Gejala lingkungan yang kerap kali terjadi di Indonesia, juga dipengaruhi oleh gejala-gejala sosial yang kian menumpuk hingga mempengaruhi kestabilan lingkungan dan tanah yang kita pijak hari ini. Hutan-hutan yang ‘terbakar’, hingga banjir yang menyelimuti satu kota hingga mematikan kehidupan warga setempatnya juga berakar pada manusia itu sendiri. Manusia memiliki peran penting bagi lingkungannya, begitupun dengan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Mereka manusia yang menjadi korban atau sekedar resah dan gelisah, tak jarang menuangkan emosi tersebut lewat medium film secara jujur. Sutradara legendaris Jepang Nagisa Oshima, selalu menekankan bahwa “tugas pembuat film adalah mengatakan kebenaran tentang negaranya, apa pun itu”.
Lewat program S-Express 2026 Indonesia, lima film pendek hadir dalam Minikino Film Week 12 dan membingkai keresahan sekaligus kegelisahan yang dialami pembuat film masing-masing dengan spektrum isu yang beragam. Fransiska Prihadi, programmer S-Express 2026 Indonesia mengajak penonton menyelami problematika sosial yang hingga hari ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia, seperti kesetaraan gender, hak anak, kepadatan penduduk, stigma sosial, ekologi, tradisi hingga sejarah yang perlu dipahami lebih dalam. Melalui program S-Express, Asia Tenggara dapat dibaca lewat kaca mata programming film pendek sebuah jaringan kerja programmer film Asia Tenggara yang sudah berjalan sejak 2002 ini.
Pada program S-Express 2026 Indonesia kali ini, menghadirkan lima film dengan isu yang berbeda. Kelima film tersebut diantaranya ; Malam Sepanjang Nafas (Irwan Sebleku, 2025), Alur Alir (Rahmania Nerva & Ananta Wijayarana, 2024), Anak Macan (Amar Haikal, 2025) Bunga-Bunga Di Jala Ikan (Cinta Setia, 2026), dan To An Old Harbour (Putu Kusuma Wijaya, 2026). Dengan durasi menonton satu jam, penonton diajak menempatkan diri bersama masing-masing protagonis dalam setiap film secara emosional.

Malam Sepanjang Nafas sebagai film pembuka dalam program menangkap isu pelecehan seksual yang dialami oleh seorang remaja sebagai korban dari Pamannya sendiri. Berlatar di suatu desa yang masih memegang nilai patriarkisme, sangat terasa dalam beberapa adegan yang dihadirkan dalam film. Salah satunya saat mediasi antara korban dan pelaku yang disekat oleh sebuah tirai, gestur ini memperlihatkan bagaimana kedudukan wanita dan pria dalam proses mengambil keputusan tidaklah sama rata pentingnya. Film ini dihasilkan dalam UNiTE Short Film Fellowship 2025 kolaborasi dengan UNFPA dan UN Women Indonesia serta Minikino. Film ini tidak hanya menangkap peristiwa problematika gender dan kekerasan saja, tetapi juga menangkap realita terkait isu yang masih dianggap tabu bagi warga di daerah, terlebih di Indonesia masih menekankan pada tradisi yang menempatkan pria sebagai posisi dominan.
Dari problematika hak anak perempuan dan kesetaraan gender, film kedua masuk ke kota yang memiliki dinamikanya sendiri. Kepadatan penduduk yang menjalar di titik-titik kota Jakarta yang selalu sibuk ditangkap “Alur Alir” lewat suara dan gambar yang dinamis namun tetap memberikan kesan kontras lewat gaya hitam putih.
“Alur Alir” karya sutradara Rahmania Nerva, Ananta Wijayarana merupakan produksi platform edukasi non formal yakni Milisifilem Collective. Film ini menangkap lanskap kota yang penuh dengan hirup pikuknya. Dalam diskusi usai pemutaran S-Express 2026 Indonesia di Minikino Film Week 12, keduanya menjelaskan bahwa produksi film eksperimental ini dilandasi oleh pembelajaran mereka selama di Milisifilem yang menekankan pada komposisi suara dan gambar. Lewat tangkapan kontras hitam putih, film ini menangkap situasi dan kondisi lingkungan di sekitar Jakarta, khususnya pada area-area seperti stasiun kereta dan Kampung Pulo.

Pergerakan kerumunan warga yang masuk bergiliran, tangkapan rute-rute yang dilalui, komposisi bunyi kereta, arus air, hingga burung-burung yang mengisi kepadatan kota ditangkap lewat film ini. Kumpulan komposisi suara dan gambar yang ditangkap menjadi cara baginya untuk tetap menyadari lingkungan di sekelilingnya di tengah kepadatan yang riuh sekalipun. Kepadatan yang ditangkap pada film ini juga memberikan gambaran realita kehidupan yang terjadi di Jakarta di balik gedung-gedung pencakar langit dan trotoar yang rapi dan bersih, banyak orang berdesakan untuk terus menjalani kehidupannya, di tengah kepadatan populasi dan sempitnya sumber mata pencaharian di kota.
Di tengah gerak kehidupan di kota yang sangat cepat, bahkan sebagian besar manusianya terkadang melewatkan momen-momen sederhana di sekelilingnya. Film “Alur Alir” ini tidak berhenti pada eksperimentasi rekaman suara dan gambar, tetapi juga percakapan terhadap bagaimana kita sebagai manusia hari ini memandang dan menyaksikan sekeliling kita, menangkap momen sekaligus makna dari alur hidup yang dijalani. Kebisingan kota sebagai distraksi hari ini juga sudah dianggap normal bagi kehidupan kota, dan “Alur Alir” justru memecah distraksi ini sebagai ruang kontemplasi dan kesadaran atas ruang yang sedang kita hidupi.
Membicarakan kota dan pergerakannya yang begitu cepat, terkadang membuat sebagian orang rentan secara emosional. Kondisi lingkungan tak jarang mengabaikan sentimen lebih dalam bagi satu individu. Film berjudul “Anak Macan” yang disutradarai oleh Amar Haikal, berhasil menangkap problematika personal yang berakar pada situasi sosial dan lingkungan, yang berdampak pada pertumbuhan seseorang secara psikologis. Film yang mengisahkan tokoh utama bernama Eki sebagai seorang anak yang mencari kenangan yang tersisah dari mendiang ibunya di tengah gunungan sampah ini, merekam isu personal yang juga berkaitan dengan isu struktural yang berlapis.
Dalam film tidak dijelaskan kapan Eki kehilangan ibunya, namun dalam batu nisannya tertoreh “meninggal pada tahun 2014”. Sebagai penonton saya berusaha memahami, apa yang sebetulnya ingin Eki dapatkan? Duka yang dilalui Eki tidak hanya masalah personal, tetapi dalam film yang memiliki judul internasional “My Plastic Mother” ini juga memantik isu lingkungan dimana Indonesia memiliki tempat pembuangan akhir terbesar di Asia Tenggara – Bantar Gebang. Eki yang hidup dengan keluarga yang rapuh sekaligus duka dan kegelisahan yang menyelimuti sebab kepergian mendiang ibunya, menjadi latar belakang yang cukup menjelaskan kondisi psikologis yang berusaha diperankan oleh Muhammad Alfat Apriansyah sebagai Eki.

Ketika anak-anak yang lain bisa menjelaskan benda sederhana sekaligus mendeskripsikan ibu mereka masing-masing, Eki justru bersusah payah untuk menemukan sosok ibunya. Lewat satu foto yang tersisah dan makam mendiang ibunya yang ditemukan diantara gunungan sampah, akhirnya memantik ingatan Eki sedikit demi sedikit atas kenangan indah bersama ibunya yang telah tertumpuk lama di antara duka dan kegelisahan. Bagi Eki seorang anak yang tinggal di antara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bahkan hidup dan bermain disana, memahami kondisi psikologis yang dialaminya bukanlah menjadi kebutuhan sekunder untuk bertahan hidup, sayangnya permasalah ini tak jarang dinormalisasi. Gejolak emosi yang dihadirkan lewat tokoh Eki juga merekam bagaimana kehidupan anak-anak di area TPA Bantar Gebang, yang sering dijuluki anak macan – anak nakal yang berkeliaran di antara tumpukan sampah. Problematika dan stigma sosial yang dialami oleh Eki bisa jadi merupakan problematika struktural terkait ruang tumbuh kembang dan rapuhnya fungsi keluarga bagi anak-anak yang tinggal di sekitar TPA tersebut.
Lewat dinamika yang terjadi dalam film “Anak Macan”, penonton diajak untuk lebih peka dengan gejala-gejala kecil yang terjadi di sekeliling kita. Ketika semuanya menumpuk, tinggal menunggu waktu kapan ledakan tersebut akan terjadi. Keseimbangan sekaligus kepekaan terhadap sekitar yang perlu dijaga, menjadi isu utama yang hadir dalam film berjudul “Bunga-Bunga di Jala Ikan”. Film karya sutradara Cinta Setia ini juga menangkap isu terkait lingkungan ditambah dengan tradisi yang berkelindan guna menjaga keseimbangan yang ada. Membawa latar tradisi di Desa Rawa Pening dimana tradisi setempat masih cukup kental disana, Cinta menghadirkan intrik yang menarik dalam kehidupan masyarakat di sana.
Film ini mengisahkan sebuah keluarga yang mengalami kesulitan dalam melanjutkan tradisi sedekah rawa pening, ditengah perubahan iklim yang mempengaruhi mata pencaharian warganya sebagai nelayan. Perubahan iklim yang terjadi hari ini, sangat berdampak bagi warga yang hidup lewat laut dan menangkap ikan. Kondisi lingkungan ini juga berdampak pada kondisi ekonomi warga setempat yang akhirnya mempengaruhi bagaimana tradisi setempat dapat dilanjutkan. Lewat premis sederhananya ini, Cinta sebagai sutradara dan penulis dalam film ini memadukan film fiksi ini dengan adegan teatrikal yang menjadi latar belakang dari setiap babak yang diceritakan. Film ini juga merespon bagaimana tradisi menutur sangat kental dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, terlebih upayanya dalam mengaitkan gejala lingkungan dan sosial hari ini yang masih berkaitan dengan tradisi-tradisi yang perlu dijaga.

Film yang mengusung tema semi teatrikal ini, menggambarkan bagaimana kestabilan alam hari ini juga dipengaruhi oleh tradisi-tradisi setempat yang masih terus dilanjutkan. Membawa latar tradisi maritim yakni sedekah rawa pening yang berkaitan dengan hasil tangkapan ikan, menjadi keterhubungan dalam membicarakan permasalahan lingkungan dan tradisi. Film yang hadir di seperempat penutup program ini, mengembalikan percakapan terkait isu sosial di area urban ke dalam konteks tradisi yang hari ini terus dijaga oleh masyarakat adat dalam film “Bunga-Bunga di Jala Ikan”. Akhirnya keseimbangan perlu dijaga diantara ruang hidup perkotaan dan juga di pedesaan.
Membicarakan ruang hidup yang perlu dijaga, juga berhubungan dengan ingatan terkait ruang hidup itu sendiri. “To An Old Harbour” merupakan film karya Putu Kusuma Wijaya, yang menggelitik kesadaran dan ingatan terkait monumen bersejarah di Singaraja. Bangunan tersebut menjadi saksi bisu kolonialisme pada masanya yang dilupakan dan terasingkan di ingatan warga setempat. Film ini diisi dengan percakapan Pak Putu sebagai sutradara di balik layar dengan seorang turis asal Belgia yang menceritakan kesannya tinggal di Bali selama kurang lebih setahun. Film yang berdurasi cukup singkat ini, justru memantik kesadaran yang mendalam, khususnya bagi warga Bali yang tak banyak yang paham betul peristiwa bersejarah yang terjadi di monumen tersebut.

Menghadirkan sudut pandang cerita dari seorang turis ini, justru menimbulkan pertanyaan sekaligus kegelisahan, mengapa ia lebih tahu betul sejarah di balik monumen tersebut dibandingkan warga Bali sendiri? Pak Putu dalam beberapa cuplikan film tersebut, memperlihatkan bagaimana bangunan tersebut sangat tidak terawat dan terbengkalai di tahun 2011. Meskipun film ini tidak menggunakan estetika sinema seperti film-film produksi besar, gambar-gambar yang ditangkap justru begitu nyata hingga membawa penonton seperti kembali ke masa tersebut. Sebagai penonton film “To An Old Harbour” saya seperti diajak membuka surat lama, surat yang kertasnya mulai rapuh dimakan rayap, dan diceritakan kembali hari ini untuk dikenang dan terus-menerus dibacakan untuk diingat. Begitupun dengan pentingnya cerita di balik bangunan monumental ini yang diceritakan dalam film tersebut, dan film merupakan media yang digunakan untuk mengupayakan preservasi ingatan akan sejarah ruang monumental tersebut.
Kelima film ini menghadirkan intriknya masing-masing, dari suatu sudut pandang yang personal yang berujung pada wacana sosial yang lebih besar. hak anak, kesetaraan gender, kepadatan penduduk, perubahan iklim, preservasi sejarah dan tradisi adalah masalah-masalah yang kian pelik terjadi di Indonesia. Kelima film ini memberikan sudut pandang dengan caranya masing-masing atas realita apa yang terjadi. Mereka-mereka yang tinggal dipinggiran kota hingga kini masih memiliki stigma sosial yang tak bisa hilang secara instant. Permasalahan struktural seperti kemiskinan dan daerah pedesaan yang masih sulit menjangkau edukasi menjadi latar belakang film yang cukup dominan mengisi beberapa film-film di Indonesia.
Tentu untuk mencapai titik ujung dalam memecahkan problematika struktural tersebut tidak bisa terjadi dalam satu kedipan mata. Film pendek memberi kesempatan untuk melihat bagaimana situasi sosial dan politik suatu negara hari ini. Medium ini mampu meneruskan wacana-wacana tersebut dalam skala global. Kehadiran program S-Express 2026 di Minikino Film Week 12 ini juga sebagai ruang diskusi antar isu-isu yang terjadi antar negara di Asia Tenggara khususnya lewat menonton film.
Film pendek juga menjadi media intervensi dan propaganda yang bisa menghadirkan sudut pandang alternatif, khususnya dalam merepresentasikan komunitas yang kurang dapat sorotan atau yang termarginalkan.


















Discussion about this post