Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home INTERVIEWS

Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

Made Virgie Avianthy by Made Virgie Avianthy
August 31, 2026
in INTERVIEWS, SHORT FILMS
Reading Time: 8 mins read
Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Dari Riset Hingga Pandangan Politik

Bagaimana jika publik memiliki kuasa untuk menceritakan tragedi historis lewat kacamata personal mereka sebagai orang biasa? Kira-kira begitu premis yang ditawarkan film “Last May In Theaters” karya sutradara Arief Budiman yang berupaya menangkap narasi personal penjual tiket bioskop diantara dua belahan Asia – Indonesia dan Korea Selatan – yang sempat mengalami kediktatoran pada masa 80an (Gwangju uprising) dan 98 (Tragedi 98). Pengalaman Arief dalam menelusuri Gwangju  sudah dimulai sejak tahun 2024 saat melakukan residensi pendek yang diorganisir oleh Miro Center and Artspace House, yang merupakan ruang kesenian yang memadukan budaya, pengembangan, dan revitalisasi kota. Miro Center & Artspace House juga mendukung seni dan kebudayaan bagi generasi baru di era baru, memiliki esensi pada upaya menemukan nilai-nilai kemasyarakatan lewat kegiatan kesenian. Lewat proses residensinya di Gwangju, Arief melihat kecenderungan masyarakat Korea Selatan yang cakap dalam menolak lupa tragedi Gwangju Uprising. Ruang-ruang publik banyak diisi dengan tangkapan foto-foto dari tragedi tersebut yang dicetak dalam skala besar. Kekejaman pada tragedi tersebut justru dibangkitkan dan terus diingat antargenerasi.

Melihat cara masyarakat Korea Selatan dalam terus mengingat sejarahnya, terbesit oleh Arief “bagaimana jika kekerasan yang terjadi dalam tragedi 98 juga diperlakukan serupa dengan apa yang dilakukan masyarakat Korea Selatan terhadap Gwangju Uprising?”. Namun ia menambahkan bahwa itu hampir tidak mungkin terjadi di negara ini. Lewat temuan tersebut, Arief melihat adanya kesamaan situasi politik yang pernah terjadi antar dua negara ini, yang memantik kehadiran film “Last May in Theaters” hari ini. Residensinya di 2024 bersama Miro Center & Artscape House yang menginspirasi bagaimana Arief mengelaborasikan filmnya dengan 35% penggunaan generative AI. Bukan hanya keputusan artistik, tetapi juga sebagai upaya dalam mengisi kekosongan narasi personal terkait historis Gwangju Uprising berdasarkan temuannya di lapangan seperti, foto dokumentasi historis di jalanan dan wawancara manajer bioskop di Gwangju.

Pertemuan Arief dengan manajer bioskop di Gwangju menjadi cikal bakal mengapa ia memilih penjual tiket sebagai tokoh utama yang menjalankan cerita. Ketika melakukan residensi bersama Miro Center & Artspace House, Arief juga banyak mengunjungi beberapa situs bersejarah terkait peristiwa Gwangju Uprising seperti balai kota, rumah sakit militer, pemakaman, dan juga salah satunya bioskop lama tersebut. Kunjungan ini mempertemukan dirinya dengan salah seorang manager bioskop di Gwangju. Manajer bioskop itu menceritakan pada Arief bahwa saat tragedi Gwangju Uprising, ruang-ruang publik salah satunya bioskop digunakan sebagai ruang pertemuan politik dan tempat warga berkumpul untuk membahas situasi Gwangju pada masa represif tersebut. Di masa tersebut juga terdapat beberapa film yang ditayangkan di bioskop Gwangju, tepat di tahun 1980 pada bulan Mei. Film-film yang sempat diputar di bulan tersebut, juga menandai periode masa tragedi-tragedi historis lain, seperti tragedi kekerasan 98 di Indonesia yang juga terjadi di bulan Mei di tahun yang berbeda – 1998.

Dengan latar belakang karyanya yang banyak menggali ingatan atas tragedi historis di Indonesia, Arief melihat adanya keterhubungan dua historis antara Indonesia dan Korea Selatan. Hal ini memantik eksplorasi narasi film “Last May in Theaters” lewat kacamata bioskop sebagai ruang ingatan spasial dan pengembangan narasi lewat tokoh penjual tiket. Perjalanan menelusuri arsip dan ingatan Tragedi 98 pun dimulai lewat artikel dalam jaringan yang membahas tentang bioskop Buaran pada masa itu. Arief mulai menemukan film-film apa saja yang muncul di layar bioskop Buaran Jakarta selama Tragedi 98 pada bulan Mei. Pada artikel dalam jaringan dari CNN tercatat beberapa cerita dari para pekerja bioskop Buaran pada masa Tragedi 98 saat pemutaran “Titanic” di Indonesia berlangsung. Data ini sekaligus menjadi pembabakan dalam cerita, yang menegaskan bahwa film selalu berkaitan dengan situasi politik. Alih-alih melakukan periodisasi tragedi lewat grafik transisi tahun yang cukup dekat dengan praktik dokumenter historis, Arief justru melihat eksplorasi periodisasi tragedi juga dapat diceritakan lewat jadwal penayangan film seperti di bioskop dan festival film. Arief menggaris bawahi sebagian film yang hadir memiliki tanggalan yang sama, namun berbeda tahun. Melalui pendekatan ini, Arief menekankan posisi medium film sebagai ruang politis, dimana film selalu berkaitan dengan suatu peristiwa politik. Ketika membicarakan sejarah estetika, konteks politik dan kekerasan didalamnya juga terus berkaitan. Sehingga lapisan lain juga dapat terlibat, seperti bagaimana ekosistem bioskop film kala itu tetap bekerja. Hal ini juga menjadi upaya mempertebal konteks film sebagai medium yang tidak akan terlepas dari konteks historikal setempat. 

Suara Warga

Membawa keseluruhan cerita lewat kacamata penjual tiket bioskop sebagai penutur, tidak hadir begitu saja di film “Last May in Theaters”. Dalam wawancara, Arief menceritakan bahwa arsip yang ia temukan di ruang-ruang publik Korea Selatan dan Indonesia, terkait ingatan Gwangju Uprising dan Tragedi 98, tidak banyak ia temukan narasi personal yang timbul ke permukaan. Alih-alih selesai dengan temuan arsip publik itu, Arief justru melihat batasan ini menjadi upaya dalam mengembangkan narasi tragedi historis tersebut lewat sudut pandang alternatif, seperti tokoh penjual tiket sebagai suara warga. 

Untuk film ini Arief bekerja sama dengan dua  aktor yang menjadi penutur Indonesia (Irwan Diansyah) dan Korea Selatan (Chan Kook). Arief juga menambahkan bahwa eksplorasi narasi yang dikembangkan, juga dilakukan bersama para aktor. Irwan Diansyah dan Chan Kook yang juga merupakan sahabat baik Arief, memiliki pengalaman personal dalam tragedi 98 Indonesia dan Gwangju Uprising. Mempertimbangkan pengalaman personal yang mereka miliki, Arief tidak hanya mengajak keduanya terlibat sebagai aktor penutur, tetapi juga berkolaborasi dalam proses pengembangan narasi yang akan dihadirkan. Proses pengembangan narasi lewat pengalaman personal kedua aktor ini, menjadi metode dalam mempertebal emosionalitas karakter fiktif yang dibangun sebagai penutur kronologi tragedi dalam film. 

Selama ini penguasa menuliskan narasi dan membakukannya menjadi sejarah, namun narasi milik siapa yang sebenarnya diangkat ke permukaan? Milik penguasa atau milik mereka yang mengalami tragedi represif tersebut? Lewat film ini Arief berupaya membuka kemungkinan medium film dalam memunculkan narasi alternatif ke permukaan sebagai wacana sosial. Film ini juga memantik penonton untuk berpikir kritis dan mempertanyakan kembali tragedi represif seperti 98 dan Gwangju Uprising. 

Pemilihan dua tragedi antarnegara dalam film ini, berkaitan dengan proses yang dilakukan sutradara sekaligus penulis film ini selama residensi di Korea Selatan. Lewat proses refleksi atas apa yang terjadi di Korea Selatan dan sejarah represif di Indonesia, Arief memutuskan merangkum dua tragedi antar negara ini sebagai upaya menghubungkan relasi kontekstual antar negara di Asia. Proses pengambangakan narasi film lewat relasi kontekstual antarnegara ini, bukan pertama kali ia lakukan. Pada tahun 2025 Arief juga memproduksi film pendek eksperimental berjudul “Shadow of The Sakura” yang juga menghubungkan tragedi historis dan traumatis antara Jepang dan Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa masa transisi sejarah yang terjadi, memiliki keterikatan konteks dalam bentuk trauma historisnya, Arief menyebut Asia sebagai saudara yang berbagi luka sejarah (sharing historical pain), yang membuat filmnya dapat beresonansi dengan wacana sosial antar negara asia bahkan global.

Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Artistik Sebagai Keputusan

Arief Budiman sebagai seorang pembuat film dan seniman banyak mengeksplorasi konteks historis lewat kacamata personal. Pembahasan suatu isu atau tragedi historis, selalu berkaitan dengan ingatan terhadap peristiwa tersebut. Namun mengeksplorasi ingatan personal yang berkaitan dengan tragedi historis juga perlu menghadirkan tangible memories (ingatan yang berwujud nyata). Inilah peran temuan seperti dokumentasi tragedi dalam bentuk video maupun foto sering kali hadir dalam beberapa film yang ia buat. 

Dalam “Last May In Theaters” banyak elaborasi arsip yang hadir sebagai visualisasi ingatan penjual tiket bioskop, karakter dalam film tersebut. Namun Arief menyadari keterbatasan eksplorasi narasi personal terkait ingatan tragedi tersebut. Keputusan penggunaan generative AI dalam film ini, menjadi upaya dalam mengisi kekosongan visualisasi arsip ingatan. Lewat film ini kita dapat melihat bagaimana penggunaan generative AI dapat memberdayakan ingatan personal warga, sebagai narasi alternatif yang hadir ke permukaan sebagai wacana sosial hari ini. Keputusan artistik dalam penggunaan AI dalam film ini, merupakan upaya penengembangan alternatif historis dan implementasi solidaritas transnasional. Melalui film ini Arief mengemasnya sehingga menjadi lebih intim dan playfull namun tetap berupaya memancing daya kritis penontonnya. 

Ketika membicarakan AI tentu banyak pro dan kontra yang timbul dalam diskusi publik. Namun kehadiran AI dalam film ini dilihat sebagai tawaran baru dalam mengeksplorasi kebutuhan narasi film. Sebuah kesempatan untuk membicarakan proses kreatif akhirnya juga menjalar pada bagaimana penggunaan perangkat seperti AI ini dapat digunakan dengan cara yang bijak. 

Eksplorasi penggunaan AI ini juga bukan kali pertama dilakukan oleh Arief, pada filmnya yang berjudul “Shadow of The Sakura” ia menggunakan AI sebagai upaya dalam mengisi kekosongan narasi personal penyintas ianfu (perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual oleh militer Jepang). Lewat wawancara yang dilakukan dengan mengundang arwah ianfu untuk berkomunikasi secara intim terkait stigma dan trauma kelam yang membekas sebagai penyintas ianfu, AI dihadirkan sebagai upaya produksi arsip visual alternatif. Kebutuhan penggunaan generative AI dalam film tersebut juga serupa dengan yang Arief lakukan di film “Last May in Theaters”. 

Keputusan tersebut didasari oleh upayanya dalam mengisi kekosongan narasi yang hadir di permukaan. Memungkinkan eksplorasi narasi terkait suatu tragedi kelam dapat dinarasikan kembali hari ini, lewat penggunaan teknologi seperti generative AI. Keterbatasan akses arsip dan informasi personal terkait tragedi ini bukan menjadi hambatan dalam mengeksplorasi narasi, namun sebaliknya hal ini mempertebal bagaimana artistik berfungsi sebagai pernyataan dan keberpihakan dalam membicarakan narasi yang sering kali dikesampingkan. 

Arief menggunakan kekuatan narasi film untuk mengajak penonton merefleksikan kembali situasi sosial hari ini, dengan kritis dan menggeser doktrinisasi atau sejarah baku yang pernah dituliskan sebelumnya. Film ini menjadi ruang politis dalam memunculkan narasi personal para penyintas tragedi seperti Gwangju Uprising dan Tragedi 98 yang sering kali luput dari sorotan diskusi. Lewat kehadiran film ini akhirnya juga memicu percakapan terkait narasi personal pada tragedi-tragedi represif lainnya dalam sejarah, yang luput menyoroti sudut pandang penyintas yang sering kali tidak tampak di dinding-dinding museum. Apa yang kita wacanakan hari ini melalui film, bisa jadi menimbulkan dampak terhadap wacana global di masa mendatang.

Editor: Fransiska Prihadi

Film ini bisa ditonton di Minikino Film Week 12, Bali International Short Film Festival, tanggal 11–18 September 2026.
Minikino 18+
Minggu, 13 September 2026 – 15:30 di RTB – Rumah Tanjung Bungkak
Selasa, 15 September 2026 – 19:30 di CS: Noema Resort Pererenan
Kamis, 17 September 2026 – 13:00 di MASH Denpasar Art House Cinema
Kunjungi minikino.org/filmweek untuk mengunduh katalog digital MFW12.
Tags: 2026film pendek
ShareTweetShareSend
Previous Post

Sumpah Ini Untuk Siapa?

Next Post

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy

Made Virgie Avianthy (b. Jakarta, 2003) Seorang pembuat film berbasis riset, berfokus pada ranah dokumenter dan experimental naratif. Karyanya pernah masuk ke dalam festival dan pemutaran film, seperti ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Festival Czas Letni di Polandia, ELSE Moving Image Screening Series di Doc & Pub Thailand, Ba - Bau AIR di Vietnam. Di samping proyek independennya, ia juga aktif berkontribusi dalam ruang-ruang kesenian dan komunitas di Bandung, Jogja, dan Bali dalam program penayangan film, diskusi, dan workshop.

Related Posts

Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

September 3, 2026
Gambar dari film Sumpah Pemuda foto perempuan tersenyum mengenakan baju hitam

Sumpah Ini Untuk Siapa?

August 21, 2026
Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

August 18, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026
Still Film Bite (2018) Sutradara Ray Wu

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

September 3, 2026
Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

August 31, 2026
Gambar dari film Sumpah Pemuda foto perempuan tersenyum mengenakan baju hitam

Sumpah Ini Untuk Siapa?

August 21, 2026
Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

August 18, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12
  • Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”
  • Sumpah Ini Untuk Siapa?
  • Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief
  • Ketika Warna Menjadi Bermakna

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media