“Ini pertama kalinya mendengar kegagalan di sekolah.” (Yoon, 2025)
Kalimat itu muncul menjelang akhir Good Failure (2025), film pendek karya Chaewon Yoon. Sekilas, kalimat tersebut terdengar ganjil. Bukankah sekolah justru menjadi salah satu tempat pertama kita berkenalan dengan kegagalan? Gagal mendapat nilai yang diharapkan, gagal masuk sekolah unggulan, gagal menang lomba meski sudah mempersiapkan diri dengan matang, atau gagal mencapai hal-hal lain yang sejak awal kita inginkan.
Kegagalan, dengan kata lain, tidak pernah benar-benar asing di sekolah. Yang mungkin asing adalah mendengarnya dibicarakan sebab sekolah tampaknya memiliki lebih banyak ruang untuk membicarakan sekaligus merayakan keberhasilan. Salah satunya melalui tradisi mengundang alumni yang dianggap sukses untuk berbagi pengalaman kepada para siswa. Alumni datang membawa cerita tentang universitas yang berhasil dimasuki, pekerjaan yang berhasil didapatkan, karier yang berhasil dibangun, atau pencapaian lain yang kemudian dijadikan semacam representasi tentang seperti apa masa depan yang layak diperjuangkan.
Jarang sekali ada bincang alumni dengan cerita, “Saya gagal, dan saya belum tahu harus apa.” Kalaupun kegagalan dibicarakan, ia biasanya hanya menjadi semacam bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Misalnya, “Dulu saya pernah gagal, tapi terus …”. Di titik inilah Good Failure (2025) menarik perhatianku. Film berdurasi 16 menit ini membawa kegagalan ke ruang sekolah tanpa tergesa mengubahnya menjadi cerita keberhasilan. Seorang alumni datang untuk berbicara kepada para siswa dan, alih-alih membawa kisah pencapaian, ia justru membicarakan “ketidaksuksesannya”.
Rasanya ada semacam perbedaan antara mengalami kegagalan dan mendengar kegagalan dibicarakan sebagai sesuatu yang layak mendapatkan ruang. Selama ini, kegagalan sering hanya diterima sejauh ia memiliki kegunaan: ia harus menghasilkan pelajaran, membentuk karakter, atau membawa seseorang menuju sesuatu yang “lebih baik”. Kegagalan rasanya harus produktif.
Mungkin itu karena kita, tanpa terlalu sadar, telah terlalu lama hidup dalam budaya yang mudah mengubah pengalaman gagal menjadi konten, motivasi, atau cerita inspiratif. Kegagalan menjadi lebih mudah diterima ketika ia sudah memiliki redemption arc, ketika seseorang dapat melihat kembali masa lalunya dan mengatakan bahwa kegagalan tersebut ternyata diperlukan agar dirinya menjadi lebih-something seperti sekarang. Narasi semacam ini memang tidak selalu salah. Ada kegagalan yang membawa pelajaran, ada pula yang akhirnya membuka jalan menuju sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan.
Persoalannya muncul ketika kemungkinan tersebut berubah menjadi semacam kewajiban bahwa seolah setiap kegagalan harus memiliki makna positif dan setiap orang harus segera menemukan pelajarannya. Lantas, bagaimana jika kita belum menemukan pelajarannya? Bagaimana jika kegagalan tidak membuat kita lebih kuat, atau jika setelah gagal, hidup justru tetap atau bahkan makin terasa sulit? Good Failure (2025) terasa penting karena film ini tidak terburu-buru menjawab pertanyaan tersebut. Ia tidak menawarkan resep untuk bangkit, apalagi menjadikan kegagalan sebagai bahan bakar menuju keberhasilan. Untuk sesaat, kegagalan rasanya boleh-boleh saja menjadi pengalaman yang tidak selesai, yang tidak produktif, dan yang belum memiliki makna.
Barangkali, inilah yang membuat kegagalan begitu sulit kita terima sejak awal. Kita takut bahwa kegagalan akan menjadi bukti tentang diri kita sendiri: bahwa kita kurang pintar, kurang kerja keras, kurang berbakat, kurang resilien, atau tidak cukup mampu jika dibandingkan dengan orang lain. Sejak sekolah, kita terbiasa mengukur diri melalui nilai, ranking, seleksi, dan berbagai bentuk pencapaian yang menempatkan keberhasilan seseorang berdampingan dengan keberhasilan orang lain. Di saat yang sama, kita juga terus diperlihatkan contoh tentang seperti apa orang yang “berhasil” itu melalui berbagai cerita tentang siswa berprestasi atau alumni sukses. Akibatnya, keberhasilan perlahan tidak hanya menjadi sesuatu yang ingin kita capai, tetapi juga salah satu ukuran untuk menentukan apakah diri kita cukup baik. Ketika logika semacam ini dibawa terus hingga dewasa, kegagalan menjadi lebih dari sekadar tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ia dapat terasa seperti kegagalan menjadi diri kita sendiri.

Karena itu, adegan ketika para siswa mendengarkan cerita kegagalan alumni menjadi penting. Ketika seseorang mengatakan bahwa hidupnya tidak berjalan seperti yang direncanakan dan orang lain bersedia mendengarkannya tanpa buru-buru mencari hikmah atau menawarkan solusi. Pengakuan “aku merasa gagal” membuka kemungkinan bagi orang lain untuk mengatakan, secara langsung maupun tidak, “aku juga pernah mengalaminya.” Di titik itu, kegagalan tidak lagi semata-mata menjadi bukti bahwa seseorang tidak cukup baik. Ia dapat menjadi pengalaman yang dibentuk pula oleh keadaan, kesempatan, ekspektasi, dan dunia tempat seseorang hidup.
Yang muncul kemudian bukan hanya penerimaan terhadap kegagalan, tetapi juga solidaritas: kemampuan untuk menemani seseorang berada dalam kegagalan tanpa merasa harus segera mengeluarkannya dari sana.
Mungkin solidaritas semacam itu adalah salah satu cara paling sederhana untuk tidak terus mereproduksi tuntutan yang membuat kegagalan terasa begitu menakutkan. Kita tidak harus selalu mampu mengubah sistem kompetitif yang membuat manusia terus-menerus membandingkan diri dan mengejar pencapaian. Namun, kita masih bisa menciptakan ruang yang berbeda di antara orang-orang yang menjalaninya: mendengarkan kegagalan orang lain tanpa buru-buru mengubahnya menjadi motivasi, tidak selalu bertanya apa pelajaran yang bisa diambil, dan membiarkan seseorang belum tahu harus melakukan apa setelah gagal. Pada akhirnya, seseorang tidak harus menjadi someone terlebih dahulu agar pengalaman hidupnya layak didengar.
Menariknya, gagasan tentang menerima kegagalan itu justru membuatku memikirkan proses menulis ulasan ini sendiri. Aku sempat merasa gagal karena tulisan ini tidak selesai sesuai tenggat yang kubuat sendiri. Aku terus merasa ada yang kurang: argumen yang belum cukup matang, kalimat yang masih bisa diperbaiki, atau bagian yang seharusnya bisa ditulis dengan lebih baik. Ada keinginan untuk membuatnya sebaik mungkin sebelum berani menyebutnya selesai, seolah-olah tulisan tentang menerima ketidaksempurnaan pun harus hadir dalam bentuk yang sempurna. Padahal, mungkin di situlah aku juga sedang mengulangi logika yang sejak awal sedang kukritik. Aku ingin kegagalan dalam menulis ini tetap menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan; aku ingin keterlambatan ini memiliki alasan yang masuk akal; aku ingin hasil akhirnya cukup baik untuk membuktikan bahwa proses yang tidak sempurna tetap menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Tentu saja, bukan berarti setelah menyadari hal itu aku tiba-tiba terbebas dari tuntutan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Aku masih ingin menulis dengan lebih baik, dan masih akan memperbaiki tulisan ini sejauh yang bisa kulakukan. Hanya saja, mungkin ada titik ketika memperbaiki sesuatu harus berhenti menjadi usaha untuk membuatnya sempurna. Tulisan ini terlambat. Mungkin masih ada bagian yang kurang, mungkin ada kalimat yang kelak ingin kuubah, dan mungkin hasil akhirnya tidak akan pernah sepenuhnya sesuai dengan bayangan awal ketika aku mulai menulisnya. Ya sudah. Mungkin tidak semua hal harus selesai dalam bentuk terbaiknya agar tetap layak dibagikan.


















Discussion about this post