Pada Juni 2025, pemerintah mengumumkan wacana untuk “menata ulang narasi kerusuhan 1998” dengan alasan menghindari perpecahan etnis dan komunal (Oktafian, 2025). Bagi banyak orang, pernyataan ini terasa menyesakkan, seolah melupakan trauma kolektif yang hingga kini belum tuntas.
Sebagai generasi yang lahir setelah peristiwa tersebut, saya hanya dapat mendengar kisah pilu ini dari orang tua dan keluarga disaat harta mereka dijarah. Namun, bagi banyak yang lain, mereka kehilangan orang yang dicintai—dan tak pernah mendapat jawaban.
Itulah yang dialami Wulan dan ibunya, subjek dokumenter Traces of My Brother (Dia Pergi dan Belum Kembali) karya sutradara Riani Singgih. Film ini tidak menampilkan ulang tragedi kerusuhan 1998, melainkan memilih pendekatan intim: mengajak penonton mengikuti Wulan dan ibunya menjalani keseharian. Dengan keputusan artistik ini, sutradara dan tim editor menghormati luka para penyintas, memberi ruang untuk penonton mencerna cerita mereka tanpa harus melihat ulang kekerasan yang terjadi.
Kamera merekam Wulan dan ibunya mengikuti Kamisan, doa bersama, dan tabur bunga di kuburan korban. Bagi mereka, ini bukanlah agenda khusus; ini bagian dari kehidupan sehari-hari sejak kehilangan orang tercinta. Namun saat film menyorot momen sederhana di rumah—bercocok tanam, membersihkan lantai—kekosongan emosional itu terasa semakin nyata. Kontras ini memberi kedalaman: di balik kesunyian rutinitas, ada luka yang tak pernah sembuh.
Tidak terlalu mengejutkan bagi penonton saat Ibu Wulan menolak halus untuk ikut lomba permainan di acara 17-an. Ia berkata: “Kita ini sebenarnya belum merdeka.” Kalimat sederhana, tapi sarat makna—lahir dari pengalaman 25 tahun mencari keadilan tanpa jawaban. Banyak ibu lainnya, kata Wulan, sudah menyerah berharap pada negara. Film ini membuat kita bertanya: ketika suara korban tak kunjung didengar, adakah cara lain untuk memperjuangkannya?
Dalam salah satu segmen, Wulan mengikuti pelatihan HAM di KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Moderator menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dan bagi Wulan, jawabannya adalah menulis. Menulis cerita pribadi dan surat-suratnya kepada kakaknya yang hilang untuk membuka pikiran orang-orang; sesuatu yang dipuji oleh moderator untuk tidak meremehkan sebuah tulisan yang ditulis dengan baik.
Pernyataan moderator terbukti di akhir film saat Wulan menunjukan apa yang ia tulis kepada penonton. Isi suratnya bersifat pribadi, namun dapat mencuri simpati kita dan mengubah pesannya menjadi universal. Membuat saya sadar bahwa dokumenter ini adalah salah satu cara komunikasi efektif yang menggerakan penonton untuk ikut memperjuangkan hak-hak yang seharusnya kita miliki.
Kekolektifan tersebut sebenarnya sudah terpampang jelas bahwa film ini bukan hanya tertuju kepada Wulan ataupun korban kerusuhan 1998. Saat kamera menyoroti keluarga Wulan, terdapat subjek lain di latar belakang yang sedang mengangkat isu lain seperti hak tanah orang Papua di Kamisan, juga keluarga Korban konflik Aceh dan Talangsari saat mengikuti seminar KontraS. Mereka semua membawa luka mereka sendiri, tetapi semua terhubung oleh satu kenyataan: trauma ini adalah bagian dari sejarah bersama.
Traces of My Brother mengingatkan kita bahwa perlawanan tidak selalu berupa teriakan; kadang ia hadir dalam ingatan, doa, dan tulisan. Film ini bukan sekadar tentang Wulan dan keluarganya, tapi tentang kita semua yang memilih untuk tidak melupakan. Melihat situasi di akhir Agustus ini, dokumenter ini terasa menjadi lebih penting dibanding sebelumnya. Menjadi sebuah peringatan dan mengajak penonton untuk bersatu dalam memperjuangkan hak-hak yang kita miliki apapun caranya agar sejarah tidak terulang lagi.

















Discussion about this post