Don’t lose your temper with your mother. You may never meet her again in the next life. (Anonymous)
Sebuah kutipan muncul di beranda media sosial saya usai menonton dua film ini. Film animasi La Perra (Carla Melo Gampert / France, Colombia / 2023), dan film drama musikal Masterpiece Mommy (Dorothy Sing Zhang / United Kingdom, China / 2024). Keduanya saya simpulkan mengangkat isu yang serupa, relasi dalam keluarga.
Animasi La Perra terbentuk dari kurang lebih 17 ribuan lukisan cat air karya 8 animator Colombia, saya akui memiliki kekuatan visual yang menjadi lebih fleksibel untuk menyampaikan pesan yang ‘berat’.
Mulai dari pemilihan judul “perra” yang secara definitif adalah anjing betina atau —secara makna peyoratif—berarti gambaran untuk perempuan yang bermasalah.
Carla ketika diwawancarai Kevin Giraud dari Cartoon Brew (https://www.cartoonbrew.com/shorts/2025-oscars-short-film-contenders-la-perra-director-carla-melo-gampert-244237.html) mengungkapkan, La Perra menggambarkan perwujudan dari persahabatan dan keterlibatan yang sulit antara dirinya dan ibunya. Juga merupakan bukti bagaimana masyarakat mengubah perempuan menjadi bersikap jalang (untuk kata lain dari anjing).
Sementara, Masterpiece Mommy mengemas isu relasi ibu dan anak perempuan diaspora di London dalam sebuah drama musikal. Bagaimana adegan para perempuan di ruang tunggu pemeriksaan mammogram, adegan payudara dikompres selama prosedur; bisa menguak realita yang mau tak mau dihadapi ibu dan anak perempuannya.
Film yang disutradarai Dorothy Sing Zhang ini minim dialog, didominasi musikal, dengan lirik lagu yang menceritakan kompleksitas hubungan Tess (ibu) dan Justine (anak perempuannya), yang diperankan pencipta dan penyanyi Leah Dou dalam film tersebut. Bagaimana awal keduanya berkonflik fisik, sampai saya sempat awalnya menduga sang ibu lebih menyayangi anak lelakinya (yang sebenarnya tak tahu juga apakah ada); pada akhirnya membuka kebenaran yang sesungguhnya … “.. yang buruk pun, juga bisa disebut kabar baik.”

La Perra, Seksualitas, dan Isu Perempuan
Tanpa dialog dan musik yang sangat minim – La Perra memukau dengan kicauan burung sebagai bahasa para tokoh protagonisnya. Gambar-gambar lukisan cat air itu bisa menyajikan transisi yang tampak hidup tentang tubuh perempuan saat bertransformasi dari gadis menjadi wanita dewasa. Bila dicermati kemudian, La Perra tak hanya mengeksplor kebutuhan seksual, tetapi juga bagaimana negara Colombia memosisikan perempuan dalam struktur masyarakatnya.
Mungkin, akan berbeda bila ide film ini bukan animasi. Karena mengekspos kebutuhan atau adegan seksual secara eksplisit mungkin akan berakhir mengesankan sebuah film dengan muatan pornografi.
Hal yang menarik kemudian, Carla seolah hendak merefleksikan pengalamannya sebagai perempuan yang bertumbuh di Colombia, dengan realita kota yang seksis, di mana semua perkataan buruk diasosiasikan dengan hewan perempuan.
Memiliki relasi dengan ibunya yang kurang baik, Carla mengungkapkan lagi dalam wawancara dengan Cartoon Brew seperti di atas. “Aku merasa sangat sulit untuk berbicara dengan ibuku yang banyak mengambil peran sebagai laki-laki di rumah, seolah-olah polisi moral, tanpa menyadari semua kompleksitas dan kebebasannya dia yang kulihat dalam prosesku menjadi seorang perempuan.”
Peran anjing dalam La Perra yang seolah malah menjadi sistem pendukung si anak perempuan, terinspirasi dari bagaimana Carla mengenang anjingnya yang telah menemani sejak kecil. Salah satu kejadian ketika Carla berjalan bersama ibu dan anjingnya yang sudah sama-sama menua. Ketika muncul bayangan hitam yang terpantul di semen, Carla merasa hal itu sebagai penanda kematian, dan karenanya dia merasa perlu melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tubuh, waktu, wanita, dan bagaimana pandangan masyarakat ternyata telah tertanam ke dalam relasi dan interaksi keluarga.
Keunikan, kemasan, dan tema yang diangkat dari animasi La Perra membuat film ini telah meraih lebih dari 30 penghargaan dari berbagai festival film, dan terpilih maju ke Cannes Film Festival, Official Short Film Competition (World Premiere)

Masterpiece Mommy, Memproses Relasi Ibu Anak dalam Musikalisasi
Adegan mammogram dalam film ini, konon terinspirasi dari pengalaman Dorothy Sing Zhang sendiri ketika menyaksikan pemeriksaan mammogram. “…the desire to make it a musical was because the machine made these noises that were very rhythmic and melodic like it could be a song, so it was already whimsical and had this spirit to it.” (dari wawancara eksklusif dengan https://variety.com/2024/film/global/masterpiece-mommy-director-tiff-leah-dou-1236101250/)
Namun, adegan itu justru yang menjadi poin utama film ini. Bisa kita lihat bagaimana mammogram ini menjembatani berbagai kepingan peristiwa yang membuat kita bertanya-tanya. Mengapa Tess melakukannya? Mengapa adegan kebanyakan di ruang tunggu? Mengapa Justine begitu takut saat Tess hendak membuka baju? Termasuk, mengapa Justine sangat terpukul ketika melihat perempuan lain yang mantan atlit kehilangan payudaranya?
Pemilihan Leah Dou sebagai Justine oleh Sing Zhang, menjadi istimewa, bukan karena Leah memang aslinya penyanyi. Melainkan sebuah tantangan dan memberikan citra baru untuk menampilkan genre drama musikal modern semacam itu yang faktanya masih jarang diperankan orang Asia.
Lirik lagu yang dibawakan Justine (Leah Dou), termasuk rangkaian musiknya, bagai narasi yang bertutur. Misal, ketika adegan mammogram, terselip suara anak dengan kalimat aku masih mencintaimu, yang sarat makna.
Atau ketika adegan ibu memecahkan balon seorang anak laki-laki disejajarkan dengan adegan konflik Tess dan Justine, terselip musik dan lirik yang hanya berbunyi, “I just”.
Yang puncaknya adalah ketika Justine bernyanyi, cinta kepada ibunya tak bisa dihapus begitu saja. Kepada pinggul yang telah mendorongnya ke dunia, kepada payudara yang telah menyusuinya.
Validasi Perasaan Perempuan (Anak) oleh Perempuan (Ibu)
Menonton kedua film tersebut, membuat saya menelusuri apa pandangan psikolog tentang relasi ibu dan anak perempuan. Apalagi media sosial seolah memprovokasi, “aku melahirkan sainganku sendiri.” Apa benar Ibu dan anak perempuannya tak bisa memiliki relasi yang baik, atau apa mungkin keduanya justru bisa bersahabat baik?
Tulisan -tulisan pada laman pribadi Rosjke Hasseldine (https://www.rosjke.com/) ahli relasi dan terapis keluarga, khususnya hubungan ibu dan anak perempuan, banyak mengungkapkan bahwa peristiwa dalam kehidupan, peran gender yang membatasi, tujuan karir yang tidak terwujud, dan harapan masyarakat bahwa perempuan harus mengorbankan kebutuhan mereka untuk pengasuhan, pada akhirnya akan membentuk cara pandang seorang ibu. Hal tersebut akhirnya memengaruhi bagaimana cara seorang ibu untuk berkomunikasi dan memandang diri mereka sendiri dan anaknya satu sama lain.
Hasseldine menambahkan lagi, bagi anak perempuan, dari usia empat hingga empat puluh tahun ke atas, kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami Ibu adalah tanda mereka dicintai, dan diterima keberadaannya. Apapun atau sebesar apapun masalah, peristiwa dan situasi kondisi yang Ibu mereka hadapi.
Merujuk pada La Perra misalnya, kesedihan anak burung melihat Ibunya melakukan hal sembarang di tempat umum, dan perasaan itu tak divalidasi, membuatnya memilih keluar rumah, seolah mencari-cari cinta dan kebahagiaan, yang berujung dia pun salah dalam melangkah.
Sementara pada Masterpiece Mommy, kita diajak melihat lebih dalam lagi tentang relasi Justine dan Tess, yang mengeksplor perseteruan, rasa bersalah, kegundahan, yang kemudian menjadi kekhawatiran akan hal buruk yang akan terjadi. Ketika semua perasaan itu divalidasi, Justine akhirnya tahu bahwa dia mencintai ibunya-Tess- yang juga mencintainya.
Penulis: Ivy Sudjana

















Discussion about this post