,530,531,533,532,350],"jnews-series":[],"class_list":["post-8832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-gerry-junus","tag-indonesia-raja","tag-kanaka","tag-omah-omah","tag-the-man-who-cant-kiss-the-ground","tag-under-the-idhum-tree","tag-yogyakarta"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Yogyakarta, dengan penduduk lebih dari 4 juta jiwa, adalah kota yang hidup dengan dinamika unik di setiap sudutnya. Di balik setiap pintu rumah dan di setiap lingkungan, individu menciptakan &#8220;ruang&#8221; mereka sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa oleh keadaan ekonomi. Program Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta menyoroti hal ini melalui empat film pendek yang menggambarkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-06-27T06:36:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1122\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Cynthia Syukur Purwanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Cynthia Syukur Purwanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\"},\"author\":{\"name\":\"Cynthia Syukur Purwanto\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd\"},\"headline\":\"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek\",\"datePublished\":\"2024-06-27T06:36:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\"},\"wordCount\":1464,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg\",\"keywords\":[\"Gerry Junus\",\"Indonesia Raja\",\"Kanaka\",\"Omah Omah\",\"The Man Who Can't Kiss The Ground\",\"Under the Idhum Tree\",\"Yogyakarta\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\",\"name\":\"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg\",\"datePublished\":\"2024-06-27T06:36:55+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg\",\"width\":1122,\"height\":533,\"caption\":\"Still film dari Omah Omah (2022) karya Rafika Ilma Rizkyana (dok. Minikino)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd\",\"name\":\"Cynthia Syukur Purwanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/cynthiaa_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/cynthiaa_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Cynthia Syukur Purwanto\"},\"description\":\"Cynthia is an International Relations student in Parahyangan Catholic University. A film enthusiast and has a hobby in writing. In her studies, she is the coordinator for the Film and Literature Analytical division in KSMPMI, a student-run International Relations Think Tank Organization, where she writes articles about film and books and connects it to International Relations issues.\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/cynthiaa\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles","og_description":"Yogyakarta, dengan penduduk lebih dari 4 juta jiwa, adalah kota yang hidup dengan dinamika unik di setiap sudutnya. Di balik setiap pintu rumah dan di setiap lingkungan, individu menciptakan &#8220;ruang&#8221; mereka sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa oleh keadaan ekonomi. Program Indonesia Raja 2024: D.I Yogyakarta menyoroti hal ini melalui empat film pendek yang menggambarkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2024-06-27T06:36:55+00:00","og_image":[{"width":1122,"height":533,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Cynthia Syukur Purwanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Cynthia Syukur Purwanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/"},"author":{"name":"Cynthia Syukur Purwanto","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd"},"headline":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek","datePublished":"2024-06-27T06:36:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/"},"wordCount":1464,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg","keywords":["Gerry Junus","Indonesia Raja","Kanaka","Omah Omah","The Man Who Can't Kiss The Ground","Under the Idhum Tree","Yogyakarta"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/","name":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg","datePublished":"2024-06-27T06:36:55+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/06\/Omah-Omah.jpg","width":1122,"height":533,"caption":"Still film dari Omah Omah (2022) karya Rafika Ilma Rizkyana (dok. Minikino)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/yogyakarta-yang-liminal-hubungan-manusia-dan-ruang-dalam-film-pendek\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Yogyakarta yang Liminal: Hubungan Manusia dan Ruang Dalam Film Pendek"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/dc7b9a223b70a715c64469d6b3367cfd","name":"Cynthia Syukur Purwanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/cynthiaa_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/05\/cynthiaa_avatar-96x96.jpg","caption":"Cynthia Syukur Purwanto"},"description":"Cynthia is an International Relations student in Parahyangan Catholic University. A film enthusiast and has a hobby in writing. In her studies, she is the coordinator for the Film and Literature Analytical division in KSMPMI, a student-run International Relations Think Tank Organization, where she writes articles about film and books and connects it to International Relations issues.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/cynthiaa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/86"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8832"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8832\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8839,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8832\/revisions\/8839"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8832"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=8832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}