Mari kita membayangkan sebuah festival film seperti sebuah film. Proyektor menyala, film diputar, akhirnya credit title bergulir, lantas tepuk tangan penonton memenuhi ruang pemutaran. Film selesai, penonton keluar ruangan. Namun, benarkah ceritanya selesai sampai di sana?
Sekarang, aku akan mengajak kita semua menonton “film” tentang Minikino Film Week (MFW) 11. Setelah layar padam dan ruang dikosongkan, orang-orang masih berkumpul untuk ngobrol di Kafe Mash Denpasar, salah satu tempat pemutaran. Ada sutradara, produser, kru film, penonton, hingga para pekerja dan volunteer festival serta poster-poster film yang menempel mengelilingi sisi-sisi dinding kafe itu. Selain itu, lihat, di pojok, aku memperkenalkan kalian kepada Bu Sumaiyatin, salah satu pemijat tunanetra yang telah menjadi mitra Minikino selama enam tahun terakhir. Sang pengusir pegal-linu penonton Minikino.

Selain itu, kalau kita geser sedikit, di samping Bu Sumaiyatin ada juga rekan-rekan dari Kopi Bayang, komunitas tunanetra yang juga bermitra dengan Minikino. Mereka sedang menyeduh vietnam drip yang dipesan oleh salah seorang penonton. Begitulah kira-kira, suasana setelah acara pemutaran di Mash Denpasar. Ada yang unik bagiku yang baru pertama kalinya ke Minikino, yaitu: pembayaran jasa pijat dan kopi yang bisa diklaim lewat lembaran voucher merah bertuliskan “Voucher MFW 11 Rp10.000”.
Eits, voucher sakti ini pun tidak hanya berlaku di Mash Denpasar. Jika kita menyeberang jalan, ada Warung Bu Azkiya yang berbagai sisinya seperti lanskap historis Minikino karena ditempeli poster MFW dari tahun ke tahun. Warung Bu Azkiya memang bukan ruang pemutaran, melainkan warung makan, ruang istirahat, sekaligus ruang berbagi cerita sebelum dan sesudah jadwal pemutaran film. Warung ini bisa dikatakan merupakan bagian (penting!) dari festival.
Bu Azkiya, sang empu warung, bergegas menunjukkan galeri gawainya dengan penuh kebanggaan kepadaku ketika kami sedang ngobrol ngalor-ngidul soal Minikino. Lihat! Galerinya penuh foto-foto MFW dari tahun-tahun sebelumnya, ketika warungnya dipenuhi sutradara, produser, hingga juri internasional sedang jajan mi rebus dan es teh atau temulawak.
Voucher merah terbitan Minikino ini juga bisa ditukarkan di Warung Bu Azkiya serta di beberapa mitra UMKM lain di sekitar Mash Denpasar dan Dharma Negara Alaya yang menjadi tempat pemutaran festival. Rasanya, MFW 11 ini seperti board game Monopoli dengan mata uangnya sendiri, ya. Barangkali di situlah ke-minikino-annya Minikino: festival ini membangun ekosistemnya sendiri yang tidak sekedar untuk menonton film, tetapi juga untuk merawat kehidupan di sekitarnya.
Sebagai peserta magang penulis festival yang (satu!) gampang pegal, (dua!) gampang lapar, dan (tiga!) gampang kepo, di suatu hari agak senggang karena kebetulan tidak ada jadwal memoderatori sesi, aku menjajal pijat Bu Sumaiyatin (dan langsung kecanduan!), mencicipi Vietnam Drip ala Kopi Bayang (dan ketagihan!), lalu jajan Pop Ice di Warung Azkiya (dan tak kunjung pulang!).
Setelah kenyang dan senang, muncul pertanyaan dalam kepala: kenapa Minikino mengupayakan semua ini? Mengapa ada voucher Rp10.000, mengapa perlu bermitra dengan komunitas disabilitas dan UMKM sekitar, dan mengapa harus ada ruang-ruang di luar ruang pemutaran yang juga dirawat dengan serius, di dalam sebuah festival film?
Jawabannya, sebenarnya, sudah hadir dari dan dalam percakapan yang mengalir bersama Bu Sumaiyatin dan Bu Azkiya. Selain itu, aku juga sempat berbincang bersama Edo Wulia selaku direktur festival MFW. Berikut aku ceritakan kembali cerita mereka padamu.
Bu Sumaiyatin berkata bahwa, selain menjadi mitra jasa pijat di gelaran MFW, ia pun telah beberapa kali menonton film di Minikino dengan teknologi audio description. Lewat suara yang mendeskripsikan adegan demi adegan secara detail, ia merasa dapat mengikuti alur cerita dan “melihat” dunia yang lebih luas lewat film. Dunia yang selama ini ada, tetapi tak banyak ruang yang tersedia untuknya bisa ikut merasakannya. Bu Suma berharap, Minikino dapat terus maju dan tetap peduli pada komunitas yang beragam.

Di Warung Bu Azkiya, ceritanya serupa, tapi tak sama. Sejak 2019, ia bermitra dengan Minikino. Banner festival dari tahun ke tahun yang menempel di dinding warungnya itu tadi seolah telah menjadi semacam arsip hidup sekaligus simbol “tumbuh bersama” Minikino. “Udah kayak anak sendiri,” katanya tentang para rekan-rekan yang berkantor di Minikino. Menu favorit mereka pun ia hafal, yakni telur dadar dan es temulawak.
Ketika berbincang dengan Edo Wulia, Direktur Festival Minikino Film Week, ia menjelaskan bahwa inklusivitas dalam Minikino tidak diposisikan semata sebagai konsep yang dirumuskan di awal. Minikino menurutnya sudah bekerja terlebih dahulu baru kemudian merefleksikan makna sekaligus arah layar dari kerja-kerja itu. Dari perjalanan panjang itulah terlihat bahwa kekuatan Minikino terletak pada dua segmen, yakni: edukasi dan inklusivitas.
Sebagai organisasi film pendek, Minikino memandang bahwa kekuatan film pendek tidak hanya berhenti pada layar di dalam ruang pemutaran. Justru karena durasi film-filmnya yang pendek, ruang dan waktu setelah pemutaran menjadi sangat panjang dan penting. Di sanalah kekuatan film pendek direntangkan: melalui percakapan, pertemuan, dan relasi-relasi yang bisa menembus batas ruang dan waktu. Inklusivitas, dalam kerangka ini, selain soal siapa yang bisa menonton, juga siapa yang terlibat dalam ekosistem festival.
Selain bermitra dengan UMKM sekitar, Minikino secara konsisten juga memperluas akses menonton. Sejak 2019, MFW menghadirkan program terkurasi dengan audio description bagi penonton tunanetra. Kemudian, sejak tahun ketiganya, pada 2017, MFW mulai melibatkan sekolah anak-anak Tuli dalam program penayangan yang dilengkapi dengan subtitle SDH; subtitle khusus untuk kelompok Tuli
Berbagi pengalaman dengan Bu Sumaiyatin dan Bu Azkiya serta Edo Wulia membuatku belajar bahwa denyut inklusivitas dalam festival film tidak lahir dari satu momen tunggal, melainkan dari relasi yang dibangun secara koeksis dan berkelanjutan. Di titik inilah inklusivitas di MFW dapat dibaca sebagai cara kerja yang menyatu dengan praktik keseharian festival, menghadirkan di ruang-ruang yang berbeda namun setara, dan dirancang sebagai pengalaman kolektif yang tumbuh melalui perhatian pada detail, kontinuitas relasi, serta kesediaan untuk terus belajar dari praktik yang dijalani bersama.
Prinsip bahwa setiap orang berhak menikmati film dan setiap film selayaknya bisa diakses oleh siapa pun, hidup sebagai komitmen yang menuntut konsistensi dan kesabaran. Di MFW, prinsip ini bekerja tidak dalam satu arah, melainkan menjalar dan menggurita ke luar layar dan ruang pemutaran, di antara para pengunjung festival, di dalam ruang bersama, dan dalam jejaring yang terus dirawat, diruwat, dan diretas agar dampaknya dapat terus meluber seluas-luasnya.
Di sinilah (harapannya) judul artikel ini menemukan maknanya. Yang panjang dari (festival) film pendek. Dampak yang tidak berhenti pada durasi film yang diputar, melainkan tetap berlanjut dalam denyut kerja kolektif yang terus bergerak setelah layar padam. Sebuah kerja yang tidak selesai ketika festival usai, tetapi berlanjut dalam relasi, ingatan, dan ruang-ruang yang disentuhnya.




















Discussion about this post