“Kali ini kita masukin konteks film-nya ya, Mang,” ujar Edo (Edo Wulia, Minikino), yang bertugas jadi perekam suara deskripsi audio, sesaat sebelum kami memulai rekaman Audio Description (AD).
Saya mengerutkan kening dan membuka mulut untuk membantah, namun kemudian mengurungkan diri di detik terakhir. “Oke,” kata saya akhirnya. Saya ingat kalau saya pernah menolak usulan ini untuk film-film yang saya isi tahun lalu. Karena enggan berargumen, saya iyakan saja supaya proses perekaman AD bisa segera rampung.
Konsep memberikan konteks untuk film yang akan ditayangkan itu, kalau bisa saya katakan, amat janggal kalau tidak bisa dibilang aneh. Saya berani bertaruh kalau setiap orang film yang mendengar usulan ini pasti memiliki pikiran dan pendapat yang sama. Maksud saya, setiap film yang kita pilih untuk ditonton maupun yang kita coba ingin tonton, seharusnya tersaji begitu saja di depan kita tanpa perlu mukadimah apa-apa, kan?
Saya, sebagai pendengar film, baik yang komersil maupun yang saya nikmati di Inklusif Sinema festival film pendek MFW, menikmati waktu menonton itu sambil mencari makna simbolisme dalam film yang terdeskripsikan. Perkara apakah film itu akhirnya dapat dipahami atau tidak, kita semua bisa riset sendiri-sendiri, berdiskusi dengan penonton lain, atau membaca ulasan kritikus, kan? Lagi pula, kemampuan menganalisis sajian sinema bisa diasah dengan screen time menonton.
Jika harus memilih untuk menonton film dengan konteks, atau menonton film sambil kebingungan selama 10 sampai 15 menit, saya pilih yang kedua walau sehabis itu saya harus mencari-cari ulasan yang belum tentu ada, atau memikirkan film itu lebih lama dari yang saya inginkan. Mampu memahami sebuah film, apa lagi yang penuh simbolisme, bagi saya adalah sebuah proses pencarian yang menyenangkan.
Saya tetap punya pendapat yang sama untuk menolak usulan ini, dan pendapat tim Inklusif Sinema juga tetap sama untuk memasukan konteks dalam film. Mereka ingin agar film bisa sampai ke penonton dengan lebih baik, walau dengan cara yang saya sebut sebagai cara yang cukup “interventif.”
Sampai rekaman AD usai, saya tetap tidak setuju untuk menambahkan konteks dalam film, meski saya memahami tujuan di baliknya. Saya ingin punya pemahaman yang lebih baik, dan melalui tulisan ini saya sedang mencoba menguraikan dan menyamakan persepsi kita semua akan apa itu Inklusif Sinema.
Sinema Inklusif, sajian sinematik yang mencoba merangkul beragam penonton dengan kondisi-kondisi tertentu, seperti para penyandang disabilitas sensorik agar dapat menikmati film yang telah dilengkapi AD untuk penonton tunanetra dan atau gangguan penglihatan, serta Close Caption (CC) untuk kelompok tuli.
Namun, apakah sinema inklusif hanya untuk penonton disabilitas? Definisi inklusif sendiri merujuk pada pelibatan berbagai kelompok secara menyeluruh tanpa meninggalkan satu kelompok pun.
Menurut Edo, menambahkan konteks pada film-film di dalam program Inklusif Sinema merupakan upaya agar penonton dapat lebih mudah untuk memahami film yang diputar. Terutama untuk penonton yang baru pertama kali menikmati film pendek, penonton yang masih awam dengan film pendek, atau mereka yang belum pernah mengetahui isu apa yang sebetulnya ingin diceritakan oleh film pendek yang menggunakan simbolisme dan konteks tinggi.
Selama 3 tahun terakhir di Inklusif Sinema, saya sudah mengisi deskripsi audio untuk 5 film. Namun, saya masih merasa awam dalam hal ini. Apa kabar kawan-kawan tunanetra saya yang lain? Jangankan tunanetra, penonton non-disabilitas yang yang baru pertama kali mencoba menonton film pendek, setidaknya pernah merasa kebingungan juga dengan film-film pendek tertentu.
Jadi, jika mengikuti definisi apa itu inklusif sebenarnya, tidak boleh ada satu kelompok pun yang ditinggalkan dalam upaya untuk membuat film sampai ke penontonnya, bahkan yang awam sekali pun. Nama programnya adalah Inklusif Sinema, dan bukan Eksklusif Sinema. Jadi, akhirnya saya melepaskan idealisme menonton untuk membantu mewujudkan sebuah pengalaman sinema yang inklusif untuk semua orang dimana mereka bisa menikmati menonton tanpa banyak bertanya-tanya dan mencari ulasan film segala.
Tentu, membuat penonton memahami sebuah film tidak pernah menjadi tanggung jawab siapa pun. Itu bukan tanggung jawab filmmaker, bukan tanggung jawab saya sebagai pengisi deskripsi audio, dan bukan pula tanggung jawab deskripsi audio itu sendiri.
Namun jika kita mundur sejenak untuk pertanyaan, “Film dibuat untuk siapa?” Maka tidak peduli mereka punya gangguan sensorik atau tidak, orang awam maupun penggiat, sebuah film, jika bisa, harus sampai kepada setiap penontonnya agar tujuan dari pertanyaan “mengapa sebuah film dibuat,” mendapatkan premis akhirnya.
Film dibuat untuk penontonnya. Selamanya, kerja-kerja sinematik bekerja untuk premis tersebut. Upaya agar film dapat dinikmati oleh kelompok penonton yang lebih luas adalah kerja distributor, dan mungkin organisasi dan festival film, seperti yang dikerjakan Minikino pada Sinema Inklusif.
Deskripsi audio dan close caption adalah tools yang umum diketahui, dan telah dikerjakan oleh beberapa pihak. Seperti beberapa platform OTT dan Minikino, keduanya hanyalah alat bantu agar film tersampaikan kepada penonton, dengan tetap menjaga konteks sinematik yang diterjemahkan sebagai deskripsi gambar dan suara.
Deskripsi audio dan close caption yang baik tidak mengintervensi cara penonton menentukan alur, sifat, dan pemahaman film. Tepatnya, tools tidak berfungsi untuk memberitahu penonton apa yang sepatutnya mereka ketahui, yang menyempitkan bagaimana penonton menginterpretasikan film.

Sebagai penonton dengan disabilitas netra, saya tetap ingin karya sinematik sampai kepada saya apa adanya, tanpa terlalu banyak campur tangan. Karena itulah, beberapa film dengan deskripsi audio yang terlalu interventif, senantiasa menggelitik telinga saya dan mengurangi kenikmatan menonton, karenanya saya selalu menggerutu di sepanjang film. Disamping, hal semacam itu menyempitkan ruang interpretasi pribadi.
Bagi saya, memberikan konteks dalam film adalah bentuk pengarahan pemahaman penonton atas sebuah karya, sebab itu perdebatan saya dengan tim sinema inklusif tidak pernah menemui titik pemahaman yang sama, bahkan hingga detik saya menulis kalimat ini. Jika bisa saya katakan, ini adalah salah satu bentuk superioritas menonton sekaligus gambaran akan film sebagai sajian sinematik yang terlalu penting dan pintar untuk berurusan dengan hal-hal merepotkan macam menyampaikannya ke hadapan orang-orang awam yang disodorkan juga belum tentu paham.
Pun, keengganan saya untuk memasukan konteks yang jelas dalam film dengan dalih akan membuat film menjadi terlalu intervensif itu juga dapat digolongkan sebagai sikap superioritas menonton yang menganggap kelompok penonton lain terlalu receh untuk memahami film-film pendek simbolistik dan memiliki konteks tinggi, dan tidak perlulah sekiranya kita membuang waktu dan energi untuk melibatkan penonton macam itu.
Tidak jauh beda dengan anggapan seperti, “Buat apa masyarakat disabilitas netra dan tuli menonton film? Mereka juga belum tentu paham, kan?” Jika semua orang tetap mempertahankan argumen macam itu, maka film-film yang dibuat untuk penontonnya tidak akan sampai ke tempat yang lebih jauh dari hanya penonton yang memang mencari dan menggemari film. Stereotipe pelaku sinema itu sendiri sudah menutup kemungkinan akan adanya penonton lain dengan argumen mereka.
Jelas, jika Minikino juga punya pendapat yang sama, mereka tidak akan menambah-nambah pekerjaan dengan membuat sinema inklusif yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir ini. Saya juga tidak akan pernah mengetahui bahwa film pendek bisa begitu indah dan menggugah, dan saya juga tidak akan terlibat selama tiga tahun ini untuk mengisi AD dan menulis ulasan di minikino.org.
Keengganan itu sebetulnya berasal dari keyakinan lama saya, bahwa filmlah yang memilih penonton dan bukan sebaliknya. Film-film yang baik akan menemukan penonton yang baik pula. Kemudian, pertanyaan yang lain kemudian tercetus begitu saja, seolah datang dari pemahaman yang masih berkabut. Penonton yang memilih film atau film yang memilih penonton? Pendapat saya sekarang adalah, penonton lah yang memilih film. Jawaban itu kemudian terbentur pada hambatan yang lain.
Bagaimana penonton memilih film, jika pilihannya saja tidak ada?
Untuk sebagian penonton, terutama para penonton dengan keterbatasan sensorik seperti kelompok tunanetra dan tuli, ketersediaan film dan pilihannya sudah sangat minim. Kami ingin memilih untuk menonton film-film yang menghibur, menggugah, mencerahkan, memberikan pemahaman, membangkitkan ingatan, dan yang bisa kami pahami dan bukannya membuat kami tetap kebingungan setelah pemutaran usai. Akhirnya, sebagian penonton pun menyimpulkan bahwa film pendek itu terlalu rumit dan sukar dipahami. Pilihan lah yang sebagian penonton tidak punya, dan juga saya.
Mereka, para penonton di kursi yang berbeda, hanya menonton film-film yang disediakan festival. Mereka tidak bisa memilih film seperti apa yang ingin mereka tonton. Begitu juga saya, yang hanya mengisi AD film-film yang dipilihkan tim sinema inklusif di Minikino.
Sepanjang jalannya pemutaran sinema inklusif pada MFW dan diskusi-diskusi yang bergulir setelahnya, saya menangkap kesan bahwa rekanan penonton yang jarang, atau bahkan tidak pernah terpapar pada dosis film pendek dengan konteks tinggi, kebingungan dalam memahami film-film yang diputar. Termasuk saya, mungkin ini saya tangkap berdasarkan dari diskusi yang berjalan,yang lebih banyak berkutat pada deskripsi audio itu sendiri ketimbang muatan pada film-film yang diputar. Diskusi semacam ini, terus terang, terasa amat menjenuhkan.
Saya yakin, para filmmaker yang film-filmnya diputar dengan deskripsi audio, dengan tanggapan penonton yang melulu begitu, pasti menganggap bahwa suatu kesia-siaan menyajikan film pendek dengan sinematik dan premis canggih ini kepada orang-orang udik dan tidak punya selera artistik itu.
Barangkali pendapat sayalah yang terlalu keras. Tapi, mari mundur sedikit lagi menyoal penonton yang memilih film atau film yang memilih penonton. Selama para penontonnya tidak punya pilihan, maka film pun tidak bisa memilih penontonnya.
Hal ini bisa saya katakan, sebab kesempatan yang dibuka oleh Minikino untuk mengisi deskripsi audio untuk film-film festival, adalah kesempatan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga membuat saya sempat berpendapat bahwa filmlah yang memilih penonton. Sebab, dari sana saya akhirnya menemukan film-film yang begitu menggugah dan berkesempatan untuk menulis ulasannya pula.
Kesempatan untuk menemukan dan mengapresiasi film-film pendek yang kreatif diluar norma, yang menggugah ingatan, yang menghibur sekaligus menyentuh dengan cara yang belum pernah saya dapatkan selain di Minikino.
Barang kali, dengan ditambahkannya konteks pada film-film di sinema inklusif tahun ini, akan ada lebih banyak film-film yang menemukan penonton mereka di layar-layar yang tak terduga, yang memahami kedekatan dan mampu mengapresiasi film pendek dengan pemahaman mereka.
Memasukan konteks film dengan terperinci, adalah upaya tim sinema inklusif untuk menjembatani ketersediaan film yang lebih mudah dipahami, agar pilihan, yang tidak dimiliki oleh penonton, berubah menjadi pemahaman yang membuat film dengan konteks yang jelas bisa sampai pada penontonnya, kalau pun itu ada.
Bagaimana pun, segala upaya agar film dapat sampai ke penontonnya patut diberikan dukungan selayaknya, bahkan dengan sesuatu yang menurut saya terlalu intervensif sekali pun. Upaya-upaya agar film sampai pada penontonnya, termasuk untuk penonton yang tidak duduk di kursi penonton utama, tidak akan pernah berhasil jika tidak pernah dikerjakan. Itulah yang kini tengah dikerjakan oleh tim sinema inklusif, menyampaikan film dengan cara yang lebih dan lebih baik lagi, agar dapat sampai ke penonton di kursi-kursi berbeda.



















Discussion about this post