Ada kebutuhan untuk lebih dekat, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh. Itu yang membuat saya—pengisi deskripsi audio untuk Sinema Inklusif MFW11—mengajukan kesempatan mewawancarai sutradara Yongky’s First Heartbeats (2024), Giovanni Rustanto. Selain untuk melengkapi tulisan ulasan film ini, ada kesadaran lain yang terus mengalir di benak saya sepanjang hingga sesudah proses pengisian deskripsi audio: bahwa film ini penting untuk ditonton dan dipahami lebih banyak orang.
Saya tidak akan repot-repot menulis ulang uraian kelam tahun politik 98. Mari langsung ke hal-hal yang substansial: relasi kuasa dalam Yongky’s First Heartbeats dan upaya sang sutradara merekonstruksi ingatannya.
“Aku adalah keturunan Cina Indonesia yang tumbuh di tahun-tahun politik itu. Lapisan-lapisan dalam film ini adalah hubungan antara keluargaku dan politik,” Gio membuka cerita. Ia lalu memaparkan bagaimana keluarganya yang cukup militeristik sebagai keturunan Tionghoa Indonesia masih menyisakan jejak Orde Baru—baik pada keluarga maupun dirinya—setelah puncak peristiwa 1998.
Sejak awal, saya merasa tidak adil jika menuliskan ulasan film ini secara “objektif”. Walau itu hak saya sebagai penonton—lebih tepatnya sebagai pendengar film dengan Deskripsi Audio—rasanya pengalaman personal Gio memang menuntut pembacaan yang juga personal.
Gio sendiri menekankan bahwa film-filmnya memang berangkat dari pendekatan subjektif, bukan dari riset historis atau referensi akademis. Ia ingin jujur dalam karya: menyampaikan perasaan dan pikirannya sebagaimana adanya. Gaya naratif ini, kata Gio, akan ia lanjutkan di karya-karya berikutnya. Dan karena itu, kesempatan mewawancarainya otomatis membuat tulisan saya menjadi sama personalnya dengan film itu sendiri.
Saya paham, ketika sebuah film dilempar ke layar, sutradara tidak lagi punya kuasa atas bagaimana filmnya diterima penonton. Perasaan sutradara bisa saja berbeda jauh dari pengalaman penonton. Tapi mari membaca lebih dekat penuturan Gio.
Penjelasan Gio tentang latar belakang film ini terasa agak bertentangan dengan pengalaman saya mendengarkannya. Kedekatan yang ia ceritakan hanya sedikit saya tangkap. Namun itu tetap ada, terutama dalam penggambaran Yongky, Sri, dan keluarga.
Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan Gio terasa sederhana dibanding lapisan-lapisan simbolis yang ia hadirkan. Ada bagian film yang menampilkan situasi politis dengan gamblang, ada juga yang justru sangat jauh dari itu—sesederhana relasi pengasuh dan anak asuh. Dan, seperti dapat ditebak, keterasingan dari figur orang tua.
Dari sini, kebingungan muncul: apakah film ini ingin berbicara sebagai kisah seorang anak laki-laki yang mencari kasih sayang keluarga, atau sebagai alegori politik dengan lapisan simbolis?
“Aku tidak terlalu banyak riset untuk Yongky. Aku tidak ingin membuat film ini jadi acuan sejarah,” kata Gio dalam wawancara. Sekilas pernyataan itu membuat saya mengernyit. Namun, jika dilihat dari cara Gio bercerita, film ini memang personal.
Bagi saya, riset menyeluruh adalah suatu dedikasi yang tidak terpisahkan agar sebuah film atau tulisan memiliki kekuatan untuk sampai pada penonton atau pembaca dengan baik. Tanpa itu, kedalaman sebuah karya pasti terpengaruh. Dan saya, merasakannya.
Tetapi, mari kesampingkan dulu hal teknis itu dulu. Dari wawancara saya, jelas Gio hanya mencoba menarik hal-hal yang dekat dengan ingatannya di Malang: panggilan masa kecilnya, “Sinyo”; sebutan “Genduk” bagi pembantu rumah tangga Jawa di keluarga Tionghoa; nama Yongky yang sering ia temui; dan pertanyaan-pertanyaan yang masih ia bawa sejak masa kecil tahun 98.
Saya pun akhirnya melepaskan keinginan untuk menulis ulasan objektif ketika Gio memaparkan hal itu. Apa yang ingin saya tulis pada awalnya, selalu mengacu pada bagaimana ulasan film ditulis. Segalanya berbicara tentang teknis, penceritaan, dan lain sebagainya. Tak ada satu pun kriteria di atas yang menyebut-nyebut perasaan dan pengalaman sutradara.
Pilihan untuk mengapresiasi sebuah film bisa diambil dari dua sisi: dekat dan personal, atau jarak dan objektif. Memilih lebih dekat bukan berarti kehilangan objektivitas. Sebaliknya, setiap penonton berhak melihat film dari sisi mana pun, tanpa mengubah bobot film itu sendiri.
Saat pertama kali menerima audio film ini, saya tidak punya banyak ekspektasi. Proses mendengar sebelum rekaman Deskripsi Audio biasanya memberi gambaran awal. Dan ternyata, bagi penonton non-visual seperti saya, film ini cukup mudah ditebak arahnya. Isu rasial, militer, 98, Yongky, stetoskop, dan Sri—semua bisa saya tangkap meski sempat bingung di beberapa bagian.
Seruan rasial, istilah militer, siaran berita turunnya Soeharto—semua itu membuat saya sesaat teralihkan dari premis inti: Yongky mencuri stetoskop ayahnya karena percaya benda itu punya kekuatan, hingga rusak, lalu Sri membantunya mendengar detak jantungnya sendiri.
Sampai rekaman Deskripsi Audio selesai, saya tidak lagi bisa menahan rasa penasaran akan simbolisme stetoskop dalam film ini. Melalui deskripsi dari poster-poster demo di akhir film, saya malah membuat kesimpulan yang berbeda sama sekali.
Saya mungkin bisa mengimajinasikan ayah Yongky yang berwajah oriental, sebab Yongky diejek “Cina.” Yongky memanggil ayahnya “papi.” Tapi dialog politis antara ayah dan pasien militernya terasa mengambang. Entah karena kurang jelas, atau memang saya tidak punya konteks cukup.

Entah karena ketidak jelasan, atau karena saya tidak mengetahui lapisan ini dari awal, saya masih belum bisa memahami film ini sampai kreditnya berakhir sampai kemudian Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menangani langsung proses perekaman deskripsi audio menjelaskan bahwa film ini memiliki lapisan-lapisan yang simbolik, terutama perihal kedekatan beberapa kelompok etnis Cina Indonesia dengan militer, sebagian lainnya yang memiliki pengaruh ekonomi yang dekat dengan pemerintahan, kemudian mayoritas kelompok etnis Cina Indonesia yang dipersekusi dalam kerusuhan 98.
Saya hanya bisa manggut-manggut, sedikit terperangah. Saya tidak pernah tahu, atau peduli, bahwa ada lapisan-lapisan kompleks seperti ini.
Pencarian saya di internet akhirnya sedikit-sedikit membawa saya pada informasi yang saya inginkan. Walau pun tidak banyak, dan kemasannya juga tidak menarik. Rasanya hanya seperti membaca baris-baris di papan informasi.
Dari sini, memutar Yongky’s First Heartbeats jadi terasa lebih dekat dan penting. Karena film ini “memperlihatkan” bagaimana relasi kuasa berdampak berbeda pada tiap lapisan. Film ini adalah wahana yang diperlukan untuk memahami jurang hirarkis yang muncul pada tahun-tahun politik itu.
Saya, generasi Z kelahiran 2004, tidak pernah membayangkan bahwa kerumitan ini nyata adanya. Kegemaran saya membaca tentang 98 tidak pernah membawa saya pada detail seperti ini—hingga mengisi deskripsi audio film ini.
Relasi kuasa berkelindan di seputaran Yongky, Sri dan Ayahnya. Yongky, hanya ingin mendengar suara detak jantungnya saja, melalui stetoskop ayahnya. Simbolisme stetoskop ini adalah hal yang paling ingin saya ketahui melalui wawancara dengan Gio.
“Untuk memeriksa apakah orang ini masih punya hati, nggak? Apakah ‘detaknya’ masih ada?” kata Gio. Interpretasi simbolisme stetoskop dapat diartikan macam-macam.
Stetoskop di tangan ayah Yongky adalah simbol otoritas kekuatan, selapis di atas militer. Yongky, melihat ayah dan stetoskopnya mampu memerintah tentara. Yongky meyakini kekuatan itu bisa membantunya mendengar detak jantungnya sendiri — yang baru ia temukan bersama Sri.
Agak membingungkan memang, namun maknanya tetap bisa dirasakan di balik lapisan politis, Yongky mencari sesuatu yang sangatlah mendasar. Cinta. Ya, hanya cinta. Perpaduan tanpa gradien yang mulus, yang alih-alih memperhalus transisi film ini, malah menjadi sesuatu yang sangat kontras. Meskipun itu tidak mengubah nuansa film secara keseluruhan.
Yongky’s First Heartbeats adalah film penting untuk melihat lebih dekat kerumitan posisi politis etnis Cina Indonesia di masa Orde Baru, yang jika mau diseret lebih jauh lagi, tentu tidak lepas kaitannya dengan tahun 65. Sungguh sebuah situasi yang tak pernah terbayangkan di benak saya, bahwa ada segelintir etnis yang dipojokkan dalam situasi yang sedemikian runyamnya.
Kesimpulan saya akhirnya tidak lepas dari wawancara dengan Gio. Saya tidak bisa lagi mengambil jarak setelah berbincang langsung dengannya.
Saya bukan orang film. Saya tidak menilai teknis atau visual. Kapasitas saya adalah pendengar film dengan Deskripsi Audio, sekaligus penulis ulasan di minikino.
Mari lebih dekat dengan film ini melalui tulisan ini. Dan tetaplah duduk di kursi penonton, dengan nilai dan penghargaan yang jadi tolok ukur insan perfilman: agar karya bisa lebih dekat, menggugah, kreatif di luar norma, dan membangkitkan ingatan—yang sempat terlupakan, atau sengaja ingin dilupakan.

















Discussion about this post