Home / Indonesia Raja 2017 / INDONESIA RAJA 2017: Semarang “Berkelindan Dengan Adaptasi”

INDONESIA RAJA 2017: Semarang “Berkelindan Dengan Adaptasi”

Programmer Release
Cynthia Astari
Programmer | Semarang

INDONESIA RAJA 2017: Semarang
“BERKELINDAN DENGAN ADAPTASI”

Manusia adalah makhluk sosial
Oleh karena itu, dalam menjalani hidup, manusia memerlukan proses adaptasi untuk tumbuh dan berkembang; atau setidaknya untuk bertahan beriringan dengan sesama. Adaptasi dapat dilihat dengan dua kemungkinan; sebagai masalah atau pembelajaran. Ketika manusia melihatnya sebagai proses yang mengantar mereka pada masalah-masalah, ini akan berujung pada ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan barunya secara efektif. Akibatnya, akan muncul kecenderungan untuk mempertanyakan jati dirinya karena perubahan identitas yang dialami. Namun, ketika manusia melihatnya sebagai proses yang mengantar mereka pada pembelajaran, maka manusia tersebut memiliki kesempatan untuk memahami dirinya lebih dalam dan membangun kesadaran penuh atas dirinya.

Ketika proses adaptasi tadi dihargai, baik dirupa menjadi proses pembelajaran atau gudang masalah, maka terciptalah kemungkinan-kemungkinan. Boleh jadi manusia semakin lebur dengan sekitarnya; boleh jadi ia kembali pada semestanya. Melalui film-film pilihan dalam program, programmer mengajak penonton untuk berkelindan dengan adaptasi. “Semua Berhak Bahagia” akan mengantar penonton pada cerita sederhana yang memvisualisasikan bagaimana seluruh makhluk, di berbagai lapisan, tanpa kecuali, berhak bahagia. Kehidupan pesisir pantai dalam “Samudro” dibawakan dari perspektif seorang anak mencoba memahami kehidupan. “Sekolah Taman Langit” pun membawa cerita tentang upaya bertahan hidup seorang pengemis jalanan yang buta aksara. Sementar dokumenter “Menganyam, Piyan” berkisah tentang seorang penyandang disabilitas yang pada akhirnya berupaya keras agar tidak dipandang sebelah mata dengan keadaannya saat ini. “Don’t Blame” bicara tentang perdebatan orientasi seksual dan stereotip gender, yang keduanya sarat proses adaptasi, karena tidak serta merta diterima di masyarakat. Dan film penutup, “Lembayung”, akan mengakhiri perjalanan program dengan kisah seorang anak yang hidup jauh dari orang tuanya. Ia mencoba beradaptasi di lingkungan barunya, namun belum berhasil; tidak memiliki pekerjaan tetap di kota orang, sendirian, dan yang terparah, ia dilanda rindu.


reting-usia-13+

Durasi total : 66’25”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:

SEMUA-BERHAK-BAHAGIA-film-pendek

Semua Berhak Bahagia

Bancax Soekiman/Semarang/2016/7’40”

Tuhan tidak pernah pandang bulu dalam memberi kebahagiaan pada makhluknya.

Profile Sutradara:
Bancax Soekiman lahir di Demak, 4 Juni 1976

samudro-film-pendek

Samudro

(Ghani Ramadhan/Semarang/2016/15’)

Samudra selalu teringat kata-kata ibu gurunya, Bu Narti, bahwa kebanggan sebagai bangsa Indonesia salah satu negara maritim, yang tergambarkan dalam lagu “Nenek Moyangku”. Samudra sadar, ternyata kebanggan Indonesia itu bukan hanya sarana fisik seperti Candi Borobudur yang cukup termasyur, Hutan Mangrove terbesar di dunia, namun Indonesia juga memiliki kebanggaan yang tak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, yaitu budaya gotong-royong dan kerukunan serta penduduk yang ramah tamah dan gemar menolong tanpa pamrih.

Award :

  1. Juara 1 Lomba Film Pendek Oceanvolution (2016)
  2. Special Mention Festival Film Batavia “INSOMNIA” (2016)
  3. Juara 3 Lomba Film Pendek Polines (2016)
  4. Juara 1 FFPJ (2016)
  5. Juara 1 Lomba Film Pendek Jateng DIY (LFPJDIY UNNES) (2016)
  6. Special Mention Kategori Pelajar 2nd JFA Short Film Competition (2016)
  7. Penata Artistik Terbaik Festival Film Surabaya (2016)

Statement Sutradara :
Film ini mengingatkan kepada penonton bahwa budaya dan keindahan alam Indonesia mulai dari Candi Borobudur, Hutan Mangrove terbesar di dunia, dan sebagainya. Masyarakatnya selalu mengikat tradisi setempat. Adegan tersebut mencerminkan dari kehidupan pesisir pantai.

Profil Sutradara :
Aktif sebagai siswa kelas XII D1 di SMK Negeri2 Pati. Menjadi pengurus OSIS dan Senior Pramuka. Mengikuti kegiatan ekstra di sekolah seperti broadcasting, teater, dan sinematografi. Lomba yang pernah diikuti diantaranya lomba fotografi dan lomba film pelajar. Ia pun pernah menjadi pemain figuran di film “Pahlawanku”, menjadi sutradara dan penata kamera video klip untuk tugas sekolah, kameraman film “500”, dan sutradara film “Update”.

SEKOLAH-TAMAN-LANGIT-film-pendek

Sekolah Taman Langit

Bagus Pradikta/Semarang/2017/8’

Jarwo seorang guru bertemu dengan pengemis, pengemis tersebut meminta kepada Jarwo namun Jarwo tidak menanggapinya. Tak jauh dari situ terlihat tulisan larangan memberikan sumbangan pengemis, Jarwo menjelaskan ke anak tersebut soal tulisan itu karena anak tersebut tak bisa membaca. Anak tersebut masih terus meminta, Jarwo pun dikagetkan dengan permintaan anak tersebut yang kali ini meminta untuk disekolahkan agar bisa membaca.

Statement Sutradara :
Mencoba menerjemahkan imajinasi lewat visual film.

Profil Sutradara :
Bagus Pradikta lahir di Kendal, 24 tahun yang lalu, kuliah di Universitas PGRI Semarang semester akhir. Pernah membuat beberapa film pendek dengan komunitas Wolfy Crew. Film adalah magic bagi saya karena film merupakan terjemahan dari apa yang saya imajinasikan.

menganyam-piyan-film-pendek

Menganyam, Piyan

Aji Kusuma Admaja/2017/9’55”

Kehilangan satu kaki tak melemahkan mental dan semangat Tokhidul Mihbar (34 Tahun) dalam menjalani hidup. Ia tak ingin dibelas kasihani, melalui ketrampilannya mengolah anyaman bambu, Dul selalu berupaya menjadi yang terbaik bagi diri dan keluarganya.

Statement Sutradara :
Film adalah media ungkap, dan melalui film ini (Menganyam, Piyan) saya berupaya mengungkap bahwa tidak selamanya tragedi adalah hal yang pantas diratapi.

Profil Sutradara :

Eksperimen memproduksi film pendek sejak tahun 2013, mempunyai ketertarikan tinggi untuk berdiskusi seputar film, sastra dan budaya.

dont-blame-film-pendek

Don’t Blame

Shifaur Riham/Jember/2016/5’40”

Liya (23) sedang menikmati kesendiriannya di halte bus kota, sedangkan Sofi (25) tak sengaja kakinya terkena kotoran dan membersihkannya di tempat itu juga. Liya melihat keanehan pada gestur dan perilaku Sofi, begitu pun sebaliknya.

Screening perdana di EDITOUR (Workshop Editing) by INAFEd pada 30 Oktober 2016

Statement Sutradara :
Toleransi kesetaraan gender menjadi hal yang sensitif beberapa tahun belakangan ini dan seringkali menjadi perbincangan publik bahwa hal itu salah. Diskriminasi kaum minoritas menjadi bahan bully dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kodratnya manusia dilahirkan di dunia dengan suci tanpa dosa, entah pria maupun wanita, di mana seiring berkembangnya fisik dan jiwa yang bertolak belakang maka merekalah yang merasakan. Sebaiknya kita sebagai makhluk sosial saling menghargai wujud dan bentuknya jika memang hal itu tidak merugikan satu sama lain. Maka di situlah timbul rasa kepedulian kami untuk berkomunikasi dan berbagi informasi melalui film.

Profil Sutradara :
Lahir di Pati, 2 Maret 1996. Merupakan mahasiswa perfilman Jogja Film Academy angkatan 2015. Pernah terlibat dalam beberapa produksi film pendek, yaitu “Jiwo Rogo” (Action/2015/Writer & Director), “Getih Balung” (Action/2015/Director & Editor), “Eat Happiness” (Drama/2016/Writer, Director & Editor), dan “Don’t Blame” (Drama/2016/Director & Editor).

Lembayung-film-pendek

Lembayung

Sony Surya Riza/Yogyakarta/2016/20’

Agus (32) yang menganggur di kota rindu akan Ayahnya yang tinggal sendiri di desa.

Award :

  1. Screening perdana di Jogja Film Academy di tahun 2016
  2. Tata Suara Terbaik Tebas Award 2017
  3. Cerita Terbaik Tebas Award 2017
  4. Penata Gambar Terbaik Tebas Award 2017
  5. Penyutradaraan Terbaik Tebas Award 2017
  6. Penata Artistik Terbaik Tebas Award 2017
  7. Pemeran Utama Terbaik Tebas Award 2017

Statement Sutradara :
Di film ini saya memfilmkan sudut pandang dan perasaan-perasaan yang terekam oleh pemikiran saya, datang dari memori masa kecil saya hingga sekarang, tentang melihat sebuah keluarga dan mencoba menggambarkannya melalui sebuah film fiksi pendek. Cerita tentang ayah dan anak laki-laki dewasa dengan kondisi di mana mereka mengalami gesekan generasi yang membuat mereka seakan berjarak sebagai sebuah keluarga. Janji kepada ayah membuat ia harus pulang. Melalui dua karakter ini saya ingin memperlihatkan bagaimana mereka menjalani proses kesendirian, kerinduan dan membuat dua proses itu berjalan bersamaan dalam satu waktu.

Profil Sutradara :
Lahir 16 September 1996. Ia mempelajari film di Jogja Film Academy. Di tahun 2015, film “Rantang” menjadi project pertamanya sebagai Director of Photography dan di 2016 berhasil menerima penghargaan sebagai Best Cinematographer di Tebas Award 2016.


Top