Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Alur Air (Streaming) (2024) Sutradara Rahmania Nerva, Ananta Wijayarana

    Intrik di Balik Tembok-Tembok Tinggi : S-Express 2026 Indonesia

    Still Film Abortion Party (2025) Sutradara & Penulis Julia Mellen

    Karena Itulah Kita Berpesta

    Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

    Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

    Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

    Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

    Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

    Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Alur Air (Streaming) (2024) Sutradara Rahmania Nerva, Ananta Wijayarana

    Intrik di Balik Tembok-Tembok Tinggi : S-Express 2026 Indonesia

    Still Film Abortion Party (2025) Sutradara & Penulis Julia Mellen

    Karena Itulah Kita Berpesta

    Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

    Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

    Still Film Equal Dust (Elämä ja yö) (2025) Sutradara Jani Peltonen

    Protes dan Debu Atomik di Panggung Musik Penuh Intrik

    Still Film Good Failure (2025) Sutradara Chaewon Yoon

    Anak Muda Boleh Gagal, Asal …

    Film Still Happily Ever After. (2025) Director SINN Kirin

    WHOSE HAPPY ENDING IS THIS?

    Still Film Yes! (Jah!) (2024) Sutradara 
Madli Lääne

    Meniti Titik pada Papan: Ulasan program “Sense of Place” di Minikino Film Week ke-12

    Still Film Last May In Theaters (2025) Sutradara Arief Budiman

    Ingatan dan Trauma di Balik Bioskop : “Last May In Theaters”

    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home NOTES

Meliput yang Luput: Catatan Opening MFW 12 Dari Pendengar Film Pendek

Komang Yuni by Komang Yuni
November 2, 2026
in NOTES, OPINION
Reading Time: 4 mins read
Komang Yuni dengan Grace (Expert Shadow) di Opening MFW12 (Dok: Putu Mutya Dewi)

Komang Yuni dengan Grace (Expert Shadow) di Opening MFW12 (Dok: Putu Mutya Dewi)

Saya menggenggam erat-erat lengan Grace (Graciella) seorang kawan yang mendampingi saya menjelajahi Minikino Film Week (MFW 12) pada Jumat, 11 September 2026, di RB-Rumah Tanjung Bungkak. Kami bergegas menyusuri jalanan menuju venue, sambil berkomentar tentang cuaca, keramaian di sekitar,dan terus mencari-cari informasi dan tempat registrasi. Telinga saya menangkap suara-suara yang akrab. Euforia pagi itu begitu terasa.

Sudah tiga tahun saya membayangkan bisa berada dalam keramaian ini. Selama itu saya sudah menulis dan mengisi suara untuk sinema inklusif, namun saya tidak pernah mencoba untuk menjelajahi festival ini. Bagi saya, MFW lebih dari festival film pendek internasional. Terlibat dan menjadi kolaborator Minikino Studio selama tiga tahun terakhir telah mengubah dosis film pendek yang telah saya terima, dan saya ingin menjelajahi festival ini lebih detail dari sebelumnya yang hanya menghadiri Inclusive Cinema saja.

Pembukaan festival, seperti biasanya, dipandu oleh Fransiska Prihadi (Cika)-Direktur Program, Edo Wulia (Edo)-Direktur Festival, dan I Made Suarbawa-Ketua Yayasan Kino Media. Dilengkapi oleh kawan-kawan lain. Saya menyimak opening hari itu dengan antusiasme yang lebih dari biasanya.

Program Film Pendek Pembuka MFW 12

Ada beberapa film yang amat menarik perhatian saya dalam sesi ini. Sebagai salah satu pengisi suara Audio Description (AD) Minikino Studio selama tiga tahun terakhir, Saya berorientasi penuh pada kebutuhan penonton dengan disabilitas netra. Saya tidak cukup peduli untuk isu penyandang disabilitas lain, sampai saya mendengarkan film Each to their own world, sebuah dokumenter tentang kehidupan tuli.

Mulanya, saya tidak memahami film apa gerangan yang sedang diputar dengan bunyi-bunyian dari mulut yang tak bisa saya identifikasi. Namun, kemudian Grace, membisiki saya, dengan suara sekecil mungkin, untuk menyuarakan takarir di layar. Saya menghentikan usaha untuk mendengarkan film itu, dan berkonsentrasi menangkap apa pun yang Grace bisikan dengan cepat. Sesekali, saya berusaha menemukan detail apa pun dari film tersebut, namun yang saya dapatkan hanyalah perasaan gamang. Tuli dan tunanetra berada di dunia yang tidak saja berbeda, namun juga tak terjangkau. Film ini penting untuk membuka jendela pemahaman saya pada kelompok marginal lain.

Grace berusaha membacakan takarir dengan sebaik mungkin. Bahasa isyarat, tumbuh dengan berbeda, pencarian diri, penolakan, belajar bicara, tuntutan agar bisa oral, spektrum tuli, penerimaan diri. Informasi-informasi itu masuk ke kepala saya dengan cepat, sambil benak saya menyusun narasi informasi dan membandingkannya dengan pengalaman teman-teman tunanetra. Yah, tentu saja ada perbedaan dan kesamaan, namun dunia yang kami hadapi nyaris linier. Penolakan, pencarian jati diri, lalu kemudian menemukannya.

Tentu, bukan tempatnya untuk membanding-bandingkan kedua genre disabilitas ini, namun melakukannya membuat saya membantu menumbuhkan empati dan imajinasi tentang betapa sukarnya dunia dengar yang mereka hadapi.

Grace adalah seorang juru bahasa isyarat yang andal. Saya bertanya padanya tentang apakah ia menemukan perbedaan bahasa isyarat yang dikuasainya dengan bahasa isyarat yang digunakan di dalam film, dan Grace menemukan hal yang sangat menarik. Dia menemukan kesamaan sekaligus perbedaan yang kentara pada bahasa isyarat di film Each to Their Own World (Klarissa Webster, Dokumenter, Skotlandia, 2025) dan bahasa isyarat yang dia kuasai, tentu saja. Saya semakin tertarik mendengarkan pembacaan takarirnya, dan perlahan membuka pada dunia yang sebelumnya tak pernah bersedia saya gubris, dunia tuli.

Lalu, film selanjutnya yang membuat saya menegakan punggung dan memperhatikan dengan penuh konsentrasi adalah film Sharp Objects (Taufiqurrahman Kifu, Hattie Wade, Dokumenter, Indonesia, Netherlands, 2025) . Saya mencegah Grace untuk membisikan film ini, karena saya ingin memahami filmnya terlebih dahulu sebelum menemukan kejanggalan. Film ini relatif mudah dipahami, karena terdapat dialog bahasa inggris dan narasi bahasa Indonesia yang menuturkan riwayat keris,kerajaan Klungkung, Perang, dan bagaimana pusaka keris sebagai artefak dan warisan penting budaya masyarakat Bali, yang berpindah dan dipindahkan, nun jauh di museum di negara kolonial di Eropa sana. Atas nama perlindungan budaya, lalu narasi tentang apa yang negara kolonial wariskan pada Bali kini, apa-apa saja yang telah mengubahnya sama sekali.

Film Still of Sharp Objects (2025) Director Taufiqurrahman Kifu & Hattie Wade

Saya baru saja mendapatkan pembahasan ini di kuliah sosiologi saya minggu lalu, dan saya menemukannya lagi hari ini. Grace tidak banyak membisiki saya tentang deskripsi film ini, hanya sedikit konteks di sana sini untuk mencocokan narasi yang saya dengar dengan apa yang terputar di layar. Satu lagi, sesuatu tentang Bali yang luput dari pengetahuan saya. Keris, sebuah artefak dengan ritus dan sejarahnya, yang telah diambil, dibawa, dijauhkan, disimpan, dipajang, dipertontonkan, di sebuah tempat yang jauh dari muasalnya, dimana kejanggalan tentang sejarah dan nilai budayanya begitu kontras dengan tempat dimana ia dipertontonkan.

Nah, sampai di sini, saya sudah tidak bisa membawa kalian pada pembacaan yang lebih jauh lagi. Karena sisa film dalam screening ini adalah film-film asing yang sungguh sangat runyam untuk diikuti. Film selanjutnya adalah, Ex-tract (Marcel Barelli, Animasi, Switzerland, 2025), film bernarasi bahasa Prancis, Good Failure (Chaewon Yoon, Fiksi, Republik Korea, 2025) film berbahasa Korea, dan Kentucky Gaza (Omar Rammal, Fiksi, Jordan, 2026) berbahasa Arab.

Tidak ada apa pun yang bisa saya bawa untuk menapak pada struktur naratif maupun deskriptif dari film-film itu, karena terbatasnya konsen dan perhatian saya pada isu lingkungan terutama pada film Ex-Tract, dan jarak naratif untuk film Good Failure, meskipun deskripsi dan pembacaan takarir oleh Grace membantu saya menavigasi isu-isu dalam film tersebut sehingga saya tidak mengambang sama sekali.

Sementara saat Kentucky Gaza diputar, saya turut tertawa dan mampu membangun struktur imajiner dalam menikmati film ini, lebih karena cara Grace tertawa sambil mendeskripsikan film ini. Jadi, saya tertawa karena tawa Grace, dan caranya mendeskripsikan film yang sangat komikal. Saya tidak yakin bahwa tawa saya berasal dari film ini sendiri.

Jadi, demikianlah yang saya peroleh dalam mengikuti opening MFW 12 yang sangat mengesankan ini, terutama karena saya belum pernah didampingi oleh Expert Shadow seperti Grace. Harap dicatat, semua pengalaman saya, dan apa yang saya tulis, tentu berada dalam keterbatasan saya sebagai penonton dengan disabilitas netra. Dan, sesuatu di luar batas-batas itu masih luput dalam liputan saya, yang mungkin akan terus saya cari di sepanjang MFW 12.

Penyelaras bahasa: Fransiska Prihadi

Tags: Deskripsi AudioExpert Shadowfilm pendeksinema inklusif
ShareTweetShareSend
Previous Post

Intrik di Balik Tembok-Tembok Tinggi : S-Express 2026 Indonesia

Komang Yuni

Komang Yuni

Komang Yuni Lahir di Gianyar Bali, namun nyaris separuh masa hidupnya dihabiskan di Denpasar. Sudah menggandrungi film-film pendek yang bagus dari 2023, dan terus berusaha menambah dosis film pendek sejak saat itu. Sekarang tengah menempuh studi Sosiologi di Universitas Brawijaya, sambil terus menulis yang terus dilakoninya sebagaimana ia bernapas.

Related Posts

Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

October 16, 2026
GEN Z POV - Industry Events 7th Short Film Market MFW11 di Dharma Negara Alaya  (Dok: Felixrio Prabowo)

Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

October 9, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026
Gambar adegan dari film NGGAK.

Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

June 1, 2026
Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

June 1, 2026
Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

June 1, 2026

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Komang Yuni dengan Grace (Expert Shadow) di Opening MFW12 (Dok: Putu Mutya Dewi)

Meliput yang Luput: Catatan Opening MFW 12 Dari Pendengar Film Pendek

November 2, 2026
Still Film Alur Air (Streaming) (2024) Sutradara Rahmania Nerva, Ananta Wijayarana

Intrik di Balik Tembok-Tembok Tinggi : S-Express 2026 Indonesia

October 20, 2026
Still Film Abortion Party (2025) Sutradara & Penulis Julia Mellen

Karena Itulah Kita Berpesta

October 20, 2026
Awards Gala MFW12 di Hongkong Garden Restaurant (Dok: Syafiudin Vifick)

Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini

October 16, 2026
GEN Z POV - Industry Events 7th Short Film Market MFW11 di Dharma Negara Alaya  (Dok: Felixrio Prabowo)

Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

October 9, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Meliput yang Luput: Catatan Opening MFW 12 Dari Pendengar Film Pendek
  • Intrik di Balik Tembok-Tembok Tinggi : S-Express 2026 Indonesia
  • Karena Itulah Kita Berpesta
  • Dari Layar ke Dialog: Sinema dan Krisis Iklim Hari Ini
  • Romantisasi Kehidupan Gaya Gen Z

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERNATIONAL
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media