Musim panas yang panjang sering kali menjadi hari yang melelahkan untuk dilalui, khususnya di negara beriklim tropis. Orang-orang yang tinggal di perkotaan bersiasat dalam menjalani kesehariannya. Ruang-ruang padat di kota dipenuhi oleh pria, perempuan, ibu pekerja, hingga orang tua. Mereka sedang berusaha mempertaruhkan hidup diantara himpitan bangunan-bangunan besar, dengan tegar dan penuh tantangan.
Film-film pilihan programmer Leong Puiyee dalam program S-Express 2025 Singapore menampilkan bagaimana ruang-ruang serba cepat di kota membentuk keputusan atau langkah untuk menemukan kebebasan dengan caranya masing-masing. Film-film hadir dengan puitik, nuansa ceria, dan absurditas. Program ini merekam tragedi dalam perspektif lokal yang terjadi di Singapura, sebagai upaya bertahan hidup di dunia yang penuh tekanan dan stigma sosial. Posisi perempuan, tuntutan kelas pekerja, gender minoritas, serta keberjarakan antargenerasi menjadi stigma sosial yang dibawa sebagai diskursus di program ini – dan jarang muncul ke permukaan. Film-film ini menantang perspektif tersebut, lewat eksplorasi artistik yang beragam dengan otentisitasnya masing-masing. Diskursus tabu akan kompleksitas kehidupan ini dikemas ringan namun mendalam.
Calleen Koh, sutradara film “My Wonderful Life”, menggambarkan karakter Grace Lee, sebagai seorang ibu yang kelelahan bekerja hingga pingsan dalam perjalanan menuju kantornya. Saat dirawat di rumah sakit, ia menemukan kebebasan baru sebagai seorang pasien. Kebebasan yang dicapai oleh Grace, terjadi lewat tragedi yang tak disangka-sangka dengan balutan humor gelap.
Berbeda dengan Grace, alih-alih menemukan makna kebebasan secara kebetulan, Susie dan Norah dalam film dokumenter karya Christine Seow berjudul “Two Traveling Aunties”, justru mengambil alih kebebasan yang ada di depan matanya. Dua perempuan yang penuh semangat ini, meninggalkan kehidupan konvensional mereka di Singapura untuk menjalani kehidupan di dalam van dengan berkeliling dunia. Mereka merangkul petualangan, menemukan kebebasan dan kegembiraan hidup sesuai keinginan mereka.
Selanjutnya Jake Low sutradara Film “Sighnight” merekam hasrat antar tokoh dalam menaklukan kebebasan di meja makan. Realitanya dalam menantang sudut pandang dan stigma sosial selalu dilewati dengan kecaman dari orang terdekat kita. Film ini menceritakan kisah sebuah keluarga yang tampak biasa saja di permukaan, tapi bergulat dengan beban harapan, rahasia, dan gema tradisi budaya yang menghantui saat makan malam. Biasanya meja makan digambarkan sebagai ruang paling hangat, tetapi film ini memilih meja makan sebagai ruang panas yang penuh tuntutan dan ekspektasi dari orang tua kepada anak. Meja makan menjadi ruang yang mengurung diri dari kebebasan. Film ini mengambil sudut pandang tentang bagaimana kebebasan berarti melepaskan diri dari ekspektasi dan tuntutan tersebut.
Tiga film ini menggambarkan berbagai upaya mencapai kebebasan. Misalnya lewat tragedi yang dilalui Grace, menggambarkan posisi perempuan sebagai pekerja dan seorang ibu, menjadi tuntutan dalam kehidupan sosial, yang memaksa Grace mencapai kebebasan dan dipotret secara absurd dalam film. Tidak jauh berbeda dengan tokoh tersebut, Susie dan Norah menghadapi pergolakan usia serta gender minoritas. Mereka menghadapinya dengan berani namun hangat dalam mengambil alih makna kebebasan mereka. “Sighnight” kemudian menempuh jalan eksploratif untuk mendalami diskursus tabu yang membelenggu kebebasan, lewat setiap karakter yang hadir dan menginterupsi meja makan menjadi ruang pertaruhan kebebasan.
Perlawanan Stigma
Pernahkah kamu membayangkan dirimu terjebak dalam siklus ‘nine to five’ tetapi kamu juga berperan sebagai seorang ibu di rumah? Kurang lebih begitu lah penatnya kehidupan Grace di film “My Wonderful Life”. “Don’t judge a book by its cover”, begitupun dengan film ini, mengadopsi humor gelap untuk mendalami bagaimana Grace menemukan kebebasannya. Film ini menekankan pada stigma pekerja dan marginalisasi gender dalam sistem sosial yang tidak berpihak pada mereka. Tindakan absurd dengan komedi gelapnya memperlihatkan bagaimana jika mereka yang termarginalisasikan bertindak sejauh itu? – meskipun dalam konteks fiksi.
Dalam wawancaranya bersama F Zine, Calleen Koh Sutradara Film “My Wonderful Life” mengutarakan bagaimana ia juga menemukan kebebasan dalam mengeksplorasi film ini tanpa batas lewat format animasi. Format tersebut memungkinkannya untuk menggambarkan ide-ide paling gila tanpa batas dunia fisik.
Meskipun hidup dalam format animasi, tokoh Grace tidak kehilangan resonansi dengan realita, sebaliknya dalam animasi tokoh Grace dapat mengajak kita berimajinasi – bagaimana jika tekanan sosial ini mempengaruhi orang terdekat kita? Lewat imajinasi liar ini, Calleen Koh justru menumbuhkan empati di sela-sela hati dan pikiran penonton.
Dengan format dokumenter, Susie dan Norah dalam film “Two Traveling Aunties” justru memulai kisah mereka dengan gembira penuh semangat. Mengendarai van keliling dunia bersama orang terkasih, terlihat seperti kisah yang sempurna. Namun Christine Seow sutradara film “Two Traveling Auties”, menghadirkan pergolakan kedua tokoh ini di pertengahan film. Susie dan Norah hidup dengan stigma sosial yang tidak kunjung hilang, namun tetap memilih untuk berpetualang dengan jiwa bebas. Salah satu stigma sosial di Singapura di antaranya ketika menginjak usia paruh baya (50-60an), perempuan dianggap tidak up to date dan terpinggirkan dalam lingkup sosial, terlebih keduanya merupakan pasangan homoseksual yang hingga hari ini masih tabu untuk dinyatakan. Upaya membebaskan diri dari stigma tersebut menjadi plot yang memperkuat Susie dan Norah yang dipotret dalam film ini. Dengan apik dan hangat Christine Seow sutradara “Two Traveling Aunties” merekam Susie dan Norah yang menyanyikan sepenggal lirik lagu Boyzone: “This world has lost its glory, let’s start a brand new story” (Dunia ini telah kehilangan keindahannya, mari kita mulai kisah baru).
Berada pada upaya mendekatkan tokoh dengan realita untuk beresonansi dengan penonton, film “Sighnight” justru mengeksplorasi percakapan di meja makan dengan absurd yang jauh dari realita dan destruktif antar tokoh. Film ini memilih komedi satir untuk menghadirkan narasi tabu dalam diskursus antar generasi, seperti isu LGBTQ yang dibicarakan di meja makan, merepresentasikan bagaimana stigma sosial menjadi distraksi dan bunyi bising yang kian lama tidak mereda. Lewat film ini Jake Low menangkap gejala sosial yang sering dialami oleh orang-orang di kalangan usia 30an. Potret krisis eksistensi ini dibangun dalam empat karakter berbeda. Memberikan kontras problema yang dialami masing-masing karakter.
Keempat tokoh yang duduk bersama sebagai keluarga justru memperlihatkan jarak yang dimiliki. Hal ini memperkuat bagaimana sudut pandang setiap karakter dipengaruhi oleh generasi, pendidikan, hingga pekerjaan sebagai status sosialnya. Keberjarakan yang dimiliki antar tokoh dapat merekam bagaimana meja makan yang panas, menjadi ruang untuk mengekang kebebasan yang dimiliki tiap karakternya – ada ekspektasi satu individu yang menumpulkan upaya kebebasan dari tokoh lainnya.
Film dengan adegan satu scene ini terbilang cukup ekstrim melakukan eksplorasi, dengan menambahkan penggunaan generatif AI pada pergerakan gambarnya, menimbulkan ekspresi dan gaya absurd yang beragam tiap frame nya. Keputusan penggunaan generatif AI ini menjadi eksperimentasi sutradara, jika film dihadirkan dengan rekaman biasa, rasanya akan ada sensualitas berlebih yang timbul lewat gambar asli. Namun penggunaan generatif AI ini justru menimbulkan absurditas yang mengamini sensualitas tersebut sebagai kontras dan distraksi percakapan antar karakter – bagaimana nasehat orangtua bisa digambarkan seperti ocehan yang tidak ingin didengar oleh anaknya sebagai tuntutan sosial yang hadir di meja makan.
Membaca Perspektif Singapura
Kultur dan iklimnya yang sama dengan Indonesia, ketiga film dengan perspektif lokal Singapura ini terasa dekat dengan keseharian masyarakat di Indonesia. Stigma lokal yang berusaha ditantang oleh ketiga film ini juga merupakan isu yang masih menjadi problema di masyarakat kita. Lewat eksplorasinya masing-masing kita bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh tersebut hidup diantara kita, hidup untuk bertahan dalam setiap hari yang dihitung dan dilewati.
Ketiga film dalam program S-Express 2025: Singapore tidak hanya berbicara tentang kebebasan sebagai tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kebebasan dinegosiasikan lewat tragedi, kehangatan, hingga disrupsi eksternal dalam tekanan hidup sehari-hari. Lewat tubuh yang lelah, meja makan yang penuh tuntutan, hingga perjalanan tanpa ujung, film-film ini memperlihatkan bagaimana manusia berusaha mempertahankan dirinya di tengah stigma sosial, ekspektasi keluarga, dan sistem yang terus bergerak cepat.
Pendekatan artistik yang beragam mulai dari animasi, dokumenter, hingga eksperimentasi generatif AI dilakukan oleh ketiganya. Menghadirkan refleksi yang terasa dekat dengan realitas masyarakat Indonesia hari ini. Bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, selalu ada isu-isu yang termarginalisasi dalam diskursus, yang diam-diam sedang mencari ruang untuk dipertimbangkan dalam wacana yang lebih inklusif, dan menjadi hasrat dalam membebaskan diri dari hiruk-pikuk kota dengan caranya masing-masing.
Penonton diajak mengkritisi realita yang sedang dijalani; norma sosial, tradisi lokal, sistem, atau stigma gender. Apakah kita benar-benar hidup dengan kehendak dan kontrol kita sendiri atau justru sistem dan norma sosial yang mengontrol penuh keseharian kita? Apakah tekanan itu akhirnya membuat kita bertindak absurd dan ekstrem seperti dalam film “My Wonderful Life” dan “Sighnight”? Atau seharusnya menjadi pilihan kita sendiri untuk mulai menginjak gas dan memegang kemudi, bagaimana kita mengontrol penuh hidup yang kita lalui. Meninggalkan kehidupan normal yang diatur oleh sistem untuk sesuatu hal yang lebih besar. Yakni kebebasan dan rasa damai, seperti Susie dan Norah di film “Two Traveling Aunties”.
Ketiga film ini mengajak penonton merefleksikan kehidupannya. Hari ini rasanya hampir mustahil untuk kita memiliki kehendak dan kontrol untuk kebebasan hidup kita masing-masing. Film pendek menjadi medium yang memiliki semangat representasi, khususnya terkait wacana tabu dan yang termarginalkan. Dengan kata lain, program ini menjadi ruang dalam membangun diskursus terhadap topik-topik tabu tersebut lewat masing-masing isu yang direpresentasikan oleh setiap film.
Editor: Made Birus


















Discussion about this post