Home / Artikel / POP-UP CINEMA: KEHANGATAN DESA PEDAWA

POP-UP CINEMA: KEHANGATAN DESA PEDAWA

POP-UP CINEMA: KEHANGATAN DESA PEDAWA

Ditulis oleh Luthfi Muhammad (Upiw), disunting oleh Ni Kadek Diana Pramesti

Begitu sampai di Desa Pedawa pukul 13:00 WITA, beberapa sukarelawan Minikino Film Week 6 langsung bergegas mempersiapkan layar untuk Pop-Up Cinema sore itu, Sabtu, 5 September 2020. Kami memastikan acara berjalan tepat waktu, sebelum kabut menghalangi jarak pandang perjalanan pulang jika acara berakhir terlalu larut. 

Bertanya tentang rumah adat Desa Pedawa – Vifick

Kami menempuh perjalanan dua jam lebih dengan medan jalan yang lumayan ekstrem. Sesekali mobil pembawa barang dan tim mengalami kesulitan pada tanjakan yang berkelok. Tapi ini justru membuat semangat untuk memutar film di Desa Pedawa semakin membara. Pedawa, sebuah desa adat di utara pulau Bali yang merupakan lokasi pemutaran pertama Pop-Up Cinema adalah desa yang lokasinya cukup sulit dijangkau namun masyarakatnya memiliki antusias yang besar dalam apresiasi film. 

Untuk ketiga kalinya Minikino Film Week (MFW) berkolaborasi  dengan Komunitas Pecinta Alam Pedawa (Kayoman Pedawa). Kali ini peserta workshop dan sebagian penonton juga merupakan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja yang kebetulan sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk turut serta menjalankan program Pop-Up Cinema MFW 6. Antusiasme serta semangat gotong royong yang terbangun meringankan segala persiapan pemutaran film, terlebih ketika memasang layar berukuran 6 x 2,5 meter yang kami bawa dari Denpasar.

Sembari melakukan persiapan, kami disuguhkan berbagai macam hidangan lokal khas Pedawa. Buat saya, yang paling nikmat adalah kopi Pedawa dengan gula aren Pedawa. Uniknya, mereka mempunyai cara sendiri untuk menikmati kopi ala Pedawa, yaitu digigit dulu gulanya lalu disambung seruput kopinya. Rasa pahit dan manisnya membuat perpaduan yang lezat di lidah saya, juga menambah energi di tengah dingin Pedawa hari itu. 

Nosa Normanda (Mondiblanc Film Workshop) di Pedawa – Vifick

Rangkaian Pop-up Cinema diawali dengan workshop tentang gambar bergerak yang dibawakan oleh Travelling Festival Director I Made Suarbawa atau yang akrab disapa Birus. Dinginnya Pedawa perlahan terasa hangat saat menyaksikan wajah-wajah antusias anak-anak di Desa Pedawa dan mahasiswa yang kala itu menjadi peserta workshop

Nosa Normanda, salah satu pendiri Mondiblanc Film Workshop Jakarta turut berbagi cerita pengalaman sepak terjangnya berkarir di dunia perfilman. Hal yang tidak disangka adalah tanggapan masyarakat serta mahasiswa yang ikut dalam workshop tersebut terlihat sungguh antusias. Ketertarikan dalam mengulik dunia digital  khususnya film ternyata sungguh besar hingga timbul pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana cara mengembangkan sebuah cerita? Apa bedanya film dengan video? Dan masih banyak lagi.

Hadir di tengah pandemi membuat Pop-Up Cinema tahun ini menjadi sedikit berbeda. Setiap kegiatan rangkaiannya, mulai dari workshop hingga penayangan film, tak lepas dari protokol kesehatan. Semua pengunjung yang datang sungguh kooperatif dalam mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. 

Pop-Up Cinema MFW6 di Desa Pedawa, 5 September 2020 – Vifick

Salah satu anggota Kayoman Pedawa mengungkapkan kepada saya bahwa kerinduan bersua dalam sebuah acara sosial sudah sangat dinantikan, apalagi acara-acara seputar pembelajaran juga hiburan. Ia mengutarakan bahwa nostalgia menonton layar tancap bisa terobati dengan hadirnya Minikino  melalui program Pop-Up Cinema yang datang ke Desa Pedawa. Apalagi, dengan suguhan program tamu film anak-anak dari Clermont-Ferrand International Short Film Festival yang berkualitas dan menarik, mereka turut terhibur di masa pandemi yang cukup membatasi ruang aktivitasnya.

Di akhir pemutaran, kami dibekali banyak sekali buah tangan khas Pedawa, salah satunya bongkot. Bongkot atau yang dikenal dengan kecombrang menjadi simbolik ucapan rasa terima kasih. Apalagi,  tumbuhan yang biasa digunakan untuk membuat  sambal ini  jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional di Denpasar.

Momentum seperti ini adalah salah satu cara Minikino untuk peduli terhadap literasi film masyarakat serta wawasan pengetahuan melalui film pendek. Saya mendapatkan pengalaman menyenangkan, bisa menyaksikan keceriaan teman-teman di desa saat mendapatkan ilmu baru melalui workshop. Ditambah, senyum dan tawa lebar di wajah warga desa yang hadir di pemutaran film saat Pop-Up Cinema. Semoga dunia menjadi lebih baik dan aman agar kita bisa berjumpa di  Pop-Up Cinema Minikino Film Week 7. Sampai jumpa!

Luthfi Muhammad (Upiw)

Denpasar, 7 September 2020


Tentang penulis:

Luthfi Muhammad (Upiw)

Luthfi Muhammad is often called as Upiw when traveling. He sometimes writes and makes a documentary film.

Tentang editor:

Ni Kadek Diana Pramesti

I moved back to Bali a year ago. Previously I worked for something exciting in the field of sustainable tourism. During this pandemic, writing, watching films, and occasionally travel for leisure to villages or cool places in Bali.

 


Redaksi:
Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke info@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, baik khusus atau secara umum. Agar menjadi halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

Semua tulisan yang masuk, kalau dirasa perlu, akan melalui penyuntingan ulang. Hasil suntingan/revisi akan kami kirimkan kembali ke penulis untuk mendapatkan persetujuan. Minikino menjamin bahwa semua tulisan yang diterbitkan, adalah tulisan yang telah disetujui oleh penulisnya.

Sebelumnya, kami berterimakasih atas kerjasama semua pihak. Semoga halaman artikel ini bisa tetap dijaga bersama, dan tentu saja untuk menjadi kepentingan & kebaikan bersama.

Related post


Top