Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home NOTES

Ketika Warna Menjadi Bermakna

Menyusun Audio Description untuk A Sunday at Eleven

Komang Yuni by Komang Yuni
August 10, 2026
in NOTES, OPINION, SHORT FILMS
Reading Time: 4 mins read
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Gambar dari film On a Sunday at Eleven

Selalu ada yang menarik dan baru setiap kali saya kembali ke Minikino Studio untuk mengisi deskripsi audio (Audio Description) untuk film pendek sinema inklusif Minikino Film Week. Pagi itu, Jumat 26 Juni 2026, saya duduk di studio yang sudah terasa akrab, dengan antusias mengantisipasi seperti apa kira-kira film yang akan saya isi. Dan tentu saja kembali bekerja sama dengan Edo Wulia, yang juga masih sebagai supervisi seluruh proses produksi ini sejak awal sinema inklusif. Belakangan, proses kerja ini berlangsung dengan semakin luwes, membuat saya selalu menanti-nantikan hari untuk datang ke studio ini lagi.

Proses dan tantangan untuk film tahun ini sedikit berbeda dari tahun lalu, pun bahkan dari tahun-tahun sebelumnya.  Diskusi ekstra panjang, diselingi perdebatan sana sini, dan yang tak terduga adalah riset di tengah-tengah proses pengisian deskripsi audio itu sendiri. Sesuatu yang belum pernah saya duga diperlukan sebelumnya.

A Sunday at Eleven (2024), film pendek berdurasi 9 menit dari Kanada yang disutradarai oleh Alicia  K. Harris mengangkat isu rasial kulit hitam. Tadinya saya senang sekali ketika mengetahui bahwa durasi film ini hanya 9 menit. “Ini akan cepat dan mudah,” pikir saya, mengingat kami sudah berkali-kali melakukannya.

Namun, saat Edo memutarkan film ini. sambil diselingi pemberian deskripsi singkat dan konteks di sana sini, kami berdua sudah terbata-bata saat memperdebatkan tentang bagaimana baiknya mendeskripsikan hal-hal yang begitu simbolis dan kontekstual di dalam film ini.

Kami bahkan harus memanggil Cika (Fransiska Prihadi, direktur program Minikino), serta Winda Aprina (koordinator Education MFW12) untuk membantu memberikan pandangan tentang informasi seperti apa yang harus kami masukan ke deskripsi A Sunday At Eleven. Film ini memiliki narasi yang begitu bersandar pada visual, sehingga mengonversinya menjadi deskripsi audio menjadi tantangan yang cukup berat.

Ada beberapa masalah yang langsung saya temukan saat Edo menjelaskan film ini. Pertama, deskripsi warna adalah sesuatu yang kurang relevan untuk dikonversi ke deskripsi audio, sebab sebagian penonton tunanetra sejak lahir tidak memiliki konteks warna. Namun, A Sunday At Eleven mengangkat perbedaan warna kulit yang menjadi sentral isu rasial dalam film ini, menjadikannya bahasa visual yang begitu kontekstual namun sukar dibayangkan untuk penonton tunanetra yang tidak memiliki referensi visual sejak lahir.

Penonton tunanetra di Indonesia tidak membawa visualisasi dan validasi warna kulit dalam memahami isu rasial. Sebagian penonton tunanetra yang tidak memiliki konteks warna ini, membangun pengertian isu rasial melalui bahasa, sejarah, dan pengetahuan dari konsep diskriminasi. Bias rasial yang terinternalisasi dalam pengetahuan penonton tunanetra didapatkan dari berbagai pemahaman mereka tentang bagaimana masyarakat memaknai kategorisasi ras dan pemberitaan media massa.

Terlebih, isu rasial kulit hitam adalah sesuatu yang tidak memiliki kedekatan konteks dan nilai-nilai perjuangan mau pun nilai sosial penonton tunanetra Indonesia. Bangunan diskriminasi yang berlandaskan warna kulit adalah sesuatu yang benar-benar asing, dan memahami isu ini dengan baik dibutuhkan konversi deskripsi audio yang baik pula.

A Sunday At Eleven disampaikan kepada penonton tanpa dialog, tanpa adegan eksplisit tentang diskriminasi ras kulit hitam. Dengan bahasa visualnya yang semarak dan beridentitas budaya. Penceritaan film ini membuat kami harus memberi konteks di awal film tentang gaya rambut dan deskripsi warna warni Pan Afrika. untuk menentukan pemahaman budaya, tanpa harus mendeskripsikan satu per satu corak warna yang digunakan di dalam film ini.

Hal yang paling sulit adalah, mengonversi semua bahasa visual menjadi satu pemahaman. Misalnya tentang bagaimana Angel, anak perempuan berkulit hitam di film ini menghadapi konflik identitas rasialnya di sebuah kelas balet yanghampir semuanya di isi anak-anak kulit putih. Tanpa dialog, dan tidak ada konflik rasial eksplisit di dalam film. Hanya gestur dan tatapan Angel yang menunjukan konflik identitas dan konflik internal yang dihadapinya.

Balet adalah tarian yang hampir-hampir bisa disebut sebagai identitas dan sejarah kebudayaan orang-orang kulit putih. Balet berasal dari Italia pada abad ke-15 dan berkembang di Prancis serta Rusia sebagai seni pertunjukan yang lahir dari budaya istana Eropa, sehingga lama didominasi oleh standar estetika masyarakat kulit putih. Akibatnya, penari kulit hitam sering menghadapi ekspektasi dan stereotip yang berbeda dibandingkan penari kulit putih.

Namun, film ini juga menunjukan tarian khas masyarakat kulit hitam yang memiliki sejarah, budaya, identitas, dan kebanggaannya sendiri. Sehingga film ini tidak dengan serta merta membangun konflik rasial dan internal tokohnya melalui sebuah kebudayaan dan identitas yang bersebrangan, tetapi juga bagaimana gambaran masyarakat kulit hitam yang memiliki tarian dan identitas budaya mereka, dan bagaimana seorang anak kulit hitam dapat merasa bangga dengan identitasnya sendiri.

Di tengah-tengah proses perekaman, kami melakukan riset tentang deskripsi penampilan budaya, menemukan istilah-istilah budaya orang-orang kulit hitam, dan memadankan konteks visualnya menjadi satu narasi informasi utuh yang diberikan di awal film. Dan mencari cara agar tidak menumpuk terlalu banyak deskripsi di beberapa adegan tertentu. Menurut saya, proses riset ini jauh lebih rumit dan memusingkan dari pada proses pengisian deskripsi audio itu sendiri.

Namun, sangat menyenangkan untuk mengisi deskripsi audio untuk A Sunday At Eleven, karena dalam proses ini saya jadi belajar cara terbaik tentang bagaimana mengonversi deskripsi Budaya dan landasan isu rasial dalam film pendek.

Isu rasial, terlebih identifikasi terhadap warna kulit, ternyata bisa begitu mendasar namun bisa hilang sama sekali untuk kelompok tunanetra. Hal ini juga memberikan saya wawasan lain dan refleksi terhadap komunitas saya sendiri, tentang betapa rasisme dibangun dari sesuatu yang sangat tipikal seperti warna kulit, sesuatu yang tak bisa kami identifikasi. Dan bila fariabel itu dihilangkan, isu rasial itu sendiri ternyata terbangun dari sesuatu yang tidak lebih besar dari dampak yang ditimbulkannya.

Audio description memang mendeskripsikan apa yang ada di dalam film, namun tidak semua yang ada di dalam film perlu dideskripsikan. Beberapa film dengan penggambaran dan alur yang logis hanya memerlukan deskripsi yang membawa konteks plot dan cerita, dan tidak memerlukan deskripsi spesifik seperti warna dan detail tidak relevan lainnya.

Dalam film dengan lapisan identitas budaya seperti A Sunday At Eleven, konteks warna, deskripsi fisik, dan simbolisme visual menunjukan bagaimana  detail-detail itu menjadi penting atau disoroti dalam bahasa visual. Seperti warna-warni pakaian Pan Afrika, dan gaya rambut cornrows misalnya. Bagaimana wawasan ini diperlukan agar konteks budaya dari film bisa tersampaikan untuk penontonnya.

Sutradara film ini, Alicia K. Harris, adalah seorang pembuat film asal Scarborough, Ontario. Ia menjadi terkenal lewat film pendeknya yang masuk kualifikasi Oscar, “PICK,” yang memenangkan kategori Best Live Action Short di Canadian Screen Awards 2020 dan Best Short Film. On a Sunday at Eleven adalah film terbarunya yang  ditayangkan perdana di TIFF 2024 dan Berlinale 2025. Alicia dikenal karena gaya visualnya yang puitis dan berdedikasi untuk merayakan pengalaman masyarakat kulit hitam dalam karyanya, dengan fokus pada keaslian, keindahan, dan spiritualitas. Pun, kesetiaan pada apa yang ingin disampaikan Alicia sedianya dapat dideskripsikan dengan baik dan tepat dalam film ini.

Dengan pengalaman ini, saya mendapatkan beberapa wawasan berharga yang menjadi bekal bila misalnya harus mengisi film dengan deskripsi budaya serupa dengan A Sunday At Eleven. Film-film yang memiliki lapisan lain dalam pengisian deskripsi audionya.

Sungguh, mengisi deskripsi audio film pendek itu sangat menantang, karena bahasa visual film pendek itu begitu beragam dan amat simbolis. Perlu kepekaan dan wawasan yang lebih luas agar setiap konteks diletakkan pada  tempat yang tepat, dan sampai pada penonton dengan baik dan benar.

Editor: Fransiska Prihadi

Tags: Deskripsi AudioRasismeTunanetraWarna
ShareTweetShareSend
Previous Post

How to Survive a Zombie Outbreak

Komang Yuni

Komang Yuni

Komang Yuni Lahir di Gianyar Bali, namun nyaris separuh masa hidupnya dihabiskan di Denpasar. Sudah menggandrungi film-film pendek yang bagus dari 2023, dan terus berusaha menambah dosis film pendek sejak saat itu. Sekarang tengah menempuh studi Sosiologi di Universitas Brawijaya, sambil terus menulis yang terus dilakoninya sebagaimana ia bernapas.

Related Posts

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026
still film A beautiful summer noon

Ketika Tubuh Menolak Lupa

July 9, 2026
Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026
Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

June 1, 2026
Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

June 1, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026
still film A beautiful summer noon

Ketika Tubuh Menolak Lupa

July 9, 2026
Foto bersama Tyas sebagai penulis dan Mickey sebagai Sutradara film pendek WAShhh

Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh

June 1, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Ketika Warna Menjadi Bermakna
  • How to Survive a Zombie Outbreak
  • Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?
  • Ketika Tubuh Menolak Lupa
  • Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media