Ketika menonton When The Blues Goes Marching In atau Pengais Mimpi (2025) garapan Beny Kristia, warna biru dari cyanotype yang mendominasi sepertiga film membawa penonton pada ingatan setahun yang lalu. Tahun ketika warna biru dan ragam nuansanya diasosiasikan dengan gerakan politik. Cyanotype yang secara harfiah berarti cetak biru, menangkap citra demonstrasi yang tersimpan dalam benak kolektif dengan warna biru tua yang dihasilkan oleh reaksi kimia. Meskipun warna selalu bersifat subjektif, warna yang dihasilkan oleh teknik cyanotype ketika dipadukan dengan peristiwa massa ternyata bisa menjadi bahasa visual yang kuat sekaligus sebagai sebuah cara untuk merawat ingatan dalam proses kerja film ini.
Footage demonstrasi yang dominan dalam film Pengais Mimpi merupakan dokumentasi pribadi Beny bersama dengan teman-teman mahasiswa saat demonstrasi Peringatan Darurat terjadi di Malang pada tahun 2024. Demonstrasi mahasiswa pecah di sejumlah daerah untuk mengawal putusan Mahkamah Konstitusi yang bisa diubah sesuai dengan kepentingan politik dinasti menjelang Pilkada 2024. Beny yang saat itu merupakan mahasiswa akhir di Universitas Brawijaya turun serta ke jalan dengan berbekal kamera dan kesadaran untuk mendokumentasikan. Namun, dokumentasi digital ternyata belum cukup untuk mengarsipkan peristiwa massa itu. Dalam proses pembuatan film Pengais Mimpi, Beny dan teman-teman filmmaker selaku para pengais mimpi bersiasat untuk mencari formula yang tepat untuk menggarap film ini baik secara bentuk maupun substansinya.
Estetika visual yang ditampilkan oleh Beny dalam Pengais Mimpi terbagi dalam tiga jenis footage untuk membangun narasi tentang seorang mahasiswa yang bercerita melalui surat kepada bapaknya. Seperti mimpi di dalam mimpi, Beny menyusun layer-layer cerita itu dengan estetika visual dan editing yang eksperimentatif. Peranti kamera, grid layar, dan pemilihan warna ditampilkan secara gamblang melawan estetika normatif. Salah satu yang menjadi tawaran baru adalah penggunaan material cyanotype.
Footage cyanotype menjadi bahasa visual yang segar dalam Pengais Mimpi. Warna biru hasil cyanotype dimanfaatkan sesuai konteks perlawanan mahasiswa yang ia rekam aksinya pada demonstrasi Peringatan Darurat yang diasosiasikan dengan warna biru tua. Lebih dari itu, penggunaan cyanotype pada footage demonstrasi juga menjadi cara untuk mematerialkan memori kolektif. Dalam wawancara ini, saya berkesempatan untuk mengetahui lebih lanjut tentang praktik merekam Beny yang tidak lepas dari peristiwa massa yang politis.

Rara: Kenapa Beny memilih penggunaan cyanotype?
Beny: Saat proses editing ada beberapa footage yang ternyata hilang. Ya kesalahan saya juga karena hardisk-nya sudah lama. Tapi ternyata ada beberapa file yang sudah di-render dalam film tersebut. Kalau saya melanjutkan editing atau menambah footage, takutnya hal yang paling primer, demonstrasinya, yang lain masih bisa diulang. Lalu akhirnya saya tahu kalau seorang teman kampus, namanya Lalit, sedang berpameran dengan material cyanotype di Universitas Brawijaya. Saat itu saya belum tahu kalau namanya cyanotype. Karena menarik, jadi kami coba gunakan. Saya rasa (cara) ini juga bisa mengamankan (footage).
Rara: Bagaimana proses mengubah file digital ke cyanotype untuk kemudian difilmkan?
Beny: Pertama, footage (digitalnya) kami bongkar jadi 24 frame per second. Setelah itu kami susun menjadi grid di kertas. Kami susun 3×3, jadi satu kertas ada sembilan frame. Lalu kami mencetak negatifnya di kertas mika. Kertas mika ini jadi negatifnya. Setelah itu kertas negatifnya ditimpa di atas kertas BC ukuran A3 yang sudah diolesi cairan (kimia) dan di jemur di bawah matahari selama beberapa menit. Setelah itu (kertas BC-nya) dicuci dengan air, kemudian dikeringkan di tempat indoor. Saat itu dilakukannya di dalam kamar kost saya. Setelah kering nanti di-scan menggunakan scanner. Setelahnya baru diedit. Sembilan grid yang sudah dicetak biru dipotong menjadi per frame.
Rara: Seandainya beberapa footage tidak hilang, apakah rencana awal tidak akan menggunakan cyanotype?
Beny: Awalnya itu akan dibuat hitam putih. Seingat saya itu. Karena memang footagenya diambil dari berbagai macam alat, ya. Ada yang dari hp, ada yang dari kamera. Kamera pun berbeda-beda. Kalau menggunakan cyanotype, secara tekstur dan bentuk akan sama pada akhirnya, seperti diratakan. Karena (kualitas footage) yang saya dapat jomplang-jomplang. Kalau dibiarkan berwarna akan berbeda (kualitasnya). Saya akan menghitam-putihkan apabila tidak ada (pilihan) cyanotype. Mau menyetarakan agar minimal intact pengalaman menontonnya. Tidak jomplang-jomplang. Misal dibiarkan berwarna: (footage) kamera, terus disambung footage hp Samsung, setelah itu (footage) hp iPhone, akan jomplang sekali warnanya. Akhirnya diratakan saja menggunakan cyanotype. Ada substansi dengan situasi saat itu yang juga memakai warna biru tua (Peringatan Darurat).

Rara: Berarti cyanotype itu siasat untuk mematerialkan footage digital? Bukan rencana atau pilihan estetika dari awal?
Beny: Ya. Awalnya saya teringat wawancara Edwin (Palari Films) tentang seluloid dan digital. Edwin pernah bilang kalau dia membeli seluloid karena itu material. Sesuatu yang masih bisa direstorasi. Masih bisa dipegang. Berbeda dengan digital. Konteks Edwin saat itu kantornya kebanjiran. Data-data digitalnya hilang semua, sedangkan yang seluloid masih selamat. Saya punya konsep berpikir itu, sih. Jadi memutuskan untuk dimaterialkan saja dengan cyanotype.
Rara: Beny kan memang suka merekam demonstrasi sejak masih kuliah di Brawijaya sampai yang terbaru bulan Agustus lalu demo melawan kekerasan polisi di Jakarta. Kapan kesadaran untuk merekam demonstrasi itu, entah sebagai mahasiswa atau sebagai sutradara muncul?
Beny: Saya selalu suka merekam demonstrasi. Saat itu saya belum tahu akan jadi apa (footagenya). Ternyata memang demo perlu direkam, seperti jadi penanda zaman. Entah akan jadi apa, saya belum tahu. Tapi setidaknya ada memori tentang itu. Mungkin jadi hal yang berbeda dengan (Instagram) story yang akan hilang dalam waktu 24 jam. Kalau misal kita rekam, kita arsipkan, setidaknya kalau misalnya kita lihat lagi, kita bisa mengambil jarak untuk membaca peristiwanya. Kalau menurutku begitu.

Rara: Selain merekam demonstrasi apakah kamu juga suka mendokumentasikan hal lain?
Beny: Tergantung momen. Momen yang mungkin penting atau peristiwa penting sebagai peristiwa massa. Peristiwa penanda zaman yang mungkin bisa mengganti poros sosial, ekonomi, atau politik.
Rara: Saat pidato kemenangan kamu mengutip Godard yang memrotes festival film Cannes sementara di luar sana ada demonstrasi mahasiswa dan buruh. Apakah ketika membuat Pengais Mimpi juga berangkat dari spirit yang sama dengan yang dikatakan Godard?
Beny: Ketika menggarap film ini, saya belum tahu. Baru ketika filmnya selesai digarap, setelah belajar tentang sejarah film, saya mengetahui ternyata Godard pada zaman itu memang politis. Ketika zaman Situationist International. Menarik juga ketika menyadari bahwa kerja-kerja yang saya dan teman-temanku lakukan hampir sama napasnya dengan apa yang dikatakan Godard saat di Cannes tahun 1968. Pada akhirnya jadi mengukuhkan (kerja merekam demonstrasi yang dilakukan).
Penulis: Rahmania Nerva | Editor: Fransiska Prihadi





















Discussion about this post