Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

    Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

    Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

    Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

    Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

    Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

    Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

    Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

    Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

    Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

    Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home ARTICLES

Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

Made Virgie Avianthy by Made Virgie Avianthy
October 16, 2026
in ARTICLES, NOTES, SHORT FILMS
Reading Time: 9 mins read
Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Perhotelan mulai memperbanyak cabang, pantai juga tak sedikit yang dikomersialisasi, namun apakah Bali sebagai provinsi kedua dengan tingkat pariwisata tertinggi di Indonesia siap menghadapi problema dari dampak pariwisata yang massive ini? Melihat arus pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh sektor pariwisata, juga berbanding lurus dengan konsumerisme dan dampak yang ditimbulkan pada lingkungan. Isu terkait pengolahan sampah, transportasi publik, energi terbarukan, ketahanan energi pesisir, dan inovasi berbasis komunitas menjadi lima fokus yang jalani oleh inisiasi bernama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih. Inisiasi yang dibangun sebagai bentuk kesadaran pada isu lingkungan ini dimulai sejak tahun 2023 untuk mencapai target emisi nol bersih di Bali pada tahun 2045.  Koalisi Bali Emisi Nol Bersih sendiri berisikan beberapa anggota yakni : Azura Indonesia, CAST Foundation, IESR, New Energy Nexus, dan WRI Indonesia yang memiliki perhatian isunya masing-masing.

Selama hampir 3 tahun inisiasi ini dilaksanakan, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih melihat adanya kemungkinan untuk mengembangkan program tahunannya yakni Pekan Iklim Bali, dengan melibatkan filmmakers untuk hadir dalam merepresentasikan perhatian isu dari masing-masing anggota koalisi lewat program pembuatan film dengan dukungan intensif. Bekerja sama dengan Minikino, Lensa Iklim Bali Short Film Fellowship 2026 akhirnya diluncurkan pada 30 Mei 2026 lalu. Program ini menjadi kolaborasi pertama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih dan Minikino yang menjadi bagian dari semangat keduanya terhadap wacana terkait isu lingkungan dan pengembangan ide kreatif berbasis film pendek. Minikino memiliki semangat dalam mendukung produksi film pendek dan membuka ruang percakapan terkait isu global yang tengah dihadapi hari ini. 

Memberikan ruang bagi para bibit muda yang memiliki semangat terhadap produksi pengetahuan lewat film pendek, menjadi salah satu semangat Minikino. Program Lensa Iklim Short Film Fellowship 2026 ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk menceritakan isu lokal dan komunitas setempat yang kurang mendapatkan sorotan. Melalui program ini, banyak cerita-cerita masyarakat setempat di berbagai penjuru Bali dapat diproduksi. Membicarakan isu lingkungan tentunya juga berkaitan dengan siapa yang terdampak? Hingga apa solusi yang dapat ditawarkan? Film-film yang diproduksi lewat program fellowship ini tentu tidak selalu menjawab permasalah terkait isu lingkungan secara instant, tetapi membuka percakapan terkait isu tahunan yang tak kunjung usai. 

Membawa narasi lintas komunitas hingga persoalan lingkungan yang berdampak pada ruang-ruang internal seperti rumah tangga, film-film produksi hasil program fellowship ini berupaya menjembatani percakapan berkaitan dengan isu lingkungan dari masyarakat yang terdampak kepada diskusi yang lebih besar terkait isu lingkungan yang menjadi percakapan dalam skala global. Kelima projek terpilih ini juga merepresentasikan perhatian isu dari anggota-anggota Koalisi Bali Emisi Nol Bersih seperti : “Satu Pemberhentian Lagi” (Produksi Amrita Studio merespon isu kota dan transportasi dari WRI Indonesia), “Dapur Laut” (Produksi Niskala Studio merespon isu ketahanan energi komunitas pesisir dari Azura Indonesia), “Balinese Sunset” (Produksi Feugee merespon isu pengolahan sampah dari New Energy Nexus), dan “Where The Sun is Harvested” (Produksi Singaraja Menonton merespon isu energi terbarukan dari IESR). Minikino Studio mengambil alih satu kelompok produksi yang mengundurkan diri dan mengembangkan sebuah film animasi pendek yang mengangkat inisiatif Desa Utak-Atik Fab Lab Bali/ CAST Foundation di Serangan.

Lokakarya Lensa Iklim Bali 14-16 Juli 2026 di MASH Denpasar

Lewat kolaborasi bersama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih pada program Lensa Iklim Bali Short Film Fellowship 2026, para pembuat film yang terlibat mendapatkan dukungan mentoring secara intensif selama pra-produksi dalam mengembangkan naskahnya hingga lebih matang untuk dapat diproduksi. Lokakarya pada 14-16 Juli 2026 yang diadakan secara luring di MASH Denpasar menjadi tahap awal pengembangan bagi proyek yang terpilih. Lokakarya ini didukung oleh mentor yang telah aktif terlibat di industri film dan fokus pada percakapan isu global secara konsisten yakni, Putu Kusuma Wijaya dan Kiki Febriyanti. Usai lokakarya tersebut, partisipan terpilih mulai memproduksi karya hingga tahap pra produksi dengan pendampingan para mentor pada 17 Juli hingga 18 Agustus 2026. Film-film hasil program fellowship ini, akhirnya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program Roast Your Short di Minikino Film Week 12. Program ini memberikan kesempatan bagi partisipan Lensa Iklim Bali Short Film Fellowship untuk menayangkan hasil rough cut filmnya masing-masing dan menerima masukan dari para pembuat film, programmer, dan akademisi film dalam skala internasional.

Roast Your Short – Percakapan Isu Lingkungan dan Sorotan Internasional

Kelima proyek terpilih akhirnya menampilkan hasil rough cut-nya masing-masing di Minikino Film Week 12. Tanggapan diberikan praktisi dan profesional seperti Patrick Campos (Pakar Film, Kurator-Programmer, dan Profesor di University of the Philippines Film Institute), Chaehee (Direktur Festival Gwangju Women’s Film Festival di Korea Selatan.), dan Mélissa Bouchard (Kepala Programmer REGARD – Saguenay International Short Film Festival) yang merupakan tamu undangan untuk program industry event kali ini. Ketiga profesional yang hadir untuk memberikan masukan kepada bibit muda dalam program Roast Your Short ini, juga merespon bagaimana percakapan terhadap isu lingkungan yang terjadi di Indonesia hari ini khususnya di Bali, juga relevan dengan tantangan apa yang mereka hadapi di negara mereka masing-masing. Tidak hanya mendapatkan respon dari ketiga roaster yang sudah profesional dibidangnya, mereka juga mendapatkan sorotan dalam cakupan internasional lewat partisipasinya di Roast Your Short sebagai salah satu dari rangkaian Short Film Market MFW 12 kali ini. Program ini juga memberikan dukungan insentif tambahan bagi rough cut terbaik dengan pemungutan suara dari para hadirin yang datang menyaksikan program ini. Pengumuman pemenang juga diadakan bersamaan pada malam puncak penghargaan Minikino Film Week 12.

Chaehee salah satu roaster sekaligus representasi dari Gwangju Women’s Film Festival yang hadir pada program yang diadakan pada 16 September 2026 lalu juga menambahkan bahwa isu terkait polusi udara dan penggunaan moda transportasi publik menjadi percakapan yang cukup relevan dalam situasi di Korea Selatan saat ini. Ia menjelaskan bahwa film “Satu Pemberhentian Lagi” produksi Amrita Studio ini memiliki potensi dalam membawa wacana terkait isu kepadatan penduduk dan polusi yang terjadi di lingkungan secara global. Film yang merespon perhatian isu dari WRI Indonesia ini juga mendapat masukan dari Patrick Campos seorang pakar film dan profesor asal Filipina. Ia melihat wacana yang dibawakan oleh film ini juga memiliki potensi dalam upaya representasi budaya. Bali yang dalam konteks program ini tidak hanya menjadi lanskap, tetapi lokus dari permasalahan yang dibawa oleh inisiasi Koalisi Bali Emisi Nol Bersih ini memiliki potensi permainan simbolisasi kultural yang dapat ditekankan pada film ini. Patrick melihat bahwa Bali punya nilai budaya yang cukup kuat sehingga dapat dieksplorasi lebih dalam bagi para filmmakers setempat.

Bali yang sering dijuluki Pulau Dewata, juga memiliki isu terhadap kondisi komunitas di pesisir. Pesisir dan laut sudah menjadi bagian dari kehidupan warga setempat, khususnya yang bermukim di area tersebut. Film “Dapur Laut” produksi Niskala Studio memilih format dokumenter dalam membingkai problematika masyarakat pesisir. Dengan mengambil fokus pada isu ketahanan energi dan komunitas pesisir, film ini mendokumentasikan salah satu subjek yang bekerja sebagai nelayan. Gejolak lingkungan khususnya yang berdampak pada laut dan tangkapan ikan, juga mempengaruhi ruang-ruang intim khususnya dapur yang menjadi tempat dimana proses pengolahan terjadi sebelum hadir di meja makan.

Roast Your Short – Industry Events 8th Short Film Market MFW12 di Rumah Tanjung Bungkak (Dok: Messi Maranatha Simangunsong)

Film tersebut juga merepresentasikan isu yang diperhatikan oleh salah satu anggota koalisi yakni Azura Indonesia. Nelayan menjadi satu pekerjaan yang berperan penting terhadap perekonomian, semua yang tersaji di meja makan melewati tangan-tangan dan usaha dari para nelayan. Azura Indonesia memiliki perhatian khusus terhadap isu lingkungan yang dihadapi oleh para nelayan, dilansir pada situs Bale Bengong, Azura Indonesia juga mendorong transisi energi di sektor perikanan skala kecil sekaligus memperkuat ekonomi keluarga nelayan. Di Kusamba, 10 kelompok nelayan memperoleh mesin ketinting listrik, motor listrik hasil konversi, serta pelatihan peningkatan kapasitas. Mellisa Bouchard salah satu roaster yang juga merupakan kepala program dari REGARD – Saguenay International Short Film Festival menambahkan bahwa ia melihat ada potensi narasi yang dihadirkan dalam film ini yang cukup relevan dalam problematika lingkungan dan wacana global hari ini. Patrick juga melihat potensi tersebut dan menyarankan, dengan menangkap momen dari kehidupan nelayan di Bali, film ini dapat membangun tensi yang cukup hangat sekaligus intens dengan peristiwa yang dialami oleh subjeknya dengan mengatur ritme editing yang digunakan. Edo Wulia yang merupakan Festival Director MFW12 juga menambahkan bahwa penggunaan musik dapat diperhatikan kembali, justru menempatkan kekuatan visual dalam menghadirkan ritmik tanpa lagu dapat memberikan kesan musikal tanpa kehadiran lapisan musik itu sendiri.

Berbeda dengan film “Dapur Laut”, film dengan judul work n progress “Balinese Sunset” produksi Feugee Studio dalam merespon isu pengelolaan sampah yang menjadi isu yang diperhatikan oleh New Energy Nexus, justru menemukan kekuatannya dalam penggunaan scoring pada bagian pembukaan filmnya. Chaehee juga menyebut film ini memberikan kesan misterius dalam bagian pembukanya, dengan pengambilan gambar yang apik. Film ini berhasil menyampaikan pesan tentang Bali yang dianggap indah dan spiritual, namun semakin lama kamera bergeser, nilai yang ditampilkan tentang Bali itu pun juga bergeser, yakni berfokus pada keindahan Bali yang mulai pudar akibat isu pengelolaan sampah yang terus menjadi permasalahan tahunan Pulau Dewata ini. Patrick justru menangkap kesan kekumuhan ini sebagai ruang apokaliptik yang disajikan dalam film ini dan sangat potensial untuk mengarah pada isu tersebut, namun film ini menyajikan gambar berulang dan adegan yang terasa patah, sehingga usai pembukaan film ini mulai kehilangan arah menuju resolusi. Satu kunci yang serupa pada film sebelumnya, film “Balinese Sunset” juga memiliki isu serupa, yakni perlu menemukan ritme dan fokus narasi yang dibawa.

Isu lingkungan sendiri tentu tak jarang kita dengar dalam cerita lokal, biasanya keduanya berkaitan untuk saling menjaga, seperti pemahaman lokal yang juga menjadi bentuk pelestarian lingkungan sekitar. Film produksi Singaraja Menonton yang berjudul “Where The Sun is Harvested”  mengelaborasi sudut pandang anak dan cerita lokal dengan pengetahuan alam dalam membangun kesadaran lingkungan lintas generasi. Film yang berfokus pada isu yang dibawa oleh IESR ini berhasil membawa narasi segar terkait kesadaran lingkungan khususnya pada sektor energi terbarukan. Dengan membawa anak-anak sebagai tokoh utama, Mellisa menyebut film ini tentu membawa tantangan tersendiri, ia juga menambahkan bahwa ia cukup menikmati film ini bahkan untuk dirinya yang cenderung kurang tertarik untuk menonton film bertema anak-anak. Patrick memberikan tanggapan terkait komposisi musik yang dihadirkan cukup baik dalam film ini, namun dengan membawa tema anak-anak, cerita rakyat, dan pengetahuan alam, ia berharap ada resolusi yang lebih puitis untuk mengakhiri film ini dengan benang merah yang dibawa dari awal film. Film ini akhirnya juga menjadi pemenang dari Roast Your Short 2026 dan mendapatkan insentif tambahan yang diharapkan dapat mendukung produksi dan distribusi film lebih baik.

Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Kehadiran film-film dalam tahap rough cut ini dalam program Roast Your Short tentu bukan menjadi akhir dari proses pengembangan karya masing-masing dari mereka. Program ini diharapkan memberikan ruang aman dalam bentuk diskusi dan kritik yang dapat membangun potensi-potensi pembuat film muda untuk tetap memiliki semangat dalam memproduksi pengetahuan lewat film pendek. Program fellowship seperti Lensa Iklim Bali ini, tentu menjadi wadah bagi mereka para pembuat film muda untuk terus memiliki semangat dalam memproduksi sebuah karya, tentunya dengan dapat turut serta dalam program Roast Your Short juga menambah ruang eksplorasi yang dilakukan bagi masing-masing rumah produksi. Mendapatkan masukan secara langsung dari para profesional dalam jaringan internasional tidak hanya memperluas kemungkinan pengembangan film yang diproduksi dalam fellowship ini saja, tetapi juga membuka kemungkinan dalam membangun jejaring internasional secara langsung.

Berkarya Untuk Berdampak

Menciptakan sebuah karya khususnya film, tentu memiliki tanggung jawab tersendiri bagi masing-masing pembuatnya. Membawa kisah satu dua orang dalam film yang berdurasi singkat, mungkin hanya mengambil sebagian kecil dari keseluruhan kisah hidupnya. Ketika pembuat film sudah berkomitmen dalam memproduksi film meskipun film fiksi, tentunya terdapat para pekerja dibalik layar yang hadir sekian menit dalam credit, atau riset bertahun-tahun untuk membuat satu naskah yang dipadatkan menjadi sekian menit. Semua usaha yang dituangkan dalam membuat film banyak yang tidak tampak bersamaan saat karya tersebut mulai pergi berkeliling, dari satu layar ke layar lainnya.

Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Messi Maranatha Simangunsong)

Meskipun produksi yang dilakukan dalam program Lensa Iklim Bali Short Film Fellowship ini terjadi cukup singkat banyak hal yang didapat oleh para partisipan. Cara pandang, diskusi antar mentor, tanggapan dari kacamata internasional, hingga tekad yang terus dipupuk hingga karya tersebut berhasil dirampungkan menjadi bekal bagi mereka untuk dibawa selama nafas karirnya di industri film. Program ini juga memiliki harapan untuk terus meningkatkan kesadaran para pembuat film akan krusialnya problematika lingkungan ini. Film merupakan ruang kolaborasi yang dipercaya dapat memperpanjang inisiasi tersebut, dari satu layar ke ratusan hingga ribuan penonton yang mulai sadar dan mulai menengok perlahan permasalahan apa yang sedang terjadi di lingkungannya? Dari sebuah karya yang memberikan dampak, diharapkan dapat menimbulkan kesadaran, keresahan, dan kegelisahan terkait isu lainnya untuk mulai dibicarakan, lewat film pendek bahkan media-media lainnya. Kelima film yang diproduksi dari program fellowship tersebut akan ditayangkan pada program Pekan Iklim Bali pada tanggal 17 Oktober 2026. Program penayangan film ini menjadi salah satu upaya keterlibatan produksi film dan filmmaker muda untuk terus membawa percakapan-percakapan terkait isu krisis iklim hari ini, silahkan datang dan berdialog bersama.

 

Tags: Energi BersihFellowshipIklim BaliNew Energyshort film
ShareTweetShareSend
Previous Post

Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy (b. Jakarta, 2003) Seorang pembuat film berbasis riset, berfokus pada ranah dokumenter dan experimental naratif. Karyanya pernah masuk ke dalam festival dan pemutaran film, seperti ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Festival Czas Letni di Polandia, ELSE Moving Image Screening Series di Doc & Pub Thailand, Ba - Bau AIR di Vietnam. Di samping proyek independennya, ia juga aktif berkontribusi dalam ruang-ruang kesenian dan komunitas di Bandung, Jogja, dan Bali dalam program penayangan film, diskusi, dan workshop.

Related Posts

GEN Z POV - Industry Events 7th Short Film Market MFW11 di Dharma Negara Alaya  (Dok: Felixrio Prabowo)

Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

October 9, 2026
Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

September 25, 2026
Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

September 25, 2026
Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

September 8, 2026
Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

September 3, 2026
Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

August 31, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

October 16, 2026
GEN Z POV - Industry Events 7th Short Film Market MFW11 di Dharma Negara Alaya  (Dok: Felixrio Prabowo)

Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

October 9, 2026
KORINCO: The First Stamps (2026) at MASH Denpasar

Behind the Screen of KORINCO

October 6, 2026
Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

September 25, 2026
Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

September 25, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini
  • Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z
  • Behind the Screen of KORINCO
  • Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik
  • Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERNATIONAL
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media