Anak-anak, dengan pemahaman mereka yang terbatas tentang isu kekerasan, memiliki bahasa yang sederhana, polos namun lugas dalam memaknai apa yang mereka alami.
“Bubble Trouble” karya O.M.G. Films yang disutradarai Fala Pratika, merupakan salah satu dari lima film pendek yang diproduksi dalam UNiTE Short Film Fellowship 2025. Film ini merupakan satu di antara tiga film yang dibuatkan deskripsi audio oleh Minikino Studio. Saya berkesempatan menonton film ini dalam rangka peninjauan bersama setelah proses pengisian deskripsi audio.
Film ini memperlihatkan dunia anak-anak, sekaligus sisi sensitifitas mereka. Sepintas lalu tingkah laku mereka begitu khas anak-anak, namun mengandung kewaspadaan. Mereka memberi makna secara lugas tentang apa yang terjadi, atau apa yang mungkin terjadi pada mereka. Mayang, Kirana, dan Lala, mengekspresikan ketakutan mereka dengan cara yang mudah dipahami. Suatu perasaan terancam yang lebih menyeramkan daripada bertemu hantu.
Ya, film ini membahasakan ketakutan anak-anak dengan cara sederhana, bertemu hantu. Atau, bagaimana karakter utama, Mayang, menunjukan kebenciannya yang amat sangat pada sosok hantu yang membuatnya ketakutan. Dan bagaimana dia akhirnya membagikan keresahan yang sebenarnya pada teman-temannya.
Sebagian penonton dewasa mungkin saja menjadi bias atau tidak percaya kalau mendengarkan percakapan anak-anak di dalam film ini. Misalnya kalau mereka mengucapkan kata ‘trauma’. Atau kemampuan menyampaikan cita-cita masa depan mereka dengan sangat spesifik. Tapi inilah dunia anak-anak dan memang tidak jarang orang dewasa merendahkan intelegensi anak-anak.
Terlepas dari hal-hal minor itu, film ini memiliki plot yang cerdas dan apik untuk mengompensasi keberanian Mayang dan kawan-kawannya dalam menanggapi ketidakpahaman orang-orang dewasa di sekitar mereka. Misalnya memilih dihukum alih-alih mengikuti perintah orang tua yang tak peduli dengan bahasa ketakutan mereka.
Ketakutan dan hukuman adalah sesuatu yang akrab di masa kanak-kanak, mungkin bagi sebagian besar dari kita. Film ini menggunakannya menjadi alur yang cerdas untuk menunjukan ketegangan yang merentang tentang isu kekerasan terhadap anak perempuan tanpa menjatuhkannya menjadi sesuatu yang kelam dan traumatis.
“Bubble Trouble” menjadi film yang penting untuk mengingatkan penonton bahwa kekerasan terhadap anak perempuan dapat saja terjadi di lingkungan yang seharusnya paling aman sekali pun, seperti rumah dan keluarga. Dan karena dianggap lingkungan paling aman inilah, tetap ada yang tidak percaya pada korban, dan justru membela pelaku.

Anak-anak yang tak memiliki posisi tawar yang kuat di dalam keluarga seringkali harus menanggung ketakutan mereka dan memendam apa yang terjadi, dan acapkali menimbulkan trauma berkelanjutan. Kekerasan terhadap anak perempuan ini seringkali berlanjut, bukan semata karena anak-anak adalah kelompok rentan, melainkan kegagalan orang dewasa dalam memahami pengalaman anak-anak.
Hal menarik lainnya yang menjadi kekuatan dalam film ini adalah kinerja penyutradaraan pemeran anak-anak dan kekuatan penata kamera dengan teknik one shot, yang menciptakan adegan dengan intensitas yang riil dan realistis. Walaupun teknik one shot yang, mengutip kata Edo Wulia (penata suara deskripsi audio untuk Minikino Studio), seharusnya sangat bisa dikagumi penonton visualnya, akhirnya artikulasi visual ini tak sepenuhnya dapat dikonversi ke deskripsi audio.
Saya sendiri baru menyadari sisi teknis ini ketika menerima informasi tambahan saat tulisan ini masuk pada draft awal. Hal ini tentu saja tidak mengurangi nilai pentingnya film ini, hanya saja bobot artistik dan konteks visual dalam film, seperti penggunaan teknik one shot, tentu tidak bisa sampai sepenuhnya pada penonton yang mengandalkan deskripsi audio seperti saya. Hanya jeda waktu yang cukup panjang dan konsisten tanpa terpotong editing yang mungkin dapat saya rasakan sebagai teknik one shot. Seperti saat perjalanan Mayang dan Lala ke toilet, dan ketika ibu melintasi dapur untuk mengambil penganan.
Tidak pernah ada resolusi untuk semua yang telah terjadi atau setiap isu kekerasan dan pelecehan yang terjadi di sekitar anak perempuan. Film ini hadir sebagai sebuah peringatan, penghiburan, kekuatan bersama, atau jalan pulang untuk menjaga anak-anak dari kekerasan dan pelecehan seksual.
Dalam proses penulisan artikel ini, mungkin pertanyaan saya justru menjadi lebih menyulitkan dari proses pengerjaan deskripsi audio film ini sendiri. Berbagai pertanyaan, tentang alasan mengapa film dibuat, apakah film-film ini memang bisa berdampak, atau apakah kita benar-benar melakukan sesuatu yang produktif atas segala yang terus terjadi dan sulit dihentikan. Sebuah kenyataan menyakitkan bahwa kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak perempuan terus berulang.
Hal-hal yang telah dikerjakan Minikino Studio, menambahkan deskripsi audio, dan menulis ulasan untuk film ini, mungkin adalah upaya paling dekat, paling mudah, dan paling sederhana untuk mendukung kampanye dan upaya untuk menghentikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.
Kekuatan film pendek “Bubble Trouble” menunjukan dan memberikan gambaran pada kita semua untuk memahami tempat-tempat dimana kekerasan terhadap anak perempuan rawan terjadi, dan selanjutnya bagaimana seharusnya orang dewasa menyikapi ketakutan dan keresahan anak-anak perempuan.
Penambahan fitur deskripsi audio, adalah dukungan terhadap aksesibilitas film pendek sebagai medium pendidikan bagi kelompok yang lebih rentan untuk memahami dan membangun kesadaran bahwa semua orang harus berkontribusi dan membangun kekuatan bersama untuk menghentikan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak perempuan.


















Discussion about this post