Setiap kali kita menyebut film, yang muncul biasanya judul-judul komersial di bioskop. Jarang ada yang teringat pada film pendek, format yang sering menjadi titik mula karir sekaligus laboratorium gagasan. Syukurlah berbagai festival film memberi ruang, dan Minikino adalah salah satu yang sepenuhnya menaruh perhatian pada karya film pendek.
Di balik layar festival, suasana justru semakin akrab: obrolan di warung makan, tawa yang menutupi rasa gugup, hingga kritik yang kadang pedas tapi membangun. Di sanalah banyak filmmaker muda menemukan keberanian mereka untuk menyatakan diri sebagai ‘pembuat film’.
Untuk menjaga keberanian itu tetap tumbuh, Minikino kemudian merancang program berkelanjutan. Short Film Market, yang sejak 2019 hadir di Minikino Film Week (MFW) membuka ruang bertemu antara filmmaker dan industri, sementara Shorts Up, yang dimulai pada 2024, menawarkan proses pendampingan penulisan dan pengembangan naskah secara intensif. Dari dua jalur inilah, MFW ikut menyediakan ruang belajar para sineas muda yang lebih terstruktur dan berkesinambungan.
Di dalam Short Film Market MFW, berbagai aktivitas dirancang sebagai laboratorium: tempat ide, naskah, bahkan karya yang sudah selesai tetap diperlakukan sebagai bahan belajar untuk karya yang lebih baik di masa mendatang. Ada sesi Roast Your Shorts, di mana naskah dipertemukan dengan roaster yang juga para profesional dari berbagai latar belakang yang terkait film, dan kritik pedas justru menjadi hadiah. Ada juga Toast Your Shorts, ruang yang lebih hangat untuk mendengar masukan dari programmer festival internasional sekaligus membuka jalan distribusi.
Minikino juga tidak berhenti ketika festival selesai. Pada Juli 2025, Dyana Wulandari, Manajer 7th Short Film Market MFW11, bersama Fransiska Prihadi, Direktur Program, kembali menghubungi para alumni Shorts Up 2024 serta sejumlah alumni Toast Your Shorts dan Roast Your Shorts dari kurun waktu 2019–2024. Tujuannya sederhana tapi penting: menjaga hubungan, memantau progres, dan memberi dukungan agar proyek-proyek alumni tidak terhenti di tengah jalan. Langkah ini menegaskan bahwa dampak program tidak berhenti seusai festival, melainkan berlanjut dalam perjalanan setiap filmmaker.
Narasi Lintas Alumni
Perjalanan alumni Shorts Up 2024 menunjukkan beragam jalur. Rahmi Salsabila dan A. Nurul Ghaliyah Gunawan dari Aidea Film (Sulawesi Selatan) menggunakan hadiah Audience Award Pitching Shorts Up 2024 di MFW10 untuk membuat teaser. “Plotnya masih sama, tapi karakter harus diperkuat, riset harus lebih dalam. Itu perjalanan yang membuat naskah berkembang, meski jujur, kadang riset kebanyakan bikin kami justru berhenti menulis,” kata Ai sambil tertawa. Sementara itu, Sulhi Azhari dan Tutik Rahmawati dari Chendool Imaginations (Nusa Tenggara Barat) membawa proyek Kabar yang Kabur ke forum internasional. “Kami tahu persaingannya ketat sekali. Tapi pengalaman mengirim proposal itu sendiri sudah membuat kami lebih paham bagaimana membawa cerita ini ke panggung global,” ujar Sulhi.
Cerita lain datang dari Acah Acah Films (Jawa Tengah) dengan proyek Pantai Impian (Bye Bay). Rizqullah Ramadhan Panggabean mengaku, “Aku sempat merasa cerita ini melayang-layang. Tapi akhirnya sadar, nggak bisa proyek ini jalan kalau nggak pulang. Harus kembali ke Tanjung Pinang, ketemu orang-orang, dengar cerita mereka. Baru filmnya terasa hidup lagi.” Dari jalur berbeda, Merakit Pictures (DI Yogyakarta) yang diproduseri Saddam Putra Dewa Rimbawan dan penulis/sutradara Cinta Setia Aisyah baru saja menyelesaikan tahap produksi. “Kalau bukan bersama Minikino, rasanya tidak mungkin secepat ini masuk rencana syuting. Pertimbangannya pasti banyak sekali. Tapi sekarang rasanya lebih siap, bahkan hal kecil seperti cara mengirim email ke sponsor pun berubah,” kata Saddam.
Tantangan juga dihadapi Podium Pictures (DKI Jakarta) lewat Michael Rainheart dan Amar Haikal dengan proyek Seremoni (Bathe in Glory). Syuting sempat mundur, pencarian investor penuh drama. “Ada momen pusing, bahkan kami sempat saling diam-diaman. Tapi ujungnya kami sadar yang kami bela itu proyeknya. Pertemuan dengan investor terakhir bahkan membuat kami lebih optimis. Ini betul-betul proses belajar, bukan hanya soal film tapi juga soal membangun perusahaan,” kata Michael. Syuting akhirnya rampung akhir Juli 2025. Dari Shock Film (Palembang), M. Ilham Prajatama masih terus mengutak-atik naskahnya sambil bekerja sebagai asisten sutradara di Jakarta. “Proyek film pendekku masih kembang-kempis, aku refine berkali-kali. Tapi ilmu dari Shorts Up, terutama budgeting dan cara membangun kolaborasi, aku coba terapkan juga di proyek lain,” ungkap Ilham. Produsernya, Bryan Hadi Kesuma, tetap mendukung sambil menunggu naskah final.
Di jalur dokumenter personal, Hafidz Nur Rahmadi dari Meracik Sihir (DKI Jakarta) menggambarkan prosesnya pelan namun intens. “Aku jadi terus merekam kehidupan sehari-hari, terutama percakapan dengan nenekku. Rasanya lambat sekali, seperti siput, tapi di situ juga aku menemukan kedalaman baru,” katanya. Produsernya, Galih Rama dan Gatot Jalu, menilai kekuatan proyek justru ada di proses panjang itu. Sedangkan Beny Kristia dari Berakinema (Jawa Timur) merasakan dampak Shorts Up bahkan saat magang. “Pas wawancara kerja aku ditanya soal Shorts Up, dan itu ternyata jadi nilai tambah. Dari situ aku sadar, pengalaman di Shorts Up bukan cuma soal proyek, tapi juga bikin aku lebih paham cara industri bekerja,” jelasnya.
Masing-masing alumni berjalan di jalur berbeda: ada yang menunda produksi demi riset, ada yang mengubah arah, ada yang sudah menyelesaikan syuting dan masuk pascaproduksi, dan ada pula yang masih mencari bentuk. Namun benang merahnya sama: ruang bertumbuh yang mereka temukan di Shorts Up dan Short Film Market MFW tidak berhenti di festival, melainkan terus hidup dalam cara mereka bekerja, berkomunikasi, dan mewujudkan mimpi sebagai filmmaker.
Ketika Kritik Menjadi Bekal, dan Masukan Menjadi Jalan

Di ruang Roast Your Shorts, banyak alumni pulang dengan perasaan campur aduk: gugup, lega, sekaligus tertampar. I Made Suniartika (Suni) masih ingat betul bagaimana ia datang membawa naskah tugas akhir kuliahnya. “Ambisi saya waktu itu besar sekali, semua mau dimasukkan dalam satu film pendek. Ego saya tinggi sekali. Tapi para roaster waktu itu—Mary Grace Liew (Malaysia), Muhammad Heri Fadli dan Gita Fara (Indonesia), serta Masoud Soheili (Iran)—mengingatkan: fokuslah. Dalam lima belas menit durasi film pendekmu, pilih satu topik yang jelas,” kenangnya.
Pengalaman serupa dialami produser Sukhadharmi Padmalauwaty dan penulis/sutradara William dari Bloom Pictures tahun 2024. Untuk pertama kalinya mereka menghadapi roaster internasional dengan perspektif yang beragam. “Seru sekali bisa dapat masukan dari berbagai negara, meski kadang kendala bahasa bikin kami salah menyampaikan atau malah nggak nyambung,” ujar Sukha. Dari Khozy Rizal, mereka mendapat catatan yang membekas: pikirkan dulu siapa audiens film, jangan menulis hanya agar murah, tapi tulis sebebas mungkin dulu baru kemudian sesuaikan dengan budget. William menambahkan, “Banyak yang bilang cerita kami potensial, tapi terlalu banyak dialog dan visualnya kurang jelas. Dari situ kami belajar, film pendek di sirkuit festival menginginkan cerita yang juga menarik secara visual.”
Jika Roast Your Shorts adalah ruang dengan tekanan tinggi, maka Toast Your Shorts memberi perspektif hangat. Olivia Griselda, filmmaker Indonesia yang berbasis di Singapura, membawa animasi She and Her Good Vibration pada MFW7 tahun 2021 dan mendapat strategi distribusi yang membuka jalan filmnya ke hampir 200 festival internasional. “Yang paling berharga itu masukan dari para programmer festival film. Mereka bukan hanya memberi kritik, tapi juga peta, festival mana yang cocok untuk film ini, gaya kurasi seperti apa yang harus kami perhatikan,” jelasnya.
Giovanni Rustanto, alumni Toast Your Shorts di MFW8 tahun 2022, menyebut sesi ini sebagai kesempatan langka. “Kapan lagi bisa ngobrol langsung dengan programmer festival internasional? Selepas kesempatan ini, saya mendapatkan dukungan pendanaan Layar Indonesiana, syuting, dan akhirnya filmnya mulai diputar di berbagai festival. Rasanya lebih percaya diri karena ada validasi dari mata yang sudah terbiasa menonton ratusan film pendek setiap tahun,” katanya.
Roast Your Shorts memberi kritik, Toast Your Shorts menunjukkan jalan. Keduanya sama-sama menyalakan semangat baru, membuat filmmaker pulang dengan bekal lebih dari sekadar catatan di kertas, melainkan keberanian untuk terus melangkah dengan cerita mereka.
Pertemanan yang Menjadi Fondasi Kolaborasi
Selain kritik dan strategi distribusi, ada satu hal yang sering terulang dari cerita para alumni: pertemanan. Shorts Up 2025 sempat menghadirkan Vivian Idris untuk berbicara tentang international co-production. Dalam sesi itu, Vivian menekankan bahwa co-production lintas negara bukan hanya soal dana, tapi juga tentang membangun hubungan. “Pertemanan adalah zona nyaman. Dari sana, kolaborasi lebih mudah lahir,” ujarnya. Spirit inilah yang terus tumbuh di komunitas Minikino—kolaborasi yang sering kali berlanjut di proyek-proyek berikutnya.
Dampaknya, meski tak selalu terlihat instan, nyata terasa. Naskah-naskah yang tadinya berantakan menemukan fokus. Proyek-proyek yang terhenti mendapat napas baru. Beberapa berhasil menembus festival internasional, sebagian lagi masih berproses mencari bentuk. Yang jelas, para filmmaker muda Indonesia kini tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Film pendek mungkin berdurasi singkat, tetapi perjalanan di baliknya panjang. Dan melalui program pengembangan talenta, Minikino terus mengingatkan bahwa kritik, kolaborasi, dan keberanian untuk mendengar adalah bagian dari tumbuhnya sebuah karya.
Bagi siapa pun yang membaca ini, ada banyak cara untuk ikut serta: datang ke 7th Short Film Market di Minikino Film Week 11 (12–19 September 2025), mengikuti sebagai peserta maupun observer, atau menonton film-film pendek di festival. Dari ruang-ruang hangat inilah, cerita-cerita penting masa depan sedang dipersiapkan, dan mungkin, Anda pun akan menjadi bagian dari perjalanan itu.
Tim Penulis: Fransiska Prihadi dan Dyana Wulandari
Ingin tahu lebih lanjut tentang Shorts Up 2025? Kontak shortsup@minikino.org
PROFIL PENULIS
![]() |
Fransiska Prihadi
FRANSISKA PRIHADI is an architect, co-founder of art-house cinema MASH Denpasar in Bali. She is Program Director of Minikino. She served as guest programmer & jury for various national and international short film festivals, with experience as facilitator and mentor for filmmaking and film festival writing workshops. |
![]() |
Dyana Wulandari
Dyana is the Short Film Market Coordinator at Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival. A graduate in Event Management, she has a strong passion for connecting people through events. She has experience as the Project Coordinator for the Vertical Filmmaking Competition 2024, a collaboration between Minikino, Internews, and FilmAid. Dyana also plays a key role as a committee member for the Minikino Shorts Up Film Lab 2024 and 2025. |























Discussion about this post