Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

    Rona Warna Raga: Tubuh yang Belajar Pulang

    Still Film La Perra (2023) dan Masterpiece Mommy (2024)

    Yang Hilang dan Ditemukan: Relasi Ibu dan Anak Perempuan dalam Film “La Perra” dan ‘Masterpiece Mommy”

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

    Rona Warna Raga: Tubuh yang Belajar Pulang

    Still Film La Perra (2023) dan Masterpiece Mommy (2024)

    Yang Hilang dan Ditemukan: Relasi Ibu dan Anak Perempuan dalam Film “La Perra” dan ‘Masterpiece Mommy”

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home OPINION

Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

Seragam sebagai kontrol tubuh sekaligus gerbang penerimaan sosial

Daffa Ananta by Daffa Ananta
June 1, 2026
in OPINION, SHORT FILMS
Reading Time: 3 mins read
Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

Poster film LAYLA WANT IT

Seragam diambil dari dua kata. “Se-” yang berarti satu/sama dan “ragam” yang bermakna warna/corak/jenis. Seragam bisa dimaknai sebagai satu corak. Sesuatu yang tidak memiliki perbedaan secara kasat mata.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung melihat seragam sebagai penanda identitas. Biasanya identitas ini terikat dengan institusi. Seragam bisa dimaknai secara berbeda oleh pemakainya. Ada yang menganggapnya sebagai suatu kebanggaan, bentuk keterikatan, atau bisa jadi sebuah beban. Pemakaian seragam menghilangkan identitas pribadi dalam sebuah lingkungan sosial. Individu berseragam akan dipandang dalam kaitan institusi dan fungsinya di masyarakat. Lebih dari sekadar pakaian, seorang individu berseragam mendapat tempatnya dalam kelompok masyarakat.

Dunia institusi pendidikan di Indonesia akrab dengan penggunaan seragam. Sejak TK, kita dibiasakan memakai seragam. Alasannya beragam. Salah satu yang paling populer adalah melatih kedisiplinan sejak dini. Bagi saya, melatih kedisiplinan pada anak-anak bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas yang lebih berdampak nyata. Misalnya bangun pagi setiap hari, berangkat ke sekolah sebelum terlambat, mengerjakan PR di rumah, dan membuat daftar rutinitas sehari-hari sudah menjadi latihan kedisiplinan yang nyata. Memang tidak mudah membangun disiplin nyata sejak dini.

Selama menduduki bangku sekolah, saya pernah beberapa kali memakai seragam batik dari sekolah lama yang tidak sesuai sebagai anak pindahan di sekolah baru. Hari itu, saya ingat datang tepat lima sampai sepuluh menit sebelum gerbang ditutup. Tidak ada kesempatan untuk pulang dan mengganti seragam baru. Saya harus tetap menegakkan kepala dan berjalan menuju kelas. Beberapa guru dan teman mulai menanyakan. Saya hanya menjawab bahwa saya murid baru. Walau akhirnya mereka tidak mempermasalahkan perihal seragam berbeda, tatapan dari siswa-siswi lain yang tidak dikenal membuat saya merasa seperti bukan bagian dari sekolah tersebut.

Bercermin dari peristiwa itu, tatapan orang lain membuat saya ingin segera memiliki seragam batik yang coraknya sama. Murid-murid tidak terbiasa ketika ada yang terlihat berbeda. Tatapan para murid berada di antara batas mempertanyakan dan menghakimi. Guru pun tidak jauh berbeda. Seiring waktu, tekanan untuk terlihat sama seperti yang lain ini bukan lagi tentang melatih disiplin. Seragam pada usia remaja dan dewasa muda menjadi salah satu alat dalam upaya pembentukan kepatuhan.

Seragam Layla

Dalam lingkungan sosial, sikap individu berseragam sering dikaitkan dengan nilai institusi yang diwakilkan. Keinginan pribadi di luar kebiasaan terkesan melanggar aturan nilai tersebut. Tuntutan ini memengaruhi cara seseorang memandang seragam yang dikenakannya. Ada yang merasa nyaman dan ada juga yang ingin melepasnya.

Dalam film Layla Want it (Mauliya Malia, Indonesia, 2024), Layla, seorang siswi madrasah, tinggal di lingkungan dengan seragam dan cara berbusana melebihi aturan sekolah. Ketika Layla mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih terbuka, perubahan itu terasa janggal di mata temannya, Ana. Layla keluar dari identitas yang melekat pada dirinya selama ini.

Seragam sekolah membentuk identitas Layla dan Ana melalui kebiasaan sehari-hari. Identitas mereka diatur dengan nilai-nilai yang dianggap benar dan bergerak dalam pola tertentu,dari cara berpakaian hingga kehadiran di ruang kelas. Tidak ada ruang untuk perbedaan dan ciri tertentu dianggap ancaman. Wajah mereka terlihat serupa antara satu sama lain.

Ketika Layla dan Ana menuntun sepeda masing-masing, identitas mereka dikenali dari warna sepeda. Bentuk tubuh tidak cukup jelas untuk membedakan mereka. Perjalanan ke pinggir laut perlahan mengungkap perbedaan keputusan Layla dan Ana. Layla yang ekspresif melepas seragamnya karena kebiasaan pakai seragam ini tidak mencerminkan siapa dirinya. Namun Ana tetap mengenakan seragamnya, bukan artinya tidak ada keinginan ekspresi, tapi karena ia takut dan memilih patuh.

Pinggir laut memberi ruang bagi Layla dan Ana untuk tampil lebih nyaman. Jauh dari sekolah,seragam tidak bisa hadir mengatur mereka. Inilah kesempatan bagi Layla untuk kembali menjadi diri sendiri. Sebuah kebebasan yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Layla melepas seragam yang selama ini mengikatnya. Pakaian yang dibawa dari rumah perlahan mengembalikan kembali identitas pribadi yang ditiadakan. Tempat ini perlahan memperlihatkan perbedaan Layla dan Ana di balik seragam yang membuat mereka tampak sama.

Laut mencerminkan kebebasan namun media sosial memberi ruang untuk pilihan Layla. Ia meminta Ana mengambil foto dirinya untuk diunggah ke media sosial. Dunia virtual ini menjadi ruang yang berbeda dan tampak ideal. Akun pribadi terasa seperti dunia kecil yang jauh dari kebiasaan Layla sehari-hari. Dunia yang lebih bebas dan bisa dikontrol penuh melalui genggaman tangan. Layla tampak lebih ceria di foto dan sosial media mendukungnya. Sementara itu, Ana yang ragu, berdiri di batas antara takut dan patuh. Akun media sosial Layla dibuat private. Ruang ini memberi kesan bahwa Layla bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Berseragam tidak dianggap berbahaya, sebab sudah menjadi sesuatu yang wajar. Justru kebiasaan ini yang diam-diam menundukkan kita. Melalui kebiasaan yang dianggap wajar, kita sering merasa tidak diberi pilihan. Padahal sebagai individu, kita sebenarnya memiliki kesadaran untuk memilih. Kita sering lupa kalo kita punya pilihan lain dan tidak harus selalu tunduk dengan kebiasaan.


Editor: Fransiska Prihadi

Tags: film pendekIdentitas DiriKebiasaanKepatuhanperempuanSeragam
ShareTweetShareSend
Previous Post

Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan

Next Post

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

Daffa Ananta

Daffa Ananta

Daffa Ananta is a writer and screenwriter who graduated from the Jakarta Institute of Arts. He writes analytical essays exploring narrative, sound, and visual language. His work has appeared on Medium and Moviephobic, while his feature screenplay, Ufuk Lara, was submitted to the SINEMA Screenwriting Competition.

Related Posts

Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026
Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

June 1, 2026

Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan

May 2, 2026
Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

January 27, 2026
Pemutaran Program Inklusif SDH bersama Susrusha Deaf School di MASH Denpasar saat MFW 11. (Foto: Chandra Bintang).

Yang Panjang dari (Festival) Film Pendek

January 26, 2026
Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

January 12, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Foto bersama Tyas sebagai penulis dan Mickey sebagai Sutradara film pendek WAShhh

Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh

June 1, 2026
Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026
Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

June 1, 2026
Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

June 1, 2026

Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan

May 2, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Mencuci Pembalut, Mencuci Ketakutan: Rasisme dan Solidaritas dalam WASHhh
  • Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)
  • Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore
  • Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita
  • Festival Film Jelek: Menertawakan yang Buruk, atau Merayakan Kekosongan

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media