Kami sepakat bahwa judul program Normal Versi Siapa? yang dikuratori oleh Fransiska Prihadi begitu provokatif sekaligus investigatif. Program yang ditayangkan dalam rangkaian acara Minikino Goes to Campus ini terdiri atas empat film pendek: The Partian (Hadafi Raihan Karim, 2021), Bagan (Firdaus Balam, 2021), The Wedding Ring (Robin Narciso, 2022), dan Black Rain in My Eyes (Amir Masoud Soheili dan Amir Äthar Soheili, 2023). Dalam sinopsis program, disebutkan bahwa keempat film ini berupaya mengajak para penonton—mahasiswa dan tenaga pendidik—mempertanyakan batas-batas tak kasat mata yang mengatur kehidupan sosial.
Pada mulanya, kami cukup sibuk meneropongi diksi “normal” sebagai pintu masuk untuk melihat keempat film tersebut. Normal itu apa, sih? Bagaimana definisi normal langgeng, lebih-lebih berusaha digugat lewat program ini? Akan tetapi, jawaban dari judul program justru terasa menggema ketika atensi dialihkan bukan kepada orang dewasa, melainkan anak-anak. Meskipun dalam keempat film itu tidak selalu vokal, eksistensi dan aspirasi mereka terasa lantang.
Dari keempat film yang diputar, kami memilih untuk berfokus pada dua judul yang paling kuat dan terang menempatkan anak-anak sebagai pusat narasi: Bagan (2021) dan Black Rain in My Eyes (2023). Kedua film ini kami rasa cukup “galak” dalam menantang kenormalan-kenormalan yang dihadirkan melalui bahasa dan agensi anak sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang sudah lebih dulu didefinisikan oleh orang dewasa.
Dalam Bagan (2021), anak lelaki tak sekolah di Seletar, Malaysia belajar keras untuk dapat mengeja dunia hingga akhirnya justru mendapati kenyataan bahwa dunia tempatnya tinggal akan segera mengalami penggusuran. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, Black Rain in My Eyes (2023) menampilkan empat anak perempuan dengan disabilitas netra yang tinggal di antara reruntuhan pascaperang berkepanjangan di Suriah. Bukan tidak bisa, tetapi mereka tidak boleh melihat realitas yang ada.

Anak-Anak di Sana Sini
Ungkapan it takes a village to raise a child (dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak) kini semakin tak relevan. Permasalahan yang ada kian kompleks, berkelindan, dan tak menentu. Bukan hanya desa, tetapi juga sebuah provinsi, negara, hingga seluruh umat manusia—tak terlepas yang muda maupun yang tua—dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan demi mendukung anak-anak tumbuh dan berkembang.
Sayangnya, realitas sosial saat ini terasa tidak ideal. Cerminan realitas tersebut hadir dalam Bagan (2021). Meskipun berupa film fiksi, penggusuran dan redistribusi tanah merupakan isu riil di Malaysia, juga banyak negara lain. Upaya-upaya survival, kompromi, dan resiliensi lantas tak bisa dipisahkan dari realitas Orang Seletar, komunitas masyarakat adat (dalam bahasa Malaysia disebut Orang Asli) di mana Frankie tinggal dan menjadi bagian.
Di tengah ombak akselerasi ekonomi dan modernisasi Malaysia, ada kehidupan yang harus dicerabut—baik figuratif maupun literal. Firdaus Balam secara subtil menampilkan pencerabutan hak hidup yang tak selamanya berwujud eksplisit dan bersuara lantang. Tak jarang, perampasan hadir dalam suara yang lirih dan acap kali tak digagas: sebagaimana Frankie kesulitan mengeja surat pemberitahuan dan memerlukan bantuan Gamat, sahabatnya. Gamat menjelaskan pada Frankie perihal rencana penggusuran di atas sebuah bukit pasir di pesisir pantai, menghadap langit senja yang kian memudar. Mereka tak bisa menyulap keadaan dan menghentikan penggusuran, memilih untuk menyalakan rokok dan mengisapnya. Kabut asap rokok pun menguar bebas entah ke mana, selayaknya nasib hidup komunitas mereka yang cepat atau lambat akan bernasib sama.
Di belahan dunia yang lain, kehidupan anak-anak pun secara kontinu berubah. Gempuran bom, tembakan senapan, dan reruntuhan bangunan menjadi realitas yang harus mereka hadapi sehari-hari. Amir Masoud Soheili dan Amir Athar Soheili mendokumentasikan kondisi abnormal pascaperang yang harus dihadapi seorang penyair Suriah bernama Hessan dan empat putrinya yang memiliki disabilitas netra. Di tengah kerentanan hidup dan ketidakpastian, Hessan berusaha menyamarkan ketidakstabilan melalui cerita-cerita puitis yang ia rangkai dan ceritakan kepada anak-anaknya. Teriakan dan sorakan di luar sana ada karena pesta pernikahan, anak-anak berlarian karena bersukacita, dan semuanya baik-baik saja.
Setidaknya itu yang Hessan sampaikan pada anak-anaknya, hingga pada suatu waktu keluarganya menghadiri forum puisi. Tempurung yang Hessan ciptakan sebagai tameng bagi anak-anaknya dari dunia luar, seketika runtuh lewat lontaran puisi-puisi yang tak seindah dan seriuh syair yang ia lantunkan di rumah. Indera-indera anak Hessan kini lepas dan memperoleh agensi untuk mengalami dunia sebagaimana aslinya. Adegan bergeser menuju Hessan dan dua putrinya yang mengunjungi reruntuhan bangunan sekolah. Bangku dan mejanya kini alih-alih diduduki dan diisi oleh para siswa, justru menjadi relik anomali yang bertahan di antara puing-puing tembok yang hancur.
Dunia yang Normal untuk Anak-Anak
Anak-anak dalam kacamata orang dewasa (atau orang yang berusia lebih tua—kalau umur bukan selalu patok kedewasaaan) acapkali dipandang sebagai makhluk mungil tanpa pretensi dan agensi. Anak-anak di Indonesia misalnya, tidak boleh bersuara di pemilihan umum kepala daerah dan/atau negara karena dianggap belum memiliki pemahaman politik yang cukup. Orang dewasalah yang punya posisi dan kuasa untuk menentukan apa dan siapa yang terbaik buat mereka, dari kepala negara hingga menu makan mereka.
“Namanya juga anak-anak. Ngerti apa?”
Namun, bukankah justru itu bentuk gamblang dari childisme; prasangka terhadap anak-anak yang menempatkan mereka sebagai subjek pasif dalam dunia orang dewasa? Childisme membuat anak-anak terlihat (nyaris) tak punya kendali dan otonomi terhadap hidupnya. Orang dewasa dan mentalitas superiornyalah yang bertindak sebagai pendikte hidup anak-anak. Padahal, jangan-jangan, dunia anak-anak yang diidealkan atau minimal dipandang normal oleh orang dewasa adalah sisa-sisa reruntuhan dunia yang berusaha didekorasi sedemikian rupa?
Seperti halnya yang terjadi dalam dokumenter Black Rain in My Eyes (2023). Sang Ayah berusaha menutup-nutupi realitas pada empat putrinya dengan disabilitas netra. Ia mengubah cerita horor menjadi dongeng karena tak ingin anak-anaknya melihat borok dunia yang tak bisa mereka lihat secara kasat mata. Sayangnya, upayanya dalam menslimurkan dunia ini justru makin melegitimasi cengkeraman childisme dalam struktur sosial, utamanya keluarga, secara sistemik.
Di sisi lain, terdapat poros perlawanan terhadap childisme yang ditunjukkan oleh Bagan (2021). Meskipun tak mengecap bangku sekolah, Frankie punya agensi kuat untuk dapat membaca dan memahami dunia di sekitarnya. Frankie belajar membaca angka di kalender dan meminta Gamat, temannya yang sekolah, untuk mengajarinya mengeja. Hingga pada suatu hari, seperti biasa, dunia menunjukkan taring ketidakadilannya. Apa yang ingin dieja Frankie dari selebaran yang tertempel di tembok-tembok rumah di sekitarnya ternyata adalah perintah pengosongan lahan dari pemerintah. Apakah di kemudian hari Frankie tetap dapat akan mengeja adanya ha-ra-pan?
Bagaimanapun, Frankie dapat dilihat sebagai anak yang menyadari dan dapat berdiri di atas agensinya. Frankie belajar mengeja, merebut rokok milik neneknya, membela temannya yang dirundung, dan melihat dunia dengan berani dan telanjang mata. Frankie menentang dan mengetengahkan posisinya sebagai subjek yang aktif dari dunia yang dihegemoni oleh kepentingan orang dewasa di sekitarnya.
Dalam dua film di atas, childisme direntangkan, dipertanyakan, dan dipertentangkan oleh anak-anak sendiri. Lewat medium bahasa, mereka berusaha merangsek keluar dari cangkang dunia yang sudah terlanjur tercipta dan bahkan dipelihara oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka sejak mereka lahir. Hessan yang puitis menggunakan estetika bahasa untuk menutup-nutupi bobroknya dunia dan Frankie yang kritis belajar keras menggunakan bahasa untuk kemudian menyadari bahwa dunia yang terbaca alias dunia orang dewasa penuh dengan instruksi dan mengesampingkan agensinya.
Jika dunia orang dewasa menyebut ini “normal”, sementara anak-anak seperti Frankie dan keempat gadis dengan disabilitas netra dalam film justru merasa terpinggirkan, ditipu, atau harus belajar bertahan, maka definisi “normal” itu patut digugat. Bukan untuk menggantinya dengan utopia, tetapi untuk mengingatkan orang dewasa bahwa anak-anak berhak tahu, memilih, dan memahami dunia dengan kacamata mereka sendiri.

Tidak (Perlu) Ada yang Normal
“Normal” bukan soal konsensus, melainkan cerminan siapa yang punya kuasa untuk menyuarakannya. Lewat keempat film dalam program “Normal Versi Siapa?”, anak-anak akhirnya berdiri di pusat panggung, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai subjek yang berbicara. Dengan kata, dengan diam; dengan kehadiran mereka.
Ketika merujuk kembali pada tajuk program, rasanya probabilitas jawaban untuk pertanyaan “Normal Versi Siapa?” jumlahnya tak terhingga. Meskipun tatapan anak-anak kemudian diketengahkan dalam cara penuturan kedua film, pemaknaan atas normal lantas sifatnya sangatlah kontestatif. Apa yang anak-anak pahami sebagai normal hari ini bisa jadi amatlah berbeda dengan apa yang anak-anak 30 tahun yang lalu atau yang akan datang pahami. Memperbincangkan normal pun tidak bisa melepaskannya dari jeratan warisan kolonial yang acap kali lekat dengannya. Dalam skema demikian, agensi menjadi lenyap dan digantikan kepatuhan—tak terkecuali oleh anak-anak.
Apa yang dianggap sebagai normal, dalam banyak masyarakat, merupakan mekanisme penjajah dalam mengkonstruksikan keteraturan sosial. Ketika terdapat satu elemen liyan muncul di antara sekerumunan orang, subjugasi sosial menjadi langkah pertama dari masyarakat auto-pilot yang sudah difamilierkan dengan keseragaman dalam sehari-hari. Seperti bagaimana Frankie dirundung teman-temannya karena ia tak lekas membaca kalimat dalam surat pemberitahuan. Seperti bagaimana satu dari sekian musabab perang sipil di Suriah pecah karena pertentangan prinsip dan ideologi. Pada hari ini, kekerasan seolah dinormalisasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas yang kita tinggali dan alami.
Jika film dapat menjadi ruang untuk mendengar yang tak biasa terdengar, maka menonton ulang dunia lewat mata anak-anak bisa jadi cara menemukan kejujuran yang tak bisa dikemas, disunting, atau disensor dunia sebagaimana adanya. Barangkali dari sanalah, retakan pertama muncul pada dinding-dinding normal yang sejak awal tak pernah benar-benar kokoh.
Pada akhirnya, ketimbang mempersoalkan apa dan bagaimana normal itu hadir, keberbedaan bisa diterima menjadi satu dari sekian realitas yang dapat ada berdampingan. Barangkali warisan ini yang perlu kita jalin dan perkenalkan kepada anak-anak, juga dengan memberi ruang yang lega untuk anak-anak kembangkan lebih jauh.
Anak-anak butuh dunia yang jujur. Dunia yang diwariskan pada mereka dan akan mereka wariskan ke anak-anak berikutnya.
Editor: Natania Marcella
PROFIL PENULIS
![]() |
HESTY NURUL KUSUMANINGTYAS
Klaten, Indonesia Tyas was born, raised, and lives in Klaten, Central Java. She likes to keep up her spirit with reading, writing, and immersing herself in deep discussions about the meaning of life with her chubby cats at home. She is an Aquarius. |
![]() |
HILMI REYHAN
Yogyakarta, Indonesia Born and raised in Yogyakarta, Hilmi is an anthropology graduate from Universitas Gadjah Mada. Throughout his exploration and learning about human-culture relations, he accentuates a specific focus on art practice(s). Starting from mainly academic research, then extending to art practices that include the intersection of art, decoloniality, and archives in our contemporary landscape, he is now exploring writing |




















Discussion about this post