Home / Artikel / LAPORAN PEMUTARAN PROGRAM FILM PENDEK MINIKINO FILM THERAPY

LAPORAN PEMUTARAN PROGRAM FILM PENDEK MINIKINO FILM THERAPY

Jumlah penonton program Minikino Film Therapy pada hari Sabtu,13 Januari 2018 di Rumah Film Sang Karsa berjumlah 9 orang.

Setelah menyaksikan 5 film dari program Minikino Film Therapy, salah satu penonton di Rumah Film Sang Karsa, bertanya, “ Yang dimaksud dengan film sebagai therapy itu yang mana ya? Ini terapi untuk kita penonton, sutradaranya, atau sang tokohnya”

Sebagai tuan rumah sekaligus moderator, lama saya berpikir. “Yang selama ini mengikuti kehidupan saya itu, tokoh atau adegan?”, lama saya berhenti dan mengingat-ingat.

“Adegan!”

Saat Robert De Niro mengarahkan senapannya pada seekor kijang pada film Deer Hunter dan kemudian tak jadi membunuhnya, ini adalah momen yang paling saya ingat. Sebuah terapi untuk mengerti perasaan orang lain

Saat sang gentlemen Bogart membiarkan gadis yang dia cintai pergi bersama lelaki lain dan kemudian ia mengatakan “Ayo, jangan menangis, semua sekarang melihatmu”, di dalam film Casablanca, adegan ini selalu menjadi alat terapi jika gadis yang sebetulnya saya cintai akhirnya memilih orang lain.

Woody Allen dalam film “Play It Again”, Sam yang disutradarai dan dibintanginya, benar-benar diterapi oleh karakter Bogart dalam Casablanca.

Sekarang mengenai 5 Film dalam program Minikino Film Therapy;

Film pembuka, ME, membuat penontonnya berusaha mengerti dan memahami perasaan sang tokoh. Dalam hal ini, pembuat film berusaha menolong penderitaan sang tokoh sehingga dia mampu untuk mengatasi apa yang terjadi padanya.

Kemudian FRED BARRY dengan gaya hidangan gambar dan suara riuh rendah, yang kadang membuat terkejut, film ini memberikan perasaan yang mengerikan.

Bagi yang tak mengerti dunia kelam Narkotika dan hidup lurus lurus saja, Fried Barry hanya sebuah muntahan yang tak ada artinya. Namun, bagi para pecandu yang pernah mengalami masa “detox” dan ingin menghentikan petualangan narkobanya tentu bisa jadi sebuah terapi yang bisa menjadi titik awal untuk memulai. Melihat bagaimana seseorang berani melawan dirinya sendiri yang terkontaminasi

Kemudian dilanjutkan dengan film ESTELA, sebuah kisah gaya telenovela Amerika Tengah-Selatan yang di Indonesia begitu melekat. Kisah ESTELA yang hamil, mengandung nilai nilai telenovela itu. Bisa jadi, sebuah titik awal perdebatan, bahwa mood wanita hamil itu harus dihargai. Titik awal para wanita mulai berani melawan dominasi pria. Hal yang remeh bisa menimbulkan hal yang besar. Keinginan wanita hamil harus dihargai. Kisah ini begitu dekat dengan Indonesia, karena kebanyakan para pria masih mengira urusan kehamilan adalah urusan para wanita

Film selanjutnya adalah LITUANIA, sebuah film paling menakutkan dan mencekam. Pergulatan dua karakter sepanjang musim akan satu hal yang begitu pahit. Dihidangkan dengan cara yang canggih. Film dengan bahasa yang cerdas, efektif. Dengan akhir yang membuat penonton bertanya, kenapa? Kenapa tak bisa menerima? 

Beberapa penonton di Rumah Sang karsa, yang kebanyakan anak-anak teater, yang masih mulai mencoba film-film tak biasa, hanyut dalam ketidak mengertian.

Ya, tak apa-apa, karena nonton film bukan untuk mengerti. Tapi TIDAK MENGERTI. Kita menonton film untuk tidak mengerti, mengerti?

Program ini ditutup dengan film berjudul AXIOMA. Dalam babak ini, kita harus belajar untuk kehilangan. Suara drum yang terdengar, sepanjang film mengundang banyak intrepretasi. Membuka cakrawala dari film pendek ini. Masa yang begitu indah dulu, tergantikan dengan masa yang tak lagi indah dan enak. Berdamai dengan keadaan.

Kita sering menangis sendiri dalam ruang gelap dan privasi yang memutar aneka macam adegan yang mengikuti kehidupan kita. Dalam tangisan itu kita ingat akan banyak hal yang kita lalui bersama orang-orang yang kita cinta. Banyak sutradara besar, artis besar membuat film atau lagu sebagai terapi. Seni adalah alat terapi untuk keluar dari memori yang tak terhapuskan.

Ke 5 film dalam program Minikino Film Therapy ini tidak semuanya mampu masuk ke dalam pemahaman penonton. Tetapi ini adalah obat yang tak bisa kita rasakan begitu dia kita minum. Butuh waktu untuk bereaksi. Sebuah hal yang tersimpan di bawah sadar kita, yang sewaktu waktu akan muncul.

Putu Kusuma Widjaja, (Writer, Film Director)
Lulusan film akademi Amsterdam, Belanda (Amsterdam Hoogschool). Menyutradarai dan terlibat dalam berbagai produksi televisi dan film dokumenter. Pemerhati sosial. Saat ini berwiraswasta dan tinggal di Lovina, Bali Utara.

 

 

Redaksi:
Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.
Silahkan kirim artikel anda ke info@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, baik khusus atau secara umum. Agar menjadi halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.
Semua tulisan yang masuk, kalau dirasa perlu, akan melalui penyuntingan ulang. Hasil suntingan/revisi akan kami kirimkan kembali ke penulis untuk mendapatkan persetujuan. Minikino menjamin bahwa semua tulisan yang diterbitkan, adalah tulisan yang telah disetujui oleh penulisnya.
Sebelumnya, kami berterimakasih atas kerjasama semua pihak. Semoga halaman artikel ini bisa tetap dijaga bersama, dan tentu saja untuk menjadi kepentingan & kebaikan bersama.

Related post


Top