Sulit menebak kapan direkamnya video perjalanan malam yang membuka film pendek “Equal Dust” (2025). Yang bisa dikenali dari rekaman gelap dan buram yang sesekali digandakan dan dibesarkan itu adalah jalanan kota Helsinki dari sudut pandang kendaraan yang bergerak dari pusat ke pinggir kota. Teks yang ditempelkan di atas rekaman menceritakan tentang Able Archer 83, latihan militer NATO yang mensimulasikan pecahnya perang nuklir dengan negara-negara Pakta Warsawa pada tahun 1983. “Semua bangunan dan orang yang anda lihat sejauh ini akan musnah apabila bom nuklir dijatuhkan di pusat perbelanjaan Stockmann di tengah kota,” ungkap teks itu setelah setengah durasi berlalu.
“Tetapi ada satu hal yang lebih ditakuti orang Finlandia daripada binasa akibat bom nuklir,” lanjut narasi tanpa suara itu, “mendapatkan peringkat terakhir dengan nol suara dalam kontes lagu Eurovision.”
Sekilas, menyandingkan Kontes Lagu Eurovision dengan salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah Perang Dingin mungkin terkesan aneh atau terlewat sinis (Able Archer 83 sendiri kembali muncul di benak masyarakat pada tahun 2015, ketika badan intelijen Amerika mendeklasifikasikan laporan mengenai respons Uni Soviet yang sempat salah paham dan mengira NATO benar-benar tengah bersiap untuk perang nuklir). Bagaimanapun juga, Eurovision adalah epitome dari budaya populer yang “pasaran”. Sayembara musik antarnegara ini acapkali diisi dengan lagu-lagu komersial yang jenaka, dengan konsep produksi yang sengaja dirancang dengan estetika camp yang kadang benar-benar norak. Eurovision dipasarkan oleh Uni Penyiaran Eropa (EBU) sebagai perayaan akan kekuatan musik untuk mempersatukan bangsa dan manusia melalui musik; kontrasnya dengan perang nuklir benar-benar jauh! Tetapi melalui jukstaposisi kedua hal yang bertolak belakang ini, sutradara-sekaligus-penulis Jani Peltonen sukses membingkai institusi budaya seperti Eurovision sebagai medan perang yang mau tak mau harus berkontensi dengan kecemasan politis mengenai perang, proliferasi senjata nuklir, dan meningkatnya militerisme.
Panggung Eurovision teramat penting bagi penggemar musik di benua biru. Eurovision adalah salah satu program televisi tertua yang masih tayang di dunia; jajaran alumni pemenangnya mencakup nama-nama besar seperti ABBA dan Céline Dion. Pada puncak ketenarannya di tahun 1980an, lebih dari 700 juta orang dari seluruh dunia menonton babak final Eurovision. Popularitas luar biasa ini punya implikasi penting bagi aktivis dari negara-negara kontestan—panggung Eurovision terlalu besar, terlalu penting, dan terlalu internasional untuk diabaikan dalam perjuangan untuk memenangkan empati dan dukungan dari masyarakat global.
Teks dari “Equal Dust” berlanjut dari lelucon di titik tengahnya dengan menceritakan tiga lagu protes yang pernah dikirimkan Finlandia ke Eurovision, lengkap dengan cuplikan video musik dari setiap lagu yang dibahas. Pertama, ada lagu anti-nuklir “Nuku pomiin” yang sukses merealisasikan mimpi terburuk Finlandia pada kontes lagu 1982. Penonton dan juri sama-sama menolak rocker Timo Kojo dan protesnya terhadap sikap Eropa yang ia anggap “memilih tidur” di hadapan ancaman senjata nuklir; alhasil, negeri seribu danau mendapatkan nol poin pada akhir babak final. Tiga tahun kemudian, Sonja Lumen memprotes program satelit bersenjata “Star Wars” milik Amerika Serikat melalui lagu “Eläköön elämä”. Meskipun diterima dengan lebih baik akibat liriknya yang lebih implisit, Finlandia tetap hanya mendapatkan peringkat ke-9 dari 19 kontestan di kontes lagu 1985. Terakhir, Vicky Rosti mendapatkan peringkat ke-15 dari 22 kontestan pada tahun 1987 melalui lagu “Sata salamaa”—tentang sepasang kekasih yang terpaksa mencari planet baru untuk menggantikan bumi yang tak dapat lagi ditinggali.
Benang merah yang menghubungkan ketiga lagu tersebut—selain performa buruknya jika dibandingkan dengan submisi-submisi tahun lain dari Finlandia—adalah politik eksplisit mengenai kecemasan akan masa depan. Ancaman yang diidentifikasi masing-masing lagu memang sedikit berbeda: kematian akibat senjata nuklir, kematian akibat senjata luar angkasa, dan kematian akibat krisis lingkungan—namun ketiga musisi sama-sama memposisikan dirinya sebagai aktivis yang mencoba menyadarkan penonton bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.

Hal ini berbanding terbalik dari sikap EBU yang cenderung melarang politik eksplisit dalam lagu-lagu Eurovision. Menanggapi hal tersebut, beberapa kontestan memang memilih untuk menuruti sikap “apolitis” EBU dengan menyensor ekspresi musisi mereka di panggung final: di kontes lagu 2015, Armenia mengganti judul lagu kompetisinya dari “Don’t Deny” menjadi “Face the Shadow” untuk menyangkal rumor bahwa lagu tersebut mengangkat isu genosida Armenia; dua tahun lalu, Israel mengganti lagu kompetisi mereka dari “October Rain” menjadi “Hurricane”, setelah protes terhadap lirik asli yang mengangkat kejadian serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ada juga banyak negara yang lebih memilih memboikot Eurovision alih-alih kehilangan kesempatan untuk melakukan protes: Georgia memboikot kontes lagu 2009 setelah EBU menolak lagu “We Don’t Wanna Put In” yang memprotes invasi negara mereka oleh Rusia di bawah presiden Vladimir Putin, dan baru-baru ini lima negara (Islandia, Irlandia, Belanda, Spanyol, dan Slovenia) menolak berpartisipasi pada kontes lagu 2025 sebagai protes terhadap partisipasi Israel di tengah genosida di Gaza.
Paruh pertama dari “Equal Dust” memproblematisasi Able Archer 83 sebagai latihan militer yang justru membahayakan penduduk Helsinki yang seharusnya dilindungi dari resiko serangan nuklir, sementara paruh keduanya memproblematisasi Eurovision sebagai panggung perdamaian dan dialog internasional yang konsisten memilih untuk menutup telinga ketika dipertemukan dengan suara-suara kritis. Paralelisme yang disampaikan Peltonen sederhana: sama halnya seperti ibukota-ibukota Eropa yang akan terus menderita di bawah resiko kebinasaan total selama senjata nuklir diizinkan ada di dunia ini, resiko eksistensial yang dihadapi oleh institusi-institusi budaya seperti Eurovision akan kian meningkat apabila ia terus mengesampingkan dan melarang percakapan dengan kecemasan dan kemarahan yang dirasakan oleh masyarakatnya, baik musisi maupun pecinta musik.
Meskipun rekaman jalanan kota Helsinki yang dipertunjukkan dalam film pendek ini sulit ditempatkan dalam kurun waktu tertentu, pesan yang disampaikan melalui eksperimen audiovisual ini tetap sama, tak peduli apakah rekaman tersebut sebenarnya dari tahun 1980an atau 2020an: kita semua akan menjadi debu kalau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.


















Discussion about this post