Arsip Indonesia Raja 2017

Jaringan Kerja Pertukaran Program Film Pendek Indonesia

Tetang Indonesia Raja 2017

NDONESIA RAJA 2017 hadir kembali dengan melibatkan 12 kota/wilayah dari seluruh Indonesia.

Ikutkan Film(-film) Pendekmu dengan mengisi form pendaftarannya, dan mendaftarkan melalui para programmer yang bertanggung jawab di wilayahmu masing-masing!

SEMUA TEMA, SEMUA STYLE DAN GENRE SELUAS-LUASNYA!
FIKSI, DOKUMENTER, ANIMASI, VIDEO ART / EXPERIMENTAL
DENGAN DURASI MAKSIMAL 20 MENIT

Programmer mewakili wilayahmu akan bekerja, memilih dan merancang sebuah program; film-film pendek yang dianggap mewakili pencapaian terkini untuk produksi film pendek mewakili wilayahmu.

INDONESIA RAJA 2017 adalah kolaborasi tahunan antar kota/wilayah di Indonesia, dalam bentuk pertukaran program film pendek, termasuk di dalamnya adalah; kegiatan screening dan diskusi terbuka untuk umum di berbagai tempat, di berbagai wilayah di Indonesia.

Data Pemutaran Program

Total Jumlah Penonton 2800 Orang dari 68 Pemutaran

  • ACEH
  • BALI
  • BANJARMASIN
  • CIREBON
  • GRESIK
  • JAKARTA
  • PURBALINGGA
  • SEMARANG
  • SUMBAWA
  • SURABAYA
  • TANGERANG
  • YOGYAKARTA

Total Jumlah Pemutaran: 68 Layar

  • ACEH
  • BALI
  • BANJARMASIN
  • CIREBON
  • GRESIK
  • JAKARTA
  • PURBALINGGA
  • SEMARANG
  • SUMBAWA
  • SURABAYA
  • TANGERANG
  • YOGYAKARTA

Program Film Indonesia Raja 2017

INDONESIA RAJA 2017: ACEH

TANPA BIOSKOP KITA MAMPU

Aceh terus berbenah dan semakin mengepakkan sayap di dunia perfilman tanah air. Di Aceh menjadi seorang filmmaker tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan tersendiri yang dihadirkan dalam setiap pembuatan hingga penayangan.

Namun hambatan ini telah membawa filmmaker Aceh semakin terpicu adrenalin untuk membuktikan bahwa hambatan adalah pertualangan yang mengasyikkan dalam berkreatifitas. Hal inilah yang mendasari bahwa tanpa bioskop, Aceh tidak pernah kalah.

Bukti-bukti nyata ini telah membuahkan hasil nyata, diantaranya lahirlah filmmaker pemula tingkat pelajar maupun mahasiswa yang berhasil membuat karya dokumenter disetiap tahunnya seperti ketiga film di bawah ini.

Isu-isu menarik telah membawa filmmaker Aceh menggambarkannya dalam bentuk gambar bercerita yang dilengkapi dengan audio visual. Ketiga film di bawah ini diangkat dari isu-isu nyata di masyarakat yang menyebabkan timbulnya keresahan dari filmmaker itu sendiri. Berbekal keresahan, inilah awal hadirnya karya filmmaker Aceh.

reting-usia-7+Durasi total : 65 menit 2 detik

Rekomendasi Usia Penonton: 7+ (semua umur)

 

Synopsis:


DODAIDI-film-pendek
DODAIDI

Muhammad Mirza dan Ahmalul Fauzan / Banda Aceh / 2016 / durasi 14:35

Syair dodaidi adalah salah satu budaya aceh yang bertujuan untuk membentuk karakter anak menjadi baik sejak dari ayunan, syair dodaidi telah diwariskan secara turun-temurun dalam tatanan kehidupan masyarakat aceh,Tetapi sayang zaman sekarang syair dodaidi mulai dilupakan dan kebanyakan hanya orang yang sudah tua yang masih mensyairkannya.

Syair dodaidi sebagai budaya yang memiliki nilai keislaman, kehidupan, dan perjuangan yang ditanamkan sejak dini. Ummiyah adalah seorang nenek yang masih tetap mempertahankan syair dodaidi kepada cucunya disaat orang lain telah mulai melupakan syair dodaidi. Mengapa orang-orang mulai melupakan budaya yang kaya akan pendidikan ini?


TANOH-AKHE-film-pendek

TANOH AKHE

Fadhilah Sari dan Nova Andiyani / Banda Aceh / 2016 / durasi 15:28

Kisah para pengrajin Beulangong Tanoh di Banda Aceh yang kesulitan mendapatkan bahan baku utama berupa tanah liat, yang dikarenakan hampir seluruh tanah dipenuhi bangunan.

Penghargaan:
Juara Film Terbaik dalam Aceh Film Festival 2016

Director’s statement :
Isu kebudayaan semakin hari kian menarik untuk diagkat ke dunia perfilman. Keresahan-keresahan yang terjadi di masyarakat layak untuk ditayangkan ke ruang publik, hal inilah yang mendasari filmmaker mengangkat isu tersebut.


SENJA-GEUNASEH-SAYANG-film-pendek

SENJA GEUNASEH SAYANG

Maulidar dan Astina Ria / Banda Aceh / 2016 / durasi 19:21

Kisah para lansia yang menghabiskan masa tua di panti jompo dan kerinduan sosok Ibu yang menunggu kehadiran anak sulung dengan berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan maaf.

Penghargaan:
Nominasi Malang Film Festival Tahun 2017

Director’s statement :
Film ini terinspirasi oleh sebuah argument seseorang tentang kondisi dan nasib yang harus diperjuangkan oleh para lansia yang berada di Panti Jompo. Kondisi subjek yang sangat memprihatinkan telah membuat filmmaker mengangkatnya menjadi sebuah film dokumenter. Doa anak kepada Ibu tiadalah batas, namun anaknya telah membatasi jarak tatapan mata dan ucapan lisan maupun tulisan.


KUPIAH-RIMAN-film-pendek

KUPIAH RIMAN

Rifqi Athaullah dan Lukmani Hakim / Banda Aceh / 2016 / durasi 15:38

Desa dayah adan merupakan bagian dari kabupaten pidie. Terletak diantara bereneun dan kembang tajung. Masyarakat desa ini dikenal dengan keuletan jarinya, karena sejak zaman nenek moyang dahulu sudah ada warisan budaya yang di wariskan secara turun-temurun kepada generasi ke generasi,budaya tersebut ialah kupiah riman. Namun seiring berjalannya waktu kupiah riman sudah menjadi warisan budaya nasional, akan tetapi semakin hari semakin pudar keberadaannya, masyarakat desa ini masih semangat dalam menjaga wasiat nenek moyangnya.

Kupiah riman sebagai waisan budaya nasional tetapi kelestarianya terancam punah.

https://youtu.be/3etrpTSP1Os

INDONESIA RAJA 2017: BALI

Ayu Diah Cempaka

Programer | Bali
Programmer Release

“FILM BALI MENCARI BENTUK”

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar orang Bali membuat film? Saya berani bertaruh bahwa sebagian dari kita akan membayangkan bahwa film-film yang diciptakan tak lepas dari dekorasi artistik, keindahan alam, upacara keagamaan yang adiluhung, serta hal-hal lain yang kerap kita jumpai dalam seni-seni tradisi Bali.

Mungkin dibutuhkan kerja keras untuk membayangkan Bali sebagai kota dengan kejadian sehari-hari yang tak jauh berbeda dari kota-kota lain : yang mengalami permasalahan masyarakat urban, yang acuh tak acuh pada mitos, dan memiliki sisi yang tak berkaitan sama sekali dengan keadiluhungan budaya dan agama.

Saya tidak akan mengatakan bahwa film-film dalam program ini adalah film-film terbaik yang diproduksi dalam kurun waktu 1 tahun oleh pembuat film Bali. Alih-alih, kelima film dalam program “Film Bali Mencari Bentuk” adalah film-film yang sungguh saya apresiasi upayanya yang apa adanya dalam menceritakan Bali. Upaya ini saya pikir penting, di tengah maraknya film-film yang mempersonifikasikan Bali sebagai tanah eksotik, yang memosisikan tradisi keagamaan dan kebudayaan sebagai objek atau masalah paling dasar bagi orang Bali.

“Mana Handphoneku” dan “Perpustakaan” adalah 2 film hasil workshop ‘One Take’ Filmmaking oleh Minikino yang dengan singkat namun padat menghadirkan kecerobohan seorang pengguna telepon genggam sebagai sindiran atas masyarakat pengguna telepon pintar ternyata tidak sepintar alat yang digunakannya. Sementara “Perpustakaan” bercerita singkat tentang suasana mencekam di ruang perpustakaan dengan jatuhnya buku-buku tanpa sebab. “Ngintip”, sebuah film yang memosisikan kegiatan ngintip leak sebagai keseharian anak muda tanggung dan berbuah petaka. Film ini menjadi menarik karena ia mengenyampingkan kesan mistis dari ritual ngeleak yang selama ini hanya disoroti dari sisi ritualnya saja. “Lala Goreng” menghadirkan tutorial memasak dengan menggunakan kreasi kertas lipat untuk mengganti bahan-bahan yang digunakan, untuk menunjukkan interaksi antara manusia dan makhluk hidup lainnya yang tidak seimbang. Terakhir, “Tengai Tepet”, atau dalam bahasa Indonesia berarti siang bolong, menceritakan tentang dua anak muda yang berhadapan dengan hal-hal kasat mata yang di satu sisi hadir sebagai kepercayaan yang menurun, tapi di satu sisi diragukan kebenarannya.

reting-usia-13+
Durasi total : 48 menit 22 detik

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


ManaHandphoneku-film-pendek

MANA HANDPHONEKU

I Wayan Januarta | Bali | 2016 | 05.00

Handphone Arta selalu ketinggalan, sampai pada suatu hari membuat sibuk seluruh teman-temannya.

Statement Sutradara :

Saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti dan berpastisipasi dalam workshop ‘One Take’ yang diadakan oleh Minikino. Mudah-mudahan ini bisa berlanjut kedepannya serta semakin bemunculan sineas – sineas muda dan insan kreatif di industri per-filman indonesia,khususnya di one take film.

Profil Sutradara :

I Wayan Januarta adalah siswa Campuhan College angkatan 2016.


Perpustakaan-film-pendek

PERPUSTAKAAN

Kadek Ani Widianingsih | Bali | 2016 | 07.24

Sebuah kisah mistis yang terjadi dalam perpustakaan yang sepi. Benarkan cuma sedirian di sana?

Profil Sutradara :

Kadek Ani Widianingsih adalah siswi Campuhan College angkatan 2016.

Statement Sutradara :

Saya sangat bangga bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini. Disini saya benar” belajar bagaimana bekerja sama dengan team secara baik. Tanpa kekompakan dan kerjasama film kami yg berjudul Perpustakaan tidak akan tercapai.


ngintip-film-pendek

NGINTIP

Rai Dwi Purnama Dewi | Bali | 2016 | 16.13

Godek (19 Tahun) dan Sogol (19 Tahun) hendak mengunjungi Denik (19 Tahun) di Karangasem. Sampai di sana mereka diajak Denik untuk mengintip perubahan wujud manusia menjadi makhluk menyeramkan yang sering disebut Leak. Bersama Ketut (19 Tahun) dan Wayan (19 Tahun), mereka berangkat saat tengah malam menuju sawah, tempat masyarakat setempat biasa mengintip. Disanalah hal yang tidak mereka rencanakan terjadi.

Statement Sutradara :

Film Ngintip ini menelaah hal-hal bersifat klenik yang sering dilakukan oleh masyarakat Bali. Di Bali, sosok Leak merupakan salah satu sosok mistis yang ditakuti karena perwujudannya yang mengalami perubahan dari sosok Manusia menjadi sosok serupa manusia namun dengan perawakan yang menyeramkan. Di daerah tertentu seperti di wilayah Karangasem, perubahan wujud Leak ini sering diintip oleh masyarakat sekitar yang penasaran akan proses perubahan wujudnya saat tengah malam Kajeng Kliwon. Namun, karena sosok Leak ini tidak hanya satu, tidak dipungkiri, masyarakat yang sedang mengintip sering kedapatan diintip oleh Leak lain. Atas dasar inilah kami membangun ide cerita berjudul Ngintip yang mengangkat hal sama namun dengan membawa unsur komedi.

Profil Sutradara :

Rai Dwi Purnama Dewi, merupakan wanita berusia 21 Tahun dengan pengalaman menjadi Sutradara semenjak ia berada di semester 3. Adapun Film yang disutradarainya ialah Film Dokumenter “Joged Bumbung”, Dokumenter “Subak Buangga”, Acara televisi “Sama Sanggar”, pertama kalinya menyutradarai Film Fiksi “Ngintip” dan sedang menggarap Film Fiksi yang akan rampung pada Juli 2017 berjudul “Lintang Ayu”.


LalaGoreng-film-pendek

LALA GORENG

Edo Wulia | Bali | 2016 | 03.03

Lala membuat VLOG cara membuat Lele goreng kesukaannya, tapi Lele tidak suka Lala.

Statement Sutradara :

Ini adalah bagian dari workshop yang diadakan minikino dengan fokus utama ‘one take’ filmmaking.

Profil Sutradara :

Edo Wulia, saat ini menjabat jadi direktur organisasi Minikino. Terlibat beberapa produksi, dalam konteks workshop/pelatihan/lokakarya, maupun komersil.


Tengai-Tepet-film-pendek

TENGAI TEPET

I Dewa Made Febriantow Sukahet | Bali | 2016 | 17.54

Dua orang sahabat yang memiliki kebiasaan kumpul di pos kamling salah satu desa di Bali. Menjelang siang mereka kebingungan untuk melakukan aktivitas apa. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke air terjun dan mengabaikan mitos setempat.

Award :

Finalis UI Film Festival

Statement Sutradara :

Film ini merupakan interpretasi dari pengalaman-pengalaman kawan di saat waktu kritis (pergantian waktu). Mengingatkan kembali kepercayaan masyarakat Bali tentang mitos Tengai Tepet (siang bolong).

Profil Sutradara :

I Dewa Made Febriantow Sukahet adalah mahasiswa Film dan Televisi ISI Denpasar. Senang dengan karya film yang realis dan logis saja untuk saat ini serta dekat dengan sekitar.

INDONESIA RAJA 2017: BANJARMASIN

Agung Saputra Aritanto
Programmer | Forum Sineas Banua
Programmer Release

“MANCUNGUL”

Mancungul adalah kata dari bahasa Banjar yang artinya hadir atau ada. Mancungul disini menghadirkan dua makna kata, mancungul dalam artian sineas-sineas Banjar mancungul dengan karya filmnya, dan mancungul dalam artian menghadirkan wacana-wacana tentang Banjar itu sendiri kedalam karya filmnya.

Mancungul menjadi menarik ketika penafsiran mancungul itu beragam, masing-masing filmmaker mempunyai sudut pandang yang berbeda.

Dalam film MINIATUR kita akan melihat bagaimana sebuah warisan budaya harus di ikuti atau melakukan hal baru yang sesuai dengan kehendak generasi yang dititipi, lain lagi dengan NANTI DULU kita akan dibawa berkeliling ke beberapa tempat pop yang ada di Kota Banjarmasin, sedangkan film BULIK KAH tergambar istilah rumput tetangga lebih hijau, lalu di film KURIDING bagaimana kesenian itu dianggap hanya sebuah aktivitas basa-basi oleh generasi sekarang, dan yang paling menarik didalam IJUM BALOGO kita akan dibawa oleh Ijum untuk bernostalgia semasa kecil dengan salah satu permainan tradisonal.

reting-usia-13+

Durasi total : 37’20”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


MINIATUR-film-pendek

MINIATUR

Kholik Setiawan | STB Masking Production / Banjarmasin / 2016 / 19’57”

Kalsel dikenal dengan provinsi yang memiliki seribu sungai, tak heran masyarakatnya lihai dalam membuat jukung, sebuah alat transportasi air tradisional di Kalsel. Seiring perkembangan jaman,para pembuat jukung sudah mulai hilang lantaran moda transportasi ini tak lagi menjadi pilihan utama masyarakatnya yang lebih memilih menggunakan transportasi darat dengan kondisi jalanan yang mulus. Namun tidak demikian dengan warga Desa Pulau Sewangi yang masuk daerah terotorial Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala, Kalsel. Mereka masih mempertahankan tradisi membuat jukung. Bahkan, setiap anak yang tidak bisa membuat jukung akan menjadi bahan olok-olokan temannya. Kondisi itulah yang dialami Udin, seorang anak penderita bisu.

Award :

1. Film Pendek Terbaik di Lomba Film Aruh Sosiologi dan Antropologi ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin

2. Film Pendek Favorite di Lomba Film Aruh Sosiologi dan Antropologi ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin

3. Finalis 3 di Lomba Film Festival Banua FISIP ULM 2016 Kalsel, Banjarmasin

Director Statement :

Kurangnya kesadaran dari kita apalagi para remaja sekarang, kita juga kurang peduli dengan kebudayaan yang kita punya.Padahal kalau kita kembangkan serta melestarikannya kita akan menjadi bangsa yang penuh warna. Makanya dengan adanya film Miniatur ini kita sudah tahu dan melihat kalau Indonesia memiliki ragam budaya, bahasa, dll.

Short bio filmmaker :

Anak dari pasangan Bulkaini dan Harti.Ayahnya adalah seorang Seniman yang berkarir di Senirupa (pembuatan jukung khas banjar atau jukung tiung Alalak) yang lahir di (Barito Kuala, 20 Desember 1965), gemar berbahasa asli Banjar (KuinAlalak), Banjarmasin, di samping sebagai dramawan tradisional, sedangkan ibunya yang lahir di (Medan, 27 Agustus 1966) adalah Aktor yang berperan sebagai ibu rumah tangga, ia sangat menetukan drama dalam lakon dunia lewat putra-putrinya untuk menorehkan karakter peradaban generasi bangsa.


Nanti-Dulu-film-pendek

NANTI DULU

Muhammad IrzaHaifany | Dragon Hajati / Banjarmasin / 2017 / 3’52”

Dimiliki setiap manusia, tidak bisa ditawar, takkan mau menunggu, memburu secepat peluru, dan berlalu sekilat kedipan mataku. Dialah sang Waktu.Kita tidak dibelenggu olehnya, kita berjalan kesegala arah bersamanya. Bahkan ketika kita mencoba menikmati semesta. Selalu ada saat kita ingin menunda, berteriak melawan, menghentikan, dan berkata Nanti Dulu pada Waktu.
Menceritakan seorang insan yang melawan waktu untuk dapat lebih lama menikmati sebuah keindahan yang di anugerahkan Sang Pencipta kepada kota kelahirannya.

Award :

Nominasi Best Idea & Concept JAMANG AWARDS 2017

Nominasi Best Cinematography JAMANG AWARDS 2017

Penghargaan Best Cinematography JAMANG AWARDS 2017

Director Statement :

Film yang kami buat dengan semangat untuk memberikan harapan atas majunya perfilman daerah sendiri.

Short bio filmmaker :

Lahir di Banjarmasin tanggal 10 Juli 1994, merupakan pimpinan serta founder dari grup produksi Dragon hajati. Menekuni dunia video sejak 2011, kemudian sangat aktif di tahun 2015 hingga sekarang. Memiliki tujuan untuk ikut memajukan dunia cinematography maupun perfilman didaerah sendiri, agar semakin banyak karya-karya yang dapat tampil secara nasional dari Kalimantan Selatan.


BULIK-KAH-film-pendek

BULIKKAH

Dimas Fatchurrozikin | Rantau Production / Jakarta / 2017 / 5’51”

Dani (28) seorang karyawan salah satu perusahaan besar di Jakarta yang mendapat tawaran untuk pindah domisili pekerjaan ketempat asalnya di Banjarmasin, Mamah Dani (55) berusaha meyakinkan Dani untuk pindah kerja ke Banjarmasin agar bisa bekerja dekat dengan keluarga. Namun
Dani menolak karena merasa di Jakarta kota yang memiliki segalanya. Namun di perjalanannya pulang dari kantor dia menyimak sebuah cerita dari radio yang mengingatkan dengan masa lalunya di Banjarmasin sehingga membuatnya semakin galau untuk tetap bertahan di Jakarta atau pulang ke Banjarmasin.

Director Statement :

Kebahagiaan sesungguhnya bukan dari apa yang bisa kita dapatkan di dunia ini, tapi kebersamaan dengan keluargalah kebahagiaan sebenarnya dalam hidup.

Short bio filmmaker :

Dimas Fatchurrozikin lahir di Banjarmasin pada tanggal24 Mei 1991. Walaupun memiliki darah jawa dari sang Ayah dan banjar dari sang Ibu namun budaya paling dekat adalah budaya Banjar.pencampuran budaya inilah yang membuatnya tertarik untuk merekamnya hingga akhirnya terjun di dunia film. Saat ini Dimas sedang meneumpuh pendidikan di kampus film di Jakarta.


KURIDING-film-pendek

KURIDING

Zainal Muttaqin | PCC Banjarmasin / Banjarmasin / 2016/ 5’20”

Dalam waktu singkat, Anang harus mahir memainkan Kuriding. Ia telah berjanji untuk menampilkan kepiawaiannya memainkan Kuriding kepada pacarnya yang berstatus sebagai mahasisiwi jurusan seni di kota Bandung, yang sedang meneliti alat musik tradisional dari Kalimantan Selatan tersebut.

Award :

Juara 1 Festival Film Banua 2016

Top 120 Finalists Indonesian Short Film Festival (ISFF) 2016

Director Statement :

Kuriding sangat mempresentasikan apa yang terjadi di kehidupan nyata sekarang, dimana kebanyakan anak daerah belajar mengenai seni dan budaya lokalnya sendiri bukan atas dasar niat pribadi.

Short bio filmmaker :

Terjun di dunia film (dokumenter) pertama sebagai produser dan sutradara pada tahun 2014, berjudul “JUMAT KELABU”. Dan memulai karya film fiksi pertama berjudul “HITUNG” pada tahun 2015 sebagai DOP (director of photographer).

Pada 2016 mengikuti workshop pusbang film tingkat dasar sekaligus membuat tugas karya film sebagai script writer dan DOP (director of photographer) berjudul “TOILET RUSAK”. Dilanjutkan sebagai produser, sutradara, DOP (director of photographer) dan editing pada film dengan judul “KURIDING”, juga terlibat sebagai produser dan asisten sutradara di film “POLISI TIDAK TIDUR”. Dipercaya sebagai sutradara dalam film terbaru berjudul “MENUJU HILANG” pada tahun 2017.


IJUM--Balogo-film-pendek

IJUM BALOGO

Husin | Ijum Studio/ Banjarmasin / 2017 / 2’20”

Si ijum sedang bermain balogo, dan temannya iki yg juga ingin ikut bermain


https://www.youtube.com/watch?v=sEbY-9vJT6E

INDONESIA RAJA 2017: CIREBON

Programmer Release

“TUNAS PANTURA”

Dengan berbagai sebutan yang melekat pada dirinya mulai dari kota udang, kota transit, kota pesisir, kota pelabuhan, dan lain sebagainya, Cirebon berkembang dengan ragam keunikan didalamnya. Program berikut bisa jadi mewakili kaum muda yang ada di Cirebon tentu dengan dinamika pesisir pantai utara yang menarik untuk disimak. Film-film kurasi dari Cirebon adalah cerminan proses produksi film kota itu dimana banyak tunas penggiat film baru muncul ke permukaan dengan malu-malu. Misalnya, pelajar Cirebon bicara tentang problematika dan kekhasan moral lesson didalamnya lewat “Komplikasi 3 Arah”. Film kisah cinta 2 sejoli besutan penggiat komunitas You Tubers ikut memeriahkan deretan film dari Cirebon lewat “Pertemuan Singkat”. Film “Darip Modar Apa Urip” mencoba mengangkat cerita laut dan manusianya lewat bingkai cerita yang sederhana ber-setting-kan di kampung nelayan pesisir Cirebon.

Selain itu, ada juga dua film produksi Yayasan Kampung Halaman menjadi representasi apa yang dialami oleh remaja di Indramayu dan Kuningan. “Miang Meng Jakarta” adalah tentang mereka di desa yang melihat kemilau ibukota sebagai solusi dari permasalahannya. “Karatagan Ciremai” menyuarakan suara remaja yang mendapatkan diskriminasi karena kepercayaan yang dianutnya, di negara yang katanya Bhinneka Tunggal Ika.

Wahai penonton yang budiman, selamat menyirami tunas pantura.

reting-usia-15+

Durasi total : 61′ 65″

Rekomendasi Usia Penonton: 15+

Synopsis:


komplikasi-film-pendek

Komplikasi 3 Arah

Ari Gumelar / Filmmaker 81 SMAN 1 / Cirebon / 2016/ 07.49

Sebuah film pendek yang menceritakan pengalaman seorang remaja yang dalam perjalanannya mencari jati diri, terhadang oleh sistem pendidikan dimana nilai akademis menjadi penentu segalanya. Ditambah dengan kurangnya perhatian orang tua, membuat Seno, seorang siswa SMA sempat terpikir untuk menyerah kalah pada godaan obat-obatan terlarang. Namun kisah Seno bukan akhir dari segalanya. Seno berhasil bangkit melawan dirinya sendiri untuk bisa berbangga dikemudian hari, ketika dia sudah dewasa.

Penghargaan:

Juara 1 FLS2N Kota Cirebon

Statement Sutradara:

Saya ingin mencoba untuk menggeluti dunia sinematografi, merealisasikan sebuah cerita dalam bentuk visual.

Biografi:

Ari Gumelar, lahir di Cirebon, 3 Maret 2000. Bersekolah di SMAN 1 Cirebon. Awalnya membuat film hanya sebatas di kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Karena akhirnya menemukan ketertarikan membuat film, terus berlanjut untuk menyutradarai film pendek sampai memenangkan penghargaan.


pertemuansingkat-film-pendek

Pertemuan Singkat

Giri Cahya Pengestu/ Cirebon / 2016/ 08.59

Film ini menceritakan perempuan bernama Feira yang menjalani Long Distance Relationship dengan pacarnya, Dani. Suatu waktu, Feira berkunjung ke kota Cirebon, tempat tinggal Dani untuk saling melepas rindu. Mereka bertemu, namun akhir pertemuan yang tak terduga membuat kisah cinta Feira Dani berubah cerita.

Statement:

Dalam film ini saya mencoba mengangkat sebuah kisah cinta, hasil dari observasi yang saya lakukan di stasiun kereta. Harapannya, film ini dapat memotivasi saya untuk bisa berkembang dalam dunia perfilman.

Biografi:

Seorang yang selalu berusaha mencari tantangan. Aktif membangun organisasi. Masih aktif main You Tube dan juga sedang merintis media malasmikir.com


modar-apa-urip-film-pendek

DARIP Modar Apa Urip

Tri Wahyudi / Cinema Cirebon / Cirebon / 2017 / 12.42

Darip ditemani dengan radio bekasnya menjalani hari di empang. Terkadang, alih-alih menemukan kepiting atau ikan bandeng, malah sampah berbagai rupa yang ditemuinya selagi menyelam kedalam empang. Darip dan radio bekasnya adalah kawan sejati. Si radio rajin menyiarkan lagu-lagu dangdut pantura yang membuat hati senang. Tapi, sesekali berita-berita muncul diantara riuh rendah gelombang radio di udara. Berita yang membuat Darip kesal. Musim paceklik selalu membawa kabar buruk bagi nelayan dan Darip adalah salah satunya yang bertahan. Akankah nasib Darip berakhir modar apa urip (mati atau hidup)?

Penghargaan:

Film Terbaik Festival Film Pendek Majalengka 2017

Statement:

Film DARIP ada sebagai kepedulian kami yang hanya bisa menuangkan eskpresi dalam gambar gerak, terhadap isu nelayan dan sekitarnya. Indonesia sebagai negara maritim sudah saatnya mulai memperhatikan nasib laut dan manusianya. Harapannya setelah menonton film ini, kita jadi sadar ada teman di lautan sana yang mungkin saat ini sedang berjuang. Berjuang untuk keluarganya dan demi ikan bergizi tersaji di dapur rumah tangga nusantara.

Biografi:

Tri Wahyudi, lahir 7 Mei 1991, adalah mahasiswa yang sedang senang-senangnya nonton dan ngobrolin film di Cinema Cirebon. Cinema Cirebon sendiri adalah komunitas film yang berfokus pada kegiatan literasi dan eksebisi. Belajar (dari) film adalah agenda rutin bulanan, dimana film menjadi media untuk bisa memahami persoalan sosial bersama.


I-Dream-a-Jakarta-film-pendek

Miang Meng Jakarta

Opan Rinaldi / Yayasan Kampung Halaman / Indramayu / 2014 / 16.00

Ika (16 tahun) dari Desa Amis, Indramayu, sangat ingin bekerja ke Jakarta. Masa lalu yang buruk membuat Ika memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya saat di SMP. Usianya belum cukup, dan keinginan ibunya agar dia tetap tinggal di Indramayu, membuatnya frustrasi. Segala upaya dia lakukan agar segera pergi dari Amis. Akankah Ika terus bertahan di kampungnya?

Penghargaan:

Nominasi Film Dokumenter Pendek Festival Film Dokumenter 2016

Statement:

Di film ini saya ingin mengungkap lebih jauh sebuah sudut pandang dari seorang Ika tentang peluang dan harapan serta ruang gerak yang ada di desanya dan di kehidupan sehari-hari. Apakah pilihan Ika ini sebagai bentuk protes atas kondisi lingkungan sehingga Ika tidak punya pilihan, ketidakberdayaan ekonomi dalam keluarga, atau juga karena pengaruh dari luar misalnya tentang keberhasilan temannya yang telah bekerja di Jakarta?
Selain itu saya ingin merekam pola relasi Ika dengan keluarga dan lingkungan untuk mendapatkan potret jujur dalam kehidupan sehari-hari sebagai remaja. Bagaimana Ika mewujudkan harapan dan cita-citanya untuk masa depan?

Biografi:

Opan Rinaldi lahir di Sumbawa Besar, menyelesaikan studi di Jurusan Desain Komunikasi Visual tahun 2005. Freelancer di dunia grafis dan videografi. Pernah terlibat di beberapa proyek dokumenter dan fiksi sebagai kameraman, seperti: “Selayar: Rahasia Surga Laut Tropis” (2012), “Bulan Sabit di Tengah Laut” (2007), “Jogja Berhati Mural” (2007).


Karatagan-Ciremai-film-pendek

Karatagan Ciremai

Ady Mulyana / Yayasan Kampung Halaman / Kuningan / 2014 / 17.15

Anih Kurniasih (15 tahun), gadis Sunda dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orangtua kandungnya. Pernikahan orangtuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-adiknya tidak memiliki akte kelahiran. Padahal, tanpa akta kelahiran, sulit untuk Anih mendapatkan administrasi kependudukan lainnya. Disadari atau tidak, yang dialami Anih adalah diskriminasi terstruktur. Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung? Bisakah Anih memperoleh pendidikan setinggi mungkin sesuai dengan cita-citanya?

Penghargaan:

Nominasi Short Documenter Freedom Film Festival 2016

Statement:

Sejak berkenalan dengan Anih dan keluarganya, saya mempertanyakan apakah kita masih bersetia pada filosofi Bhinneka Tunggal Ika? Karena apa yang terjadi pada Anih dan keluarganya jelas merupakan diskriminasi yang terstruktur. Ada berapa banyak Anih lain di seluruh nusantara? Apa yang sudah kita lakukan untuk membantu mereka?

Biografi:

Ady Mulyana lahir di Garut, Jawa Barat. Dia mengenyam pendidikan di SMAN 27 Jakarta. Belajar film secara otodidak, berawal dari perpustakaan film di rumah perupa Dolorosa Sinaga. Selain itu, Ady juga kerap menjadi fasilitator pada rangkaian workshop dan diskusi film di beragam komunitas. Saat ini Ady sedang menyelesaikan dokumenter panjangnya “Temu Rindu Menggungat Sunyi”/Breaking The Lies tentang Gerakan Perempuan Indonesia era 1950 – 1965 (Gerwani).


https://www.youtube.com/watch?v=06_5EvL2qaQ

INDONESIA RAJA 2017: GRESIK

“MANUSIA DENGAN SEGALA KEKHAWATIRANNYA”

Indonesia Raja 2016 sebelumnya, menjadi catatan menarik tersendiri dalam memetakan perkembangan iklim sinema di kota Gresik. Beberapa film pendek hadir dengan gaya yang menarik dalam bercerita masalah kota dan manusianya. Begitu pula dengan hadirnya film-film dari kota lain yang sempat mampir di Gresik, mampu memberikan angin segar bagi para pegiat film pendek, khususnya di kalangan pelajar.
Di Indonesia Raja tahun ini, beberapa film terkumpul dengan membawa kekhawatiran. Bukan soal filmnya yang mengkhawatirkan dalam segi kelayakan, namun persoalan kekhawatiran itu sendiri yang diangkat dan menarik untuk diceritakan. Kekhawatiran itu muncul dalam dimensi layar berdurasi pendek dan butuh di obrolkan dalam waktu yang sepertinya agak lama. Memang, sudut pandang kota selalu menarik untuk diangkat cerita, salah satunya dalam film “Dulunya Indah, Sekarang Hilang” tentang masyarakat pesisir dan kegigihan sang anak menggantikan peran sang ayah untuk pergi melaut demi kebutuhan keluarga dan “Di Suatu Tempat, Dimana Pernah Ada Kita” memberikan gambaran mengenai tempat bermain yang perlahan habis terkikis oleh kepentingan pribadi.

Selain bicara wilayah, kekhawatiran juga tumbuh dari sisi manusianya itu sendiri. Kisah perempuan di Pulau Bawean (Pulau Puteri kata banyak orang) dalam film “Before Us Is The Sea” mengisahkan kesepian dan kebosanan perempuan dalam menunggu lelakinya yang tak kunjung pulang dari perantauannya. Selain berbagi kisah mengenai budaya masyarakat pesisir, cerita pola pendidikan masa kini ikut mengkhawatiran. Dalam film “PR-(Homework)”, pendidikan itu begitu sangat menyita waktu aktivitas seorang pelajar di rumah. Sehingga tak mudah untuk membedakan, mana Pekerjaan Rumah (PR) yang seharusnya dan mana tugas rumah yang semestinya.

Cara pandang yang dikemas para pegiat film ini sepertinya tak bisa lepas dari obyek remaja. Film “RUWINA” utamanya, sebuah nostalgia dan bermaksud berbagi kisah semata. Namun, hadirnya kisah lama bisa jadi cermin untuk kalangan remaja masa kini yang mungkin sudah melewati batas dalam merespon cinta. Itulah beberapa cerita yang sudah terlanjur terjadi hingga hari ini. Lingkungan berubah, gaya hidup berubah dan cara berpikiran pun dipaksa tuk berubah. Hadirnya lima film tersebut mencoba merangkum sebuah perubahan baru dan tentu disertai dengan kekhawatiran-kekhawatiran baru pula.

reting-usia-13+

Durasi total : 73’13”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


Dulunya-Indah,-Sekarang-Hilang-film-pendek

Dulunya Indah, Sekarang Hilang

Rizki Aryadinata S | Ekalaya Film / Gresik / 2016 / 14’00”

Aji seorang anak nelayan yang dibesarkan dari hasil laut. Mulai kebutuhan makan hingga biaya sekolah. Hidup berdua dengan bapaknya. Hingga suatu hari, dia pergi bersama kedua kawannya untuk mencari ikan. Sebab, hari itu, bapak tidak jadi pergi melaut.

Profile Sutradara:

Rizki Arya, bergabung dengan Ekstrakulikuler Sinematografi SMA Muhammadiyah 1 Gresik sejak tahun 2015. Kini, untuk pertama kalinya ia dipercaya teman-temannya untuk menyutradari Film “Dulunya Indah, Sekarang Hilang”.

dsdpak-film-pendek


Di Suatu Tempat Dimana Pernah Ada Kita

Nazaruddin Ahmadi | Gresik Movie / Gresik / 2016 / 10’39”

Di suatu tempat, pernah ada empat anak yang menghabiskan sorenya dengan bermain bersama-sama. Salah Seorang anak itu bernama Bari. Ia tinggal di rumah sederhana bersama ayahnya yang mantan petani. Ayahnya kini menjadi seorang buruh pabrik, sebab sawahnya dijual untuk pengobatan ibu Bari. Hingga pada suatu siang, ketika Bari dan Ayahnya sedang makan siang, berita di televisi mengabarkan, bahwa Gresik akan menuju swasembada pangan. Mendengar itu, Bari ingin menjadi petani.

Award:

1. Official Selection Psychofest Film Festival 2016

2. Official Selection Festival Kecil 2016

3. 2nd Foodbank Fest UISI 2016

Director statement:

Semakin hari lahan kami terus dikebiri, entah dimana tempat bermain lagi untuk adik-adik kami kelak nanti.
Profile Sutradara:
Alumnus salah satu sekolah broadcasting di Surabaya tahun 2011. Kembali ke kota Gresik an membentuk komunitas kecil bernama Gresik Movie bersama beberapa anak muda lainnya. Hingga kini terus mengembangakan semesta film di kota asalnya.


before-us-the-sea-film-pendek

Before Us Is The Sea

Eric Fajryan Ichwanuddin | MMTC / Gresik / 2017 / 19’52”

Proses pencarian keutuhan keluarga untuk menghadapi kehidupan baru yang akan datang setelahnya, dalam konteks menemukan dan ditemukan.

Award

1. Official Selection UCIFEST UMN 2016

2. Nominasi Best Fiksi dan Best Story LENSA FILM UI 2016

3. Nominasi Best Fiksi Bandung Independent Film Festival 2016

4. Nominasi Best Fiksi Festival Film Surabaya 2017.

Director statement:

Perempuan Pulau Bawean Gresik menjadi sepi di tanahnya sendiri, ketika para lelaki di pulau itu pergi satu per satu untuk mencari penghidupan bagi keluarganya masing-masing. Kemudian timbul pencarian –pencarian mengenai segala hal yang berkaitan dengan hidup dan kebosanan.

Profile Sutradara:

Eric Fajryan, anak kedua dari tiga bersaudara, lahir di Gresik, 7 Maret 1994. Kuliah di bidang broadcasting tak mempengaruhi cintanya terhadap film yang telah muncul sejak bangku SMA. Kecintaannya pada film dan sastra, telah menjadi jiwa dalam setiap karya-karyanya. Pernah menyutradarai film AZOO (2016), PULANG KEMANA (2016) dan BEFORE US IS THE SEA (2016). Serta menulis skenario film MUMPUNG (2014), FULLEN (2014), MAKSUDNYA? (2015), dan beberapa video puisi.


Ruwina-Still-film-pendek

RUWINA

Ayuning Tyas M.R.| Gresik Movie / Gresik / 2017 / 18’46”

Di siang hari yang hujan, Ruwina, perempuan SMA yang belum pernah berpacaran, sedang berada di rumahnya bersama Bowo yang telah mengantarnya pulang sekolah. Ruwina dan Bowo memiliki kesamaan saat itu. Mereka sama-sama belum pernah merasakan apa itu pacaran. Di rumah Ruwina, Bowo memiliki kehendak yang telah direncanakan sebelumnya. Ya, Bowo ingin menyatakan perasaannya. Namanya juga remaja, apa yang mereka bayangkan seringkali tidak seimbang dengan kenyataan. Dalam kondisi yang hujan, dan orang tua Ruwina yang berada di luar kota, Membuat Ruwina dan Bowo lebih intim dalam berkata-kata.

Award :

1. Official Selecton Program Kuratorial Malang Film Festival 2017

Director statement:

Mencoba menghadirkan kisah remaja anak sekolah 10 tahun yang lalu, sosok yang dihadirkan sebagai perempuan SMA yang bisa jadi mewakili kita semua dalam merespon cinta. Karena, masa remaja milik siapa saja.

Profile Sutradara:

Ayuning Tyas 19th, Mahasiswi yang saat ini mengenyam pendidikan matematika di sebuah perguruan tinggi Swasta, di Gresik. Menjadi sutrdara adalah pengalaman pertama untuk mengobati rasa penasarannya dalam mengenal sinema.


PR-Still-film-pendek

PR [Homework]

Nareza Lazuwardy| EXCINEMA / Gresik / 2017 / 10’36”

Rizka, seorang pelajar yang mendapatkan dua tugas berbeda tetapi dengan satu judul yang sama. Ia mendapatkan tugas dari gurunya yang keesokan harinya harus dikumpulkan. Di sisi lain, ia mendapatkan tugas dari ibunya yang tertulis dibawah tudung saji. Sebenarnya, tugas apa yang Rizka dapatkan? Mengapa dengan judul sama tetapi kegiatannya berbeda?

Director statement:

Pola pendidikan semakin hari semakin berubah, menyita waktu khususnya aktifitas dirumah. Kadang sulit membedakan, mana pekerjaan rumah (PR) yang seharusnya dan mana tugas rumah yang semestinya.

Profile Sutradara:

Pelajar dari SMA NEGERI 1 MANYAR yang mulai menekuni dunia film bersama pelajar lainnya di ekstrakulikuler bernama “ Excinema ( Extra Cinematography Smanema ) “ yang kini ekstrakulikuler tersebut menjadi wadah dari potensi masing – masing anggota.

INDONESIA RAJA 2017 - JAKARTA

Programmer Release

MY WAY IN THE HARD CITY

“Kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibukota”, Kalimat seperti itu seringkali terdengar bagi siapapun yang ingin bahkan telah merasakan hidup di ibukota Jakarta. Arus globalisasi yang begitu cepat membuat problematika semakin meningkat dan manusia memiliki cara masing-masing untuk menghadapinya. Kota Jakarta, ibukota yang begitu keras dengan perjuangan yang penuh peluh dan keluh. Melalui keenam film ini peluh tergambarkan dan keluh diteriakkan.

PULANG, sebuah film animasi yang menghantarkan kita pada niat disertai usaha untuk tetap bertahan hidup disuatu tempat yang baru. Hidup perlu tujuan, lewat film documenter KANVAS DI ATAS KULIT kita berkaca pada kehidupan seorang wanita yang pantang menyerah hingga kegemaran membawanya pada sebuah pekerjaan. Tapi tidak sedikit pekerjaan yang rentan dengan kejahatan, seperti film thriller PENDAKIAN BIRAHI yang menggambarkan begitu besar resiko menjadi seorang wanita malam demi menjadi tulang punggung keluarga. Individualis menjadi ciri dari kota ini, tidak peduli dengan orang lain dan hanya peduli pada diri sendiri, I LOVE ME mewakili pemuda urban yang memiliki caranya sendiri untuk melihat sekitar. Kemudian PEKAK, menceritakan hidup penuh perjuangan dari seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai seorang buruh yang menuntut keadilan. SEBELUM PAGI DATANG menjadi penutup dari hari yang panjang tanpa cinta, hanya pahit dan perjuangan. Dan itu semua memang bagian dari kehidupan. Bagian dari Ibukota.

reting-usia-17+

Durasi total : 52’32’’

Rekomendasi Usia Penonton: 17+

Sinopsis


PULANG-KE-INDONESIA-film-pendek

PULANG KE INDONESIA ( GOING HOME TO INDONESIA)

Dessy Tri Anandani Bambang | Jakarta / 2017 / 04’40’’

Seorang anak yang lahir di Perancis lalu pulang untuk menetap di Indonesia, tempat yang baru pertama kali dia kenal.

Director Statement :

Film ini merupakan hasil workshop yang diselenggarakan Goethe Institut, Institut Francais D’Indonesie dan SAE Institute.

Short Bio Filmmaker :

Lahir di Prancis kemudian dibesarkan dan tinggal di Bandung. Lulusan desain komunikasi visual di Institut Teknologi Bandung dan saat ini bekerja sebagai freelance designer. Beberapa animasinya pernah memenangkan penghargaan baik nasional maupun tingkat regional (ASEAN).


KANVAS-DI-ATAS-KULIT-film-pendek

KANVAS DI ATAS KULIT

Cynthia Hana | Jakarta-Tangerang / 2016 / 07’49’’

Pekerjaan seorang tattoo artist perempuan di Ibu Kota, Jakarta.

Director Statement :

Keunikan seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang seniman tato.

Short Bio Filmmaker :

Seorang mahasiswi UMN tingkat akhir yang sangat menyukai dunia perfilman dan terutama dalam hal produksi. Sangat tertarik dengan hal-hal baru, dan aktif mengikuti perkembangan mengenai event film festival.


PENDAKIAN-BIRAHI-film-pendek[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

PENDAKIAN BIRAHI

Muhammad Rifqi Azzam | Jakarta / 2017 / 12’00’’

Digarap sebagai sebuah homage terhadap film-film seksploitasi Indonesia era 90an, Pendakian Birahi mengisahkan tentang seorang wanita panggilan yang membutuhkan biaya pengobatan untuk Ibunya dan menghadapkannya pada sebuah situasi yang mengancam nyawanya tanpa ia sadari.

Director Statement :

Di era 90an, sinema Indonesia sempat diramaikan dengan film-film seksploitasi murahan yang merupakan gabungan dari dialog-dialog menggelikan, akting para pemain yang kaku, plot yang nihil logika, dan usaha keras para pembuat film di masa tersebut untuk menciptakan adegan-adegan seksual yang di saat bersamaan terlihat digarap secara malas-malasan dan setengah-setengah. Formula-formula ini akhirnya melahirkan deretan judul-judul film lokal yang secara kualitas luar biasa berantakan namun luar biasa menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan.

Para pembuat film di era tersebut berlomba-lomba menjual tema-tema yang tabu dan kontroversial untuk menciptakan faktor shock value yang diharapakan dapat menarik masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan film-film panas tanah air yang juga bersaing dengan film-film bertema serupa dari luar negeri, seperti Hong Kong. Film-film macam ini menjamur cukup lama meski sempat ditentang oleh masyarakat di zaman itu.

Pendakian Birahi, merupakan sebuah surat cinta kecil-kecilan untuk film-film seksploitasi Indonesia 90an. Meyuguhkan kembali sisi absurd nan awkward dari film-film erotis yang menjamur di masa 90an, Pendakian Birahi diharapkan dapat membawa kembali penonton pada zaman keemasan film-film seksploitasi lokal.

Short Bio Filmmaker :

M. Rifqi Azzam lahir di Pekanbaru, 11 Agustus 1993. Seorang mahasiswa IKJ yang menggemari film-film horor eskploitatif. Ia juga menyenangi segala jenis film yang dianggap murahan macam film-film kelas B dari Polonia Bros. Entertainment, film-film India kelas D garapan Harinam Singh atau Kanti Shah, dan juga karya-karya dari sutradara Nayato Fio Nuala.

Beberapa film pendek yang pernah ia garap seperti “Stay” (2012), yang mengangkat tema nekrofilia, lalu “Hamba Setan” (2014), yang berupa sebuah trailer pendek homage terhadap film-film horor/mistik 80an Indonesia, kemudian pernah menggarap sebuah film pendek rape-and-revenge berjudul “Savage” (2014), dan sebuah film pendek horor supranatural “Knock, Knock” (2017).


I-LOVE-ME-film-pendek

I LOVE ME

Riska Talitha | Jakarta / 2016 / 05’40’’

Pemuda era digital lebih cenderung individualis. Kemudahan menggunakan sosial media dijadikan sarana mencari sorotan bagi diri sendiri. I LOVE ME menyajikan sisi berbeda dari pemuda urban yang justru menggunakan sosial media untuk melihat sekitar.

Director Statement :

Pada zaman sekarang, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan media sosial. Kebanyakan dari mereka bahkan terlihat tidak bisa lepas dari hal tersebut. Kapanpun dan dimanapun, mereka mendapatkan dan menyebarkan info update tentang diri mereka. Menyadari hal tersebut, sutradara berusaha membuat sebuah film berdasarkan dari fenomena ini,namun dari kacamata yang berbeda.

Short Bio Filmmaker :

Lahir di Denpasar, Bali 25 tahun yang lalu, Riska Talitha menyelesaikan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dengan peminatan Penyutradaraan. Film ini merupakan film perdana yang diikutsertakan dalam festival. Lahir dan besar di kota besar, membuat Riska merasa dekat dengan kehidupan urban.

Award :

1. Best Director Festival Film Pendek Pemuda Kreatif Indonesia 2016

2. Juara 1 Festival Film Pendek Kompas TV 2016


pekak-film-pendek[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

PEKAK ( THE BLARING SILENCE)

Jaka Wiradinata | Jakarta / 2016 / 07’04’’

Aktifitas rutin Rieke (29) seorang buruh pabrik setiap paginya adalah menyiapkan sarapan bagi anak dan suaminya. Pada pagi yang nampak biasa ini kesabaran Rieke diuji oleh anak bungsunya yang menangis keras (Idho, 6 tahun), anak sulungnya yang selalu menuntut (Salsa, 10 tahun) dan suami yang acuh (Slamet, 34 tahun).

Director Statement :

Berisiknya buruh, rengekan perusahaan, dan ignoransi dari pemerintah coba saya gambarkan di rumah seorang buruh pabrik (Rieke) yang menjalankan tugas ganda sebagai Ibu dan pekerja. Anak yang menangis dan menuntut hampir sepanjang film menggambarkan kondisi pekerja dan serikat buruh di Indonesia. Pak Slamet yang asyik dengan korannya hanya sekilas saja mengurusi keluarganya. Sang Ibu yang habis kesabarannya kemudian pergi diiringi tangis anak dan kekecewaan Pak Slamet yang tidak jadi makan telur rebus pagi itu.

Short Biografi Filmmaker :

Lulus dari Jurusan Ilmu Politik di Universitas Airlangga Surabaya, melanjutkan pekerjaan nya sebagai freelance director dan mulai merintis creative house bersama rekan rekannya di Jakarta. Memulai hobi membuat film di UKM Sinematografi Universitas Airlangga.


SEBELUM-PAGI-DATANG-film-pendek[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

SEBELUM PAGI DATANG (BEFORE MORNING COMES)

Asaf Kharisma Putra Utama | Jakarta / 2016 / 14’50’’

Seorang PSK dan Tukang Sapu jalan dipertemukan pada suatu malam di tepian jalan, saling berbincang dan bertukar kebaikan dengan cara mereka masing-masing.

Director Statement :

Kehidupan adalah sebuah rangkaian dari peristiwa, dimana dalam setiap peristiwa manusia akan mengalami pembelajaran mengenai kehidupan dan kebaikan di dalamnya.

Short Biografi Filmmaker :

Asaf Kharisma merupakan seorang sutradara yang lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2016 dengan peminatan penyutradaraan. Merupakan seorang sutradara yang berangkat sebagai director of photography. Beberapa karya filmnya adalah “Pertarungan Terakhir” (2015, sutradara), “Kampanye Taufik” (2014, director of photography), “Sudah Siap?” (2015, director of photography), “Senses” (2015, director of photography – bekerja sama dengan Kyung Sung University, Busan) dan “Titik Balik” (2014, sutradara).

Award :

Nominasi Plaza Indonesia Film Festival 2016, terpilih pada Digital Box Office Award & Screening 2017


INDONESIA RAJA 2017: PURBALINGGA

Canggih Setyawan
Programmer | CLC Purbalingga

Programmer Release

Sejarah, Budaya dan Kekinian.

Ditengah jaman yang serba modern dan berkembang, film tumbuh dengan berbagai fungsi dan peran. Film menjadi arena ekpresi, pertarungan ide, dan perlawanan. Keempat film; “Kukudan”, “Bonokeling”, “Luka di tanah merah” dan “Nyathil” dibuat dengan tujuan yang sama, hadir bercerita bagi minoritas. Minoritas atau kaum marjinal selalu diabaikan, suaranya dianggap remeh dan tidak di dengar. Film “Luka di Tanah Merah” mencoba membungkus film menjadi media rekonstruksi peristiwa sejarah, meski itu luka. Film “Bonokeling” dan “Kukudan”, sebagai pengenang masa, dengan fungsi rekamnya, dan film “Nyathil”, satu-satunya film pendek garapan pelajar menjadikan film sebagai media bercerita, dengan kritik didalamnya. Selamat menonton teman-teman. Rayakan!

reting-usia-13+

Durasi total : 60 menit

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


LUKA-DI-TANAH-MERAH-film-pendek

Luka di Tanah Merah

Bowo Leksono| Dokumenter| 2016| 20’00”| AJI Kota Purwokerto, CLC Purbalingga, dan STaM

Sejumlah wartawan menelusur wilayah konflik tanah di Cilacap Barat. Lewat tokoh pejuang tani, Petrus Sugeng, mereka mendatangi dan menggali data para pejuang tani lain yang tanah leluhurnya dirampas Negara sejak puluhan tahun silam. Terkuak, peristiwa perampasan tersebut bagian dari rangkaian sejarah penumpasan pemberontakan dengan petani sebagai korban hingga hari ini.

[/ap_column]
[/ap_column_wrap]


KUKUDAN-film-pendek
[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

Kukudan

Bowo Leksono| 12’03”| 2016| Fiksi| Dinporabudpar Kabupaten Banyumas

Sanurji, pimpinan Sanggar Lengger Kamajaya menurunkan plang di depan pendapa tempat mereka berlatih, lantaran ia sudah tak mampu lagi mempertahankan idealisme berkesenian di tengah modernitas dan tindakan sewenang-wenang pihak luar.


BONOKELING-film-pendek

Bonokeling

BowoLeksono| 19’00”| 2016| Dokumenter| DinporabudparKabupatenBanyumas

Dokumenter ini selain menggambarkan bagaimana riuh dan kuatnya tradisi Unggah-Unggahan dan Udunan, juga latar warga penganut kepercayaan Bonokeling. Lewat juru kunci Kyai Sumitro, dijelaskan banyak hal terkait seluk-beluk anak-putu Bonokeling dan segala kegiatan tradisi dan kesehariannya.


NYATHIL-film-pendek

Nyathil

Anggita Dwi Martiana| 08’56″| Fiksi| 2017| Saka Film SMK Muhamadiyah Bobotsari

Ahmad, seorang pelajar SMK berusaha membongkar dugaan praktik tindak pidana korupsi di desanya yang dilakukan kepala desa dan perangkatnya terkait program bantuan renovasi rumah warga miskin. Tak mudah bagi Ahmad, karena ancaman bahkan secara fisik pun dialamainya.

INDONESIA RAJA 2017: SEMARANG

Cynthia Astari
Programmer | Semarang

Programmer Release

“BERKELINDAN DENGAN ADAPTASI”

Manusia adalah makhluk sosial, Oleh karena itu, dalam menjalani hidup, manusia memerlukan proses adaptasi untuk tumbuh dan berkembang; atau setidaknya untuk bertahan beriringan dengan sesama. Adaptasi dapat dilihat dengan dua kemungkinan; sebagai masalah atau pembelajaran. Ketika manusia melihatnya sebagai proses yang mengantar mereka pada masalah-masalah, ini akan berujung pada ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan barunya secara efektif. Akibatnya, akan muncul kecenderungan untuk mempertanyakan jati dirinya karena perubahan identitas yang dialami. Namun, ketika manusia melihatnya sebagai proses yang mengantar mereka pada pembelajaran, maka manusia tersebut memiliki kesempatan untuk memahami dirinya lebih dalam dan membangun kesadaran penuh atas dirinya.

Ketika proses adaptasi tadi dihargai, baik dirupa menjadi proses pembelajaran atau gudang masalah, maka terciptalah kemungkinan-kemungkinan. Boleh jadi manusia semakin lebur dengan sekitarnya; boleh jadi ia kembali pada semestanya. Melalui film-film pilihan dalam program, programmer mengajak penonton untuk berkelindan dengan adaptasi. “Semua Berhak Bahagia” akan mengantar penonton pada cerita sederhana yang memvisualisasikan bagaimana seluruh makhluk, di berbagai lapisan, tanpa kecuali, berhak bahagia. Kehidupan pesisir pantai dalam “Samudro” dibawakan dari perspektif seorang anak mencoba memahami kehidupan. “Sekolah Taman Langit” pun membawa cerita tentang upaya bertahan hidup seorang pengemis jalanan yang buta aksara. Sementar dokumenter “Menganyam, Piyan” berkisah tentang seorang penyandang disabilitas yang pada akhirnya berupaya keras agar tidak dipandang sebelah mata dengan keadaannya saat ini. “Don’t Blame” bicara tentang perdebatan orientasi seksual dan stereotip gender, yang keduanya sarat proses adaptasi, karena tidak serta merta diterima di masyarakat. Dan film penutup, “Lembayung”, akan mengakhiri perjalanan program dengan kisah seorang anak yang hidup jauh dari orang tuanya. Ia mencoba beradaptasi di lingkungan barunya, namun belum berhasil; tidak memiliki pekerjaan tetap di kota orang, sendirian, dan yang terparah, ia dilanda rindu.

reting-usia-13+

Durasi total : 66’25”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


SEMUA-BERHAK-BAHAGIA-film-pendek
[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

Semua Berhak Bahagia

Bancax Soekiman/Semarang/2016/7’40”

Tuhan tidak pernah pandang bulu dalam memberi kebahagiaan pada makhluknya.

Profile Sutradara:

Bancax Soekiman lahir di Demak, 4 Juni 1976


samudro-film-pendek

Samudro

(Ghani Ramadhan/Semarang/2016/15’)

Samudra selalu teringat kata-kata ibu gurunya, Bu Narti, bahwa kebanggan sebagai bangsa Indonesia salah satu negara maritim, yang tergambarkan dalam lagu “Nenek Moyangku”. Samudra sadar, ternyata kebanggan Indonesia itu bukan hanya sarana fisik seperti Candi
Borobudur yang cukup termasyur, Hutan Mangrove terbesar di dunia, namun Indonesia juga memiliki kebanggaan yang tak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, yaitu budaya gotong-royong dan kerukunan serta penduduk yang ramah tamah dan gemar menolong tanpa pamrih.

Award :

  1. Juara 1 Lomba Film Pendek Oceanvolution (2016)
  2. Special Mention Festival Film Batavia “INSOMNIA” (2016)
  3. Juara 3 Lomba Film Pendek Polines (2016)
  4. Juara 1 FFPJ (2016)
  5. Juara 1 Lomba Film Pendek Jateng DIY (LFPJDIY UNNES) (2016)
  6. Special Mention Kategori Pelajar 2nd JFA Short Film Competition (2016)
  7. Penata Artistik Terbaik Festival Film Surabaya (2016)

Statement Sutradara :

Film ini mengingatkan kepada penonton bahwa budaya dan keindahan alam Indonesia mulai dari Candi Borobudur, Hutan Mangrove terbesar di dunia, dan sebagainya. Masyarakatnya selalu mengikat tradisi setempat. Adegan tersebut mencerminkan dari kehidupan pesisir pantai.

Profil Sutradara :

Aktif sebagai siswa kelas XII D1 di SMK Negeri2 Pati. Menjadi pengurus OSIS dan Senior Pramuka. Mengikuti kegiatan ekstra di sekolah seperti broadcasting, teater, dan sinematografi. Lomba yang pernah diikuti diantaranya lomba fotografi dan lomba film pelajar. Ia pun pernah menjadi pemain figuran di film “Pahlawanku”, menjadi sutradara dan penata kamera video klip untuk tugas sekolah, kameraman film “500”, dan sutradara film “Update”.


SEKOLAH-TAMAN-LANGIT-film-pendek

Sekolah Taman Langit

Bagus Pradikta/Semarang/2017/8’

Jarwo seorang guru bertemu dengan pengemis, pengemis tersebut meminta kepada Jarwo namun Jarwo tidak menanggapinya. Tak jauh dari situ terlihat tulisan larangan memberikan sumbangan pengemis, Jarwo menjelaskan ke anak tersebut soal tulisan itu karena anak tersebut
tak bisa membaca. Anak tersebut masih terus meminta, Jarwo pun dikagetkan dengan permintaan anak tersebut yang kali ini meminta untuk disekolahkan agar bisa membaca.

Statement Sutradara :

Mencoba menerjemahkan imajinasi lewat visual film.

Profil Sutradara :

Bagus Pradikta lahir di Kendal, 24 tahun yang lalu, kuliah di Universitas PGRI Semarang semester
akhir. Pernah membuat beberapa film pendek dengan komunitas Wolfy Crew. Film adalah magic
bagi saya karena film merupakan terjemahan dari apa yang saya imajinasikan.


menganyam-piyan-film-pendek

Menganyam, Piyan

Aji Kusuma Admaja/2017/9’55”

Kehilangan satu kaki tak melemahkan mental dan semangat Tokhidul Mihbar (34 Tahun) dalam menjalani hidup. Ia tak ingin dibelas kasihani, melalui ketrampilannya mengolah anyaman bambu, Dul selalu berupaya menjadi yang terbaik bagi diri dan keluarganya.

Statement Sutradara :

Film adalah media ungkap, dan melalui film ini (Menganyam, Piyan) saya berupaya mengungkap
bahwa tidak selamanya tragedi adalah hal yang pantas diratapi.

Profil Sutradara :

Eksperimen memproduksi film pendek sejak tahun 2013, mempunyai ketertarikan tinggi untuk
berdiskusi seputar film, sastra dan budaya.


dont-blame-film-pendek

Don’t Blame

Shifaur Riham/Jember/2016/5’40”

Liya (23) sedang menikmati kesendiriannya di halte bus kota, sedangkan Sofi (25) tak sengaja kakinya terkena kotoran dan membersihkannya di tempat itu juga. Liya melihat keanehan pada gestur dan perilaku Sofi, begitu pun sebaliknya.

Screening perdana di EDITOUR (Workshop Editing) by INAFEd pada 30 Oktober 2016

Statement Sutradara :

Toleransi kesetaraan gender menjadi hal yang sensitif beberapa tahun belakangan ini dan seringkali menjadi perbincangan publik bahwa hal itu salah. Diskriminasi kaum minoritas menjadi bahan bully dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kodratnya manusia
dilahirkan di dunia dengan suci tanpa dosa, entah pria maupun wanita, di mana seiring berkembangnya fisik dan jiwa yang bertolak belakang maka merekalah yang merasakan. Sebaiknya kita sebagai makhluk sosial saling menghargai wujud dan bentuknya jika memang hal
itu tidak merugikan satu sama lain. Maka di situlah timbul rasa kepedulian kami untuk berkomunikasi dan berbagi informasi melalui film.

Profil Sutradara :

Lahir di Pati, 2 Maret 1996. Merupakan mahasiswa perfilman Jogja Film Academy angkatan 2015. Pernah terlibat dalam beberapa produksi film pendek, yaitu “Jiwo Rogo” (Action/2015/Writer & Director), “Getih Balung” (Action/2015/Director & Editor), “Eat Happiness” (Drama/2016/Writer, Director & Editor), dan “Don’t Blame” (Drama/2016/Director & Editor).


Lembayung-film-pendek

Lembayung

Sony Surya Riza/Yogyakarta/2016/20’

Agus (32) yang menganggur di kota rindu akan Ayahnya yang tinggal sendiri di desa.

Award :

  1. Screening perdana di Jogja Film Academy di tahun 2016
  2. Tata Suara Terbaik Tebas Award 2017
  3. Cerita Terbaik Tebas Award 2017
  4. Penata Gambar Terbaik Tebas Award 2017
  5. Penyutradaraan Terbaik Tebas Award 2017
  6. Penata Artistik Terbaik Tebas Award 2017
  7. Pemeran Utama Terbaik Tebas Award 2017

Statement Sutradara :

Di film ini saya memfilmkan sudut pandang dan perasaan-perasaan yang terekam oleh pemikiran saya, datang dari memori masa kecil saya hingga sekarang, tentang melihat sebuah keluarga dan mencoba menggambarkannya melalui sebuah film fiksi pendek. Cerita tentang ayah dan anak laki-laki dewasa dengan kondisi di mana mereka mengalami gesekan generasi yang membuat mereka seakan berjarak sebagai sebuah keluarga. Janji kepada ayah membuat ia harus pulang. Melalui dua karakter ini saya ingin memperlihatkan bagaimana mereka menjalani proses kesendirian, kerinduan dan membuat dua proses itu berjalan bersamaan dalam satu waktu.

Profil Sutradara :

Lahir 16 September 1996. Ia mempelajari film di Jogja Film Academy. Di tahun 2015, film “Rantang” menjadi project pertamanya sebagai Director of Photography dan di 2016 berhasil menerima penghargaan sebagai Best Cinematographer di Tebas Award 2016.


https://www.youtube.com/watch?v=6la-5nyeLEA

INDONESIA RAJA 2017: SUMBAWA

Yuli Andari
Programmer | Sumbawa Cinema Society

Programmer Release

Dua Pertanyaan Tentang Laut

Laut dan problematika masyarakat pesisir menjadi benang merah yang mengikat dua film pendek yang saya pilih untuk program Indonesia Raja 2017 dari Sumbawa. Tema tentang laut sebenarnya sudah tidak asing dan banyak diangkat oleh para sineas di Indonesia, termasuk dua film pendek yang saya seleksi ini. Namun, nilai lokalitas yang sangat kental dan dilihat dari perspektif ‘orang luar’ membuat film ini terasa objektif. Kedua film ini disutradarai oleh Anton Susilo, pria kelahiran Yogyakarta yang sejak 2014 menetap di Sumbawa namun sejak 2005 sudah cukup mengenal kondisi sosial budaya masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya Sumbawa.

Film pertama berjudul “Haruskah Ke Negeri Lain” yang diproduseri oleh Yayasan Kampung Halaman Yogyakarta pada tahun 2014 ini bercerita tentang seorang gadis remaja lulusan SMA yang memiliki mimpi besar untuk membahagiakan kedua orang tuanya untuk menjadi TKW ke Malaysia. Sebagai anak nelayan, ia sangat menyadari bahwa laut saat ini tidak bisa diharapkan oleh ayahnya untuk menghidupi keluarganya dan dia harus berusaha mencari sumber penghasilan lain yang lebih bisa diandalkan untuk jaminan hidup lebih baik. Sedangkan film yang kedua berjudul “Menari Di Atas Ombak” (Anton Susilo, 2016) adalah film hasil workshop Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang diadakah di Gili Air, NTB. Film berdurasi 8 menit ini menyinggung soal tradisi yang masih dianut oleh masyarakat pesisir mengenai laut. Mereka percaya laut masih bisa dijinakkan dengan cara memberi sesajian pada ‘penguasa’ laut seperti yang dilakukan oleh para leluhur mereka di masa lalu. Dengan begitu, laut yang sudah tidak bisa diandalkan, akan memberikan hasil yang melimpah.

Kedua film di atas sama-sama mengutarakan pertanyaan tentang laut sekaligus menawarkan dua jawaban yang berbeda. Film pertama menjawab dengan pesimis bahwa laut masih bisa diandalkan untuk menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir, buktinya si Mae mencari jalan lain sebagai tulang punggung keluarga agar keluarga nelayan tersebut bisa menlanjutkan kehidupan yang layak. Sementara film kedua bernada optimis dan percaya bahwa laut punya kearifannya sendiri untuk memberi rezeki dalam kehidupan manusia sehingga Iddenk perlu menjinakkan laut dengan ritual sesajian yang sudah dilaksanakan sejak zaman leluhurnya.

Namun, apakah problematika masyarakat pesisir ini adalah isu lokal dominan di Sumbawa? Tentu saja tidak. Sesungguhnya dua film ini tidak mutlak menjadi representasi persoalan lokal di Sumbawa hal ini semata-mata karena urusan teknis. Banyak film yang diproduksi yang mengangkat tema tentang persoalan lokal di Sumbawa berduarasi lebih dari 20 menit. Beberapa isu lokal yang dimunculkan dalam film pendek produksi sineas Sumbawa antara lain tentang buruh migran, kehidupan bersahaja peternak Sumbawa, kisah joki pacuan kuda, atau tentang seni tradisi yang nyaris punah karena tidak ada generasi muda yang mau meneruskannya. Film–film ini dibuat kebanyakan untuk kepentingan tayangan program film dokumenter pendek televisi (durasi 24 menit). Seandainya durasi bukan hal yang membatasi dalam IR2017 pastilah tema-tema ini akan memperkaya referensi penonton yang ingin tahu soal Sumbawa. Di sisi lain, para sineas Sumbawa sendiri perlu menambah referensi bahwa segmen film pendek yang durasinya dibawah 20 menit memiliki segmen dan ruang eksibisinya sendiri seperti yang dilakukan program ini.

Selamat menonton.

Sumbawa, akhir Mei 2017
Yuli Andari Merdikaningtyas

rating-usia-15+

Durasi total : 23 menit

Rekomendasi Usia Penonton: 15+

Synopsis:


Bungin-film-pendek

HARUSKAH KE NEGERI LAIN

Anton Susilo / Sumbawa / 2014 / 15 menit, 31 detik

Maesarah (17 tahun) adalah satu dari remaja dari Pulau Bungin, pulau yang didiami komunitas Bajau di Sumbawa. Ia anak nelayan yang ingin memperbaiki kehidupan keluarganya dengan bekerja di Malaysia. Untuk dapat dikirim ke Malaysia, SMK tempat Maesarah (Mae) bersekolah meminta calon pekerja seperti Mae untuk menyiapkan biaya sebesar 2 juta rupiah. Saat Mae mencari informasi dari tetangga yang sudah memberangkatkan anak mereka ke Malaysia, dia menemukan adanya indikasi jaring laba-laba seputar biaya keberangkatan yang melibatkan pihak sekolahnya.

Profil Sutradara:

Anton Susilo, lahir di kota Yogyakarta, saat ini berdomisili di Sumbawa Besar dan pernah mengenyam pendidikan formal di program studi broadcasting Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada. Pada tahun 2005 ia membuat dokumenter bersama Yuli Andari berjudul Joki Kecil dan film ini terpilih sebagai Film Terbaik Eagle Awards Documentary Competition 2005.


MENARI-DI-ATAS-OMBAK-film-pendek

MENARI DI ATAS OMBAK

Anton Susilo / Gili Air, Lombok / 2017 / 8 menit

Iddenk, seorang pemuda pesisir berumur 24 tahun, mempunyai kekwatiran terhadap laut tempat ia mencari rezeki yang sudah tidak bisa diandalkan. Lalu ia mencoba untuk melakukan sebuah tradisi yang dulu pernah dilakukan para leluhurnya, yaitu memberikan persembahan kepada laut. Ia melakukan ini setelah terjadi komunikasi dengan penghuni laut yang dipercayainya datang lewat mimpi.

Profil Sutradara: 

Anton Susilo, lahir di kota Yogy akarta, saat ini berdomisili di Sumbawa Besar dan pernah mengenyam pendidikan formal di program studi broadcasting Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada. Pada tahun 2005 ia membuat dokumenter bersama Yuli Andari berjudul Joki Kecil dan film ini terpilih sebagai Film Terbaik Eagle Awards Documentary Competition 2005.

INDONESIA RAJA 2017: SURABAYA

Fadhli Zaky
Programmer | Independen Film Surabaya (INFIS)

Programmer Release

“KEJAMNYA DUNIA TAK MEMBUAT KITA LENGAH”

Berkembangnya dunia secara pesat memiliki pengaruh signifikan terhadap generasi X dan generasi Y. Apa yang kita sebut sebagai generasi milenia atau generasi Y semakin membingungkan pikiran generasi X sebagai generasi sebelumnya. Apakah kamu tergolong sebagai generasi milenia ? Yakni generasi yang saat ini berusia sekitar 15-35 tahun.

Seiring dengan berkembangnya generasi maka berkembang pula pemikiran-pemikiran yang kini bebas untuk disampaikan. Ada banyak cara dalam mengatasi masalah, dan ada banyak pula masalah yang harus diselesaikan dengan berbagai macam cara. Cara-cara ini kadang tidak masuk akal dan tidak pernah terlihat disekitar kita, namun mereka ada.

Mereka melawan kekejaman dunia dengan cara mereka sendiri yang bervariasi. Mereka yang tadinya bungkam kini mulai jujur dan berani menyatakan pendapat secara tegas. Meskipun tidak sering cara yang dilakukan hanya menimbulkan masalah baru atau justru itu adalah jalan buntu.

Mungkin tidak semua orang dapat seberuntung filmmaker yang telah berhasil mengikuti seleksi program Indonesia Raja 2017 regional Surabaya. Mereka berhasil menceritakan hal-hal yang jarang ditemui namun ada dan tersembunyi di belahan sudut dunia. Dimulai dari film “Dunia Juga Berdering” yang menunjukkan bahwa masih ada dunia lain dibalik dunia serba digital saat ini. Bahwa manusia masih bisa hidup tanpa menyentuh gadgetnya seharian. Terkadang kita merasa sering kesepian dan tidak dapat lepas dari gadget. Padahal gadget itu sendirilah yang mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat.

Kemudian disusul oleh “Score”, berniat untuk mengubah nasib justru mendapatkan kesialan. Kita sebagai generasi milenia memang menyukai hal-hal yang serba instan dan cenderung tidak menyukai usaha yang berlebih. Kita selalu beranggapan bahwa dunia yang serba cepat ini harus diiringi dengan cara meraih sukses yang cepat pula. Tidak jarang pula kesuksesan yang cepat berakhir dengan kegagalan yang cepat, disanalah kejamnya dunia (yang dibuat oleh manusia sendiri) dapat ditemukan.

Sama halnya dengan “Setetes Koin” yang menggambarkan dengan jelas keadaan dan pola pikir manusia saat ini. Saat alam mulai marah dengan pola pikir manusia, maka kejamnya dunia akan segera dirasakan.

Saya merasa bahwa dengan terbukanya pola pikir manusia, dan disahkannya cara berpendapat yang bebas semakin memberikan pengaruh baik terhadap film Indonesia. Pembuat film yang dulu mengada-ngada kini mulai jujur untuk menyampaikan pemikirannya dan apa yang ada di sekitarnya secara jelas. Film-film ini seolah-olah mengedukasi manusia bahwa ada sisi lain dalam kehidupan yang begitu kejam dan memaksa manusia untuk melakukannya dibawah alam sadar mereka.

“Cheated”, “Kidnap”, dan “Mata Telanjang” mampu membawa emosi penonton sedemikian rupa dan membuka mata kita untuk melihat perspektif baru menghadapi tantangan zaman yang semakin ekstrim. Manusia dituntut untuk tidak lengah dalam menghadapi kejamnya dunia dengan berbagai cara yang bervariasi. Cara-cara ini cenderung tidak masuk akal, bahkan kita tidak pernah mengalaminya dalam kehidupan nyata.

Ditutup dengan “Di Bioskop” yang menceritakan bahwa generasi masa kini mampu membawa hal-hal baru untuk mengatasi masalah-masalah (yang kejam) secara ringan dan membuat kita menertawakan diri sendiri. Mungkin kita tidak dapat lepas dari kapitalis, namun tanpa disadari kita melawannya dengan cara-cara yang kadang tidak disadari.

Waktu membawa kita masuk kedalam ruang-ruang asing seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia yang pesat. Waktu akan tetap bergerak meskipun kita diam. Ketidakadilan selalu hadir setiap saat atas keserakahan sebagai bumbu kehidupan yang hakiki. Ketika kejujuran dibungkam, dan kekejaman dunia dirasa tidak membuat kita lengah, maka hanya ada satu kata yang perlu diucapkan. Lawan!

reting-usia-13+

Durasi total : 69 Menit 5 Detik

Rekomendasi Usia Penonton: 18+
[/ap_column]
[/ap_column_wrap]

Synopsis:


DUNIA-JUGA-BERDERING-film-pendek

Dunia Juga Berdering

(Taufik M. Aditama | Kinne Komunikasi UPN Surabaya / 2016 / 5’00”)

Tidak ada Gadget

Statement Sutradara: Sebuah film pendek yang saya arahkan ke kampung halaman sayadengan menggunakan bahasa lokal dan betapa mudahnya orang desa dengan ketiadaan gadget. Mereka belajar mensosialisasikan keterampilan yang tidak bisa diajarkan gadget.

Profil Sutradara: Taufik adalah sutradara iklan yang berangkat dari komunitas film indie. Jejaka ini kebelet kawin sehingga film – filmnya kini berwarna parenting dan pendidikan anak.


SCORE-film-pendek

Score

(Ricky Wijaya | Universitas Ciputra Surabaya / 2016 / 9’17”)

Film pendek ini adalah film komedi thriller yang menceritakan mengenai perjuangan seorang mahasiswa di kelasnya. Moral dari film adalah agar kita selalu berusaha keras pada apa yang dilakukan dan bahwa proses adalah hal yang paling penting. Saya memberikan plot twist di akhir film agar film semakin menarik.

Award :
1. Best Cinematography Video Design Internal VCD Universitas Ciputra
2. Best Film Video Design Internal VCD Universitas Ciputra

Statement Sutradara :
Ricky Wijaya (20) adalah mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Universitas Ciputra Surabaya, Indonesia. Ia lahir dan besar di Yogkayarta-kota seni, bertahun-tahun ia jatuh cinta dan mengembangkan passionnya di sinematografi dan videografi. Pada Desember yang lalu, Ricky dan timnya memproduksi film pendek pertama mereka yaitu “Score” yang disutradarai oleh Ricky Wijaya.

Profil Sutradara :
Ricky Wijaya (20) adalah mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Universitas Ciputra Surabaya, Indonesia. Ia lahir dan besar di Yogkayarta-kota seni, bertahun-tahun ia jatuh cinta dan mengembangkan passionnya di sinematografi dan videografi. Pada Desember yang lalu, Ricky dan timnya memproduksi film pendek pertama mereka yaitu “Score” yang disutradarai oleh Ricky Wijaya.


SETETES-KOIN-film-pendek[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

Setetes Koin

(Rizki Kurniawan | Sinematografi Airlangga / 2016 / 05’48”)

Apakah bisa setetes koin menggantikan setetes air ?

Award :
1. Film inspirasi terbaik festival film pendek pemuda kreatif Indonesia 2016 (FFPPKI)

Statement Sutradara :
The best education on film is making one

Profil Sutradara :
Seorang mahasiswa asal Surabaya. Saat ini berkuliah di Universitas Airlangga, Prodi Sastra Indonesia. Doakan satu tahun lagi lulus. Amin


CHEATED-film-pendek

Cheated

(Helena Lorentia | UK Petra Surabaya / 2016 / 15’00”)

Yuri curiga suaminya selingkuh, tapi ternyata ada rahasia lain yang ditemukannya

Statement Sutradara :
If you don’t believe in happy endings, go & watch

Profil Sutradara :
A filmmaker who loves music a lot.


KIDNAP-film-pendek[/ap_column]
[ap_column span=”4″]

Kidnap

(Indah Sari Yosodiharyo | UK Petra Surabaya / 2016 / 14’41”)

Seorang pria yang salah menculik orang dihadapkan pada dua pilihan ; melepaskan seseorang yang tidak bersalah atau menyelamatkan dirinya sendiri dari masalah yang ia hadapi.

Statement Sutradara :
Melalui film ini saya ingin menunjukkan betapa kaburnya batasan antara apa yang baik dan buruk.

Profil Sutradara :
Seseorang yang memiliki impian besar dalam dunia perfilman dan ingin mencoba hal-hal baru.


MATA-TELANJANG-film-pendek

Mata Telanjang

(Muhammad Ridho Prasetiawan | Surabaya / 2017 / 09’48”)

Ditemani sekipas pisang dan siaran radio, seorang Ibu menikmati sisa kehidupannya di balik jendela rumah. Bayangan sang anak tiba-tiba muncul dengan lirih mengganggu ketenangan ibunya, yang sangat paranoid dengan pakaian yang ia kenakan.

Award :
1. Finalis Kompetisi Film Pendek Pekan Komunikasi Universitas Indonesia 2017

Profil Sutradara :
Masih mahasiswa dan ingin lulus.


DI-BIOSKOP-film-pendek

Di Bioskop

(Bias G. Wicaksi | Click dan GSM Production / 2016 / 10’56”)

Dono sedang bercerita kepada Ubed tentang pengalaman buruknya di Bioskop

Award :
1. Festival Kecil
2. Pesta Film Airlangga
3. Pesta Film Solo
4. Bioskop Festival Kesenian Yogyakarta

Statement Sutradara :
Di Bioskop lahir dari situasi nyata yang saya alami

Profil Sutradara :
Lahir di Surabaya dan sedang menyelesaikan studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember

INDONESIA RAJA 2017: TANGERANG

Putri Harbie & M. Hutomo Syaputra (Ast.)
Programmer | Minikino

Programmer Release

MENEGAKKAN POHON TANPA AKAR (TREE WITHOUT ROOTS)

Tangerang menjadi daerah yang dihuni berbagai etnis dari seluruh penjuru Nusantara. Hiruk pikuknya bagaikan bias warna dari warga Ibukota. Dari isu agama, klenik sampai predikat sebagai ‘manusia buangan’. Indonesia terkenal dengan keberagamannya, hal ini seharusnya dimaknai lebih dalam dari sekedar predikat.

Karya film pendek memiliki banyak lapisan-lapisan, yang tidak menjadi perhatian kita saat menonton film berdurasi penuh. Film pendek mengizinkan penonton untuk sadar bahwa dunia penuh dengan karakter yang bisa berkembang dari waktu ke waktu. Sutradara film pendek harus mampu menularkan visi pada tim produksi demi penuturan cerita optimal yang melibatkan visual, audio dan perasaan.

Lewat film “Tembok” kita melihat pubertas anak-anak daerah perkampungan yang terhimpit di daerah developer perumahan mewah. Karakter “Wei” yang mengenalkan kita pada cara berpikiran terbuka terhadap perbedaan di lingkungan keluarga. “Cayasukma” memiliki keberanian untuk keluar dari sistem stratifikasi sosial meski melanggar moral masyarakat setempat. Film selanjutnya memperlihatkan kita kehidupan nyata dari para narapidana yang sering dipandang “Sebelah Mata”.

reting-usia-13+

Durasi total : 64’04”

Rekomendasi Usia Penonton: 13+

Synopsis:


tembok-film-pendek

Tembok (The Wall)

Dir. Brandon Omar Hetarie | TANGERANG / 2017 / 9 menit 42 detik

Seorang pemuda ingin berenang bersama para perempuan cantik keturunan Tionghoa-Indonesia di kolam renang perumahan mewah yang berada dibalik tembok kampungnya.

Statemen Sutradara:
Represi adalah hasrat atau keinginan yang ditahan. Represi akan hasrat seksual meningkat pada masa pubertas seiring dengan rasa ingin tahu yang bergejolak. Perjuangan melawan represi pada masa pubertas adalah tahap awal seseorang menuju kedewasaan. Pada remaja yang baru memasuki masa pubertas, perjuangan tersebut tidaklah mudah. Terkadang yang mampu membebaskan seseorang dari represi adalah pikirannya sendiri.

Short Bio Sutradara:
Brandon Omar Hetarie, 20 tahun, sutradara. Brandon adalah mahasiswa jurusan Film dan Televisi Universitas Multimedia Nusantara angkatan 2014. Selama menjadi mahasiswa Film UMN, Brandon telah menghasilkan beberapa karya film sebagai sutradara, di antaranya “Posesif” (2016), “Close Enough” (2016), dan “Tembok” (2017). Selain menjadi sutradara, Brandon juga pernah menjadi Director of Photography dan Editor film “Ngantuk” (2016), editor film “Miss-ed” (2016), dan penata musik film “Ngantuk” (2016), “Miss-ed” (2016), dan “Tembok” (2017).


wei-film-pendek

Wei

Dir. Samuel Rustandi | TANGERANG / 2016 / 22 menit 01 detik

Mei, seorang perempuan mualaf keturunan Tionghoa-Indonesia berusaha berdamai dengan ayahnya (pemilik kedai Bak Kut Teh) lewat opor ayam Ramadhan buatannya.

Statemen Sutradara:
Siapapun kamu, Hidangan yang hangat menyatukan kita melalui rasa.

Short Bio Sutradara:
1994 Lahir, layaknya anak kecil, gemar menonton film-film kartun Disney, 2004 belajar animasi, 2012 lulus SMA masuk IKJ mengambil program FFTV jurusan Penyutradaraan. Sekarang hanya tukang aduk mie instant di kedai.


Cayasukma-film-pendek

Cayasukma (The Lightdancer)

Dir. Andra Fembriarto | TANGERANG/ 2017 / 16 menit 45 detik

Alya, seorang gadis penambang cahaya ingin mempersembahkan tari terlarang ‘Kirakira’ dengan bantuan ayahnya untuk membangkitkan suatu mahluk.

Statemen Sutradara:
“Cayasukma” adalah film pendek terbaru dari Andra Fembriarto. Kisah ini merupakan sebuah drama keluarga di dalam sebuah dunia khayal yang tegugah oleh kebudayaan-kebudayaan dari Indonesia. Sudah sejak lama Andra ingin membuat film fantasi Nusantara dan berkat kerja sama dengan rekan-rekan kreatifnya, film “Cayasukma” pun tercipta juga.
Indonesia memiliki sejarah panjang dalam memproduksi film-film fantasi namun kebanyakan film tersebut dibungkus dalam kisah horor atau silat. Andra ingin melihat sebuah sudut pandang baru dalam kisah-kisah khayal yang relevan untuk penonton Indonesia yang sekaligus memiliki ikatan kuat dengan budaya.
“Cayasukma” berdurasi 16:50 menit namun harapannya adalah kisah itu dapat hidup lebih lama lagi di hati para penonton dan semoga dapat menambah khazanah film fantasi dari Indonesia.

Short Bio Sutradara:
Andra Fembriarto adalah seorang penulis, sutradara, dan videografer yang telah menghasilkan karya webseries yang bersifat hiburan dan pendidikan seperti Jalan-Jalan Men, Jurnal Indonesia Kaya, Cinta itu Bisnis, Bulan-Bulanan dan Sunset on a Rooftop. Andra juga telah menghasilkan film-film pendek yang mendapatkan penghargaan seperti Pohon Penghujan, Sinema Purnama, dan Gamelan Noise. Andra lulus dari jurusan Komunikasi dari University of Technology Sydney pada tahun 2007. Impiannya adalah membuat film-film bertemakan fantasi dan menulis novel fiksi yang tergugah oleh Nusantara.


sebelah-mata-film-pendek

Sebelah Mata (See with Half Eye)

Dir. Rayhani Rizkiana | TANGERANG/ 2016 / 15 menit 36 detik

Dokumenter ini menunjukkan kehidupan para narapidana di dalam Rumah Tahanan Kelas I Tangerang yang jarang dilihat masyarakat.

Statemen Sutradara:
Kebanyakkan orang beranggapan jika penjara adalah tempat yang menyeramkan dan berisi orang-orang jahat, namun kenyataannya tidak sepenuhnya benar. Dokumenter ini membangun suasana yang berbeda antara ekspektasi penonton dan kenyataan.

Short Bio Sutradara:
Rayhani Rizkiana atau lebih akrab dipanggil Ihan, lahir 11 September 1995 di Tangerang. Sebelah Mata merupakan film tugas akhirnya di jurusan Desain Komunikasi Visual, peminatan sinematografi, Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.


INDONESIA RAJA 2017: YOGYAKARTA

Panji Prawira
Programmer | FFPJ (Festival Film Pelajar Jogja)

Programmer Release

INDONESIA RAJA 2017 – Yogyakarta
“JAWA LUPA DARATAN”

Film Pendek tidak hanya sekadar film berdurasi layar yang sedikit, namun ada hal-hal yang bisa didiskusikan secara mendalam pada unsur Film Pendek. Pada saat ini film-film Pendek menjadi sarana pembuat film untuk mengungkapkan pengalamannya kepada khalayak. Dimana tidak sedikit pula pengalaman-pengalaman pembuat film pendek pun juga dialami oleh penonton, sehingga relasi penonton dan pembuat film terjalin begitu kuat melalui komunikasi dengan media film pendek tersebut.

Melalui program dengan tajuk “Jawa Lupa Daratan” bukan berarti penulis ingin memberikan konotasi negatif dalam kalimat itu, namun lebih cenderung diasosiasikan sebagai karakter yang telah merubah pandangan serta identitasnya. Adapun penilaian perubahan yang muncul, karena setiap individu memiliki sudut pandang masing-masing dalam memaknai
perubahan itu sendiri.

Keempat film pada program ini adalah cerita-cerita yang begitu dekat dengan kejadian-kejadian yang sering terjadi dilingkungan sekitar. Cerita pada keempat film ini tidaklah cerita yang bisa dipandang sebelah mata, namun kejadian yang mendasar dalam kehidupan bersosial.

Menceritakan mengenai perbedaan kepercayaan antara bapak dan anak, “Yuwana Mati Lena” disajikan dengan mengambil latar cerita disebuah kampung dengan pola hidup penduduk yang masih konvensional. “SOS” bercerita mengenai kakek yang sedang mencari adik kesayangannya yang sudah lama tidak pulang kerumah. Ada yang sedikit menarik dengan kisah ibu-ibu warga desa Kiringan yang berperan lebih besar didalam sebuah keluarga, yang mana diceritakan melalui film “Jamu; Saking Wingking Mengajeng”. Lain halnya dengan film “Panggon” yang menceritakan perjalanan kakek dan cucunya untuk mencari tempat bermain layang-layang.

reting-usia-17+

Durasi total : 61’54”

Rekomendasi Usia Penonton: 17+

Synopsis:


YUWANA-MATI-LENA-film-pendek

Yuwana Mati Lena

(Muhammad Alfayed | ISI Yogyakarta / Yogyakarta / 2017 /18’37”)

Pak Kades dan Bu Kades mengajak putranya, Lantip untuk ikut menghadiri ritual Suran yang di pimpin oleh Pak Kades namun Lantip Menolak. Lantip kesal dengan warga dan keluarganya yang masih meyakini sesaji-sesaji sebagai syarat keselamatan. Ia berniat membuang sesaji weton yang disiapkan ibunya. Tak sengaja Pak Karto, wakil Kepala Desa, mendapati Lantip kendak membuang saji itu. Pak Karto pun memanfaatkan peristiwa ini untuk menghancurkan kepercayaan warga pada Pak Kades.


sos film pendek

SOS

(Amallia Putri Budi Utami | Avikom Pictures UPN “Veteran” Yogyakarta / Yogyakarta /
2014 / 12’44”)

Sugeng menolong Slamet untuk mencari adiknya, Budi, yang sudah lima tahun tidak pernah pulang. Dalam perjalanan mencari Budi, keduanya mengalami musibah.


film pendek

Jamu; Saking Wingking Mengajeng

(Nur Wucha Wulandari | Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta / Yogyakarta /
2016 / 20’47”)

Ibu Murjiati (46thn) memenuhi kebutuhan utama keluarganya dengan membuat dan berjualan jamu. Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta 80% perempuannya mampu menggolah kebutuhan domestik rumah tangga hingga mengorganisir kelompok masyarakat di lingkungan mereka dengan membuat dan berjualan jamu.


Panggon film pendek

Panggon

(Ghalif Putra Sadewa | ISI Yogyakarta / Yogyakarta / 2016 / 09’46”)

Layangan adalah permainan yang digemari hampir semua anak- anak begitu juga dengan Bagus yang sangat senang dibuatkan layang-layang oleh Pak Satmo, kakeknya. Bagus pun hanya bisa berlari lari di depan teras rumahnya karna memang ia tinggal di daerah yang sangat padat akan pemukiman penduduk di Yogyakarta, tepatnya di pemukiman Kali Code. Dari situlah timbul kebingungan dari Pak Satmo dan Bagus dimana layanglayang yang mereka buat akan diterbangkan?


film-pendek-indonesia-raja

Jadwal INDONESIA RAJA 2017

13-28 Februari 2017
Penerimaan form permohonan dan kelengkapan untuk menjadi Programmer INDONESIA RAJA 2017

1-21 Maret 2017
Seleksi Programmer Indonesia Raja 2017 oleh MINIKINO
– Wawancara
– Penanda tanganan Nota Kerjasama

25 Maret 2017
Pengumuman Resmi Programmer Indonesia Raja 2017 & Panggilan Film untuk Seleksi

21 April 2017
Batas akhir pengumpulan Film Pendek dari Filmmaker kepada Programmer

22 Mei 2017
Batas Akhir pengiriman program Film Pendek (dan materi) ke Sekretariat MINIKINO

Bulan Juli-Desember 2017
Masa Pemutaran & Diskusi program INDONESIA RAJA 2017 di berbagai tempat di Indonesia

Programer IR2017

Astina Ria

Aceh Documentary
astinareem@gmail.com

Ayu Diah Cempaka

Independen
contact.ayucempaka@gmail.com

Agung Saputra Aritanto

Forum Sineas Banua
agungaritanto@gmail.com

Kemala Astika

Cinema Cirebon
cinemacirebon@gmail.com

Shandy Anata MT

Gresik Movie
anandashandy@gmail.com

Ayara Bhanu Kusuma

Independen
kusumaabe13@gmail.com

Canggih Setyawan

CLC Purbalingga
canggihsetyawan0@gmail.com

Cynthia Astari

Independen
thiastr13@gmail.com

Yuli Andari

Sumbawa Cinema Society
merdika@gmail.com

Fadhli Abdurrahman Zaky

INFIS
contact.fadhlizaky@gmail.com

Putri Harbie

Minikino
harbie@minikino.org

Panji Prawira

Festival Film Pelajar Jogja
panjiprawirapratama@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist