Kehidupan berkembang dinamis dan tidak satu pun manusia mampu mengontrol gerak lajunya. Perkembangan itu kini memasuki era kala dunia seolah-olah menyusut. Beragam informasi yang tersebar dengan bebas tanpa hambatan membuat dunia menjadi tempat yang terasa sempit. Banyak individu maupun kelompok yang terdistorsi dengan adanya perkembangan ini. Menyikapi banyaknya isu-isu sosial yang ada, media film kerap kali digunakan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, atau untuk merepresentasikan realita sosial. Pernyataan tersebut dibuktikan oleh film pendek fiksi karya Once Upon A Time In Indonesia (Kenny Gulardi, 2020) yang sepertinya mencoba mengkritik cara kerja media, khususnya media sosial di era digital kini.
Film tersebut adalah bagian program Indonesia Raja 2021 Jakarta Metropolitan. Program ini merupakan bentuk kolaborasi antar daerah di Indonesia lewat bentuk pertukaran program film pendek. Programmer Indonesia Raja 2021 Jakarta Metropolitan, Nosa Normanda, memilih film-film pendek yang merupakan pemaparan kemiskinan yang kerap kali direpresentasikan dalam bingkai eksotis. Kaum homo Jakartanensis memiliki cara tersendiri dalam menghadapi kemiskinan yang membuat mereka berbeda dari penduduk urban di belahan dunia lain. Di Jakarta, kemiskinan adalah gaya hidup, strategi, pilihan, pertunjukan, dan budaya pop.
Once Upon A Time In Indonesia menceritakan jagat maya yang sedang dihebohkan dengan tagar #savebokongkuncoro. Kuncoro, anak SMP berusia 14 tahun yang kurang mampu secara ekonomi, dikabarkan menjadi korban kasus pelecehan seksual oleh teman sebayanya. Bokong Kuncoro ditusuk dengan sapu ijuk sampai sulit dikeluarkan. Kejadian tersebut tentu menimbulkan kemarahan di media sosial. Netizen menyerang pelaku habis-habisan dan memberikan dukungan kepada Kuncoro yang kabarnya sedang trauma berat akibat susah BAB. YouTuber papan atas, Atika Rosalia Gledek Jeger turut prihatin dan datang menjenguk Kuncoro. Tak hanya memberi dukungan, Atika juga melakukan house tour rumah Kuncoro untuk konten YouTube-nya. Film ini dikemas dengan ringan dan penuh komedi sehingga mampu menghasilkan tawa bagi penontonnya. Melalui 16 menit, Once Upon A Time In Indonesia (Kenny Gulardi, 2020) berhasil merepresentasikan realita yang terjadi di dunia maya pada era digital.

Di film tersebut, media sosial diguncangkan sedang dengan adanya tagar #savebokongkuncoro hingga para warganet bersama-sama menyampaikan rasa belas kasihan serta dukungan untuk Kuncoro. Namun, media sosial tidak mencerminkan realita. Ada beberapa adegan saat Atika meminta Ibu Margaret, Ibu kandung Kuncoro, untuk berakting menderita di depan kamera. Padahal, Ibu Margaret sebenarnya tidak butuh belas kasihan dari orang lain. Begitu pula dengan Kuncoro. Ibu Margaret dan Kuncoro memang hidup ala kadarnya. Bu Margaret menyandarkan nasibnya dengan berjualan gorengan, dengan tempat tinggalnya kumuh. Meskipun demikian, hal tersebut tidak memisahkan keluarga Kuncoro dengan rasa cukup dan syukur. Celakanya, rasa syukur Kuncoro dan Ibunya sepertinya tidak menghentikan Atika untuk meminta mereka bersandiwara menjadi individu yang meronta-ronta membutuhkan belas kasihan, hanya demi viewers dan keuntungan personal lainnya.
Penderitaan, kemiskinan, atau adjektiva buruk lainnya kerap kali dipaparkan oleh media. Menampilkan penderitaan di dunia maya akan menimbulkan rasa iba dari para audiens. Rasa iba tersebut merupakan faktor yang cukup signifikan dalam timbulnya komodifikasi yang kerap kali dilakukan oleh para content creators –yang dalam kasus ini adalah YouTuber. Hal tersebut kerap kali ditemukan pada aplikasi TikTok. Banyak content creators yang merekam dan mengunggah kejadian mereka saat sedang membantu orang miskin, demi viewers dan exposure. Eksistensi content creators dianggap bermanfaat bagi penontonnya dengan embel-embel membantu orang miskin. Padahal, mereka yang dibantu hanya menerima keuntungan sebagian kecil saja. Media sosial telah memainkan peran besar dalam membentuk cara kita semua berpikir.
Once Upon A Time In Indonesia adalah film pendek komedi yang mewakili kenyataan yang memprihatinkan. Penderitaan manusia menjadi sarana untuk mencetak uang. Banyak orang rela bersandiwara di depan kamera untuk keuntungan personal semata. Film pendek ini berusaha menyadarkan audiensnya untuk tidak mudah percaya dengan apa yang dipaparkan di dunia maya. Media akan terus mencari celah yang menguntungkan mereka, dan kita, sebagai audiens, selalu punya pilihan untuk tidak mudah terdistorsi dengan apa yang ditampilkan di jagat maya.

















Discussion about this post