Jakarta, Mei 2026 – Di tengah industri film yang makin riuh oleh angka penonton dan strategi promosi, muncul satu gejala pinggiran: festival film “jelek”. Ia datang tanpa karpet merah, tanpa pretensi estetika, dan sering kali tanpa rasa bersalah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini bentuk kritik, atau sekadar olok-olok yang dibungkus gaya?
Dunia pernah mengenal satire semacam ini lewat Golden Raspberry Awards, ajang yang dengan sengaja “menghukum” film-film buruk. Namun di sana, ejekan dibangun di atas kesadaran industri yang sudah mapan. Ia bekerja sebagai ironi, bukan pelarian. Ia menertawakan yang buruk karena standar “baik” sudah cukup kokoh.
Indonesia berada di posisi berbeda. Ketika festival arus utama seperti Festival Film Indonesia masih bergulat dengan standar, distribusi, dan keberagaman kualitas, festival “jelek” justru muncul lebih cepat dari kedewasaan industrinya. Ini paradoks, karena kita belum sepenuhnya sepakat tentang apa yang baik, tapi sudah ramai-ramai menertawakan yang buruk.
Di titik ini, festival film jelek berisiko menjadi cermin yang kosong. Ia memantulkan kegagalan, tapi tidak memberi arah. Ejekan menjadi tujuan, bukan alat. Kritik kehilangan kedalaman, berubah menjadi konsumsi ringan, viral, dan cepat dilupakan.
Padahal, dalam bentuk terbaiknya, festival semacam ini bisa memainkan peran penting. Ia bisa menjadi oposisi kultural, mengganggu kenyamanan industri yang terlalu percaya diri, membongkar kemalasan kreatif, dan mengingatkan bahwa penonton tidak selalu pasif. Ia bisa menjadi ruang di mana kegagalan dibedah, bukan sekadar ditertawakan.
Masalahnya, untuk sampai ke sana dibutuhkan sesuatu yang jarang dimiliki, yaitu keberanian untuk serius. Serius dalam kurasi, serius dalam argumen, serius dalam menyusun parameter tentang apa yang disebut “jelek”. Tanpa itu, festival ini hanya menjadi panggung sinisme, ramai, tapi hampa.
Lebih jauh lagi, ada bahaya yang tak kasat mata. Dalam industri yang masih rapuh, ejekan yang tidak terarah bisa berubah menjadi demoralisasi. Alih-alih memperbaiki standar, ia justru memperkuat sikap sinis, bahwa kualitas tidak penting, karena bahkan kegagalan pun bisa dipertontonkan sebagai hiburan.
Di sinilah batas tipis itu berada. Festival film jelek bisa menjadi alat koreksi, tapi juga bisa menjadi gejala kelelahan kultural, ketika industri lebih sibuk menertawakan dirinya sendiri daripada memperbaiki diri.
Maka jawabannya bukan pada perlu atau tidaknya. Ia perlu, sejauh ia mampu memberi makna. Tapi jika hanya berhenti pada olok-olok, maka ia tidak lebih dari gema kosong di lorong industri yang memang belum selesai dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, yang paling mengkhawatirkan bukanlah film yang buruk, melainkan ketika kita mulai merasa cukup dengan menertawakannya.



















Discussion about this post