Tahun ini saya kembali mengisi Audio Description (AD) film-film yang dipilih untuk Inclusive Cinema pada Minikino Film Week (MFW) 11. Salah satu film yang saya isi adalah Blitzmusik (Martin Amiot, Kanada, 2024).
Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya adalah sinopsis yang disertakan pada pengiriman audio film, untuk saya pelajari dan persiapkan lebih dahulu. Dua orang tentara di masa perang kehabisan amunisi dan saat itu yang bisa mereka temukan hanyalah alat musik.
Sedikit banyak saya sudah dapat menduga bagaimana isi film ini, namun saya tetap tidak sabar untuk menekan tombol “Play” dan mulai mendengarkan.
Suara ledakan, langkah-langkah kaki tergesa, serbuan suara tembakan, sengalan napas, seruan-seruan teredam. Sepanjang film, saya fokus mendengarkan detail suara film yang dicocokan dengan imajinasi di kepala. Seringkali, saya bisa sangat tidak sabaran untuk mendengarkan film, yang pendek sekali pun. Namun kali ini saya menunggu dengan lebih telaten dari biasanya, mencari-cari sesuatu yang bernada atau suara alat musik yang familier. Kendati di beberapa bagian terdengar sangat ambigu, tetapi tempo film yang cukup cepat membuat saya tidak bosan menunggu.
Setelah beberapa saat, terdengar desingan gramofon. Saya yakin itu gramofon meskipun tidak melihat visualnya. Suara gesekan putaran piringan hitam yang beradu dengan tuas gramofon khas sekali, bukan? Dan lagu jazz klasik yang terdengar kemudian. Lalu desingan crash cymbal yang tak lama disusul ketukan snare berikut tom-tom dan floor tom. Saya semakin tertarik.
Drum set dimainkan beberapa saat kemudian. Tensinya terhenti, lalu hi-hat dan bas menyelaraskan tempo lagu yang masih terputar di gramofon, disusul lengkingan terompet yang sekonyong-konyong dan entah dari siapa dan dimana. Kemudian ledakan.
Semakin saya dengarkan, semakin saya menikmati film ini. Rasanya seperti mendengarkan film pendek favorit, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dan menanti-nantikan titik kulminasinya.
Saya memutar audio film ini dua kali, sambil bertanya-tanya deskripsi visual seperti apa yang akan saya temukan ketika rekaman AD nanti. Ini akan jauh lebih menarik dari film-film yang saya isi sebelumnya.
Ketika proses perekaman deskripsi audio berlangsung, akhirnya saya mendapatkan konteks dari deskripsi visualnya. Rasanya seperti menemukan makna dari sebuah lagu yang tadinya asing. Audio film yang sangat atmosferik. Tensi yang dibawa dalam babak demi babak film, titik puncak yang tepat, dan akhir yang memungkasi keseluruhan sajian film ini dengan baik.
Saya mencoba mengingat-ingat, film pendek mana yang pernah membuat saya memiliki perasaan serupa saat mendengarnya untuk pertama kali? Sepertinya, perbandingan paling jauh yang bisa saya temukan adalah dengan mencocokan apa yang saya rasakan ketika mendengarkan film Suli Storyboard (Anggun Priambodo, 2023) film pendek yang juga saya kerjakan untuk MFW10 tahun lalu.
Ketika tempo film yang tepat membawa tone dialog yang atmosferik, babak-babak yang intensif menanjak ke titik kulminasi, dan akhir sebagai penutup yang tuntas memungkasi premis film. Ini kesan yang beberapa kali saya temukan dalam film-film lainnya yang juga dibuatkan deskripsi audio oleh Minikino Film Week: Bising (Amar Haikal, 2023), Blue Poetry (Heri Fadli, 2023), Perfected Grammar (Andrea Suwito, 2024), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Eden Junjung, 2022) serta Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar (Khozy Rizal, 2023).
Sepertinya saya mulai mendapatkan semacam pencerahan tentang alasan saya bisa mendengarkan beberapa film pendek dengan baik dan telaten. Ini perasaan yang juga membuat saya tidak sabar menikmati film yang lain—baik yang belum dan yang sudah terisi AD.
Semua film yang saya sebutkan di atas adalah film-film pendek yang saya temukan pada festival MFW tiga tahun terakhir. Tidak ada satu pun yang punya genre yang sama. Durasinya pun berbeda-beda. Namun hanya film-film itu yang melekat lama dalam ingatan saya dari belasan film yang diputar pada Sinema Inklusif sepanjang tiga MFW terakhir.
Ketika mendengarkan Suli Storyboard (Anggun Priambodo, 2023) untuk pertama kali, saya terdistraksi dengan narasi yang sudah sangat deskriptif sementara saya harus mengisi deskripsi audio untuk film ini. Yah, waktu itu saya belum menikmati film tersebut dengan baik sebab terjebak dengan premis utama pekerjaan saya sebagai pengisi AD. Pada akhirnya, saya bisa menikmati film itu setelah mendengarnya beberapa kali dan menyukainya.

Mendengarkannya ulang dengan atau tanpa AD tidak memberikan perasaan yang berbeda. Narasi baik, deskripsi cukup lengkap. Ada kedalaman nuansa dalam suara Anggun (Priambodo) di beberapa bagian dan tensi pada setiap babaknya. “Film yang seolah-olah bermain-main dengan ritme,” jika mengutip Edo Wulia, ketika saya bertanya padanya perihal apa yang sebenarnya yang ingin disampaikan film tersebut.
Blitzzmusik (Martin Amiot, Kanada, 2024), tanpa deskripsi audio, dialog, dan narasi sama sekali bisa saya dengarkan tanpa distraksi. Film itu menyampaikan apa yang ingin disampaikan, dengan sedikit tedeng aling-aling, bahkan sebelum saya mengisi deskripsi film ini. Bahkan sebelum tulisan “FUCK THOSE WARS” disodorkan ke depan mata penonton.
Menemukan film pendek yang bisa langsung saya sukai ketika mendengarnya untuk pertama kali, adalah kenikmatan yang sangat jarang saya rasakan. Karena itu, saya terus menelaah bagaimana beberapa film bisa dengan mudah meninggalkan kesan mendalam, bahkan sebelum diisi deskripsi audio.
Kalian pernah menonton film bagus? Bagaimana kalian membahasakan sebuah film bagus? Apa itu bisa disamakan dengan perasaan seperti melihat lukisan yang indah? Atau bisa terasa seperti mendengarkan lagu yang baik?
Terkadang saya khawatir ada bias dan pendapat yang kurang kuat akibat jarang mendapatkan “dosis film pendek”. Namun saya yakin tulisan ini adalah upaya membahasakan bagaimana film yang berbeda genre, berbeda nuansa bisa meninggalkan kesan yang nyaris serupa pada penonton non-visual seperti saya.
Bagi saya, film pendek tetap terasa dan bisa dinikmati dengan didengarkan. Mungkin seperti itu pula kawan-kawan tunanetra saya yang lain. Karena itulah, beberapa film bisa saya nikmati begitu saja tanpa visual, tanpa konteks yang jelas, tapi tetap terasa indah dan menyentuh. Seperti mendengarkan lagu berbahasa asing atau menikmati musik-musik instrumental.
Saya tidak sedang membahas musik di dalam film, atau film yang menggunakan premis musik, atau sesuatu semacam itu. Saya sedang membicarakan kenikmatan yang lebih universal. Perihal tata suara yang apik, tone yang emosional, tempo yang tepat, titik puncak, dan intensi yang dibawa di setiap babak jika kita membicarakan film pendek. Beberapa film yang pernah saya dengarkan, dengan atau tanpa AD, teridentifikasi dan saya nikmati dengan cara ini, dan itu terasa seperti mendengarkan lagu yang terkomposisi dengan baik. Saya bisa betah mendengar dan mengulangnya tanpa visual maupun deskripsi audionya.
Bagi saya, AD bukan bagian dari film, tidak akan pernah bisa menyampaikan isi film dengan atmosferik, atau membuat film menjadi lebih mudah dipahami. Namun deskripsi audio adalah alat agar film sampai ke kelompok yang tidak duduk di bangku utama bioskop, alat bantu agar konteks sinematik, suara, dan cerita tersampaikan pada mereka.
Editor: Edo Wulia

















Discussion about this post