{"id":9798,"date":"2025-10-24T15:47:00","date_gmt":"2025-10-24T07:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=9798"},"modified":"2025-10-24T19:11:30","modified_gmt":"2025-10-24T11:11:30","slug":"estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/","title":{"rendered":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dokumenter pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Tale for My Daughter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Wulan Putri, 2024) punya pendekatan yang unik mengenai isu lingkungan di Papua. Selama lima belas menit, lensa kamera dengan sabar menampilkan berbagai gambar memori komunitas adat Awyu, termasuk tangkapan prosesi upacara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, atau larangan mengambil panen dari wilayah tertentu. Visualisasi tersebut ditemani rekaman suara Mama Rikarda Maa, seorang Ibu Awyu yang dengan lembut menceritakan kisah dan harapan-harapan untuk putrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film pendek yang berjudul asli Tutaha Subang ini adalah bagian ketiga dari rangkaian dokumenter pendek yang kini dikenal sebagai \u201cTrilogi Awyu\u201d. Trilogi ini mendokumentasikan perjuangan komunitas adat Awyu di Papua Selatan untuk melindungi tanah adat mereka dari eksploitasi dan kerusakan akibat perluasan kebun sawit. Bagian pertamanya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mama Lihat Awan Jatuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Wulan Putri, 2023), mengikuti Mama Laurensia Yame yang mendayung perahu di Sungai Digul sambil menceritakan kesehariannya sebelum, selama, dan setelah kedatangan perusahaan sawit. Sementara bagian kedua, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Asu Pemige Sawa Pemige<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Wulan Putri, 2024), mengikuti perjuangan Bapak Hendrikus Woro menentang perkebunan sawit, termasuk melalui litigasi hukum dan prosesi sasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan estetik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha Subang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dibilang cukup berbeda dari entri-entri sebelumnya yang lebih banyak menampilkan wajah dan rekaman video subjeknya. Karena rasa penasaran setelah menonton, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan kedua sineas yang terlibat\u2014yakni Kak Wulan Putri selaku sutradara dan penulis, serta Kak Harryaldi Kurniawan selaku penyunting film. Di siang yang mendung itu, kami bertiga bercengkerama di bawah atap rumah festival Minikino Film Week 11, sembari menyeruput kopi dan membahas pendekatan serta akar-akar kreatif di balik pilihan estetika trilogi ini.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9802\" aria-describedby=\"caption-attachment-9802\" style=\"width: 301px\" class=\"wp-caption alignright\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9802\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"301\" height=\"226\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-300x225.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-768x576.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/20250913_215752-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 301px) 100vw, 301px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9802\" class=\"wp-caption-text\">(dari kiri) Edo Wulia, Kiki Febriyanti, Hari, Wulan Putri, dan Fransiska Prihadi berfoto di Pop-Up Store MASH Denpasar saat Minikino Film Week 11. (Dok: Fransiska)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wawancara berikut telah disunting agar lebih ringkas dan jelas.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Bolehkah Kak Putri bercerita tentang awal mula ide mengangkat isu lingkungan di Papua dan bagaimana proses perkenalan dengan teman-teman Awyu di kawasan Digul?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Waktu itu ada obrolan di salah satu acara yang melibatkan Project Multatuli dan Greenpeace. Karena adanya kesamaan fokus kami bertiga yang banyak bersinggungan dengan aktivitas warga, akhirnya tercetus ide untuk membuat film tentang Papua! Namun, film ini juga bertujuan mempertanyakan cara kita berbicara tentang isu Papua; tidak hanya dari segi konflik adat, tanah, dan agraria. Bukan berarti tidak pernah, tetapi eksplorasi kisah-kisah perempuan bisa dibilang masih belum terlalu banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan latar belakang kami berdua adalah pengarsipan audiovisual dari aktivitas perempuan melalui inisiatif Perempuan Berkabar. Karena fokus kami pada isu perempuan, tercetuslah ide untuk membuat trilogi yang membicarakan komunitas Awyu dari sudut pandang perempuan. Baik dari perspektif saya sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">director<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang perempuan, maupun dari protagonisnya yang juga perempuan.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Kak Putri sering mendeskripsikan diri sebagai sejarawan, dan menurut saya pendekatan Kak Putri ini bisa disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">oral history<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kebetulan trilogi ini mencakup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">oral history<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang masih berlangsung dan cukup berisiko bagi narasumber. Misalnya, kita tahu ada teman-teman di Jayapura yang berbicara dengan BBC Indonesia mengenai isu mereka dan akhirnya malah diminta \u201cklarifikasi\u201d oleh Polres. Apakah Kak Putri mengambil langkah-langkah tertentu untuk memitigasi risiko serupa?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Bisa dibilang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">oral history<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kalau kita bahas satu per satu, yang pertama ada Mama Lihat Awan Jatuh. Kebetulan Mama Lau [Laurensia Yame, protagonis utama] memang sudah pernah ikut berjuang beberapa kali. Teman-teman Greenpeace pun sudah menyediakan backup untuk keselamatan subjek dan protagonis. Sejauh ini beliau baik-baik saja, karena kebetulan film ini lebih menggambarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slice of life<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari Mama Lau sendiri. Kami meminimalisir penokohan tunggal yang terlalu provokatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ini juga alasan mengapa pendekatan visual Tutaha tidak benar-benar menampilkan protagonisnya secara langsung. Ketika proses produksi, kebetulan Mama Rika [Rikarda Maa, protagonis utama] sedang hamil sembilan bulan. Ketika saya kembali ke Jakarta, sekitar dua hingga tiga hari setelah syuting, beliau baru saja melahirkan. Kondisi-kondisi ini juga yang membuat kami memilih pendekatan yang lebih banyak menggunakan fotografi, sehingga ia tidak muncul secara langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Pak Franky [Hendrikus Woro, protagonis utama Asu Pemige, Sawa Pemige] memang sudah sangat aktif. Bahkan sebelum kami datang, beliau sudah bergerak dan menghubungi gereja-gereja, dan hal inilah yang akhirnya menghubungkan beliau dengan Greenpeace dan rekan-rekan. Di luar film ini pun Pak Franky memang sangat melek politik! Dia tahu apa yang terjadi, dan apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan tanah adat.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Nah, menghubungkan ketiga film ini, ada satu benang merah yang saya perhatikan, yaitu lagu dan puisi di semua filmnya! Bolehkah Kak Putri dan Kak Harry bercerita mengenai pilihan ini?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menonton suatu film, dan ketika ada satu adegan di mana kawan-kawan Papua sedang berada di hutan, suara-suara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ambience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hutan dipotong dan digantikan dengan piano. Ini menurut saya sangat mengganggu. Saya ingin terhubung dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ambience-ambience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu dan mendengar suara-suara Papua. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ambience-ambience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itulah yang penting, supaya orang-orang mendengar nuansa dan nyanyian Papua apa adanya. Saya memang ingin memaparkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ambience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan lingkungan Papua secara sensoris.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Dan menurut saya, hal ini memang tercapai karena ketika menonton Mama Lihat Awan Jatuh, saya benar-benar merasa seperti berada di Sungai Digul bersama Mama Lau yang mendayung perahu!<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keyword<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya adalah, Putri benar-benar mencoba tidak mengekstraksi Papua. Misalnya, dalam lima tahun terakhir, ada banyak film yang diproduksi dan mengekstraksi Papua. Mengglorifikasi dengan piano dan sebagainya. Pilihan-pilihan tersebut akhirnya terjerumus ke dalam \u201cdramatisasi\u201d. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keyword<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kami adalah tidak mengekstraksi Papua.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Karena pada dasarnya saya sadar bahwa posisi saya bukan sebagai orang Papua. Posisi saya bagaimanapun juga adalah orang luar yang datang ke suatu komunitas masyarakat adat. Dan menurut saya yang paling penting adalah mengantarkan penonton untuk merasakan sendiri bertemu dengan masyarakat tersebut secara sensoris\u2014melalui visualisasi yang lebih lambat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Supaya kita tidak terburu-buru menggagas tatapan kita terhadap orang-orang suku Awyu.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Terkait dengan editing, pendekatan kita adalah meminimalisir intervensi. Peristiwa-peristiwa itu dibiarkan mengambang. Pada akhirnya, keambangan itu menjadi sangat reflektif. Ketiga film ini mengajak orang-orang untuk mengikuti hal-hal yang lebih intim. Misalnya close-up-nya yang ditahan lama dan berulang-ulang, namun bukan repetisi. Tentu belum sempurna, tetapi pendekatan tersebut adalah eksperimen yang dilakukan oleh director. Tujuannya? Itu tadi, bisa jadi proses mitigasi [dari ekstraksi].<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya memang ingin mengajak penonton berhadap-hadapan dengan kawan-kawan di Suku Awyu. Saling melihat. Itulah mengapa pendekatannya banyak menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">close-up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">centre shot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, penonton tidak diajak untuk langsung begitu saja!<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, supaya penonton punya kesempatan sendiri untuk melihat Papua. Trilogi ini tidak \u201cmenyuapi\u201d atau menyuguhkan kesimpulan, tetapi memberikan penonton kesempatan untuk memaknai sendiri visual yang ada di hadapan mereka. Kemudian kami berharap, pilihan pendekatan \u201cwajah sebagai lanskap\u201d itu bisa membantu kita membicarakan Papua sebagai lanskap yang tidak hanya geografis.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik sekali filosofi \u201cwajah sebagai lanskap\u201d ini. Apakah dengan pendekatan yang berbeda dari film dokumenter lingkungan pada umumnya\u2014yakni meminimalisir visual hutan atau sawit\u2014Kak Putri dan Kak Harry mendapat umpan balik atau kritik dari penonton?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, umpan balik itu cukup banyak kami terima. [Pertanyaannya] &#8220;Visual hutannya di mana? Visual sawitnya di mana?&#8221; Padahal, yang ingin kami bicarakan melalui trilogi itu adalah bagaimana Sungai Digul merupakan Ibu peradaban bagi Suku Awyu. Ini mencoba menawarkan \u201ctawaran lain\u201d atas lanskap dan persoalan di Papua.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Benar. Kalau kita tarik diskursus sepuluh tahun ke belakang, terutama soal film dengan isu lingkungan, seringkali terlalu ambisius dan malah terjerumus ke dalam perasaan kepemilikan. Persepsi-persepsi tersebut yang coba kami tunda. Kami ajak untuk pelan-pelan! Turunannya adalah pendekatan yang kaitannya dengan estetika.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya persoalannya benar-benar kompleks. Kalau berbicara dari perspektif hukum, kita masih belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur soal masyarakat adat. Kita punya undang-undang sektoral tentang kehutanan, agraria, dan investasi, tetapi tidak memberikan ruang pada masyarakat adat sehingga akhirnya tidak ada perlindungan dan pengakuan. Padahal perlindungan ini asalnya dari pengakuan. Bagi kami, trilogi ini lebih mengarah kepada cerita-cerita personal bahwa Papua bukan data, bukan angka, tetapi adalah orang-orang yang hidup di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah proyeksi dari narasi-narasi kecil yang selama ini tidak dianggap.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal narasi-narasi kecil itu selalu politis. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Personal is political!<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_9803\" aria-describedby=\"caption-attachment-9803\" style=\"width: 917px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-9803\" src=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-3-Tutaha_Subang_.00_05_21_13.Still005-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"917\" height=\"688\" srcset=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-3-Tutaha_Subang_.00_05_21_13.Still005-300x225.jpg 300w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-3-Tutaha_Subang_.00_05_21_13.Still005-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-3-Tutaha_Subang_.00_05_21_13.Still005-768x576.jpg 768w, https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-3-Tutaha_Subang_.00_05_21_13.Still005.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 917px) 100vw, 917px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9803\" class=\"wp-caption-text\">Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>HARRY:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Terus ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">keyword<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lain. Untuk memahami trilogi, kamu harus memahami ritme! Di ibu kota, semuanya serba cepat. Akibatnya, kita memandang Papua seharusnya cepat juga. Trilogi ini semacam usaha untuk membatalkan perspektif perkotaan itu.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Kami juga ingin berbicara soal siklus waktu. Bagaimana siklus waktu masyarakat adat sesungguhnya sangat berbeda dari masyarakat perkotaan. Misalnya, Pak Franky bercerita kalau siklus waktu masyarakat Awyu itu seturut kebiasaan berburu. Ketika matahari berada di posisi tertentu, mereka harus ke hutan untuk berburu. Jadi sebenarnya konsep waktu bagi masyarakat Papua itu bukan \u201cjam dua belas\u201d atau \u201cjam satu\u201d. Konsep waktu yang ada bagi kita, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Greenwich Mean Time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kalau kita baca sejarahnya adalah bentukan kolonial yang berfungsi untuk melayani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">empire<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Makanya penting bagi kami mencari cara membicarakan siklus waktu kawan-kawan Awyu yang berbeda dengan siklus waktu orang yang bangun jam delapan untuk mengejar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">deadline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau aku izin menggunakan \u201cbahasa kota\u201d, yang aku dapatkan di sini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">decentering<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> perspektif urban, ya? Agar kita mendengarkan, karena banyak sekali pandangan bahwa kalau membicarakan Papua, harus membicarakan begini atau begitu, padahal perspektif-perspektif itu mungkin datangnya juga bukan dari kawan-kawan Papua sendiri. Mungkin simpatis, tetapi bisa jadi bentuk dari neokolonialisme itu juga, ya?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kita berbicara mengenai Papua di Jakarta, kalimat yang sering terdengar adalah, \u201cTapi apakah masyarakat Papuanya sudah melek politik?\u201d Padahal dari yang kami tahu, masyarakat Awyu sudah bergerak sebelum bertemu kami! Ini harus dilihat sebagai kesadaran politik. Kesadaran politik itu kan bukan perkara mereka mau bikin partai politik atau mau memerdekakan diri, tetapi hal-hal yang berhubungan dengan keseharian dan hak hidup mereka. Tetapi kesadaran ini kadang masih disanggah dengan pertanyaan, &#8220;tapi angka dan datanya di mana?&#8221; Padahal jelas mereka punya siklus waktu dan kebiasaan-kebiasaan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah trilogi ini, kita belajar bersabar. Kira-kira begitu! Termasuk tentang persepsi bahwa pada akhirnya kita bisa bicara soal neokolonialisme dan sebagainya. Yang menarik, ada proses negosiatif yang mendorong untuk membahas hal-hal yang \u201clebih film\u201d juga. Soal estetika yang juga politis, tentang bagaimana memproduksi dan mengkonstruksi. Hal-hal yang muncul dari proses produksi dan melatarbelakangi mengapa pendekatan ini muncul. Mengapa saya membicarakan ini? Karena cukup disayangkan kita sering terjebak juga dengan pandangan orang-orang kota.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kita juga tidak mau memproklamirkan bahwa kita sudah melakukan semuanya. Proses ini adalah sebuah eksperimen untuk mencari pola pendekatan baru yang menurut kami patut dipakai dalam trilogi itu.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Karena beranjak dari kesadaran mendekati isu ini sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">filmmaker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari luar, begitu ya?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Benar.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara soal berhadapan, menurut saya pembahasan dari film ini sebenarnya cukup mematahkan hati, karena perjuangan-perjuangan yang dibawakan di film-film sebelumnya tidak terselesaikan dengan baik dan harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Selama proses membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha Subang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, pendekatan apakah yang Kak Putri gunakan untuk menghadapi kegundahan-kegundahan tersebut?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Proses pengerjaan ini memang menjadi cukup personal. Kalau soal pendekatan penyelesaian isu, misalnya tentang penggunaan metode partisipatoris, saya percaya bahwa kawan-kawan Papua itu berdaulat dan bisa berpikir sendiri. Kalau seandainya ada hal-hal yang mereka tidak setujui, mereka terbuka untuk berkomunikasi dan membicarakan soal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih penting bagi saya adalah mencari jembatan antara pengalaman saya sebagai perempuan yang bukan Papua dengan pengalaman kawan-kawan Awyu. Kalau istilah kami, ini perkara \u201cmemanen pengalaman kami bersama sebagai perempuan\u201d\u2014bahwa dalam kehidupan kami sebagai perempuan, di mana titik temu kami dengan Mama Lau dan Mama Rika sebagai perempuan Papua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya kami punya kesamaan: kami punya anak perempuan. Saya lahir di Sumatera Barat, tetapi orang tua saya sudah tidak lagi mewariskan tanah\u2014masih punya rumah, tetapi tidak tahu lagi di mana tanah leluhur saya. Sudah hampir sepenuhnya tercerabut. Ketika pandemi, saya harus pindah ke Jakarta karena saya tidak punya lagi tanah yang bisa saya kelola. Mungkin ini juga yang sedang dihadapi oleh kawan-kawan di Papua. Bagaimana ketercerabutan mereka dari tanah dan sungai itu sedang berlangsung. Bagi komunitas-komunitas di luar Papua, hal itu sudah terjadi. Misalnya di Sumatera, tanah-tanah kami sudah mengalami proses menjadi kebun tebu, sawit, dan tembakau sejak seratus tahun lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya pikir pertemuannya di situ, pengalaman kami sebagai perempuan yang tidak punya ini. Bicara soal ketakutan akan masa depan di mana kami bertanya, \u201cbisa mewariskan apa sih kepada anak-anak kita?\u201d Karena itu sendiri yang saya alami. Nanti kalau ada apa-apa dengan kami berdua, anak kami akan pulang ke mana? Ini proses refleksi saya sebagai masyarakat adat Minangkabau yang juga tersingkir dari tanah tempat saya tinggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus kawan-kawan Papua, belakangan ini marak pembicaraan soal proyek-proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) dan juga PSN (Proyek Strategis Nasional). Juli Antoni bilang tujuh juta hektar akan dialihkan menjadi kebun sawit dan semacamnya. Pemerintah hanya membayangkan bagaimana mengubah tanah menjadi kebun sawit tetapi tidak membayangkan bahwa di antara tanah-tanah yang akan dialihfungsikan itu, ada banyak sekali hidup dan nyawa manusia yang bergantung pada tanah dan sungai.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Membicarakan soal kehidupan-kehidupan yang ditangkap, didokumentasikan, dan diberi ruang untuk tampil melalui trilogi\u2014tentunya ketiga film ini juga menceritakan adanya konflik horizontal di tengah masyarakat Awyu mengenai respons terhadap ekspansi lahan sawit. Bagaimanakah proses pembuatan trilogi berinteraksi dengan konflik tersebut, terutama dengan pihak-pihak yang berseberangan?<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Di tahun 2023, Suku Awyu memang sedang mengajukan gugatan ke PTUN Jayapura. Tuntutan mereka menyatakan bahwa ada cacat prosedural dalam proses AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang dilakukan oleh perusahaan sawit, karena tidak adanya batasan yang jelas antara tanah yang akan digunakan perusahaan dengan tanah yang tidak akan diganggu. Ketika gugatan mereka ditolak, mereka mengajukan banding ke Mahkamah Agung (MA). Trilogi ini memang merupakan bagian dari kampanye untuk mendukung gerakan kawan-kawan. Sayangnya, di tahun 2024 putusan keluar dan kasasi mereka dinyatakan kalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mama Rika sendiri sempat beberapa kali datang selama proses advokasi, baik untuk bersaksi di Jayapura ataupun untuk berorasi di Jakarta. Sepulangnya, Mama Rika memang masih menerima intimidasi. Makanya pendekatan kami sangat berhati-hati, termasuk dengan tidak mendistribusikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> melalui kanal YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pihak-pihak yang berseberangan ini memang menjadi kendala produksi. Saat produksi, sering ada yang datang dan bertanya ini sedang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngapain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Apakah pihak tersebut merupakan bagian dari komunitas Awyu yang berpihak pada kawan-kawan, atau justru yang malah berpihak pada perusahaan? Saya perlu berhati-hati. Jadi, saya tidak serta-merta terbuka setiap bertemu orang. Saya konfirmasi dulu dengan kawan-kawan ketika ada yang mengajak bicara, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini aman tidak?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Tapi kalau Mama Lau, saya tidak pernah terima kabar ada intimidasi. Karena mungkin hanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slice of life<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, orang-orang yang berseberangan itu tidak menyadari begitu.<\/span><\/p>\n<p><b>AUDIE: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Bergerak dari situ, saya ingin bertanya soal Perempuan Berkabar. Tadi kita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mengobrol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> soal bagaimana inisiatif ini mencari pengalaman kolektif. Selepas dari trilogi ini, apakah ada cerita-cerita lain yang kini ingin diangkat?<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Ada rencana memproduksi lebih lanjut, karena kami punya banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">footage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari Papua Selatan. Kami sedang mencoba untuk membuat yang keempat!<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Entah ini akan menjadi tetralogi, atau trilogi, atau menyempil dari trilogi\u2014belum pasti, tapi ada kemungkinan. Di luar itu, Perempuan Bercerita memang tetap fokus ke isu-isu perempuan. Kebetulan kami sedang menjalani proses development sebuah feature tentang seorang ibu di Sumatera Barat. Dia aktivis, dia dokter, dan punya dua anak\u2014satunya autis, satunya skizofrenia. Saya tidak tahu persis isu perempuan yang kami bicarakan itu akan berbentuk seperti apa, tetapi intinya terletak pada merekam pengalaman perempuan.<\/span><\/p>\n<p><b>HARRY: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih spesifiknya lagi, mungkin isu perempuan dalam bentuk pengetahuan dan praktik.<\/span><\/p>\n<p><b>PUTRI:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Ya! Tidak dibatasi pada isu lingkungan atau isu kesehatan mental, tetapi kami bergerak di antara wilayah-wilayah itu.<\/span><\/p>\n<p><strong>Penulis: <a href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/audieferrell\/\">Audie Ferrel<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Tutaha Subang (Wulan Putri \/ Indonesia \/ 2024) merupakan film pendek nominasi penghargaan kompetisi nasional di MFW11.<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dokumenter pendek A Tale for My Daughter (Wulan Putri, 2024) punya pendekatan yang unik mengenai isu lingkungan di Papua. Selama lima belas menit, lensa kamera dengan sabar menampilkan berbagai gambar memori komunitas adat Awyu, termasuk tangkapan prosesi upacara sasi, atau larangan mengambil panen dari wilayah tertentu. Visualisasi tersebut ditemani rekaman suara Mama Rikarda Maa, seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":9800,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":[],"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[69,671,126],"jnews-series":[],"class_list":["post-9798","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-interviews","tag-dokumenter","tag-mfw11","tag-perempuan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dokumenter pendek A Tale for My Daughter (Wulan Putri, 2024) punya pendekatan yang unik mengenai isu lingkungan di Papua. Selama lima belas menit, lensa kamera dengan sabar menampilkan berbagai gambar memori komunitas adat Awyu, termasuk tangkapan prosesi upacara sasi, atau larangan mengambil panen dari wilayah tertentu. Visualisasi tersebut ditemani rekaman suara Mama Rikarda Maa, seorang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-24T07:47:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-24T11:11:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Audie Ferrell\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Audie Ferrell\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Audie Ferrell\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da\"},\"headline\":\"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan\",\"datePublished\":\"2025-10-24T07:47:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-24T11:11:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\"},\"wordCount\":2512,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg\",\"keywords\":[\"Dokumenter\",\"MFW11\",\"perempuan\"],\"articleSection\":[\"INTERVIEWS\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\",\"name\":\"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-24T07:47:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-24T11:11:30+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg\",\"width\":1440,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da\",\"name\":\"Audie Ferrell\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/audieferrell_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/audieferrell_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Audie Ferrell\"},\"description\":\"Audie was born in Surabaya, raised in Jakarta and Denpasar, and feels home wherever there\u2019s a movie screen. Aside from debating and studying English literature at Petra Christian University, he mostly spends his time writing about the intersection between film, history, economics, and environmental engineering.\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/dieferrell\/\"],\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/audieferrell\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles","og_description":"Dokumenter pendek A Tale for My Daughter (Wulan Putri, 2024) punya pendekatan yang unik mengenai isu lingkungan di Papua. Selama lima belas menit, lensa kamera dengan sabar menampilkan berbagai gambar memori komunitas adat Awyu, termasuk tangkapan prosesi upacara sasi, atau larangan mengambil panen dari wilayah tertentu. Visualisasi tersebut ditemani rekaman suara Mama Rikarda Maa, seorang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2025-10-24T07:47:00+00:00","article_modified_time":"2025-10-24T11:11:30+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":1080,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Audie Ferrell","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Audie Ferrell","Est. reading time":"12 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/"},"author":{"name":"Audie Ferrell","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da"},"headline":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan","datePublished":"2025-10-24T07:47:00+00:00","dateModified":"2025-10-24T11:11:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/"},"wordCount":2512,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg","keywords":["Dokumenter","MFW11","perempuan"],"articleSection":["INTERVIEWS"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/","name":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg","datePublished":"2025-10-24T07:47:00+00:00","dateModified":"2025-10-24T11:11:30+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/10\/Photo-2-Tutaha_Subang_.00_01_19_24.Still006.jpg","width":1440,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/estetika-politik-dan-kuasa-advokasi-film-pendek-membahas-trilogi-awyu-bersama-wulan-putri-dan-harryaldi-kurniawan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Estetika Politik dan Kuasa Advokasi Film Pendek: Membahas Trilogi Awyu bersama Wulan Putri dan Harryaldi Kurniawan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/884a395311a960c69299f69a7f32f6da","name":"Audie Ferrell","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/audieferrell_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/05\/audieferrell_avatar-96x96.jpg","caption":"Audie Ferrell"},"description":"Audie was born in Surabaya, raised in Jakarta and Denpasar, and feels home wherever there\u2019s a movie screen. Aside from debating and studying English literature at Petra Christian University, he mostly spends his time writing about the intersection between film, history, economics, and environmental engineering.","sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/dieferrell\/"],"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/audieferrell\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9798"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9808,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9798\/revisions\/9808"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9798"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=9798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}