Siapa yang percaya kalau darah mens di pembalut bisa mengundang malapetaka? Bisa mengundang kuntilanak, bisa menyebabkan kesurupan, dan bisa menyimpan karma buruk di kemudian hari. Makanya, kata nenek moyang (yang entah siapa dia), pembalut bekas pakai harus dicuci sampai bersih sebelum dilipat rapat, diikat plastik erat-erat, dan dibuang ke tempat sampah.
Tapi, kenapa ada kepercayaan semacam itu sehingga ada perempuan yang telanjur percaya dan merasa takut bila tidak mencuci pembalut? Apa atau siapa yang mengonstruksi sistem kepercayaan tersebut sehingga kita tunduk padanya dan jarang mempertanyakan alasan di baliknya?
Bersama Mickey Lay, sutradara dan penulis film pendek WAShhh (2024), aku membicarakan batas-batas keyakinan dan ketakutan yang menyelimuti tradisi cuci pembalut itu di sela-sela Minikino Film Week 11 bulan September 2025 lalu, selepas pemutaran film pendeknya. Ternyata, Indonesia dan Malaysia berbagi kesamaan mitos! Tidak cuci pembalut adalah “haram” hukumnya! WAShhh tidak semata berhenti di stigmanya. Lebih jauh, ada eksplorasi narasi yang menantang tradisi tersebut.
Dengan latar belakang barak putri National Service Camp, Malaysia, WAShhh dibuka dengan adegan intens yang provokatif: penjaga barak mengumumkan ada yang kesurupan dan ini pasti karena ada pembalut di barak perempuan yang tidak dicuci bersih. Pilihan estetik hitam-putih di sepanjang durasi film membuat adegan dan dialog antartokoh terasa lebih intens. Baru setelah berbincang dengan Mickey, aku mendapatkan informasi bahwa pilihan hitam-putih merupakan upaya untuk mengaburkan sekat-sekat stereotip rasialitas antartokohnya; Malay, Tionghoa, dan India.
Mickey sendiri pernah menjalani National Service Camp semasa remaja, mengalami rutinitas mencuci pembalut bersama teman-temannya. Tradisi mencuci pembalut, dalam konteks ini, tidak berdiri sebagai aturan agama tertentu saja. Ia telah menjadi praktik kultural yang melekat pada tubuh perempuan, terutama di Asia. Bertahun-tahun setelah keluar dari barak itu, jarak waktu justru membuka ruang refleksi sekaligus ide awal WAShhh.
Jadi, aku bertanya pada Mickey, mengapa kita perlu berdialog dengan rasa takut kita?
Ia menjelaskan bahwa memahami ketakutan membutuhkan lebih dari satu sudut pandang. Selama proses kreatifnya, ia merasa perlu mengumpulkan berbagai memori, bukan hanya bersandar pada pengalaman pribadinya. Baginya, memori tunggal mudah menjebak seseorang dalam keyakinan bahwa hanya versinya yang paling sah. Karena itu, ia mencari memori kolektif—mendengar pengalaman orang lain—agar filmnya lahir dari spektrum perspektif yang lebih luas.
Mickey memilih satu sikap penting: ia tidak sepenuhnya percaya pada ingatannya sendiri. Memori bisa jadi sesuatu yang mengerikan karena ia sering kali menipu kita untuk percaya bahwa hanya ada satu sudut pandang di dunia ini: sudut pandang kita sendiri. Maka, dalam proses pembuatan WAShhh yang memakan waktu empat tahun, Mickey mengumpulkan memori kolektif dari orang lain untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Melalui proses ini, menyadari bahwa, pada awalnya, WAShhh lahir dari rasa amarah; bentuk protes terhadap negara dan sistem yang mendikte apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan terhadap tubuhnya.
Ia juga merefleksikan bagaimana sebuah sistem bekerja. Ketika sistem merepresi satu orang dalam kelompok, represi itu kerap berlanjut secara horizontal—orang yang ditekan bisa, tanpa sadar, menekan yang lain.
Ketakutan yang dilembagakan jarang hadir dalam bentuk perintah besar yang frontal. Ia bergerak lewat relasi sehari-hari: siapa yang menegur, siapa yang dituduh, siapa yang merasa bersalah. Dalam level personal, kita mungkin merasa tidak rasis, tidak diskriminatif. Namun, dalam sistem yang kaku, rasa takut justru mendorong kita saling mengawasi, bahkan saling melukai, tanpa sadar.
Mickey sadar ia tidak bisa meruntuhkan sistem itu sendirian. Terlalu berat. Namun, ia memilih menggunakan soft power: sebuah film. Lewat film, ia belajar untuk mendengarkan alih-alih hanya percaya pada dogma.
Mickey bercerita tentang proses latihan adegan di kamar mandi. Pemeran protagonis gadis Melayu tidak bisa berhenti menangis setelah latihan. Saat ditanya mengapa, jawabannya sungguh menyesakkan: ia merasa sangat bersalah. Sebagai orang Melayu, ia dididik untuk percaya bahwa mencuci pembalut adalah bagian dari budayanya, sebuah keharusan. Namun, di saat yang sama, ia tersadar bahwa keyakinan yang ia pegang itu justru melukai persahabatannya dengan temannya yang berbeda etnis dengan dia.
Mickey menyadari bahwa ketakutan tidak hanya membebani mereka yang dituduh melanggar, tetapi juga mereka yang diajarkan untuk menjaga aturan. Spirit WASHhh pun bergeser: dari kemarahan, menuju gestur solidaritas. Ending-nya diubah—bukan lagi tentang menyerah pada sistem, melainkan tentang tatapan saling memahami. Sebuah pengakuan diam bahwa kita sama-sama terjebak, dan karena itu, sama-sama membutuhkan satu sama lain.
Untuk menangkap emosi yang seorganik itu, Mickey menggunakan pendekatan yang terinspirasi dari teater Sleep No More (Punchdrunk, 2011). Ia tidak memberikan naskah untuk dihafal atau blocking yang kaku. Sebagian besar aktor non profesional dalam pertunjukan teater tersebut hanya diberi gambaran besar dan diminta bereaksi secara instan di lokasi syuting. Maksimal hanya tiga take. Mickey ingin kejutan sekaligus kejujuran.
WASHhh memperlihatkan bahwa mitos mencuci pembalut tidak sekadar cerita turun-temurun, tetapi mekanisme yang membungkus ketakutan dalam bentuk yang tampak natural. Ia bekerja melalui tubuh perempuan, disiplin sehari-hari, dan relasi antarrasial yang telah lama dibentuk oleh sejarah. WASHhh bergerak dari kemarahan menuju refleksi kolektif, dari memori tunggal menuju ingatan bersama. Di situlah film ini menemukan kekuatannya: pada kemampuannya memperlihatkan bahwa ketakutan dapat dikenali sebagai hasil konstruksi sosial, dan karena itu dapat dibaca ulang secara berulang-ulang dan bersama-sama.
Editor: Fransiska Prihadi





















Discussion about this post