{"id":9961,"date":"2026-05-02T18:54:41","date_gmt":"2026-05-02T10:54:41","guid":{"rendered":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?p=9961"},"modified":"2026-05-02T18:57:11","modified_gmt":"2026-05-02T10:57:11","slug":"festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/","title":{"rendered":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, Mei 2026 &#8211; Di tengah industri film yang makin riuh oleh angka penonton dan strategi promosi, muncul satu gejala pinggiran: festival film \u201cjelek\u201d. Ia datang tanpa karpet merah, tanpa pretensi estetika, dan sering kali tanpa rasa bersalah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini bentuk kritik, atau sekadar olok-olok yang dibungkus gaya?<\/p>\n<p>\u200eDunia pernah mengenal satire semacam ini lewat Golden Raspberry Awards, ajang yang dengan sengaja \u201cmenghukum\u201d film-film buruk. Namun di sana, ejekan dibangun di atas kesadaran industri yang sudah mapan. Ia bekerja sebagai ironi, bukan pelarian. Ia menertawakan yang buruk karena standar \u201cbaik\u201d sudah cukup kokoh.<\/p>\n<p>\u200eIndonesia berada di posisi berbeda. Ketika festival arus utama seperti Festival Film Indonesia masih bergulat dengan standar, distribusi, dan keberagaman kualitas, festival \u201cjelek\u201d justru muncul lebih cepat dari kedewasaan industrinya. Ini paradoks, karena kita belum sepenuhnya sepakat tentang apa yang baik, tapi sudah ramai-ramai menertawakan yang buruk.<\/p>\n<p>\u200eDi titik ini, festival film jelek berisiko menjadi cermin yang kosong. Ia memantulkan kegagalan, tapi tidak memberi arah. Ejekan menjadi tujuan, bukan alat. Kritik kehilangan kedalaman, berubah menjadi konsumsi ringan, viral, dan cepat dilupakan.<\/p>\n<p>\u200ePadahal, dalam bentuk terbaiknya, festival semacam ini bisa memainkan peran penting. Ia bisa menjadi oposisi kultural,\u00a0 mengganggu kenyamanan industri yang terlalu percaya diri, membongkar kemalasan kreatif, dan mengingatkan bahwa penonton tidak selalu pasif. Ia bisa menjadi ruang di mana kegagalan dibedah, bukan sekadar ditertawakan.<\/p>\n<p>\u200eMasalahnya, untuk sampai ke sana dibutuhkan sesuatu yang jarang dimiliki, yaitu keberanian untuk serius. Serius dalam kurasi, serius dalam argumen, serius dalam menyusun parameter tentang apa yang disebut \u201cjelek\u201d. Tanpa itu, festival ini hanya menjadi panggung sinisme, ramai, tapi hampa.<\/p>\n<p>\u200eLebih jauh lagi, ada bahaya yang tak kasat mata. Dalam industri yang masih rapuh, ejekan yang tidak terarah bisa berubah menjadi demoralisasi. Alih-alih memperbaiki standar, ia justru memperkuat sikap sinis, bahwa kualitas tidak penting, karena bahkan kegagalan pun bisa dipertontonkan sebagai hiburan.<\/p>\n<p>\u200e\u200eDi sinilah batas tipis itu berada. Festival film jelek bisa menjadi alat koreksi, tapi juga bisa menjadi gejala kelelahan kultural, ketika industri lebih sibuk menertawakan dirinya sendiri daripada memperbaiki diri.<\/p>\n<p>\u200e\u200eMaka jawabannya bukan pada perlu atau tidaknya. Ia perlu, sejauh ia mampu memberi makna. Tapi jika hanya berhenti pada olok-olok, maka ia tidak lebih dari gema kosong di lorong industri yang memang belum selesai dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, yang paling mengkhawatirkan bukanlah film yang buruk, melainkan ketika kita mulai merasa cukup dengan menertawakannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, Mei 2026 &#8211; Di tengah industri film yang makin riuh oleh angka penonton dan strategi promosi, muncul satu gejala pinggiran: festival film \u201cjelek\u201d. Ia datang tanpa karpet merah, tanpa pretensi estetika, dan sering kali tanpa rasa bersalah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini bentuk kritik, atau sekadar olok-olok yang dibungkus gaya? \u200eDunia pernah mengenal satire [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":108,"featured_media":9966,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","jnews_video_option_group":[[]],"override":[{"template":"2","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_review":[],"enable_review":"","type":"percentage","name":"","summary":"","brand":"","sku":"","good":[],"bad":[],"score_override":"","override_value":"","rating":[],"price":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_podcast_option":[],"jnews_podcast_series":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[102],"jnews-series":[],"class_list":["post-9961","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opinion","tag-festival-film"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta, Mei 2026 &#8211; Di tengah industri film yang makin riuh oleh angka penonton dan strategi promosi, muncul satu gejala pinggiran: festival film \u201cjelek\u201d. Ia datang tanpa karpet merah, tanpa pretensi estetika, dan sering kali tanpa rasa bersalah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini bentuk kritik, atau sekadar olok-olok yang dibungkus gaya? \u200eDunia pernah mengenal satire [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Minikino Articles\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-02T10:54:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-02T10:57:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"710\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Adisurya Abdy\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Adisurya Abdy\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Adisurya Abdy\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b\"},\"headline\":\"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan\",\"datePublished\":\"2026-05-02T10:54:41+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-02T10:57:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\"},\"wordCount\":395,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp\",\"keywords\":[\"festival film\"],\"articleSection\":[\"OPINION\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\",\"name\":\"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp\",\"datePublished\":\"2026-05-02T10:54:41+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-02T10:57:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp\",\"width\":1920,\"height\":710},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/\",\"name\":\"Minikino Articles\",\"description\":\"Your Healthy Dose Of Short Film\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b\",\"name\":\"Adisurya Abdy\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/adiabdy_avatar-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/adiabdy_avatar-96x96.jpg\",\"caption\":\"Adisurya Abdy\"},\"description\":\"Adisurya Abdy lahir di Medan, lulus dari Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) jurusan Sinematografi dan pendidikan Film &amp; Art school di UCLA. Ia menggeluti film sejak 1976 dan memulai karir sebagai sutradara film, penulis skenario dan produser film-film bioskop komersial dan TV di Indonesia. Berbagai pengalamannya menjabat dalam organisasi-organisasi perfilman di Indonesia termasuk KFT (Karyawan Film dan Televisi Indonesia), PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia), PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), Badan Perfilman Indonesia (BPI), Festival Film Asia Pasific, Festival Film \u201cUsmar Ismail Awards\u201d, Festival Film Indonesia (FFI) , Sinematek Indonesia, The Indonesian Selection Committee Oscar for Foreign Language Film dan banyak lagi. Saat ini Adisurya Abdy menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia (PATFI) dan Dewan Pakar Badan Perfilman Indonesia (BPI).\",\"url\":\"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/adiabdy\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles","og_description":"Jakarta, Mei 2026 &#8211; Di tengah industri film yang makin riuh oleh angka penonton dan strategi promosi, muncul satu gejala pinggiran: festival film \u201cjelek\u201d. Ia datang tanpa karpet merah, tanpa pretensi estetika, dan sering kali tanpa rasa bersalah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini bentuk kritik, atau sekadar olok-olok yang dibungkus gaya? \u200eDunia pernah mengenal satire [&hellip;]","og_url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/","og_site_name":"Minikino Articles","article_published_time":"2026-05-02T10:54:41+00:00","article_modified_time":"2026-05-02T10:57:11+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":710,"url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Adisurya Abdy","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Adisurya Abdy","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/"},"author":{"name":"Adisurya Abdy","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b"},"headline":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan","datePublished":"2026-05-02T10:54:41+00:00","dateModified":"2026-05-02T10:57:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/"},"wordCount":395,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp","keywords":["festival film"],"articleSection":["OPINION"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/","name":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan - Minikino Articles","isPartOf":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp","datePublished":"2026-05-02T10:54:41+00:00","dateModified":"2026-05-02T10:57:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#primaryimage","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/laughingoutloud_.webp","width":1920,"height":710},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/festival-film-jelek-menertawakan-yang-buruk-atau-merayakan-kekosongan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/minikino.org\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#website","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/","name":"Minikino Articles","description":"Your Healthy Dose Of Short Film","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/minikino.org\/articles\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/3db20a10ce7a9aa75b8b25f166d2553b","name":"Adisurya Abdy","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/minikino.org\/articles\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/adiabdy_avatar-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2026\/05\/adiabdy_avatar-96x96.jpg","caption":"Adisurya Abdy"},"description":"Adisurya Abdy lahir di Medan, lulus dari Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) jurusan Sinematografi dan pendidikan Film &amp; Art school di UCLA. Ia menggeluti film sejak 1976 dan memulai karir sebagai sutradara film, penulis skenario dan produser film-film bioskop komersial dan TV di Indonesia. Berbagai pengalamannya menjabat dalam organisasi-organisasi perfilman di Indonesia termasuk KFT (Karyawan Film dan Televisi Indonesia), PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia), PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), Badan Perfilman Indonesia (BPI), Festival Film Asia Pasific, Festival Film \u201cUsmar Ismail Awards\u201d, Festival Film Indonesia (FFI) , Sinematek Indonesia, The Indonesian Selection Committee Oscar for Foreign Language Film dan banyak lagi. Saat ini Adisurya Abdy menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia (PATFI) dan Dewan Pakar Badan Perfilman Indonesia (BPI).","url":"https:\/\/minikino.org\/articles\/author\/adiabdy\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9961","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/108"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9961"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9961\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9974,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9961\/revisions\/9974"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9961"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9961"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9961"},{"taxonomy":"jnews-series","embeddable":true,"href":"https:\/\/minikino.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/jnews-series?post=9961"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}