Home / Indonesia Raja 2017 / INDONESIA RAJA 2017: Banjarmasin “MANCUNGUL”

INDONESIA RAJA 2017: Banjarmasin “MANCUNGUL”

Programmer Release
Agung Saputra Aritanto
Programmer | Forum Sineas Banua

INDONESIA RAJA 2017 – Banjarmasin
“MANCUNGUL”

Mancungul adalah kata dari bahasa Banjar yang artinya hadir atau ada. Mancungul disini menghadirkan dua makna kata, mancungul dalam artian sineas-sineas Banjar mancungul dengan karya filmnya, dan mancungul dalam artian menghadirkan wacana-wacana tentang Banjar itu sendiri kedalam karya filmnya.

Mancungul menjadi menarik ketika penafsiran mancungul itu beragam, masing-masing filmmaker mempunyai sudut pandang yang berbeda.

Dalam film MINIATUR kita akan melihat bagaimana sebuah warisan budaya harus di ikuti atau melakukan hal baru yang sesuai dengan kehendak generasi yang dititipi, lain lagi dengan NANTI DULU kita akan dibawa berkeliling ke beberapa tempat pop yang ada di Kota Banjarmasin, sedangkan film BULIK KAH tergambar istilah rumput tetangga lebih hijau, lalu di film KURIDING bagaimana kesenian itu dianggap hanya sebuah aktivitas basa-basi oleh generasi sekarang, dan yang paling menarik didalam IJUM BALOGO kita akan dibawa oleh Ijum untuk bernostalgia semasa kecil dengan salah satu permainan tradisonal.


reting-usia-13+

Durasi total : 37’20”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:

MINIATUR-film-pendek

MINIATUR

Kholik Setiawan | STB Masking Production / Banjarmasin / 2016 / 19’57”

Kalsel dikenal dengan provinsi yang memiliki seribu sungai, tak heran masyarakatnya lihai dalam membuat jukung, sebuah alat transportasi air tradisional di Kalsel. Seiring perkembangan jaman,para pembuat jukung sudah mulai hilang lantaran moda transportasi ini tak lagi menjadi pilihan utama masyarakatnya yang lebih memilih menggunakan transportasi darat dengan kondisi jalanan yang mulus. Namun tidak demikian dengan warga Desa Pulau Sewangi yang masuk daerah terotorial Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala, Kalsel. Mereka masih mempertahankan tradisi membuat jukung. Bahkan, setiap anak yang tidak bisa membuat jukung akan menjadi bahan olok-olokan temannya. Kondisi itulah yang dialami Udin, seorang anak penderita bisu.

Award :
1. Film Pendek Terbaik di Lomba Film Aruh Sosiologi dan Antropologi ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin
2. Film Pendek Favorite di Lomba Film Aruh Sosiologi dan Antropologi ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin
3. Finalis 3 di Lomba Film Festival Banua FISIP ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin

Director Statement :
Kurangnya kesadaran dari kita apalagi para remaja sekarang, kita juga kurang peduli dengan kebudayaan yang kita punya.Padahal kalau kita kembangkan serta melestarikannya kita akan menjadi bangsa yang penuh warna. Makanya dengan adanya film Miniatur ini kita sudah tahu dan melihat kalau Indonesia memiliki ragam budaya, bahasa, dll.

Short bio filmmaker :
Anak dari pasangan Bulkaini dan Harti.Ayahnya adalah seorang Seniman yang berkarir di Senirupa (pembuatan jukung khas banjar atau jukung tiung Alalak) yang lahir di (Barito Kuala, 20 Desember 1965), gemar berbahasa asli Banjar (KuinAlalak), Banjarmasin, di samping sebagai dramawan tradisional, sedangkan ibunya yang lahir di (Medan, 27 Agustus 1966) adalah Aktor yang berperan sebagai ibu rumah tangga, ia sangat menetukan drama dalam lakon dunia lewat putra-putrinya untuk menorehkan karakter peradaban generasi bangsa.

Nanti-Dulu-film-pendek

NANTI DULU

Muhammad IrzaHaifany | Dragon Hajati / Banjarmasin / 2017 / 3’52”

Dimiliki setiap manusia, tidak bisa ditawar, takkan mau menunggu, memburu secepat peluru, dan berlalu sekilat kedipan mataku. Dialah sang Waktu.Kita tidak dibelenggu olehnya, kita berjalan kesegala arah bersamanya. Bahkan ketika kita mencoba menikmati semesta. Selalu ada saat kita ingin menunda, berteriak melawan, menghentikan, dan berkata Nanti Dulu pada Waktu. Menceritakan seorang insan yang melawan waktu untuk dapat lebih lama menikmati sebuah keindahan yang di anugerahkan Sang Pencipta kepada kota kelahirannya.

Award :
Nominasi Best Idea & Concept JAMANG AWARDS 2017
Nominasi Best Cinematography JAMANG AWARDS 2017
Penghargaan Best Cinematography JAMANG AWARDS 2017

Director Statement :
Film yang kami buat dengan semangat untuk memberikan harapan atas majunya perfilman daerah sendiri.

Short bio filmmaker :
Lahir di Banjarmasin tanggal 10 Juli 1994, merupakan pimpinan serta founder dari grup produksi Dragon hajati. Menekuni dunia video sejak 2011, kemudian sangat aktif di tahun 2015 hingga sekarang. Memiliki tujuan untuk ikut memajukan dunia cinematography maupun perfilman didaerah sendiri, agar semakin banyak karya-karya yang dapat tampil secara nasional dari Kalimantan Selatan.

BULIK-KAH-film-pendek

BULIKKAH

Dimas Fatchurrozikin | Rantau Production / Jakarta / 2017 / 5’51”

Dani (28) seorang karyawan salah satu perusahaan besar di Jakarta yang mendapat tawaran untuk pindah domisili pekerjaan ketempat asalnya di Banjarmasin, Mamah Dani (55) berusaha meyakinkan Dani untuk pindah kerja ke Banjarmasin agar bisa bekerja dekat dengan keluarga. Namun Dani menolak karena merasa di Jakarta kota yang memiliki segalanya. Namun di perjalanannya pulang dari kantor dia menyimak sebuah cerita dari radio yang mengingatkan dengan masa lalunya di Banjarmasin sehingga membuatnya semakin galau untuk tetap bertahan di Jakarta atau pulang ke Banjarmasin.

Director Statement :
Kebahagiaan sesungguhnya bukan dari apa yang bisa kita dapatkan di dunia ini, tapi kebersamaan dengan keluargalah kebahagiaan sebenarnya dalam hidup.

Short bio filmmaker :
Dimas Fatchurrozikin lahir di Banjarmasin pada tanggal24 Mei 1991. Walaupun memiliki darah jawa dari sang Ayah dan banjar dari sang Ibu namun budaya paling dekat adalah budaya Banjar.pencampuran budaya inilah yang membuatnya tertarik untuk merekamnya hingga akhirnya terjun di dunia film. Saat ini Dimas sedang meneumpuh pendidikan di kampus film di Jakarta.

KURIDING-film-pendek

KURIDING

Zainal Muttaqin | PCC Banjarmasin / Banjarmasin / 2016/ 5’20”

Dalam waktu singkat, Anang harus mahir memainkan Kuriding. Ia telah berjanji untuk menampilkan kepiawaiannya memainkan Kuriding kepada pacarnya yang berstatus sebagai mahasisiwi jurusan seni di kota Bandung, yang sedang meneliti alat musik tradisional dari Kalimantan Selatan tersebut.

Award :
Juara 1 Festival Film Banua 2016
Top 120 Finalists Indonesian Short Film Festival (ISFF) 2016

Director Statement :
Kuriding sangat mempresentasikan apa yang terjadi di kehidupan nyata sekarang, dimana kebanyakan anak daerah belajar mengenai seni dan budaya lokalnya sendiri bukan atas dasar niat pribadi.

Short bio filmmaker :
Terjun di dunia film (dokumenter) pertama sebagai produser dan sutradara pada tahun 2014, berjudul “JUMAT KELABU”. Dan memulai karya film fiksi pertama berjudul “HITUNG” pada tahun 2015 sebagai DOP (director of photographer).

Pada 2016 mengikuti workshop pusbang film tingkat dasar sekaligus membuat tugas karya film sebagai script writer dan DOP (director of photographer) berjudul “TOILET RUSAK”. Dilanjutkan sebagai produser, sutradara, DOP (director of photographer) dan editing pada film dengan judul “KURIDING”, juga terlibat sebagai produser dan asisten sutradara di film “POLISI TIDAK TIDUR”. Dipercaya sebagai sutradara dalam film terbaru berjudul “MENUJU HILANG” pada tahun 2017.

IJUM--Balogo-film-pendek

IJUM BALOGO

Husin | Ijum Studio/ Banjarmasin / 2017 / 2’20”

Si ijum sedang bermain balogo, dan temannya iki yg juga ingin ikut bermain


Top