Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home SHORT FILMS

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

Made Virgie Avianthy by Made Virgie Avianthy
July 9, 2026
in SHORT FILMS
Reading Time: 4 mins read

Program Minikino Monthly Screening bulan Mei 2026 menghadirkan lima film pendek pilihan Minciang International Film Festival dengan fokus masyarakat Taiwan. Namun setiap film juga dapat melekat pada hati penonton non Taiwan. Isu yang juga relevan dengan penonton dari Indonesia terkait lingkungan, industrialisasi, humanisme, kompleksitas kehidupan, trauma, ingatan, hingga kenangan sentimental hadir dalam kelima film pendek dalam program ini.

Keberadaan film sebagai narasi propaganda menjadi penting dalam pembacaan situasi sosial hari ini, dalam menekan empati penonton dan mempertanyakan kesadaran mana yang kita percayai. Lewat film pendek “When The Wind Rises” karya sutradara Chen Hung, mengambil kendali media film sebagai ruang narasi propaganda. Film ini menjadi upaya penolakan terhadap propaganda yang membutakan kesadaran dan empati manusia, terkait kerusakan lingkungan yang dipengaruhi oleh eksploitasi massive dari industri. Film ini menjadi ruang relasi antara empati dan kesadaran hidup, yang seharusnya dimiliki oleh kita sebagai manusia.

Bagaimana jika seorang kakek yang mengidap gangguan pernapasan akibat industrialisasi massive di desa nelayan kecil berupaya melakukan demo seorang diri? Sementara penduduk desa lainnya bersatu dalam keraguan mereka, antara ikut berunjuk rasa untuk hidup yang lebih baik dalam jangka panjang, atau jaminan sosial yang menggiurkan di depan mata namun berjangka pendek. Kira-kira itulah problematika yang coba ditekankan dalam film ini.

Di awal film ini, kakek berdemo seorang diri. Namun pada pertengahan film, kakek mulai berdemo dengan segerombolan orang, ia tidak lagi berjuang sendirian. Sayangnya alih-alih berdemo untuk berjuang bersama, mereka justru sedang membawa kepentingan pribadi dalam berdemo yaitu jaminan sosial bagi pemukiman warga yang terdampak oleh perluasan pabrik. Potret keraguan penduduk desa pada film tersebut menempatkan rentannya kepercayaan masyarakat untuk dapat digiring kesana kemari seperti kumpulan anak kambing.

Tanpa terkesan menyampaikan narasi politis nan serius, justru lewat humor satir tiap adegan berhasil membawa pesan politis. Beberapa adegan hening berfokus pada perbedaan pendapat kakek dan gerombolan pendemo memperkuat kontras motivasi kedua belah pihak. Keberpihakan dan posisi dalam menyatakan pendapat sangat penting dimiliki masing-masing warga, namun narasi yang sebelah mana yang dapat dipercaya?. Tokoh kakek dalam film ini menjadi posisi kontras yang berhadapan menentang kebijakan pabrik. Namun posisi kakek juga rentan akan subjektifitas, sebab aspirasinya hanya didukung oleh dirinya sendiri – dampak industrialisasi yang dirasakan personal.

Film ini menyoroti bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap pengambil keputusan sangat penting. Namun kepercayaan dapat dibentuk dengan berbagai cara, narasi-narasi propaganda bertebaran di luar sana, apalagi hari ini semua serba cepat, pergantian narasi bisa bergeser tiap detik. Perubahan pendapat dan keberpihakan juga mudah untuk digerakan oleh yang berkepentingan. Kontras posisi yang dibangun lewat karakter kakek dan penduduk desa lainnya menimbulkan beberapa pengalaman refleksi saat menonton. Misalnya ketika dibandingkan pada situasi sosial di Indonesia hari ini, aksi demo terkadang tidak selalu dimaksudkan untuk menegakan keadilan, ruang aspirasi, dan sebagainya. Tidak jarang hari ini aksi demo dilakukan sebagai bentuk performatif, ajang uji adrenalin, atau pernyataan keberpihakan politik yang mengarah pada fenomena “fomo” (fierce of missing out). Segerombolan orang yang tiba-tiba ikut berdemo bersama kakek tersebut pada film, memotret bagaimana empati manusia hari ini bahkan bisa dibeli atau dikontrol.

Film pendek ini akhirnya menjadi lapisan propaganda dan mengembalikan kesadaran penonton untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya dan seharusnya kita percayai? Oleh karena itu kontras pendapat tokoh kakek dan penduduk desa lainnya berfungsi sebagai sumber refleksi, sekaligus mengeksplorasi isu terkait kepercayaan masyarakat. Dalam menentukan posisi dan keberpihakannya, penduduk desa juga melibatkan pertimbangan yang kompleks. Jaminan sosial yang diberikan oleh pabrik tersebut dalam film mempertebal konteks ekonomi masyarakat dalam turut berdemo atau tidak. Masyarakat akhirnya memiliki skala prioritasnya, demo tapi kelaparan atau yang aman-aman saja besok kenyang. Kepercayaan tentu tidak selalu dibentuk lewat narasi-narasi propaganda yang bersifat eksternal, bisa juga internal lewat pengalaman pribadi.

Hidup atau mati, menjadi alasan mengapa tokoh kakek melakukan aksi demo dengan konsisten dalam film, meskipun sendiri. Pencemaran yang makin parah ini, sekaligus merenggut hak nya untuk bernafas, juga hak nya untuk hidup layak. Namun kesadaran penduduk desa akan problematika tersebut ternyata lebih penting daripada jaminan sosial yang didapat, baru dirasa krusial saat mereka mulai ikut terdampak.

Cheng Hun, sutradara dan penulis film pendek ini berhasil menutup cerita dengan adegan yang sangat apik dan mencekam. Lanskap desa mulai kelabu, segerombolan orang membawa senter seolah mencari sesuatu, lalu seperti paduan suara mereka mulai batuk beriringan. Lewat adegan yang diambil dengan tangkapan luas, adegan penutup ini seperti panggung teatrikal yang ironis, ketika mereka batuk beriringan seperti teror di lahan luas, dengan latar asap yang mengepul keluar dari corong-corong bangunan pabrik yang berbaris – semakin lama semakin menjalar, semakin lama semakin terasa dampaknya.

Film pendek fiksi ini adalah realita. Gerombolan orang akhirnya mulai sadar alasan utama protes kakek selama ini ketika mereka juga terdampak. Rasa sesak yang mulai menyelimuti mereka, menjadi titik penyadaran bahwa aksi demo yang dilakukan seharusnya bukan sekedar kepentingan ekonomi, tetapi bentuk tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup mereka untuk anak dan cucunya nanti.

Lingkungan alam yang hari ini dieksploitasi besar-besaran demi kekayaan segelintir individu, dianggap normal selagi tidak berdampak pada keseharian orang-orang. Situasi yang “dibuat” nyaman menimbulkan rasa aman yang semu, dan bisa membuat kesadaran dan pemikiran kritis manusia menjadi tumpul. Kenyamanan semu ini merupakan narasi propaganda, yang berusaha disematkan pihak berkepentingan dalam pikiran publik. Sebuah upaya mengontrol pandangan publik dalam melihat situasi sosial dan lingkungan hari ini, yang sedang tidak baik-baik saja.

When The Wind Rises (Chen Hung / Taiwan / 2023 / 18:22) merupakan bagian dari program film pendek Minikino Monthly Screening & Discussion May 2026: Minciang International Film Festival 2026.


Editor: Fransiska Prihadi

Tags: Dukafilm pendekMinciangTaiwan
ShareTweetShareSend
Previous Post

Ketika Tubuh Menolak Lupa

Next Post

How to Survive a Zombie Outbreak

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy (b. Jakarta, 2003) Seorang pembuat film berbasis riset, berfokus pada ranah dokumenter dan experimental naratif. Karyanya pernah masuk ke dalam festival dan pemutaran film, seperti ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Festival Czas Letni di Polandia, ELSE Moving Image Screening Series di Doc & Pub Thailand, Ba - Bau AIR di Vietnam. Di samping proyek independennya, ia juga aktif berkontribusi dalam ruang-ruang kesenian dan komunitas di Bandung, Jogja, dan Bali dalam program penayangan film, diskusi, dan workshop.

Related Posts

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026
still film A beautiful summer noon

Ketika Tubuh Menolak Lupa

July 9, 2026
Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026
Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

June 1, 2026
Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

June 1, 2026
Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

January 27, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026
still film A beautiful summer noon

Ketika Tubuh Menolak Lupa

July 9, 2026
Foto bersama Tyas sebagai penulis dan Mickey sebagai Sutradara film pendek WAShhh

Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh

June 1, 2026
Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • How to Survive a Zombie Outbreak
  • Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?
  • Ketika Tubuh Menolak Lupa
  • Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh
  • Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media