Seragam diambil dari dua kata. “Se-” yang berarti satu/sama dan “ragam” yang bermakna warna/corak/jenis. Seragam bisa dimaknai sebagai satu corak. Sesuatu yang tidak memiliki perbedaan secara kasat mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung melihat seragam sebagai penanda identitas. Biasanya identitas ini terikat dengan institusi. Seragam bisa dimaknai secara berbeda oleh pemakainya. Ada yang menganggapnya sebagai suatu kebanggaan, bentuk keterikatan, atau bisa jadi sebuah beban. Pemakaian seragam menghilangkan identitas pribadi dalam sebuah lingkungan sosial. Individu berseragam akan dipandang dalam kaitan institusi dan fungsinya di masyarakat. Lebih dari sekadar pakaian, seorang individu berseragam mendapat tempatnya dalam kelompok masyarakat.
Dunia institusi pendidikan di Indonesia akrab dengan penggunaan seragam. Sejak TK, kita dibiasakan memakai seragam. Alasannya beragam. Salah satu yang paling populer adalah melatih kedisiplinan sejak dini. Bagi saya, melatih kedisiplinan pada anak-anak bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas yang lebih berdampak nyata. Misalnya bangun pagi setiap hari, berangkat ke sekolah sebelum terlambat, mengerjakan PR di rumah, dan membuat daftar rutinitas sehari-hari sudah menjadi latihan kedisiplinan yang nyata. Memang tidak mudah membangun disiplin nyata sejak dini.
Selama menduduki bangku sekolah, saya pernah beberapa kali memakai seragam batik dari sekolah lama yang tidak sesuai sebagai anak pindahan di sekolah baru. Hari itu, saya ingat datang tepat lima sampai sepuluh menit sebelum gerbang ditutup. Tidak ada kesempatan untuk pulang dan mengganti seragam baru. Saya harus tetap menegakkan kepala dan berjalan menuju kelas. Beberapa guru dan teman mulai menanyakan. Saya hanya menjawab bahwa saya murid baru. Walau akhirnya mereka tidak mempermasalahkan perihal seragam berbeda, tatapan dari siswa-siswi lain yang tidak dikenal membuat saya merasa seperti bukan bagian dari sekolah tersebut.
Bercermin dari peristiwa itu, tatapan orang lain membuat saya ingin segera memiliki seragam batik yang coraknya sama. Murid-murid tidak terbiasa ketika ada yang terlihat berbeda. Tatapan para murid berada di antara batas mempertanyakan dan menghakimi. Guru pun tidak jauh berbeda. Seiring waktu, tekanan untuk terlihat sama seperti yang lain ini bukan lagi tentang melatih disiplin. Seragam pada usia remaja dan dewasa muda menjadi salah satu alat dalam upaya pembentukan kepatuhan.
Seragam Layla
Dalam lingkungan sosial, sikap individu berseragam sering dikaitkan dengan nilai institusi yang diwakilkan. Keinginan pribadi di luar kebiasaan terkesan melanggar aturan nilai tersebut. Tuntutan ini memengaruhi cara seseorang memandang seragam yang dikenakannya. Ada yang merasa nyaman dan ada juga yang ingin melepasnya.
Dalam film Layla Want it (Mauliya Malia, Indonesia, 2024), Layla, seorang siswi madrasah, tinggal di lingkungan dengan seragam dan cara berbusana melebihi aturan sekolah. Ketika Layla mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih terbuka, perubahan itu terasa janggal di mata temannya, Ana. Layla keluar dari identitas yang melekat pada dirinya selama ini.
Seragam sekolah membentuk identitas Layla dan Ana melalui kebiasaan sehari-hari. Identitas mereka diatur dengan nilai-nilai yang dianggap benar dan bergerak dalam pola tertentu,dari cara berpakaian hingga kehadiran di ruang kelas. Tidak ada ruang untuk perbedaan dan ciri tertentu dianggap ancaman. Wajah mereka terlihat serupa antara satu sama lain.
Ketika Layla dan Ana menuntun sepeda masing-masing, identitas mereka dikenali dari warna sepeda. Bentuk tubuh tidak cukup jelas untuk membedakan mereka. Perjalanan ke pinggir laut perlahan mengungkap perbedaan keputusan Layla dan Ana. Layla yang ekspresif melepas seragamnya karena kebiasaan pakai seragam ini tidak mencerminkan siapa dirinya. Namun Ana tetap mengenakan seragamnya, bukan artinya tidak ada keinginan ekspresi, tapi karena ia takut dan memilih patuh.
Pinggir laut memberi ruang bagi Layla dan Ana untuk tampil lebih nyaman. Jauh dari sekolah,seragam tidak bisa hadir mengatur mereka. Inilah kesempatan bagi Layla untuk kembali menjadi diri sendiri. Sebuah kebebasan yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Layla melepas seragam yang selama ini mengikatnya. Pakaian yang dibawa dari rumah perlahan mengembalikan kembali identitas pribadi yang ditiadakan. Tempat ini perlahan memperlihatkan perbedaan Layla dan Ana di balik seragam yang membuat mereka tampak sama.
Laut mencerminkan kebebasan namun media sosial memberi ruang untuk pilihan Layla. Ia meminta Ana mengambil foto dirinya untuk diunggah ke media sosial. Dunia virtual ini menjadi ruang yang berbeda dan tampak ideal. Akun pribadi terasa seperti dunia kecil yang jauh dari kebiasaan Layla sehari-hari. Dunia yang lebih bebas dan bisa dikontrol penuh melalui genggaman tangan. Layla tampak lebih ceria di foto dan sosial media mendukungnya. Sementara itu, Ana yang ragu, berdiri di batas antara takut dan patuh. Akun media sosial Layla dibuat private. Ruang ini memberi kesan bahwa Layla bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Berseragam tidak dianggap berbahaya, sebab sudah menjadi sesuatu yang wajar. Justru kebiasaan ini yang diam-diam menundukkan kita. Melalui kebiasaan yang dianggap wajar, kita sering merasa tidak diberi pilihan. Padahal sebagai individu, kita sebenarnya memiliki kesadaran untuk memilih. Kita sering lupa kalo kita punya pilihan lain dan tidak harus selalu tunduk dengan kebiasaan.
Editor: Fransiska Prihadi


















Discussion about this post