Home / Indonesia Raja 2017 / INDONESIA RAJA 2017: JAKARTA “My Way in the Hard City”

INDONESIA RAJA 2017: JAKARTA “My Way in the Hard City”

Programmer Release
Ayara Bhanu Kusuma
Programmer | Jakarta

INDONESIA RAJA 2017 – JAKARTA
MY WAY IN THE HARD CITY

“Kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibukota”, Kalimat seperti itu seringkali terdengar bagi siapapun yang ingin bahkan telah merasakan hidup di ibukota Jakarta. Arus globalisasi yang begitu cepat membuat problematika semakin meningkat dan manusia memiliki cara masing-masing untuk menghadapinya. Kota Jakarta, ibukota yang begitu keras dengan perjuangan yang penuh peluh dan keluh. Melalui keenam film ini peluh tergambarkan dan keluh diteriakkan.

PULANG, sebuah film animasi yang menghantarkan kita pada niat disertai usaha untuk tetap bertahan hidup disuatu tempat yang baru. Hidup perlu tujuan, lewat film documenter KANVAS DI ATAS KULIT kita berkaca pada kehidupan seorang wanita yang pantang menyerah hingga kegemaran membawanya pada sebuah pekerjaan. Tapi tidak sedikit pekerjaan yang rentan dengan kejahatan, seperti film thriller PENDAKIAN BIRAHI yang menggambarkan begitu besar resiko menjadi seorang wanita malam demi menjadi tulang punggung keluarga. Individualis menjadi ciri dari kota ini, tidak peduli dengan orang lain dan hanya peduli pada diri sendiri, I LOVE ME mewakili pemuda urban yang memiliki caranya sendiri untuk melihat sekitar. Kemudian PEKAK, menceritakan hidup penuh perjuangan dari seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai seorang buruh yang menuntut keadilan. SEBELUM PAGI DATANG menjadi penutup dari hari yang panjang tanpa cinta, hanya pahit dan perjuangan. Dan itu semua memang bagian dari kehidupan. Bagian dari Ibukota.


reting-usia-17+

Durasi total : 52’32’’

Rekomendasi Usia Penonton: 17+

Synopsis:

PULANG-KE-INDONESIA-film-pendek

PULANG KE INDONESIA ( GOING HOME TO INDONESIA)

Dessy Tri Anandani Bambang | Jakarta / 2017 / 04’40’’

Seorang anak yang lahir di Perancis lalu pulang untuk menetap di Indonesia, tempat yang baru pertama kali dia kenal.

Director Statement :
Film ini merupakan hasil workshop yang diselenggarakan Goethe Institut, Institut Francais D’Indonesie dan SAE Institute.

Short Bio Filmmaker :
Lahir di Prancis kemudian dibesarkan dan tinggal di Bandung. Lulusan desain komunikasi visual di Institut Teknologi Bandung dan saat ini bekerja sebagai freelance designer. Beberapa animasinya pernah memenangkan penghargaan baik nasional maupun tingkat regional (ASEAN).

KANVAS-DI-ATAS-KULIT-film-pendek

KANVAS DI ATAS KULIT

Cynthia Hana | Jakarta-Tangerang / 2016 / 07’49’’

Pekerjaan seorang tattoo artist perempuan di Ibu Kota, Jakarta.

Director Statement :
Keunikan seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang seniman tato.

Short Bio Filmmaker :
Seorang mahasiswi UMN tingkat akhir yang sangat menyukai dunia perfilman dan terutama dalam hal produksi. Sangat tertarik dengan hal-hal baru, dan aktif mengikuti perkembangan mengenai event film festival.

PENDAKIAN-BIRAHI-film-pendek

PENDAKIAN BIRAHI

Muhammad Rifqi Azzam | Jakarta / 2017 / 12’00’’

Digarap sebagai sebuah homage terhadap film-film seksploitasi Indonesia era 90an, Pendakian Birahi mengisahkan tentang seorang wanita panggilan yang membutuhkan biaya pengobatan untuk Ibunya dan menghadapkannya pada sebuah situasi yang mengancam nyawanya tanpa ia sadari.

Director Statement :
Di era 90an, sinema Indonesia sempat diramaikan dengan film-film seksploitasi murahan yang merupakan gabungan dari dialog-dialog menggelikan, akting para pemain yang kaku, plot yang nihil logika, dan usaha keras para pembuat film di masa tersebut untuk menciptakan adegan-adegan seksual yang di saat bersamaan terlihat digarap secara malas-malasan dan setengah-setengah. Formula-formula ini akhirnya melahirkan deretan judul-judul film lokal yang secara kualitas luar biasa berantakan namun luar biasa menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan.

Para pembuat film di era tersebut berlomba-lomba menjual tema-tema yang tabu dan kontroversial untuk menciptakan faktor shock value yang diharapakan dapat menarik masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan film-film panas tanah air yang juga bersaing dengan film-film bertema serupa dari luar negeri, seperti Hong Kong. Film-film macam ini menjamur cukup lama meski sempat ditentang oleh masyarakat di zaman itu.

Pendakian Birahi, merupakan sebuah surat cinta kecil-kecilan untuk film-film seksploitasi Indonesia 90an. Meyuguhkan kembali sisi absurd nan awkward dari film-film erotis yang menjamur di masa 90an, Pendakian Birahi diharapkan dapat membawa kembali penonton pada zaman keemasan film-film seksploitasi lokal.

Short Bio Filmmaker :
M. Rifqi Azzam lahir di Pekanbaru, 11 Agustus 1993. Seorang mahasiswa IKJ yang menggemari film-film horor eskploitatif. Ia juga menyenangi segala jenis film yang dianggap murahan macam film-film kelas B dari Polonia Bros. Entertainment, film-film India kelas D garapan Harinam Singh atau Kanti Shah, dan juga karya-karya dari sutradara Nayato Fio Nuala.

Beberapa film pendek yang pernah ia garap seperti “Stay” (2012), yang mengangkat tema nekrofilia, lalu “Hamba Setan” (2014), yang berupa sebuah trailer pendek homage terhadap film-film horor/mistik 80an Indonesia, kemudian pernah menggarap sebuah film pendek rape-and-revenge berjudul “Savage” (2014), dan sebuah film pendek horor supranatural “Knock, Knock” (2017).

I-LOVE-ME-film-pendek

I LOVE ME

Riska Talitha | Jakarta / 2016 / 05’40’’

Pemuda era digital lebih cenderung individualis. Kemudahan menggunakan sosial media dijadikan sarana mencari sorotan bagi diri sendiri. I LOVE ME menyajikan sisi berbeda dari pemuda urban yang justru menggunakan sosial media untuk melihat sekitar.

Director Statement :
Pada zaman sekarang, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan media sosial. Kebanyakan dari mereka bahkan terlihat tidak bisa lepas dari hal tersebut. Kapanpun dan dimanapun, mereka mendapatkan dan menyebarkan info update tentang diri mereka. Menyadari hal tersebut, sutradara berusaha membuat sebuah film berdasarkan dari fenomena ini,namun dari kacamata yang berbeda.

Short Bio Filmmaker :
Lahir di Denpasar, Bali 25 tahun yang lalu, Riska Talitha menyelesaikan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dengan peminatan Penyutradaraan. Film ini merupakan film perdana yang diikutsertakan dalam festival. Lahir dan besar di kota besar, membuat Riska merasa dekat dengan kehidupan urban.

Award :
1. Best Director Festival Film Pendek Pemuda Kreatif Indonesia 2016
2. Juara 1 Festival Film Pendek Kompas TV 2016

pekak-film-pendek

PEKAK ( THE BLARING SILENCE)

Jaka Wiradinata | Jakarta / 2016 / 07’04’’

Aktifitas rutin Rieke (29) seorang buruh pabrik setiap paginya adalah menyiapkan sarapan bagi anak dan suaminya. Pada pagi yang nampak biasa ini kesabaran Rieke diuji oleh anak bungsunya yang menangis keras (Idho, 6 tahun), anak sulungnya yang selalu menuntut (Salsa, 10 tahun) dan suami yang acuh (Slamet, 34 tahun).

Director Statement :
Berisiknya buruh, rengekan perusahaan, dan ignoransi dari pemerintah coba saya gambarkan di rumah seorang buruh pabrik (Rieke) yang menjalankan tugas ganda sebagai Ibu dan pekerja. Anak yang menangis dan menuntut hampir sepanjang film menggambarkan kondisi pekerja dan serikat buruh di Indonesia. Pak Slamet yang asyik dengan korannya hanya sekilas saja mengurusi keluarganya. Sang Ibu yang habis kesabarannya kemudian pergi diiringi tangis anak dan kekecewaan Pak Slamet yang tidak jadi makan telur rebus pagi itu.

Short Biografi Filmmaker :
Lulus dari Jurusan Ilmu Politik di Universitas Airlangga Surabaya, melanjutkan pekerjaan nya sebagai freelance director dan mulai merintis creative house bersama rekan rekannya di Jakarta. Memulai hobi membuat film di UKM Sinematografi Universitas Airlangga.


SEBELUM-PAGI-DATANG-film-pendek

SEBELUM PAGI DATANG (BEFORE MORNING COMES)

Asaf Kharisma Putra Utama | Jakarta / 2016 / 14’50’’

Seorang PSK dan Tukang Sapu jalan dipertemukan pada suatu malam di tepian jalan, saling berbincang dan bertukar kebaikan dengan cara mereka masing-masing.

Director Statement :
Kehidupan adalah sebuah rangkaian dari peristiwa, dimana dalam setiap peristiwa manusia akan mengalami pembelajaran mengenai kehidupan dan kebaikan di dalamnya.

Short Biografi Filmmaker :
Asaf Kharisma merupakan seorang sutradara yang lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2016 dengan peminatan penyutradaraan. Merupakan seorang sutradara yang berangkat sebagai director of photography. Beberapa karya filmnya adalah “Pertarungan Terakhir” (2015, sutradara), “Kampanye Taufik” (2014, director of photography), “Sudah Siap?” (2015, director of photography), “Senses” (2015, director of photography – bekerja sama dengan Kyung Sung University, Busan) dan “Titik Balik” (2014, sutradara).

Award :
Nominasi Plaza Indonesia Film Festival 2016, terpilih pada Digital Box Office Award & Screening 2017


Top