Julia Mellen membuka “Abortion Party” (2025) dengan menjelaskan alasan di balik kerendahan resolusi dari video patah-patah yang mengabadikan parasnya—ia malas memindahkan baterai webcam yang tengah terpasang di vibrator di laci, jadi rekaman itu ia buat dengan kamera ponsel tua yang “seadanya”. Ini adalah penjelasan terakhir yang disampaikan Julia soal berbagai pilihan artistik yang ia ambil selaku sutradara, penulis, dan subjek tunggal film pendeknya—lucu dan mengherankan, karena keruhnya rekaman mungkin elemen yang paling “wajar” dan konvensional dari eksperimen audiovisual ini.
Misalnya, ada kombinasi unik antara gaya bercerita santai yang acuh tak acuh dengan topik pembicaraan yang luar biasa mengejutkan. Selama tiga belas menit nyaris tanpa berhenti, Julia mengoceh panjang lebar tentang pesta yang ia gelar untuk merayakan aborsi keduanya. Pesta ini dibicarakan layaknya hal yang lazim dan tak perlu dibahas lebih lanjut—Julia lebih tertarik menceritakan tingkah laku orang-orang yang hadir (dan tak hadir) dalam hidupnya sebagai seorang perempuan muda dan pelajar seni di Chicago Selatan pada akhir tahun 2010an: mulai dari pacarnya yang menolak untuk membayar biaya aborsi, teman-temannya yang memutus hubungan setelah tahu akan rencana mengadakan “syukuran”, sampai para hadirin pesta yang malah sibuk minum-minum dan menggoda satu sama lain. “Etiket pesta aborsi [mereka] buruk,” celetuk Julia beberapa kali.
Representasi visual dari tokoh-tokoh ini luar biasa unik. Setiap karakter disusun dengan menggunakan bentuk-bentuk geometris dasar dalam aplikasi desain arsitektur SketchUp, dan disandingkan dengan aset-aset perabotan dan model bangunan yang justru beresolusi lebih tinggi. Karena perangkat lunak yang digunakan sangat terbatas, karakter yang digambarkan pun sama sekali tidak bergerak; mereka digandakan dan disusun dengan berbagai pose layaknya patung diorama, dan hanya kameralah yang bergerak dari adegan ke adegan melalui ruang virtual—itupun dengan kecepatan dan arah yang luar biasa terbatas. Di atas tayangan “animasi” ini, vlog rekaman wajah Julia mengambang sebagai elemen picture-in-picture yang berputar, berdansa, dan berubah ukuran sesuai dengan naik-turunnya narasi layaknya screensaver DVD.
Implikasi dari konstruksi ini cukup jelas. Para hadirin pesta aborsi eksis sebagai abstraksi dan memori yang dibentuk berdasarkan dampak yang mereka tinggalkan di masa lalu Julia, alih-alih sebagai pemain aktif di masa kini (makanya mereka tidak bisa bergerak!). Pergerakan kamera yang menelusuri diorama digital pun mewakili usaha sang pengingat dalam menelaah ruang ingatan yang penuh dengan kontradiksi dan repetisi.
Selain mendokumentasikan manusia-manusia unik yang sempat tinggal di sekitar naratornya, “Abortion Party” juga merekam dan meratapi konteks politik lampau ketika perempuan seperti Julia masih dapat mengakses prosedur aborsi tanpa ancaman kriminalisasi (pada waktu itu, aborsi masih dilindungi secara hukum di tingkat federal melalui putusan Roe v. Wade). Entah kebetulan atau tidak, kejadian-kejadian yang diceritakan Julia berlangsung nyaris bersamaan dengan dimulainya runtutan proses hukum yang mengakhiri hak reproduktif perempuan di Amerika Serikat. Beberapa ratus mil selatan dari kamar kos Julia, Gubernur Negara Bagian Mississippi menetapkan larangan aborsi yang bertentangan dengan Roe v. Wade. Empat tahun kemudian, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa larangan tersebut sah melalui putusan Dobbs v. Jackson Women’s Health Organization—membatalkan Roe v. Wade dan membuka pintu untuk pembredelan hak reproduktif perempuan secara masal di semua negara bagian.
Melalui konteks ini, penggunaan estetika “postingan gaje” pra-2018 dalam film pendek ini dapat dapat dipahami sebagai elegi terhadap dunia sebelum Dobbs v. Jackson Women’s Health Organization. Model tiga dimensi yang kasar dan kualitas webcam dari gawai yang jelas-jelas sudah kedaluwarsa adalah simbol yang merepresentasikan zaman yang telah lewat dan kini dirindukan. Menariknya, “Abortion Party” juga secara eksplisit memposisikan karakter Julia sebagai narator yang mengenang tahun 2018 dari 2025 (hal ini berbeda dari penggunaan latar sejarah dalam period piece/drama historis pada umumnya, yang cenderung menempatkan karakter dalam kurun waktu latar di masa lampau). Dalam praktiknya, Julia sebagai narator tidak hanya menceritakan masa lalu sebagai konteks yang mempengaruhi masa kini, namun juga menggunakan masa kini sebagai konteks yang membingkai dan mengomentari masa lalu. Misalnya, Julia menyatakan bahwa dalam nyaris satu dekade setelah aborsi keduanya, ia kini merasa telah tumbuh dewasa dan lebih siap menjadi orang tua (meskipun kini malah kesulitan mencapai konsepsi).

Interaksi antara kedua konteks waktu ini terlihat jelas ketika membaca “Abortion Party” sebagai eksplorasi tentang makna, dampak, dan potensi dari media sosial. Bagi anak muda yang lahir dan tumbuh besar di akhir 1990an atau awal 2000an, internet dan kanal-kanal pergaulannya adalah teknologi yang baru, menarik, dan menyenangkan. Imajinasi populer membayangkan bahwa hilangnya batasan fisik dan geografis dalam komunikasi dan konstruksi identitas digital akan meningkatkan rasa kebersamaan dan empati antarindividu—dan antusiasme ini nampaknya tak salah ketika mayoritas konten yang dapat ditemukan di internet kebanyakan muncul dari individu-individu yang hanya ingin terhubung melalui kamera dan mikrofon. Namun imajinasi kontemporer mengenai media sosial di era pasca-Dobbs, pasca-Trump, dan pasca-adopsi luas beranda medsos berbasis algoritma ini nampaknya mematahkan harapan tersebut, apa lagi dalam konteks advokasi hak reproduktif: kebanyakan konten video di kanal-kanal seperti YouTube justru cenderung meradikalisasi dan mendorong tumbuhnya gerakan anti-aborsi.
Mungkin inilah alasan sebenarnya kenapa elemen video dari “Abortion Party” diproduksi ala kadarnya—sebagai pengingat akan fungsi terlupakan dari tindakan merekam dan mengunggah vlog sebelum era penuh tekanan algoritma dan keterlibatan tim produksi yang mengejar viralitas dan marketabilitas—ketika semua orang di internet memang hanya memiliki perangkat kamera dan konfigurasi pencahayaan yang “seadanya”.
Inilah tindakan dekonstruksi terakhir dari “Abortion Party”—melalui konstruksi filmisnya yang menyerupai vlog namun ditayangkan dalam konteks distribusi sebagai film pendek (misalnya, di ruang-ruang penayangan festival atau layar tancap), Julia Mellen juga secara langsung membandingkan perbedaan antara diskursus dan konsumsi konten yang terjadi di internet (ketika konteks “engagement adalah segalanya” di sekitar konten dirancang untuk memancing reaksi secara cepat) dengan proses menerima pesan yang terjadi melalui penayangan film pendek (di mana penonton cenderung diharapkan untuk menyimak sampai tuntas sebelum mulai mencerna, seringkali tanpa ada tekanan atau ekspektasi untuk langsung memberikan tanggapan). Dan selama film pendek ini berhasil menyita perhatian penontonnya selama tiga belas menit penuh setiap kali ditayangkan, maka harapan milenial akan dialog dan diskursus daring yang lebih sehat akan terus hidup. Dunia internet dalam bentuk kontemporernya mungkin gagal total dalam memfasilitasi dialog dan hubungan antarmanusia: bukan masalah, masih ada banyak cara lain untuk menghubungkan manusia dengan manusia, tak peduli seberapa liar obrolannya.


















Discussion about this post