Sebagai seorang Gen Z, sering sekali saya mendengar Gen Z disebut sebagai pemalas, terlalu frontal atau cuman ingin gampangnya saja. “Kamu kok di kamar terus?” “Baru segitu doang udah cape.” “Hidup kamu enak sekarang, ga kaya dulu.” “Kok belum dapat kerja? Padahal sekarang gampang nyari kerja.” Komentar seperti itu biasanya dilontarkan oleh generasi milenial atau yang lebih tua kepada Gen Z. Hal yang sudah biasa jika kita membicarakan tentang perbedaan zaman dan teknologi yang sudah maju menyebabkan pandangan Gen Z berbeda dengan generasi lainnya dan tidak akan ada habisnya perbincangan ini.
Namun, berdasarkan pengalaman dan kenyataannya, hidup di tahun 2026 sebagai Gen Z dengan teknologi yang serba maju dan informasi yang tersebar luas tidak semudah itu. Miskonsepsi tentang kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan justru berbanding terbalik dari apa yang dipikirkan. Lapangan pekerjaan yang tidak sebanding jumlahnya dengan jumlah para pencari kerja merupakan kenyataan pahit yang sedang terjadi. Membawa gelar sarjana saja bukan modal yang cukup di zaman sekarang. Belum lagi syarat-syarat yang memang sulit dan tidak cocok sebagai lulusan baru. Ada beberapa perusahaan yang membuka lowongan dengan posisi magang tapi requirement untuk posisi tersebut membutuhkan pengalaman 1 hingga 2 tahun. Ada juga yang membuka lowongan dengan tipe entry-level dan honor yang seadanya tapi tugas dan skill yang dibutuhkan merupakan tipe profesional yang dimana tidak mungkin dilakukan oleh fresh graduate. Jangankan mendapatkan kerja, bahkan untuk sekedar dipanggil interview saja sudah cukup sulit jika syarat awalnya seperti itu.
Kegelisahan Gen Z merupakan topik yang sesuai dengan jeritan batin yang uniknya muncul sebagai bahasan utama di 7th Short Film Market Minikino Film Week 11 tahun 2025 lalu. Sesuai tema, judul industry events tersebut adalah Gen Z POV yang diadakan di Dharma Negara Alaya Denpasar tanggal 17 September 2025 dengan pembicara Gregorius Gabriel Kohar, Cok Istri Dian Rini Primadewi dan Saddam Putra Dewa Rimbawan. Saddam membagikan pengalamannya dari sudut pandang filmmaker saat dia bekerja di produksi film dan syuting series. Menurutnya, stigma negatif dilanggengkan oleh generasi milenial terhadap Gen Z. Bentuknya bermacam-macam, meliputi perkataan dan anggapan bahwa Gen Z tidak bisa diarahkan serta tidak mau bekerja di bawah tekanan. Dalam kata lain Gen Z hanya ingin gampangnya saja.
Menurut Saddam, yang baru saja lulus dari studi S1 Film & Televisi ISI Yogyakarta, Gen Z yang bekerja di industri film jarang memiliki kontrak yang jelas dan umumnya mendapatkan posisi sebagai asisten atau intern saja. Porsi pekerjaan yang diberikan terkadang di luar posisi mereka sebagai intern dan pekerjaan yang overload divalidasi oleh pemberi kerja sebagai “pengalaman untuk belajar”. Belum lagi kalau membahas bayaran yang tidak sepadan dengan tugas. Permintaan untuk kenaikan gaji hanya dibalas dalih saat masih muda sebaiknya cari pengalaman saja. Romantisasi kata-kata ‘pengalaman’ atau ‘kesempatan belajar’ membuat eksploitasi terhadap Gen Z dianggap hal wajar di dunia kerja.

Sebagai Gen Z yang mendengarkan rekaman percakapan industry events sebagai bagian dari kerja magang saya di Minikino Film Week, nyaris satu tahun setelah percakapan tersebut terjadi, ada rasa miris sekaligus tervalidasi. Menurut saya, gap antargenerasi ini juga membuat Gen Z bisa bangkit dan lebih kreatif lagi di era globalisasi seperti saat ini. Tantangan seperti mental health, generational trauma, inklusivitas dan sebagainya sebetulnya lebih mudah disampaikan dan disoroti di zaman sekarang. Isu-isu ini sudah tidak lagi menjadi hal yang tabu untuk dibahas. Salah satu alat yang bisa dijadikan titik awal untuk membahas tentang masalah-masalah ini adalah film. Saya rasa pas sekali hal ini ternyata menjadi topik bahasan industry events di MFW11 tahun 2025 lalu.
Secara tidak langsung, film menjadi coping mechanism bagi banyak orang dari kalangan Gen Z dalam menghadapi masalah mereka. Film menjadi media untuk filmmaker dan juga penonton untuk menyampaikan sesuatu. Film dapat beresonansi dengan kehidupan dan masalah yang sedang dihadapi oleh Gen Z. Film seakan memberi suara yang berbicara menggantikan mereka. Terlebih lagi jika membahas tentang trauma.
Begitu juga yang disampaikan oleh Saddam dan Greg dalam sesi Gen Z POV di MFW11 tahun 2025 lalu. Greg yang memiliki generational trauma karena dirinya seorang keturunan Cina-Indo (Chindo) merasa bahwa film telah membantu dirinya untuk lebih merasakan perasaannya sendiri. Greg juga berusaha untuk membawa isu ini keluar dan lebih dilihat lagi oleh orang-orang dengan mengembangkan sebuah film dan membuat perubahan sebagai seorang Gen Z. Sementara itu, Saddam yang memiliki trauma dengan keluarganya yang broken home, juga melakukan hal yang sama untuk berkontemplasi agar bisa bangkit. Dia menggunakan film yang dia bikin sendiri dan film tersebut beresonansi dengan banyak orang. Banyak dari penonton ini juga yang memiliki cerita dan perasaan yang sama dengan apa yang dialami oleh Saddam.

Sebagai produser dan programmer di beberapa pemutaran film pendek, Saddam memandang advokasi atau awareness yang dibangun melalui film oleh Gen Z biasanya merupakan kesadaran mengenai isu sosial yang dirasakan oleh banyak orang. Medium audio visual dirasa lebih mudah untuk dimaknai dan akan lebih menyentuh perasaan para penonton. Dengan adanya representasi melalui film, diharapkan orang lain akan terdorong untuk menghadapi masalah mereka. Selain membantu mereka yang sedang membutuhkan, kepekaan terkait isu yang tidak diketahui umum juga akan menjadi sebuah aspek yang penting.
Sementara itu, Cok Istri Dian Rini Primadewi, atau yang biasa dipanggil Cok Ima, membawa perspektif Gen Z dalam isu tentang inklusivitas dan keterkaitannya dengan para penyandang disabilitas. Cok Ima mengingatkan representasi disabilitas dalam film atau media sosial merupakan hal yang sangat penting. Berbagai dampak positif dapat didorong untuk teman-teman disabilitas, misalnya rasa percaya diri, lebih berani lagi untuk beropini dan bahkan bisa mengurangi stigma negatif terhadap penyandang disabilitas yang dianggap sebagai “beban”. Lebih dari itu, penggunaan film atau media sosial dapat menunjukkan kemampuan orang dengan disabilitas lebih dari apa yang dipikirkan orang lain, atau bahkan mendobrak pandangan mereka sendiri. Pada saat yang bersamaan, kepekaan masyarakat terbangun sekaligus menjadi sarana edukasi terkait penyandang disabilitas.
Sebagai seorang Gen Z yang sedang kerja magang di Minikino dan sekaligus penggemar film, saya tergerak untuk menulis artikel dengan topik ini karena merasakan langsung bagaimana film bisa sangat membantu menjadi cermin dalam memproses perasaan dan pandangan saya tentang kehidupan. Saya merasa ‘dilihat’ atau bahkan termotivasi karena film tersebut menjadi sesuatu yang merepresentasikan saya dalam kehidupan nyata. Untuk seseorang yang sulit mengungkapkan perasaan dan jarang bercerita, menonton film membuat saya lebih memahami perasaan sendiri. Saya rasa ini bukan perasaan yang eksklusif milik saya seorang diri.
Dari tantangan yang ada, saya percaya Gen Z akan mengukir gayanya sendiri untuk mengatasi berbagai problema hidup personal maupun tantangan ekonomi hari ini. Kesempatan magang merupakan jembatan potensial untuk mahasiswa tingkat akhir atau pun fresh graduate untuk mengatasi gap antargenerasi dan membangkitkan pemahaman satu sama lain untuk saling menghargai. Pengalaman dan ilmu yang didapatkan sangat bermanfaat bagi orang yang baru saja menetas dari kampus dan terjun ke dunia profesional. Namun perlu dicatat bahwa Gen Z tetap perlu cermat memperhatikan dan memilih apa yang baik dan tidak untuk kita. Kesadaran diri sangat penting agar kita bisa ‘selamat’ dalam dunia profesional. Begitu juga belajar bersikap dan menempatkan diri di lingkungan kerja lintas generasi, tua maupun muda. Niscaya romantisasi kehidupan tak akan jadi senjata makan tuan.
Editor: Fransiska Prihadi





















Discussion about this post