Saya menggenggam erat-erat lengan Grace (Graciella) seorang kawan yang mendampingi saya menjelajahi Minikino Film Week (MFW 12) pada Jumat, 11 September 2026, di RB-Rumah Tanjung Bungkak. Kami bergegas menyusuri jalanan menuju venue, sambil berkomentar tentang cuaca, keramaian di sekitar,dan terus mencari-cari informasi dan tempat registrasi. Telinga saya menangkap suara-suara yang akrab. Euforia pagi itu begitu terasa.
Sudah tiga tahun saya membayangkan bisa berada dalam keramaian ini. Selama itu saya sudah menulis dan mengisi suara untuk sinema inklusif, namun saya tidak pernah mencoba untuk menjelajahi festival ini. Bagi saya, MFW lebih dari festival film pendek internasional. Terlibat dan menjadi kolaborator Minikino Studio selama tiga tahun terakhir telah mengubah dosis film pendek yang telah saya terima, dan saya ingin menjelajahi festival ini lebih detail dari sebelumnya yang hanya menghadiri Inclusive Cinema saja.
Pembukaan festival, seperti biasanya, dipandu oleh Fransiska Prihadi (Cika)-Direktur Program, Edo Wulia (Edo)-Direktur Festival, dan I Made Suarbawa-Ketua Yayasan Kino Media. Dilengkapi oleh kawan-kawan lain. Saya menyimak opening hari itu dengan antusiasme yang lebih dari biasanya.
Program Film Pendek Pembuka MFW 12
Ada beberapa film yang amat menarik perhatian saya dalam sesi ini. Sebagai salah satu pengisi suara Audio Description (AD) Minikino Studio selama tiga tahun terakhir, Saya berorientasi penuh pada kebutuhan penonton dengan disabilitas netra. Saya tidak cukup peduli untuk isu penyandang disabilitas lain, sampai saya mendengarkan film Each to their own world, sebuah dokumenter tentang kehidupan tuli.
Mulanya, saya tidak memahami film apa gerangan yang sedang diputar dengan bunyi-bunyian dari mulut yang tak bisa saya identifikasi. Namun, kemudian Grace, membisiki saya, dengan suara sekecil mungkin, untuk menyuarakan takarir di layar. Saya menghentikan usaha untuk mendengarkan film itu, dan berkonsentrasi menangkap apa pun yang Grace bisikan dengan cepat. Sesekali, saya berusaha menemukan detail apa pun dari film tersebut, namun yang saya dapatkan hanyalah perasaan gamang. Tuli dan tunanetra berada di dunia yang tidak saja berbeda, namun juga tak terjangkau. Film ini penting untuk membuka jendela pemahaman saya pada kelompok marginal lain.
Grace berusaha membacakan takarir dengan sebaik mungkin. Bahasa isyarat, tumbuh dengan berbeda, pencarian diri, penolakan, belajar bicara, tuntutan agar bisa oral, spektrum tuli, penerimaan diri. Informasi-informasi itu masuk ke kepala saya dengan cepat, sambil benak saya menyusun narasi informasi dan membandingkannya dengan pengalaman teman-teman tunanetra. Yah, tentu saja ada perbedaan dan kesamaan, namun dunia yang kami hadapi nyaris linier. Penolakan, pencarian jati diri, lalu kemudian menemukannya.
Tentu, bukan tempatnya untuk membanding-bandingkan kedua genre disabilitas ini, namun melakukannya membuat saya membantu menumbuhkan empati dan imajinasi tentang betapa sukarnya dunia dengar yang mereka hadapi.
Grace adalah seorang juru bahasa isyarat yang andal. Saya bertanya padanya tentang apakah ia menemukan perbedaan bahasa isyarat yang dikuasainya dengan bahasa isyarat yang digunakan di dalam film, dan Grace menemukan hal yang sangat menarik. Dia menemukan kesamaan sekaligus perbedaan yang kentara pada bahasa isyarat di film Each to Their Own World (Klarissa Webster, Dokumenter, Skotlandia, 2025) dan bahasa isyarat yang dia kuasai, tentu saja. Saya semakin tertarik mendengarkan pembacaan takarirnya, dan perlahan membuka pada dunia yang sebelumnya tak pernah bersedia saya gubris, dunia tuli.
Lalu, film selanjutnya yang membuat saya menegakan punggung dan memperhatikan dengan penuh konsentrasi adalah film Sharp Objects (Taufiqurrahman Kifu, Hattie Wade, Dokumenter, Indonesia, Netherlands, 2025) . Saya mencegah Grace untuk membisikan film ini, karena saya ingin memahami filmnya terlebih dahulu sebelum menemukan kejanggalan. Film ini relatif mudah dipahami, karena terdapat dialog bahasa inggris dan narasi bahasa Indonesia yang menuturkan riwayat keris,kerajaan Klungkung, Perang, dan bagaimana pusaka keris sebagai artefak dan warisan penting budaya masyarakat Bali, yang berpindah dan dipindahkan, nun jauh di museum di negara kolonial di Eropa sana. Atas nama perlindungan budaya, lalu narasi tentang apa yang negara kolonial wariskan pada Bali kini, apa-apa saja yang telah mengubahnya sama sekali.

Saya baru saja mendapatkan pembahasan ini di kuliah sosiologi saya minggu lalu, dan saya menemukannya lagi hari ini. Grace tidak banyak membisiki saya tentang deskripsi film ini, hanya sedikit konteks di sana sini untuk mencocokan narasi yang saya dengar dengan apa yang terputar di layar. Satu lagi, sesuatu tentang Bali yang luput dari pengetahuan saya. Keris, sebuah artefak dengan ritus dan sejarahnya, yang telah diambil, dibawa, dijauhkan, disimpan, dipajang, dipertontonkan, di sebuah tempat yang jauh dari muasalnya, dimana kejanggalan tentang sejarah dan nilai budayanya begitu kontras dengan tempat dimana ia dipertontonkan.
Nah, sampai di sini, saya sudah tidak bisa membawa kalian pada pembacaan yang lebih jauh lagi. Karena sisa film dalam screening ini adalah film-film asing yang sungguh sangat runyam untuk diikuti. Film selanjutnya adalah, Ex-tract (Marcel Barelli, Animasi, Switzerland, 2025), film bernarasi bahasa Prancis, Good Failure (Chaewon Yoon, Fiksi, Republik Korea, 2025) film berbahasa Korea, dan Kentucky Gaza (Omar Rammal, Fiksi, Jordan, 2026) berbahasa Arab.
Tidak ada apa pun yang bisa saya bawa untuk menapak pada struktur naratif maupun deskriptif dari film-film itu, karena terbatasnya konsen dan perhatian saya pada isu lingkungan terutama pada film Ex-Tract, dan jarak naratif untuk film Good Failure, meskipun deskripsi dan pembacaan takarir oleh Grace membantu saya menavigasi isu-isu dalam film tersebut sehingga saya tidak mengambang sama sekali.
Sementara saat Kentucky Gaza diputar, saya turut tertawa dan mampu membangun struktur imajiner dalam menikmati film ini, lebih karena cara Grace tertawa sambil mendeskripsikan film ini. Jadi, saya tertawa karena tawa Grace, dan caranya mendeskripsikan film yang sangat komikal. Saya tidak yakin bahwa tawa saya berasal dari film ini sendiri.
Jadi, demikianlah yang saya peroleh dalam mengikuti opening MFW 12 yang sangat mengesankan ini, terutama karena saya belum pernah didampingi oleh Expert Shadow seperti Grace. Harap dicatat, semua pengalaman saya, dan apa yang saya tulis, tentu berada dalam keterbatasan saya sebagai penonton dengan disabilitas netra. Dan, sesuatu di luar batas-batas itu masih luput dalam liputan saya, yang mungkin akan terus saya cari di sepanjang MFW 12.
Penyelaras bahasa: Fransiska Prihadi



















Discussion about this post