{"id":9701,"date":"2025-09-09T16:42:54","date_gmt":"2025-09-09T08:42:54","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=9701"},"modified":"2025-09-09T16:42:54","modified_gmt":"2025-09-09T08:42:54","slug":"mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/","title":{"rendered":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?"},"content":{"rendered":"<p><em>Leluhur, bangkitlah<br \/>\n<\/em><em>Lindungi tanah ini: anak-anak dan leluhur akan menjaganya bersama<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepenggal rapalan doa dalam bahasa suku Awyu membuka kisah tuturan Rikarda Maa, kepada bayi perempuan yang baru dilahirkannya, Beatrix Parmila Wali, yang kelak sepanjang film memiliki panggilan Mila.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Metode penceritaan dalam film dengan isu tak ringan ini, patut diacungi jempol. Karena lebih \u2018kena\u2019 dan menyentuh seperti halnya tren di media sosial dan banyak platform beberapa waktu lalu, tentang pesan calon orang tua kepada anaknya (kelak).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A tale for my daughter <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Wulan Putri, Indonesia, 2024) <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai judul Bahasa Inggris dari Tutaha Subang sendiri membongkar definisi tale atau dongeng sepengetahuan orang awam. Dongeng yang\u00a0 bukan sekadar pengantar tidur biasa, yang biasa bercerita tentang peri dan dunia fantasi, atau yang ditujukan untuk berakhir bahagia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dongeng ini malah memuat kecemasan Mama Rika, mewakili ibu-ibu lain beberapa tahun setelah alat berat diturunkan ke sungai Digul. Sumber air dan kehidupan yang telah ribuan tahun menjadi rumah leluhur suku Awyu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketergantungan Suku Awyu, yang dilabeli salah satu penjaga hutan Papua, memang bergantung pada hutan dan sungai untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hutan bagaikan rekening abadi yang harus dijaga. Hampir setiap hari mereka mengambil sagu, berburu, menangkap ikan dan udang, serta mencari obat-obatan di hutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rencana operasi perusahaan sawit di wilayah suku Awyu, lalu meruntuhkan semuanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Narasi Perlawanan Ekologis dan Spiritual<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha Subang disajikan dalam format film dokumenter 15 menitan, dengan latar suara Mama Rika dan rentetan proses upacara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sasi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan penancapan salib merah.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0sendiri adalah kearifan lokal di area Kepulauan Maluku dan Papua. Di mana bermaksud sebagai larangan adat yang melarang semua orang melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang ditutup dengan\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak September 2016, suku Awyu telah \u201cmelawan\u201d pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dengan melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sasi. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menancapkan lebih dari seribuan salib merah dan patok-patok tanda larangan lain, seperti patok adat, patok bertuliskan putusan Mahkamah Konstitusi No. 35 yang menyatakan hutan adat bukan hutan negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menjadi simbol perlawanan terhadap pembabat hutan, salib merah menjadi wujud kepasrahan masyarakat adat Suku Awyu kepada Tuhan dan para leluhur mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua, Maikel Peuki, menyebut aksi ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan pernyataan yang menyentuh akar kepedulian ekologis, nilai-nilai budaya serta keyakinan masyarakat adat, termasuk keimanan mereka sebagai umat Katolik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Mengapa Perempuan?\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi tanah ini terlahir sebagai perempuan, bisa jadi pertanda baik, atau sebaliknya. Di tanah ini, kami percaya bahwa tanah adalah ibu. Aku seorang ibu, dan mungkin kamu akan jadi ibu juga suatu hari nanti. Perempuanlah anakku, yang akan melahirkan kehidupan dan merawatnya. Tapi juga, di tanah ini, ibu digadaikan dan dijual.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi yang dibawakan Rika, pesan kepada bayinya Mila menjadikan rangkaian foto-foto dokumentasi Greenpeace Indonesia, seolah hidup, bicara, dengan luka para perempuan di dalamnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9704\" aria-describedby=\"caption-attachment-9704\" style=\"width: 1037px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-9704\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"1037\" height=\"778\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006-300x225.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006-768x576.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 1037px) 100vw, 1037px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9704\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wulan Sari, sejarawan dan pembuat film dokumenter ini\u00a0 memang berfokus pada narasi dan trauma perempuan, yang tersebar sepanjang film\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDiam saja, kamu tidak punya hak. Itu benar! Sebagai perempuan, kami tidak bisa mewarisi tanah leluhur. Hak itu hanya dimiliki oleh laki-laki.\u201d (Mama Rika)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang dialami perempuan di masyarakat adat\u00a0 Awyu tersebut beririsan dengan tindakan eksploitasi bahan baku dari lingkungan oleh dunia industri, yang pada banyak kesempatan hanya melibatkan kaum lelaki tanpa minta pertimbangan kaum perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang-orang dari kota tidak perlu persetujuan dari perempuan. Meskipun kamilah yang paling terdampak. Orang-orang itu hanya butuh persetujuan dari laki-laki. Tapi, tahukah kamu, laki-laki mudah tergoda oleh uang dan kekuasaan. Tanpa sadar janji perusahaan hanya omong kosong belaka.\u201d (Mama Rika)\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wulan lugas memaparkan bahwa selain perempuan tidak punya suara atau pilihan ketika segala tindak eksploitasi lingkungan dalam masyarakat adat terjadi, akibat buruknya pun akan berimbas pertama kepada perempuan juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komisaris Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang dalam siaran persnya untuk mendorong pengesahan RUU Masyarakat Adat turut menyepakati betapa posisi perempuan adat di Indonesia begitu terpinggirkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMereka menghadapi kerentanan dalam konflik sumber daya alam, dan tata ruang dengan durasi waktu yang cukup panjang sebagai dampak dari pembangunan,\u201d ungkap Veryanto.<\/span><\/p>\n<p><b>Kavalri, Akhir atau Awal Perlawanan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anastasia K. Manong, peserta Social Justice Leader Fellowship\u00a0STH Indonesia Jentera, dalam diskusi bertajuk\u00a0\u201cKewajiban Negara terhadap Hak Hidup Masyarakat Adat\u201d,\u00a0Rabu (9\/10\/24),\u00a0mengemukakan, bahwa masyarakat Awyu telah menolak perusahaan kelapa sawit, namun tidak mendapat respons apapun dari pihak pemerintah kabupaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu karena dari sisi komersil, hutan tempat hidup bagi Suku Awyu akan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia melalui Proyek Tanah Merah, yang akan dioperasikan tujuh perusahaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suku Awyu bukannya tak pernah melakukan perlawanan.\u00a0 Mulai dari mendatangi instansi kantor pemerintah Kabupaten Boven Digoel untuk meminta kejelasan atas pemberian izin konsesi lahan tanah adat milik Suku Awyu.\u00a0Lalu, melakukan aksi demo damai menolak perusahaan kelapa sawit, serta memasukkan surat izin permohonan informasi publik terkait izin lingkungan perusahaan tersebut ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu Terpadu Provinsi Papua. Sayangnya semua itu tidak berbuah tanggapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berputus asa melindungi tanah tempat mereka hidup, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sasi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kemudian ditetapkan, salib merah juga didirikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu menjadi poin penting dalam pesan Mama Rika kepada Mila,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSalib yang kupikul ini, suatu hari nanti akan menjadi milikmu. Sama seperti semua salib merah yang telah kami tanam di seluruh tanah kami. Itulah kalvari kita. Ini adalah jalanku dan jalanmu. Inilah Via Dolorosa kita.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat itu seolah menyodorkan tanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila tak bisa memberi seperti Ibu Bumi, bisakah kita mencintai dan merawat kehidupan yang telah disediakannya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Penulis: <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/ivysudjana\/\">Ivy Sujana <\/a>| Editor: <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/cika\/\">Fransiska Prihadi<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Film ini dapat ditonton di Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival tanggal 12\u201319 September 2025, pada program berikut:<\/em><\/h6>\n<h6><strong>ABOUT US<br \/>\n<\/strong>Sabtu, 13 September 2025 \u2013 10:00 di Dharma Negara Alaya: Ruang Kelas A<br \/>\nMinggu, 14 September 2025 \u2013 16:00 di Rumah Film Sangkarsa<strong><br \/>\n<\/strong>Kamis, 18 September 2025 \u2013 09.30 di MASH Denpasar Art House Cinema<\/h6>\n<h6>Kunjungi\u00a0<a href=\"https:\/\/minikino.org\/filmweek\/\">minikino.org\/filmweek<\/a>\u00a0untuk mengunduh katalog digital MFW11.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Leluhur, bangkitlah Lindungi tanah ini: anak-anak dan leluhur akan menjaganya bersama Sepenggal rapalan doa dalam bahasa suku Awyu membuka kisah tuturan Rikarda Maa, kepada bayi perempuan yang baru dilahirkannya, Beatrix Parmila Wali, yang kelak sepanjang film memiliki panggilan Mila.\u00a0 Metode penceritaan dalam film dengan isu tak ringan ini, patut diacungi jempol. Karena lebih \u2018kena\u2019 dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":9703,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[69,671,126,691],"jnews-series":[],"class_list":["post-9701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-short-films","tag-dokumenter","tag-mfw11","tag-perempuan","tag-tutaha-subang"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Leluhur, bangkitlah Lindungi tanah ini: anak-anak dan leluhur akan menjaganya bersama Sepenggal rapalan doa dalam bahasa suku Awyu membuka kisah tuturan Rikarda Maa, kepada bayi perempuan yang baru dilahirkannya, Beatrix Parmila Wali, yang kelak sepanjang film memiliki panggilan Mila.\u00a0 Metode penceritaan dalam film dengan isu tak ringan ini, patut diacungi jempol. Karena lebih \u2018kena\u2019 dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-09T08:42:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ivy Sudjana\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ivy Sudjana\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ivy Sudjana\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2\"},\"headline\":\"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?\",\"datePublished\":\"2025-09-09T08:42:54+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\"},\"wordCount\":939,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg\",\"keywords\":[\"Dokumenter\",\"MFW11\",\"perempuan\",\"Tutaha Subang\"],\"articleSection\":[\"SHORT FILMS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\",\"name\":\"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg\",\"datePublished\":\"2025-09-09T08:42:54+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg\",\"width\":1440,\"height\":1080,\"caption\":\"Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2\",\"name\":\"Ivy Sudjana\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/02\/ivysudjana_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/02\/ivysudjana_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Ivy Sudjana\"},\"description\":\"Penulis kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Denpasar. Aktif menulis cerpen dan puisi sejak kecil, Ivy mulai serius menulis setelah menjadi ibu dari dua anak, salah satunya penyandang autistik. Pernah menjadi blogger di ivyberbagi.wordpress.com dan jurnalis warga di Balebengong.id sejak 2011. Saat ini tergabung dalam tim workshop Puan Menulis, tim Media dan Jaringan Srikandi Lintas Iman-Yogyakarta, serta pernah menjadi penulis di seide.id dan Opinia. Tulisannya telah dimuat di berbagai media, seperti Neswa.id, Islami.co, dan Mubadalah. Karyanya hadir dalam sejumlah antologi, serta novel Atma untuk Akcaya dan buku anak Mereka Hanya Berbeda, yang mengangkat kisah individu autistik.\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/ivysudjana\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles","og_description":"Leluhur, bangkitlah Lindungi tanah ini: anak-anak dan leluhur akan menjaganya bersama Sepenggal rapalan doa dalam bahasa suku Awyu membuka kisah tuturan Rikarda Maa, kepada bayi perempuan yang baru dilahirkannya, Beatrix Parmila Wali, yang kelak sepanjang film memiliki panggilan Mila.\u00a0 Metode penceritaan dalam film dengan isu tak ringan ini, patut diacungi jempol. Karena lebih \u2018kena\u2019 dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2025-09-09T08:42:54+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":1080,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ivy Sudjana","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ivy Sudjana","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/"},"author":{"name":"Ivy Sudjana","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2"},"headline":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?","datePublished":"2025-09-09T08:42:54+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/"},"wordCount":939,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg","keywords":["Dokumenter","MFW11","perempuan","Tutaha Subang"],"articleSection":["SHORT FILMS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/","name":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan? - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg","datePublished":"2025-09-09T08:42:54+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/09\/Photo-1-Tutaha_Subang_.00_13_08_28.Still004.jpg","width":1440,"height":1080,"caption":"Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/mempertanyakan-tutaha-subang-kami-sudah-berjuang-tapi-kami-hanya-perempuan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/7d0dc4bcbe45ef45be77c76a4dcf77a2","name":"Ivy Sudjana","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/02\/ivysudjana_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2024\/02\/ivysudjana_avatar-96x96.jpg","caption":"Ivy Sudjana"},"description":"Penulis kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Denpasar. Aktif menulis cerpen dan puisi sejak kecil, Ivy mulai serius menulis setelah menjadi ibu dari dua anak, salah satunya penyandang autistik. Pernah menjadi blogger di ivyberbagi.wordpress.com dan jurnalis warga di Balebengong.id sejak 2011. Saat ini tergabung dalam tim workshop Puan Menulis, tim Media dan Jaringan Srikandi Lintas Iman-Yogyakarta, serta pernah menjadi penulis di seide.id dan Opinia. Tulisannya telah dimuat di berbagai media, seperti Neswa.id, Islami.co, dan Mubadalah. Karyanya hadir dalam sejumlah antologi, serta novel Atma untuk Akcaya dan buku anak Mereka Hanya Berbeda, yang mengangkat kisah individu autistik.","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/ivysudjana\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9701"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9707,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9701\/revisions\/9707"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9701"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=9701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}