Pada sekitar bulan Oktober tahun lalu 2024, saya berkesempatan untuk berkunjung ke festival apresiasi film tahunan bertajuk Sewon Screening yang diselenggarakan oleh mahasiswa prodi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, tepatnya berlokasi di Sewon, Bantul. Saya menyambangi salah satu Program Special screening hasil kolaborasi Sewon Screening 10 dengan Madani International Film festival yang mempersembahkan Program Special Screening bertajuk Palestine Film Archive. Program pemutaran dibuka dengan penampilan orkes inkonvensional bertemakan perlawanan tentara Palestina dalam bertahan dan berjuang demi lahan mereka kembali. Pentas dibawakan dengan amat megah nan meriah oleh band kolektif usungan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Prosesi berlangsung secara khidmat, macam upacara penghormatan terhadap pahlawan yang memantik rasa juang membara. Berhasil mengambil hati para penonton menuai tepuk tangan serta perhatian penonton yang hadir di Concert Hall ISI Yogyakarta.
Setelahnya film The Visit (1970), sebuah film puisi eksperimental dari Suriah yang disutradarai oleh filmmaker kelahiran Iraq: Kais Al-Zubaidi diputarkan sebagai film pertama. Tidak menyangka sebuah film eksperimental avant-garde bisu membawa isu serius dijadikan film pembuka. Baru sekilas ditampakan, tanpa ekspektasi berlebih, saya sempat mengira film ini akan berwujud dokumenter puitis seputar genosida yang terjadi pada sekitar tahun 1967. Tertegun melamun berpikir antara film ini memanglah dokumenter ataukah eksperimental. Dengan adanya kolase beragam shot dan skenario yang seakan bercerita secara runut. Scene dibuka dengan pergerakan kamera mengikuti seorang pria yang dicegat ketika melalui pos militer yang menjaga wilayah perbatasan. Kemudian berpindah kepada tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya hingga eksekusi yang dilakukan dalam gelap. Tiap jahitan scene disisipi tulisan puisi, sketsa gambar, serta foto peristiwa perang diantaranya. Uniknya film ini pernah mengalami penolakan dari festival Dok Leipzig (Salazkina, 2023:99), sebuah festival dokumenter internasional negara Panzer Jerman pada tahun 1970 dengan alasan bahwa film ini terlalu eksperimental, ketimbang implementasi visual yang bisa dibilang gore menurut saya.
Saya menangis tersentuh adegan pembuka film ini dan semakin deras lagi tangisan saya menyaksikan pengalaman seni audiovisual akan genosida yang dijahit secara implisit ini. Pendekatan film eksperimental poetik serta penyajian visual multi medium: puisi, ilustrasi, juga adegan semiotik film ini sukses mengoyak hati.
Film pendek The Visit (1970), sesuai dengan judulnya, mengajak penonton untuk “berkunjung” dan menyelami kehidupan para karakter tanpa benar-benar datang secara fisik. Dibedah dari sisi sinematik, film ini memanfaatkan berbagai elemen dramatisasi yang dipadukan dengan cermat. Dari penyematan ilustrasi sketsa visual, iringan musik klasik epik yang dimainkan melalui fonograf, penerangan tajam nan kontras. Serta akting pantomim seakan jadi wujud penggalan puisi karya Mahmoud yang secara simultan tampil tumpang tindih. Dengan pendekatan ini, film menciptakan ruang dan waktu yang sempit serta sunyi, memberikan nuansa mimpi buruk yang imajinatif dan jelas. Perpaduan mixed media pada film ini sukses mengundang indera penonton untuk merasakan langsung kondisi mereka yang teropresi—para warga Suriah dan Palestina yang hidup di bawah tekanan militer, tertindas oleh penjajah yang merampas rumah dan tanah kelahiran mereka.

Pengalaman pahit hidup dan emosi kolektif dari komunitas yang teropresi akibat perampasan tanah kelahiran, seperti yang digambarkan dalam puisi-puisi penyair kenamaan asal Palestina: Mahmoud Darwis, Samih al-Qasim, dan Tawfiq Ziad, dikemas secara performatif. Disajikan menggunakan gaya sinema avant-garde nan poetik, dengan tampilan grainy dan tinta terbakar pada gulungan seluloid, seolah menggambarkan kesan nasib mereka yang mencari perlindungan dan jiwa-jiwa tak bersalah yang dieksekusi.
Ilustrasi visual yang dihadirkan dari sekumpulan karya puisi aktivisme para penyair berhasil menggambarkan kehidupan masyarakat Palestina yang beragam. Setiap peran dalam kehidupan ini terdampak; dari pria baik remaja maupun dewasa, sebagai kepala keluarga yang ditahan saat melewati pos pemeriksaan, hingga wanita baik remaja maupun ibu, yang kehilangan anaknya. Anak – anak pun kehilangan kesempatan untuk belajar, bermain, bahkan sekadar bernafas. Keluarga dan komunitas secara keseluruhan kehilangan hak mereka untuk melanjutkan kehidupan dengan normal.
Saat menonton film ini, saya melihat kontras pada wajah para pemain yang mencerminkan ketulusan dan emosi asli, hasil dari pengalaman nyata yang mereka alami. Semua tekanan, aturan, batasan, perampasan, keterpaksaan, kehilangan, hingga kepasrahan akibat okupasi oleh para pencuri tanah tergambar jelas. Film ini menggambarkan keresahan dan kesedihan yang silih berganti, menjadi bukti suara murni tanpa campur tangan media atau kekuasaan dunia Barat.
Film ini hadir bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai pertunjukan rasa dan protes, akan berita buruk yang menimpa. Pengalaman yang dicerminkan dalam film ini bukan hanya milik mereka yang tertindas, tetapi juga menjadi cermin bagi penonton untuk membuka mata dan melihat kembali sejarah panjang penderitaan Palestina. Seperti jeritan anak-anak di Palestina yang perlahan senyap dalam keheningan. Film ini memerah air mata tanpa perlu direnungi, setiap visualisasi puisi yang nampak nyata memperdalam sayatan luka yang sudah lama tersimpan sejak peristiwa Nakba 1948 awal mula upaya penghapusan Palestina hingga mencetusnya perang Arab – Israel 1967. Perang yang mengubah lanskap politik dan sosial Palestina tersebut sampai saat film ini kembali diputar pada tahun 2024, belum kunjung berakhir. Penduduk Palestina masih terperangkap dalam jeratan pendudukan dan kekerasan, semakin diperburuk oleh justifikasi, propaganda oposisi, dan miskonsepsi dunia akan serangan Hamas yang disebut sebagai sebab permulaan perang antara Palestina dan Israel pada 7 Oktober.

Film dapat menjadi media yang relevan dalam suatu peristiwa, terutama sebagai respons terhadap malfungsi media yang cenderung berpihak pada narasi politik tertentu. Sedangkan film ini diproduksi oleh kru yang hidup di bawah penindasan di Palestina dan Suriah, berfungsi bagai bukti suara rakyat yang dapat menembus bias media. Sama seperti karya Jafar Panahi, yang menggunakan film sebagai bentuk aktivisme, karya ini merayakan sinema sebagai suara bagi mereka yang tak terdengar. Melalui gambar, puisi, dan suara yang tak terbantahkan, film ini berbicara tentang realitas atas peristiwa yang terjadi pada suatu tempat dan waktu. Suatu kolaborasi karya antar seorang poet, fotografer, dan filmmaker dalam menyuarakan revolusi.
The Visit tidakmenuai rasa kasihan, sebaliknya ia berhasil memantik aksi global dan menguatkan langkah menuju kebebasan, meski tampaknya jauh dan sulit digapai. Seni di sini menjadi alat perjuangan, bukan sekadar panggung untuk meratapi penderitaan, tetapi juga untuk memperkuat semangat kolektif menuju kemerdekaan Palestina. Sebuah perjalanan panjang yang meskipun penuh rintangan, masih diperjuangkan dengan harapan. Untuk harapan – harapan itu izinkan saya mengutip sepenggal puisi dari Tawfiq Ziad dalam film pendek ini yang begitu membekas, memantik api harapan:
“We do not flicker briefly like matches, we burn. Perpetually, like pagan fires” – Tawfiq Ziad
“Kita tidak hanya berkerlip sesaat seperti korek api, kita terbakar abadi seperti api pagan (api mulia yang tidak pernah mati)” – Tawfiq Ziad


















Discussion about this post