{"id":9387,"date":"2025-05-13T19:44:08","date_gmt":"2025-05-13T11:44:08","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=9387"},"modified":"2025-11-17T16:59:16","modified_gmt":"2025-11-17T08:59:16","slug":"namanya-juga-anak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/","title":{"rendered":"Namanya Juga Anak-Anak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami sepakat bahwa judul program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Normal Versi Siapa? <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dikuratori oleh Fransiska Prihadi begitu provokatif sekaligus investigatif. Program yang ditayangkan dalam rangkaian acara <\/span><a href=\"https:\/\/minikino.org\/pp-goestocampus\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Minikino Goes to Campus<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ini terdiri atas empat film pendek: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Partian<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Hadafi Raihan Karim, 2021), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Firdaus Balam, 2021), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Wedding Ring <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Robin Narciso, 2022), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Black Rain in My Eyes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Amir Masoud Soheili dan Amir \u00c4thar Soheili, 2023). Dalam sinopsis program, disebutkan bahwa keempat film ini berupaya mengajak para penonton\u2014mahasiswa dan tenaga pendidik\u2014mempertanyakan batas-batas tak kasat mata yang mengatur kehidupan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada mulanya, kami cukup sibuk meneropongi diksi \u201cnormal\u201d sebagai pintu masuk untuk melihat keempat film tersebut. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Normal itu apa, sih?<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana definisi normal langgeng, lebih-lebih berusaha digugat lewat program ini?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Akan tetapi, jawaban dari judul program justru terasa menggema ketika atensi dialihkan bukan kepada orang dewasa, melainkan anak-anak. Meskipun dalam keempat film itu tidak selalu vokal, eksistensi dan aspirasi mereka terasa lantang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari keempat film yang diputar, kami memilih untuk berfokus pada dua judul yang paling kuat dan terang menempatkan anak-anak sebagai pusat narasi: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2021) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Black Rain in My Eyes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2023). Kedua film ini kami rasa cukup \u201cgalak\u201d dalam menantang kenormalan-kenormalan yang dihadirkan melalui bahasa dan agensi anak sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang sudah lebih dulu didefinisikan oleh orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021), anak lelaki tak sekolah di Seletar, Malaysia belajar keras untuk dapat mengeja dunia hingga akhirnya justru mendapati kenyataan bahwa dunia tempatnya tinggal akan segera mengalami penggusuran. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Black Rain in My Eyes <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2023) menampilkan empat anak perempuan dengan disabilitas netra yang tinggal di antara reruntuhan pascaperang berkepanjangan di Suriah. Bukan tidak bisa, tetapi mereka tidak boleh melihat realitas yang ada.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9390\" aria-describedby=\"caption-attachment-9390\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9390 size-large\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still-300x169.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still-768x432.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/Black-Rain-in-My-Eyes-still.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9390\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Black Rain in My Eyes karya Amir Soheili dan Masoud Soheili. Dok: Minikino<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>Anak-Anak di Sana Sini<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ungkapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">it takes a village to raise a child<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak) kini semakin tak relevan. Permasalahan yang ada kian kompleks, berkelindan, dan tak menentu. Bukan hanya desa, tetapi juga sebuah provinsi, negara, hingga seluruh umat manusia\u2014tak terlepas yang muda maupun yang tua\u2014dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan demi mendukung anak-anak tumbuh dan berkembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, realitas sosial saat ini terasa tidak ideal. Cerminan realitas tersebut hadir dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021). Meskipun berupa film fiksi, penggusuran dan redistribusi tanah merupakan isu riil di Malaysia, juga banyak negara lain. Upaya-upaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">survival<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kompromi, dan resiliensi lantas tak bisa dipisahkan dari <\/span><a href=\"https:\/\/newnaratif.com\/fighting-for-their-land\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">realitas Orang Seletar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, komunitas masyarakat adat (dalam bahasa Malaysia disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Asli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) di mana Frankie tinggal dan menjadi bagian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah ombak akselerasi ekonomi dan modernisasi Malaysia, ada kehidupan yang harus dicerabut\u2014baik figuratif maupun literal. Firdaus Balam secara subtil menampilkan pencerabutan hak hidup yang tak selamanya berwujud eksplisit dan bersuara lantang. Tak jarang, perampasan hadir dalam suara yang lirih dan acap kali tak digagas: sebagaimana Frankie kesulitan mengeja surat pemberitahuan dan memerlukan bantuan Gamat, sahabatnya. Gamat menjelaskan pada Frankie perihal rencana penggusuran di atas sebuah bukit pasir di pesisir pantai, menghadap langit senja yang kian memudar. Mereka tak bisa menyulap keadaan dan menghentikan penggusuran, memilih untuk menyalakan rokok dan mengisapnya. Kabut asap rokok pun menguar bebas entah ke mana, selayaknya nasib hidup komunitas mereka yang cepat atau lambat akan bernasib sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di belahan dunia yang lain, kehidupan anak-anak pun secara kontinu berubah. Gempuran bom, tembakan senapan, dan reruntuhan bangunan menjadi realitas yang harus mereka hadapi sehari-hari. Amir Masoud Soheili dan Amir Athar Soheili mendokumentasikan kondisi abnormal pascaperang yang harus dihadapi seorang penyair Suriah bernama Hessan dan empat putrinya yang memiliki disabilitas netra. Di tengah kerentanan hidup dan ketidakpastian, Hessan berusaha menyamarkan ketidakstabilan melalui cerita-cerita puitis yang ia rangkai dan ceritakan kepada anak-anaknya. Teriakan dan sorakan di luar sana ada karena pesta pernikahan, anak-anak berlarian karena bersukacita, dan semuanya baik-baik saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya itu yang Hessan sampaikan pada anak-anaknya, hingga pada suatu waktu keluarganya menghadiri forum puisi. Tempurung yang Hessan ciptakan sebagai tameng bagi anak-anaknya dari dunia luar, seketika runtuh lewat lontaran puisi-puisi yang tak seindah dan seriuh syair yang ia lantunkan di rumah. Indera-indera anak Hessan kini lepas dan memperoleh agensi untuk mengalami dunia sebagaimana aslinya. Adegan bergeser menuju Hessan dan dua putrinya yang mengunjungi reruntuhan bangunan sekolah. Bangku dan mejanya kini alih-alih diduduki dan diisi oleh para siswa, justru menjadi relik anomali yang bertahan di antara puing-puing tembok yang hancur.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Dunia yang Normal untuk Anak-Anak<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak dalam kacamata orang dewasa (atau orang yang berusia lebih tua\u2014kalau umur bukan selalu patok kedewasaaan) acapkali dipandang sebagai makhluk mungil tanpa pretensi dan agensi. Anak-anak di Indonesia misalnya, tidak boleh bersuara di pemilihan umum kepala daerah dan\/atau negara karena dianggap belum memiliki pemahaman politik yang cukup. Orang dewasalah yang punya posisi dan kuasa untuk menentukan apa dan siapa yang terbaik buat mereka, dari kepala negara hingga menu makan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNamanya juga anak-anak. Ngerti apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukankah justru itu bentuk gamblang dari <\/span><a href=\"https:\/\/ojs.library.carleton.ca\/index.php\/cjcr\/article\/view\/3942\/3148\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">childisme<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">; prasangka terhadap anak-anak yang menempatkan mereka sebagai subjek pasif dalam dunia orang dewasa? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Childisme<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat anak-anak terlihat (nyaris) tak punya kendali dan otonomi terhadap hidupnya. Orang dewasa dan mentalitas superiornyalah yang bertindak sebagai pendikte hidup anak-anak. Padahal, jangan-jangan, dunia anak-anak yang diidealkan atau minimal dipandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">normal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> oleh orang dewasa adalah sisa-sisa reruntuhan dunia yang berusaha didekorasi sedemikian rupa?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti halnya yang terjadi dalam dokumenter <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Black Rain in My Eyes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2023). Sang Ayah berusaha menutup-nutupi realitas pada empat putrinya dengan disabilitas netra. Ia mengubah cerita horor menjadi dongeng karena tak ingin anak-anaknya melihat borok dunia yang tak bisa mereka lihat secara kasat mata. Sayangnya, upayanya dalam menslimurkan dunia ini justru makin melegitimasi cengkeraman <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">childisme<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam struktur sosial, utamanya keluarga, secara sistemik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, terdapat poros perlawanan terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">childisme<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditunjukkan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2021). Meskipun tak mengecap bangku sekolah, Frankie punya agensi kuat untuk dapat membaca dan memahami dunia di sekitarnya. Frankie belajar membaca angka di kalender dan meminta Gamat, temannya yang sekolah, untuk mengajarinya mengeja. Hingga pada suatu hari, seperti biasa, dunia menunjukkan taring ketidakadilannya. Apa yang ingin dieja Frankie dari selebaran yang tertempel di tembok-tembok rumah di sekitarnya ternyata adalah perintah pengosongan lahan dari pemerintah. Apakah di kemudian hari Frankie tetap dapat akan mengeja adanya ha-ra-pan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimanapun, Frankie dapat dilihat sebagai anak yang menyadari dan dapat berdiri di atas agensinya. Frankie belajar mengeja, merebut rokok milik neneknya, membela temannya yang dirundung, dan melihat dunia dengan berani dan telanjang mata. Frankie menentang dan mengetengahkan posisinya sebagai subjek yang aktif dari dunia yang dihegemoni oleh kepentingan orang dewasa di sekitarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam dua film di atas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">childisme<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> direntangkan, dipertanyakan, dan dipertentangkan oleh anak-anak sendiri. Lewat medium bahasa, mereka berusaha merangsek keluar dari cangkang dunia yang sudah terlanjur tercipta dan bahkan dipelihara oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka sejak mereka lahir. Hessan yang puitis menggunakan estetika bahasa untuk menutup-nutupi bobroknya dunia dan Frankie yang kritis belajar keras menggunakan bahasa untuk kemudian menyadari bahwa dunia yang terbaca alias dunia orang dewasa penuh dengan instruksi dan mengesampingkan agensinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dunia orang dewasa menyebut ini \u201cnormal\u201d, sementara anak-anak seperti Frankie dan keempat gadis dengan disabilitas netra dalam film justru merasa terpinggirkan, ditipu, atau harus belajar bertahan, maka definisi \u201cnormal\u201d itu patut digugat. Bukan untuk menggantinya dengan utopia, tetapi untuk mengingatkan orang dewasa bahwa anak-anak berhak tahu, memilih, dan memahami dunia dengan kacamata mereka sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9410\" aria-describedby=\"caption-attachment-9410\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-9410 size-large\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL-1024x576.webp\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL-1024x576.webp 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL-300x169.webp 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL-768x432.webp 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL-1536x864.webp 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/BAGAN-STILL.webp 1920w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9410\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Bagan (Sudden Uncertainty) karya Firdaus Balam. Dok: Minikino<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>Tidak (Perlu) Ada yang Normal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNormal\u201d bukan soal konsensus, melainkan cerminan siapa yang punya kuasa untuk menyuarakannya. Lewat keempat film dalam program \u201cNormal Versi Siapa?\u201d, anak-anak akhirnya berdiri di pusat panggung, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai subjek yang berbicara. Dengan kata, dengan diam; dengan kehadiran\u00a0 mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika merujuk kembali pada tajuk program, rasanya probabilitas jawaban untuk pertanyaan \u201cNormal Versi Siapa?\u201d jumlahnya tak terhingga. Meskipun tatapan anak-anak kemudian diketengahkan dalam cara penuturan kedua film, pemaknaan atas normal lantas sifatnya sangatlah kontestatif. Apa yang anak-anak pahami sebagai normal hari ini bisa jadi amatlah berbeda dengan apa yang anak-anak 30 tahun yang lalu atau yang akan datang pahami. Memperbincangkan normal pun tidak bisa melepaskannya dari jeratan warisan kolonial yang acap kali lekat dengannya. Dalam skema demikian, agensi menjadi lenyap dan digantikan kepatuhan\u2014tak terkecuali oleh anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang dianggap sebagai normal, dalam banyak masyarakat, merupakan mekanisme penjajah dalam mengkonstruksikan keteraturan sosial. Ketika terdapat satu elemen liyan muncul di antara sekerumunan orang, subjugasi sosial menjadi langkah pertama dari masyarakat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">auto-pilot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sudah difamilierkan dengan keseragaman dalam sehari-hari. Seperti bagaimana Frankie dirundung teman-temannya karena ia tak lekas membaca kalimat dalam surat pemberitahuan. Seperti bagaimana satu dari sekian musabab perang sipil di Suriah pecah karena pertentangan prinsip dan ideologi. Pada hari ini, kekerasan seolah dinormalisasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas yang kita tinggali dan alami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika film dapat menjadi ruang untuk mendengar yang tak biasa terdengar, maka menonton ulang dunia lewat mata anak-anak bisa jadi cara menemukan kejujuran yang tak bisa dikemas, disunting, atau disensor dunia sebagaimana adanya. Barangkali dari sanalah, retakan pertama muncul pada dinding-dinding normal yang sejak awal tak pernah benar-benar kokoh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, ketimbang mempersoalkan apa dan bagaimana normal itu hadir, keberbedaan bisa diterima menjadi satu dari sekian realitas yang dapat ada berdampingan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali warisan ini yang perlu kita jalin dan perkenalkan kepada anak-anak, juga dengan memberi ruang yang lega untuk anak-anak kembangkan lebih jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak butuh dunia yang jujur. Dunia yang diwariskan pada mereka dan akan mereka wariskan ke anak-anak berikutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: <a href=\"https:\/\/www.minikino.org\/articles\/author\/nataniaa\">Natania Marcella<\/a><\/span><\/p>\n<p><strong>PROFIL PENULIS<\/strong><\/p>\n<table width=\"100%\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"vertical-align: middle;\" width=\"25%\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14020\" src=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/TYAS-ffwriter-2025.webp\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"200\" \/><\/td>\n<td style=\"vertical-align: middle;\" width=\"75%\"><b>HESTY NURUL KUSUMANINGTYAS<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klaten, Indonesia<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tyas was born, raised, and lives in Klaten, Central Java. She likes to keep up her spirit with reading, writing, and immersing herself in deep discussions about the meaning of life with her chubby cats at home. She is an Aquarius.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"vertical-align: middle;\" width=\"25%\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14018\" src=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/HILMI-ffwriter-2025.webp\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"200\" \/><\/td>\n<td style=\"vertical-align: middle;\" width=\"75%\"><b>HILMI REYHAN<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yogyakarta, Indonesia<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Born and raised in Yogyakarta, Hilmi is an anthropology graduate from Universitas Gadjah Mada. Throughout his exploration and learning about human-culture relations, he accentuates a specific focus on art practice(s). Starting from mainly academic research, then extending to art practices that include the intersection of art, decoloniality, and archives in our contemporary landscape, he is now exploring writing<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"vertical-align: middle;\" width=\"25%\"><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami sepakat bahwa judul program Normal Versi Siapa? yang dikuratori oleh Fransiska Prihadi begitu provokatif sekaligus investigatif. Program yang ditayangkan dalam rangkaian acara Minikino Goes to Campus ini terdiri atas empat film pendek: The Partian (Hadafi Raihan Karim, 2021), Bagan (Firdaus Balam, 2021), The Wedding Ring (Robin Narciso, 2022), dan Black Rain in My Eyes [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":105,"featured_media":9389,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":"Penulis: Hesty N. Tyas dan Hilmi Reyhan"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":null,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"jnews-series":[],"class_list":["post-9387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kami sepakat bahwa judul program Normal Versi Siapa? yang dikuratori oleh Fransiska Prihadi begitu provokatif sekaligus investigatif. Program yang ditayangkan dalam rangkaian acara Minikino Goes to Campus ini terdiri atas empat film pendek: The Partian (Hadafi Raihan Karim, 2021), Bagan (Firdaus Balam, 2021), The Wedding Ring (Robin Narciso, 2022), dan Black Rain in My Eyes [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-13T11:44:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-17T08:59:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Collaborative Writing\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Collaborative Writing\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\"},\"author\":{\"name\":\"Collaborative Writing\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee\"},\"headline\":\"Namanya Juga Anak-Anak\",\"datePublished\":\"2025-05-13T11:44:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-17T08:59:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\"},\"wordCount\":1654,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg\",\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\",\"name\":\"Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg\",\"datePublished\":\"2025-05-13T11:44:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-17T08:59:16+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg\",\"width\":2000,\"height\":1333,\"caption\":\"Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino, di sesi tanya jawab Minikino Goes to Campus ISI Bali (12\/04). Dok: Messi Maranatha\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Namanya Juga Anak-Anak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee\",\"name\":\"Collaborative Writing\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0335716d4de78b599ccea28a835a834590a715955697ff361925614b22814b5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0335716d4de78b599ccea28a835a834590a715955697ff361925614b22814b5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Collaborative Writing\"},\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/writerscollab\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles","og_description":"Kami sepakat bahwa judul program Normal Versi Siapa? yang dikuratori oleh Fransiska Prihadi begitu provokatif sekaligus investigatif. Program yang ditayangkan dalam rangkaian acara Minikino Goes to Campus ini terdiri atas empat film pendek: The Partian (Hadafi Raihan Karim, 2021), Bagan (Firdaus Balam, 2021), The Wedding Ring (Robin Narciso, 2022), dan Black Rain in My Eyes [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2025-05-13T11:44:08+00:00","article_modified_time":"2025-11-17T08:59:16+00:00","og_image":[{"width":2000,"height":1333,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Collaborative Writing","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Collaborative Writing","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/"},"author":{"name":"Collaborative Writing","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee"},"headline":"Namanya Juga Anak-Anak","datePublished":"2025-05-13T11:44:08+00:00","dateModified":"2025-11-17T08:59:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/"},"wordCount":1654,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg","articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/","name":"Namanya Juga Anak-Anak - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg","datePublished":"2025-05-13T11:44:08+00:00","dateModified":"2025-11-17T08:59:16+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/GOES-TO-CAMPUS-ISI-BALI.jpg","width":2000,"height":1333,"caption":"Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino, di sesi tanya jawab Minikino Goes to Campus ISI Bali (12\/04). Dok: Messi Maranatha"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/namanya-juga-anak-anak\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Namanya Juga Anak-Anak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/5096e22b311d2b308273ef1ce83f8aee","name":"Collaborative Writing","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0335716d4de78b599ccea28a835a834590a715955697ff361925614b22814b5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0335716d4de78b599ccea28a835a834590a715955697ff361925614b22814b5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Collaborative Writing"},"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/writerscollab\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/105"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9387"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9411,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9387\/revisions\/9411"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9387"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=9387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}